[Review Buku] : Rentang Waktu  karya Farah Via Rahmawati

Sinopsis:     

Jarak tak melulu soal bentangan kilometer atas terpisahnya daratan dan lautan. Bisa jadi ia adalah rentang waktu bertemunya kau dan aku untuk menjadi kita yang sah di mata Tuhan.”

Entah jauh atau dekat rentang waktu yang membentang antara kita dalam rangka saling menemukan, upayaku untuk memelukmu lewat doa-doa masih kuperjuangkan.  Walau kadang diri ini sesekali merasa tak sabaran ingin segera bersua.

Mungkin lebih tepatnya [enasaran bagaimana rupamu yang selama ini disembunyikan Tuhan sebagai kejutan:  bagaimana bentuk senyummu, bagaimana caramu berjalan, bagaiamana caramu memandangku nanti.  Pernahkah kau merasa, dadamu penuh sesak dengan debar tak keruan dan tak mampu kau terjemahkan apa artinya?  Mungkinkah saat ini kau juga merasakannya? Entah kau berada di belahan bumi mana, ketika kau memohonkan untuk segera dipertemukan denganmu.  Saat itu kita yang tengah memandang langit yang sama, sama-sama menengadahkan tangan kemudian merayu Sang Mahacinta agar sudi kiranya mempertemukan dua insan untuk dipersatukan dalam ikatan halal.

Mengawali awal tahun 2019 dengan membaca buku yang dilihat dari cover-nya saja seperti sedang mewakili perasaan saya 😀 Tenang saja, setelah review buku ini saya juga akan mereview buku traveling, dan tentu saja buku fiksi yang saat ini sedang saya baca.  Masih ada stok buku-buku bagus yang akan saya review, salah satunya serial anak Nusantara.  Maka sebelum lupa mereview buku bagus ini, mari kita lihat apa yang menarik dari buku Reantan Waktu.  Buku ini bagian dari buku yang saya incar di akhir tahun 2018.  Alhamdulillah kesampaian baca, dan dapat tanda tangan pula dari penulisnya.  Penulis yang biasa disapa Farah atau Kak Bee ini tinggal di Balikpapan, dan ini merupakan buku perdananya.  Pertama kali lihat cover bukunya di Instagram, saya langsung suka dan ingin baca.  Ternyata setelah sampai ke tangan, buku ini sangat menarik.  Buat kamu yang butuh motivasi (seperti saya), atau sedang galau, sedih, atau sedang memantaskan hati untuk seseorang yang diridhai-Nya, buku ini akan menemani kamu.

Baca juga: Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Saya suka covernya, isinya, dan bacanya juga bikin semangat, ada beberapa kartun kece, kemudian kutipan-kutipan bagus, dan beberapa halaman buku yang di dominasi warna ungu, tidak akan membuatmu bosan membaca buku tentang motivasi islam.  Tidak terkesan menggurui tapi lebih terasa menamani dan membuat saya Continue reading “[Review Buku] : Rentang Waktu  karya Farah Via Rahmawati”

Advertisements

Beberapa Buku Yang Dibaca Tahun 2018

Sejak nonton Chicago Typewriter di akhir tahun 2017, semangat membaca saya tahun ini alhamdulillah membaik daripada tahun-tahun sebelumnya. Drakor yang bercerita tentang persahabatan tiga pemuda aktivis perjuangan Korea di masa pendudukan Jepang. Kemudian, sang tokoh utama bereinkarnasi di era modern sebagai penulis terkenal yang mengalami writer’s block. Selama dia stres, sang penulis bertemu dengan hardcore fansnya dan ghost writer misterius yang selalu bertekat membantunya menyelesaikan penulisan novelnya.  Ini merupakan film pertama yang saya tonton, bertemakan tentang penulis, yang ternyata kalau penulis di luar negeri itu, kalau karyanya terkenal, mereka bak seorang artis, seperti Han Se Ju dalam drakor tersebut.  Masih jarang sekali film yang mengangkat tema tentang penulis, dan saya beruntung gak sengaja menemukan drakor ini saat pindah-pindah channel di TV kabel.  Saya memang awam dalam dunia drakor.  Tapi setidaknya, ada 1 drakor yang saya sangat sukai 😁

Baca juga: kisah tentang penulis dalam Chicago Typewriter

Semangat menulis saya tahun ini juga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.  Alhamdulillah menyelesaikan sebuah fiksi.  Satu lagi, tahun 2018 ini alhamdulillah jadi cukup rajin posting di rumah blog saya, biar hangat, tidak kedinginan 😄  Saya berterimakasih kepada Chicago Typewriter team, yang sudah membangkitkan semangat saya lewat suguhan ceritanya yang anti mainstream, dan menyadarkan saya bahwa membaca dan menulis adalah hal yang sangat senangi dan tidak bisa digantikan oleh apapun 😊  Setelah nonton drakor tersebut, semangat membaca dan menulis saya membaik.

Sebenarnya tidak ada target total buku yang harus saya baca tahun ini.  Saya mengorbankan waktu luang dan mengurangi waktu tidur, juga  mengurangi aktivitas medsos, yang aktif hanya Instagram, jarang chat, paling hanya  balas chat WA. Atau pun kirim chat kalau sedang perlu, dan saya benar-benar pengen ngobrol.   Pokoknya diet chat, delete beberapa aplikasi misal twitter, line. Paling main di blog, kadang-kadang bw (blog walking). Maklum Continue reading “Beberapa Buku Yang Dibaca Tahun 2018”

[Review Buku] : Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini Karya Marchella FP

Nanti kita cerita tentang hari ini… 

Besok kita buat yang lebih baik lagi. 

@NKCHI

Buku ini sangat menarik perhatian saya ketika pertama kali melihat cover-nya.  Setelah membuka lembaran pertama, rasanya seperti terperangkap menikmati ilustrasi indah yang digambar Marchella.  Tak ingin berhenti membaca, hingga lembaran terakhir.  Marchella menjadi penulis sekaligus ilustratornya buku ini. Banyak kata-kata movitasi yang ditulis dengan sederhana tapi sangat bermakna.  Tidak berat, tapi akan membuat kita berfikir dibalik pesan yang disampaikan melalui kata-katanya.  Buku ini merupakan kategori Continue reading “[Review Buku] : Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini Karya Marchella FP”

[Travel Book]: Review Buku Amazing Dubai Karya Utari Giri

Sinopsis:

Dubai, kota kecil di Uni Emirat Arab yang begitu cepat menjelma menjadi kota metropolitan yang mendunia. Jutaan orang datang hanya untuk membuktikan kemegahan kota yang telah tersiar seantero jagad. Tetapi sesungguhnya bukan hanya kotanya yang menarik untuk dikunjungi, kehidupan yang ada di dalamnya ternyata juga tak kalah serunya untuk diulik.

Kisah-kisah dalam buku ini adalah sepenggal cerita yang dialami penulis dalam salah satu episode kehidupan dan keluarganya. Bukan hanya mengenai kisah inspiratif yang dialami penulis sebelum dan selama merantau, namun berbagai ragam cerita informatif tentang kota Dubai disajikan dengan manis dalam buku ini. 

Itulah yang membedakan buku ini dengan buku yang bersumber Continue reading “[Travel Book]: Review Buku Amazing Dubai Karya Utari Giri”

[Review Buku]: Dokter Yang Dirindukan Karya Asma Nadia & Dr. Anwar Fazal, dkk.

Sinopsis:

Kalau Ingin MENJADI DOKTER untuk GAYA-GAYAAN – GLAMOR – MERASA SUPERIOR

Lupakan! Kubuekan saja cita-cita menjadi dokter secepatnya.

Masih banyak karier lain yang membuat kamu bisa mendapatkan semua yang di atas, bukan profesi dokter.

Inilah karier yang akan membuatmu merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Inilah profesi yang dapat membuatmu lebih menghargai setiap detak jantung manusia karena ia biasa berhenti secara tiba-tiba, kapan saja. Ia juga menuntut pengorbanan besar dari kamu, demi menyelamatkan nyawa manusia.

Kamu menjadi penonton setiap drama tragis dan bahagia yang silih berganti saban hari. Kamu menjadi pelakon dalam transisi hidup dan mati. Kalau ia sungguh diniatkan untuk ilagi, pasti akan menundukkan hati.

Pada saat kamu berhasil menyelamatkan nyawa atas izin-Nya, kala pasien mulai membuka mata dan mengukir senyuman manisnya, diiringi anggota keluarga yang merangkul atau menjabat tanganmu dengan penuh haru dan mata yang berkaca-kaca, maka saat itulah kamu akan sadar bahwa inilah profesi yang “paling kaya”, dan kamu rela bergadang, mengerahkan seluruh tenaga hingga nyaris tak tersisa. Karena kamu tahu “rasa itu” tak akan mampu dibeli oleh segunung harta atau materi apa pun di dunia.

Atas dasar itulah “Dokter yang Dirindukan” ini ditulis, untuk menginspirasi dan saling berbagi. Ia tulus dari hati supaya bisa menyentuh hati. Bacalah dengan nama-Nya. Baca!

“Setiap diagnosis itu hakikatnya datang dari-Nya, dan dokter hanyalah perantara.” Continue reading “[Review Buku]: Dokter Yang Dirindukan Karya Asma Nadia & Dr. Anwar Fazal, dkk.”

[Review Buku Travel Writing ]: Titik Nol karya Agustinus Wibowo

Sinopsis:

Perjalananku bukan perjalananmu

Perjalananku adalah perjalananmu

TITIK NOL “Makna Sebuah Perjalanan”

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini.”  –Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.  Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. —Lam Li 

Saya suka dengan cover buku Titik Nol. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat.  Buku travel writing yang ditulis dari sisi seorang jurnalis ini begitu runut, seakan tak pernah kehabisan kata untuk mengisahkan perjalanannya yang tertuang dalam 552 halaman.  Dalam buku ini dibuka dengan tulisan dari sahabatnya Lam Li berjudul memberi arti pada perjalanan.  Kemudian dilanjutkan dengan penantian, safarnama, senandung pengembara, surga Himalaya, kitab tanpa aksara, mengejar batas cakrawala, dalam nama Tuhan, di balik selimut debu, pulang, dan akhir sebuah jalan.   Mengisahkan perjalanan di berbagai negara dari sudut pandang berbeda, yang selama ini tidak banyak diangkat ke media .  Tanpa membaca buku -buku Agustinus : Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol, saya tidak akan pernah tahu tentang keadaan yang sebenarnya negara-negara Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Selatan, negara-negara yang dikunjungi penulisnya.  Buku travel writing yang menyuguhkan hal berbeda, pengalaman berbeda, sudut pandang yang berbeda, bahkan pemaknaan yang berbeda tentang arti sebuah perjalanan.  Tak hanya lewat tulisan, foto-foto yang disajikan dalam buku, seakan berbicara tentang orang-orang, keadaan bahkan suasana yang Continue reading “[Review Buku Travel Writing ]: Titik Nol karya Agustinus Wibowo”