Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak

Sebagai pembaca, pecinta, dan penikmat buku, rasanya saya ingin mengoleksi semua buku incaran yang ingin dibaca.  Buku-buku baru, buku best seller, buku-buku yang direkomendasikan oleh para book blogger, bookstagram, booktuber, teman-teman atau pun saudara, hingga buku-buku international best seller yang sudah diterjemahkan, dan yang pasti buku-buku sesuai selera saya.  Sayangnya, mengingat berbagai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, budget membeli buku bukanlah prioritas di urutan pertama untuk saya. Lantas, apakah saya berhenti membaca buku? Tentu saja tidak, budget untuk jajan buku saya batasi, tapi saya tidak membatasi buku yang harus saya baca.   Kalau bisa, teruslah banyak membaca buku, meski belum tentu bisa membeli semua buku yang saya inginkan.  Bukankah pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma.” Maka, tentu saja banyak cara pula untuk tetap bisa membaca buku, tanpa membeli buku, dan tidak perlu membeli buku bajakan.

Masalahnya, apakah dengan banyaknya jalan menuju apa yang kita inginkan—membaca banyak buku—didukung pula oleh cara-cara yang baik yang sudah kita jalani? Dengan maraknya pembajakan buku yang terjadi sudah sejak lama, dan kini terus berkembang, apakah ini pertanda  ada Continue reading “Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak”