Masuk dalam kategori “Mythic”

View this post on Instagram

🤣🤣🤣🤣

A post shared by FAN BASE TERE LIYE (@tereliye_quote) on

Saat melihat foto yang di upload Istagram @tereliye_quote saya langsung berhitung, berapa buku yang sudah saya baca? Ternyata Alhamdulillah sudah lebih dari 30 buku, dan masuk dalam katagori “Mythic” 😝😝😝

Seiring berjalannya waktu, tak terasa buku-buku tersebut telah menemani perjalanan hidup saya.  Berikut saya sajikan daftar buku-buku yang sudah saya baca:

membaca dan mengoleksi buku-buku Tere Liye

Continue reading

Advertisements

[Review Buku Travel Writing ]: Titik Nol karya Agustinus Wibowo

Judul Buku           : TITIK NOL
Penulis                  : Agustinus Wibowo
Penerbit                : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 18 Februari 2013.  Cetakan kedelapan, Oktober 2017
Jumlah Halaman : 552 Halaman

Sinopsis:

Perjalananku bukan perjalananmu

Perjalananku adalah perjalananmu

TITIK NOL “Makna Sebuah Perjalanan”

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini.”  –Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.  Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. —Lam Li 

Saya suka dengan cover buku Titik Nol. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat.  Buku travel writing yang ditulis dari sisi seorang jurnalis ini begitu runut, seakan tak pernah kehabisan kata untuk mengisahkan perjalanannya yang tertuang dalam 552 halaman.  Dalam buku ini dibuka dengan tulisan dari sahabatnya Lam Li berjudul memberi arti pada perjalanan.  Kemudian dilanjutkan dengan penantian, safarnama, senandung pengembara, surga Himalaya, kitab tanpa aksara, mengejar batas cakrawala, dalam nama Tuhan, di balik selimut debu, pulang, dan akhir sebuah jalan.   Mengisahkan perjalanan di berbagai negara dari sudut pandang berbeda, yang selama ini tidak banyak diangkat ke media .  Tanpa membaca buku -buku Agustinus : Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol, saya tidak akan pernah tahu tentang keadaan yang sebenarnya negara-negara Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Selatan, negara-negara yang dikunjungi penulisnya.  Buku travel writing yang menyuguhkan hal berbeda, pengalaman berbeda, sudut pandang yang berbeda, bahkan pemaknaan yang berbeda tentang arti sebuah perjalanan.  Tak hanya lewat tulisan, foto-foto yang disajikan dalam buku, seakan berbicara tentang orang-orang, keadaan bahkan suasana yang Continue reading

[Review Buku Traveling]: Selimut Debu karya Agustinus Wibowo

Judul                    : SELIMUT DEBU
Penulis                 : Agustinus Wibowo
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : September 2011.  Cetakan kelima, Oktober 2017
Jumlah Halaman  : 461 Halaman

Sinopsis:

Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia.” 

Afghanistan. Nama negeri itu sudah bersinonim dengan perang tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran, perempuan tanpa wajah, dan ratapan pilu. Nama yang sudah begitu tidak asing, namun tetap menyimpan misteri yang mencekam. Pada setiap langkah di negeri ini, debu menyeruak ke rongga mulut, kerongkongan, lubang hidung, kelopak mata. Bulir-bulir debu yang hampa tanpa makna, tetapi menjadi saksi pertumpahan darah bangsa-bangsa, selama ribuan tahun. Aura petualangan berembus, dari gurun gersang, gunung salju, padang hijau, lembah kelam, langit biru, danau ajaib, hingga ke sungai yang menggelegak hebat. Semangat terpancar dari tatap mata lelaki berjenggot lebat dalam balutan serban, derap kaki kuda yang mengentak, gemercik teh, tawa riang para bocah, impian para pengungsi, peninggalan peradaban, hingga letupan bedil Kalashnikov. 

Agustinus Wibowo menapaki berbagai penjuru negeri perang ini sendirian, untuk Continue reading

[Review Buku]:  Imperfect Karya Meira Anastasia

Judul Buku            :  IMPERFECT  A Journey to Self-Acceptance
Penulis                   : Meira Anastasia
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : 2018. Cetakan ketiga, Juni 2018
Jumlah Halaman  : 172 Halaman 

Sinopsis:

””Ternyata, orang cakep belum tentu istrinya cantik!”’ JLEB! Komentar di Instagram suamiku (@ernestprakasa) di atas adalah kalimat yang akan kuingat seumur hidup. Ternyata menjadi istri seorang public figure itu berat ya, karena sepertinya aku harus memenuhi ekspektasi netizen. #nangisdipojokan Rambut pendek, kulit gelap, jarang pakai makeup, juga bentuk badan dan payudara yang tidak ideal lagi setelah melahirkan dua anak, semakin memperberat jalanku untuk berdamai dengan diri sendiri.

Tetapi, jalan yang berat bukan berarti mustahil. Hanya saja butuh waktu dan kesabaran karena prosesnya lama dan sama sekali tidak mulus. Yah, samalah seperti kulitku. #storyofmylife Menulis buku ini membuatku harus membuka kembali banyak luka. Tetapi dengan mengakui luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. Juga belajar menjadi lebih kuat lagi.

Buku ini bukanlah buku motivasi, melainkan kumpulan cerita seorang perempuan, istri, sekaligus ibu yang sedang berjuang agar bisa mengatakan kepada diri sendiri: Aku tidak sempurna, tapi tidak apa-apa.Karena aku bahagia.

Menurut saya, ini merupakan buku yang asik dan menarik.  Walaupun bukan buku Continue reading

[Review Buku]: Off The Record Karya Ria SW

Judul Buku          :  Off The Record
Penulis                 :  Ria SW
Penerbit               :  Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : Juni 2018.  Cetakan ke Empat, Juli 2018
Jumlah Halaman:  224 Halaman 

Sinopsis:

””Itu videografernya dikasih makan nggak sih?”’ ””Kak, kok makannya banyak tapi tetep kurus?”’ ””Kak, ada cerita menarik nggak selama syuting?”’ Apa yang kamu rasain saat menonton videoku di YouTube? Selain kepingin ikut makan bareng karena mayoritas isinya video makanan enak yang buat ngiler, pernah nggak sih kamu bertanya-tanya hal lain kayak pertanyaan di atas? Dalam Off the Record, aku mau cerita tentang keseruan yang nggak tertangkap kamera selama syuting.

Aku mau ceritain kisah yang nggak pernah aku bagi sebelumnya, bahkan aku mau ajak kamu lihat aku secara personal. Kamu siap nggak? Pokoknya, siapin pikiran kalian selama membaca buku ini ya! Dan jangan lupa harus sudah selesai makan karena dalam buku ini aku masih pengin godain kamu biar ngiler! Hihihi! *Ria SW adalah food vlogger yang memiliki lebih dari 1 juta subscriber di YouTube dan telah mendapatkan 170 juta viewer.

Setelah beberapa minggu yang lalu saya baca fiksi, kini baca non fiksi karya Ria SW, seorang food vlogger.  Kalau yang belum tahu silahkan Continue reading

Top 10 Books di Gramedia update 28 Juli 2018

@Gramedia Aeon Mall BSD


Akhir bulan Juni 2018, saya ke Gramedia PIM 1 (Pondok Indah Mall), beberapa buku Tere Liye yang sudah saya baca ternyata masuk dalam daftar top 10 buku di Gramedia.  Terus, di bulan Juli, Continue reading

[Review Buku] : KOMET Karya Tere Liye

Judul Buku : KOMET

Penulis : Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 384 hlm; 20 cm

Tahun Terbit : 2018

Sinopsis:

Setelah “musuh besar” kami lolos, dunia paralel dalam situasi genting. Hanya soal waktu, pertempuran besar akan terjadi. Bagaimana jika ribuan petarung yang bisa menghilang, mengeluarkan petir, termasuk teknologi maju lainnya muncul di permukaan Bumi? Tidak ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi. Situasi menjadi lebih rumit lagi saat Ali, pada detik terakhir, melompat ke portal menuju Klan Komet. Kami bertiga tersesat di klan asing untuk mencari pusaka paling hebat di dunia paralel. 

Buku ini berkisah tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini juga berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian, dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Buku kelima dari serial “BUMI”

Ini dia buku yang sudah ditunggu kehadirannya selama satu tahun oleh para pembaca setia serial bumi.  Lanjutan dari SERIAL BUMI, buku kelimanya berjudul: KOMET.

Waktu pertengahan bulan Mei, baca promo pre-order buku terbaru Tere Liye, lanjutan dari buku serial Bumi, di ig @tereliye_quote, beneran membuat gemes pengen cepat baca buku barunya! 😄 Buka pre-ordernya pas tanggal 16 – 27 Mei 2018. Oh iya,pertimbangan saya beli lewat @akalpa karena free gantungan kunci. 

Sedikit flashback dengan ke-empat buku sebelumnya dengan tiga karakter utama sahabat sejati dengan  petualangannya yang sangat seru, dalam Continue reading