[Review Buku]: About Life Karya Tere Liye

Sinopsis:

Ada masanya kita butuh diam. Tidak bisa bicara apa pun, tidak bicara pada siapa pun. Cukup direnungkan dalam-dalam, kemudian kita akhirnya paham banyak hal. Pun ada masanya, saat membaca buku, melihat kembali kutipan-kutipan lama, direnungkan, kita bisa menemukan banyak hal yang mengembalikan pemahaman terbaiknya. Buku ini berisi 100 kutipan Tere Liye tentang kehidupan. Melengkapi dua buku sebelumnya, #AboutLove (tentang cinta) dan #AboutFriends (tentang persahabatan). Hadiahkan buku-buku tersebut untuk keluarga dan teman terbaik kita.

Saya suka buku ini. Melengkapi dua koleksi saya sebelumnya #AboutLove dan #Aboutfriends. Buku ini bukan novel walau tebalnya setebal novel. Bukan komik walau isinya bergambar dan berwarna. Bukan pula kumcer walau pun tiap halaman membahas topik berbeda. Apalagi diary, bukan, buku ini bukan diary sekalipun bentuknya memang seperti buku diary (bentuk kayak buku harian, hardcover, kertas berwarna, font-font indah beserta coretan-coretan gambar).  Saya suka sekali dengan cover dan design bukunya, sederhana tapi memikat. Cover dan ilustrasi isinya oleh Orkha Creative, jadilah tampilannya makin kece dan semangat baca! 😀

Baca juga: review buku Komet Minor, Komet, Ceros dan Batozar (Buku SERIAL BUMI)

Buku ini berisi Continue reading “[Review Buku]: About Life Karya Tere Liye”

Advertisements

[Review Buku] : KOMET MINOR Karya Tere Liye

Sinopsis:     

Pertarungan melawan si Tanpa Mahkota akan berakhir di sini.  Siapa pun yang menang, semua berakhir di sini, di Klan Komet Minor, tempat aliansi Para Pemburu pernah dibentuk, dan pusaka hebat pernah diciptakan.

Dalam saga terakhir melawan si Tanpa Mahkota, aku, Seli dan Ali menemukan teman seperjalanan yang hebat.  Bersama-sama kami melewati berbagai rintangan, memahami banyak hal, berlatih tehnik baru, dan bertarung bersama-sama.

Inilah kisah kami.  Tentang persahabatan sejati.  Tentang pengorbanan.  Tentang ambisi. Tentang memaafkan. Namaku Raib, dan aku bisa menghilang.

Komet Minor merupakan buku keenam dari serial Bumi.  Buku yang sangat saya tunggu dan nantikan di tahun 2019 ini, akhirnya terbit juga pada tanggal 11 Maret 2019. Kali ini saya pun ikut pre-order lewat Mizanestrore .  Kalau baca sinposisnya sekilas, di awal kalimat dikatakan bahwa “Pertarungan melawan si Tanpa Mahkota akan berakhir di sini.  Dalam saga terakhir melawan si Tanpa Mahkota, aku, Seli dan Ali menemukan seperjalanan yang hebat.” Apakah ini menandakan bahwa serial bumi akan berakhir di buku keenam?  Mungkin kamu dan saya, pas baca kalimat tersebut, rasanya ingin bilang “Oh tidaaaaaaak!”  karena tak ingin kisah serial bumi berakhir.  Sekarang, setelah baca bukunya, saya sudah tahu jawaban atas Continue reading “[Review Buku] : KOMET MINOR Karya Tere Liye”

Apakah Komet Minor akan jadi buku terakhir dari serial Bumi?

Apakah kamu termasuk salah satu penggemar serial Bumi karya Tere Liye? Apakah kamu sudah tahu kapan buku Komet Minor akan terbit?

Sekarang,  KOMET MINOR SUDAH TERBIT (11 Maret 2019).  Silahkan membaca REVIEW KOMET MINOR

Baca juga: Resensi buku Komet Minor (Maret terbit 2019), Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Jika kamu penggemarnya dan kamu belum tahu infonya, semoga kamu tidak sedih dan tetap gembira  dengan kabar yang saya dapatkan dari akun ig @tereliye_quote lewat IGTV-nya.  Silahkan disimak 😊 Continue reading “Apakah Komet Minor akan jadi buku terakhir dari serial Bumi?”

[Review Buku Travel Writing ]: Titik Nol karya Agustinus Wibowo

Sinopsis:

Perjalananku bukan perjalananmu

Perjalananku adalah perjalananmu

TITIK NOL “Makna Sebuah Perjalanan”

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini.”  –Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.  Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. —Lam Li 

Saya suka dengan cover buku Titik Nol. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat.  Buku travel writing yang ditulis dari sisi seorang jurnalis ini begitu runut, seakan tak pernah kehabisan kata untuk mengisahkan perjalanannya yang tertuang dalam 552 halaman.  Dalam buku ini dibuka dengan tulisan dari sahabatnya Lam Li berjudul memberi arti pada perjalanan.  Kemudian dilanjutkan dengan penantian, safarnama, senandung pengembara, surga Himalaya, kitab tanpa aksara, mengejar batas cakrawala, dalam nama Tuhan, di balik selimut debu, pulang, dan akhir sebuah jalan.   Mengisahkan perjalanan di berbagai negara dari sudut pandang berbeda, yang selama ini tidak banyak diangkat ke media .  Tanpa membaca buku -buku Agustinus : Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol, saya tidak akan pernah tahu tentang keadaan yang sebenarnya negara-negara Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Selatan, negara-negara yang dikunjungi penulisnya.  Buku travel writing yang menyuguhkan hal berbeda, pengalaman berbeda, sudut pandang yang berbeda, bahkan pemaknaan yang berbeda tentang arti sebuah perjalanan.  Tak hanya lewat tulisan, foto-foto yang disajikan dalam buku, seakan berbicara tentang orang-orang, keadaan bahkan suasana yang Continue reading “[Review Buku Travel Writing ]: Titik Nol karya Agustinus Wibowo”

[Review Buku]:  Imperfect Karya Meira Anastasia

Sinopsis:

””Ternyata, orang cakep belum tentu istrinya cantik!”’ JLEB! Komentar di Instagram suamiku (@ernestprakasa) di atas adalah kalimat yang akan kuingat seumur hidup. Ternyata menjadi istri seorang public figure itu berat ya, karena sepertinya aku harus memenuhi ekspektasi netizen. #nangisdipojokan Rambut pendek, kulit gelap, jarang pakai makeup, juga bentuk badan dan payudara yang tidak ideal lagi setelah melahirkan dua anak, semakin memperberat jalanku untuk berdamai dengan diri sendiri.

Tetapi, jalan yang berat bukan berarti mustahil. Hanya saja butuh waktu dan kesabaran karena prosesnya lama dan sama sekali tidak mulus. Yah, samalah seperti kulitku. #storyofmylife Menulis buku ini membuatku harus membuka kembali banyak luka. Tetapi dengan mengakui luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. Juga belajar menjadi lebih kuat lagi.

Buku ini bukanlah buku motivasi, melainkan kumpulan cerita seorang perempuan, istri, sekaligus ibu yang sedang berjuang agar bisa mengatakan kepada diri sendiri: Aku tidak sempurna, tapi tidak apa-apa.Karena aku bahagia.

Menurut saya, ini merupakan buku yang asik dan menarik.  Walaupun bukan buku Continue reading “[Review Buku]:  Imperfect Karya Meira Anastasia”

[Review Buku] : Faith and the City karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Sinopsis:

 

Setelah malam penganugerahan Hero of the Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka, Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasangan penyatu jembatan yang terpisah, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Ranggatugas belajar dan riset telah menunggunya di Wina.

Out of the blue, Cooper dari Global New York TV (GNTV) hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan kesempatan yang mustahil ditolak Hanum: menjadi produser acara GNTV yang meliput dunia Islam dan Amerika.

Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.

Akankah Hanum mampu mengelak pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari

impian yang membelitnya?

 Atau jangan-janganimpian yang menjadi kenyataan tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?

Buku ini rasanya cukup berbeda dari dua buku pendahulu tulisan pasangan Hanum dan Rangga. Dua buku sebelumnya yaitu 99 Cahaya Continue reading “[Review Buku] : Faith and the City karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra”