Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak

Sebagai pembaca, pecinta, dan penikmat buku, rasanya saya ingin mengoleksi semua buku incaran yang ingin dibaca.  Buku-buku baru, buku best seller, buku-buku yang direkomendasikan oleh para book blogger, bookstagram, booktuber, teman-teman atau pun saudara, hingga buku-buku international best seller yang sudah diterjemahkan, dan yang pasti buku-buku sesuai selera saya.  Sayangnya, mengingat berbagai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, budget membeli buku bukanlah prioritas di urutan pertama untuk saya. Lantas, apakah saya berhenti membaca buku? Tentu saja tidak, budget untuk jajan buku saya batasi, tapi saya tidak membatasi buku yang harus saya baca.   Kalau bisa, teruslah banyak membaca buku, meski belum tentu bisa membeli semua buku yang saya inginkan.  Bukankah pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma.” Maka, tentu saja banyak cara pula untuk tetap bisa membaca buku, tanpa membeli buku, dan tidak perlu membeli buku bajakan.

Masalahnya, apakah dengan banyaknya jalan menuju apa yang kita inginkan—membaca banyak buku—didukung pula oleh cara-cara yang baik yang sudah kita jalani? Dengan maraknya pembajakan buku yang terjadi sudah sejak lama, dan kini terus berkembang, apakah ini pertanda  ada Continue reading “Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak”

Peralatan untuk Booktography

Me-review buku tanpa ada gambar buku itu menurut saya  kurang lengkap, bagaikan makan sayur tanpa garam, rasanya hambar. 😀  Sebenarnya, kalau niat banget mau foto buku yang akan di-review, kita bisa persiapkan alat-alat untuk mempercantik background, hanya saja kalau saya kebanyakan yang sederhana saja karena tidak mau ribet.

Baca: 5 cara membaca buku tanpa harus membeli buku

Berikut ini peralatan* kece yang bisa digunakan untuk para Booktography dalam mempersiapkan foto agar hasilnya menarik: Continue reading “Peralatan untuk Booktography”

Mari Konsumsi Bacaan Positif untuk diri sendiri

Sebuah bacaan, secara tidak langsung bisa saja mempengaruhi diri kamu. Pernahkah kamu sadar tentang hal ini? Ibarat makanan, tidak semua jenis makanan baik untuk kesehatan tubuh. Sama halnya dengan buku, tidak semua buku baik untuk kesehatan tubuh dan juga pikiran pembacanya.

Hal penting yang harus dilakukan oleh seorang pembaca, menurut saya salah satunya adalah bisa memilih bacaan bagus dan positif yang akan menyehatkan jiwa.  Perlu diketahui, tidak semua buku yang ada di dunia ini isinya bagus-bagus dan menyebarkan pengaruh serta pesan positif. Maka, sebagai pembaca harus menyaring, mempertimbangkan, dan jangan cuek terhadap buku apa yang kita baca. Karena kalau semua bacaan kamu baca, tapi kamu belum siap diterpa pengaruh pesan negatif, kemungkinan hal tersebut bisa mempengaruhi pola pikir juga perilaku kita dalam menyikapi kehidupan serta dalam memahami isi pesan.

Di sini, saya Continue reading “Mari Konsumsi Bacaan Positif untuk diri sendiri”

Re-Read Buku-Buku Kesukaan

Salah satu strategi kalau semangat membaca mulai menurun, biasanya saya akan mengingat-ingat buku-buku kesukaan yang dengan senang hati ingin saya baca ulang. Tidak semua buku yang pernah saya baca, ingin saya baca ulang. Hanya buku-buku tertentu yang menurut saya meninggalkan kesan mendalam saat membacanya.  Jika buku non fiksi, kesan itu di dapat apabila membawa perubahan atau pun pengaruh positif dalam diri saya. Dan jika buku fiksi:  kalau suka  karakter-karakter dalam novelnya, ceritanya, keseruannya, atau bahkan meskipun sudah lama saya baca tapi masih mengingat detail cerita-tokoh-setting, biasanya membuat saya ingin membacanya lagi.

Berikut ini beberapa buku yang berhasil saya baca ulang: Continue reading “Re-Read Buku-Buku Kesukaan”

5 Cara Bisa Membaca Buku Tanpa Harus Membeli Buku

Sebagai pembaca buku, idealnya memang ingin membeli semua buku yang mau saya baca.  Tapi apalah daya, jika budget jajan buku terbatas, atau bahkan tak ada budget.  Atau ada kendala lain seperti teman-teman di daerah yang punya budget tapi jauh dari toko buku, apajah harus berhenti membaca karena tidak bisa membeli buku?  Oh tentu tidak!!  Saya tidak akan menyerah, hanya karena tak sanggup beli buku, saya harus mencari cari agar bisa tetap membaca.  Lagi pula, masih banyak jalan menuju Roma.  Kalau tak punya budget, nggak bisa jajan bisa buku, kan masih bisa meminjam buku.  Pertanyaannya kemudian, di mana saya bisa  meminjamnya?  Continue reading “5 Cara Bisa Membaca Buku Tanpa Harus Membeli Buku”

Pengalaman Pertama Mengikuti Lomba Resensi Buku: Review Tiga Buku Dalam Satu Artikel

Pada pertengahan bulan Maret 2019.  Saya masih ingat, tanggal 15 Maret saya selesai membaca buku yang baru terbit dan sudah saya nantikan sejak tahun lalu.  Buku berjudul Komet Minor ini, saya beli lewat toko buku online langganan yang mengadakan open PO.  Selesai baca, saya langsung menulis review buku kemudian posting di blog.  Beres posting, saya cek Instagram.  Sorenya, saya baru lihat akun @bukugpu tepat di tanggal tersebut mengumumkan lomba.  Sebuah lomba tentang resensi buku Tere Liye.  Apakah ini  pertanda saya harus mencoba ikutan lomba?  Saya pernah membaca pemenang lomba resensi buku Matahari karya Tere Liye, sekitar satu atau dua tahun yang lalu di salah satu blog.  Sempat Continue reading “Pengalaman Pertama Mengikuti Lomba Resensi Buku: Review Tiga Buku Dalam Satu Artikel”

Tentang Cap “Buku Best Seller”

Apakah kamu membeli buku berdasarkan cap best seller book? Seberapa penting cap best seller book saat kamu memutuskan untuk membeli buku?

Kalau saya, membeli buku tidak harus selalu ada cap best seller book.  Kecuali, untuk buku yang penulisnya belum pernah sama sekali saya baca karyanya,  maka cap best seller book cukup menarik perhatian saya dan kemudian akan mempertimbangkan, apakah saya penasaran membeli atau membacanya.  Tapi ini tidak selalu jadi alasan utama, hanya saja memang menjadi salah satu hal yang akan berpengaruh pada keputusan saya.  Kalau saya sudah pernah baca dan suka dengan penulisnya, tanpa perlu ada cap best seller, jika ada karya barunya, saya tetap mau membelinya.  Bahkan rela ikutan PO, kalau memang ngadain open PO sebelum bukunya launching.

Nah, lain lagi ceritanya kalau ternyata buku baru terbit yang saya baca ternyata beberapa bulan kemudian jadi best seller book, terus sampai cetak ulang beberapa kali atau hingga belasan bahkan puluhan kali, sebagai pembaca rasanya Continue reading “Tentang Cap “Buku Best Seller””