[Review Buku] Bising Karya Kurniawan Gunadi

Kita pasti bisa melewatinya meski proses yang akan kita tempuh nanti tidaklah mudah. Paling tidak, kita percaya kepada diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita layak memenangkan semua kebisingan ini. tunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang kita, tidaklah berarti apa-apa. (halaman 143-144)

Judul Buku            : Bising
Penulis                   : Kurniawan Gunadi
Penerbit                 : PT. Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 156 halaman
ISBN                       : 978-602-291-760-1

Baca juga: review buku Selamat Tinggal

  1. Aku merasa, kehidupan manusia itu memang tidak pantas untuk kita nilai dari apa yang nampak saja. Harus benar-benar menyelami dan mengenali setiap sebab akibat. (halaman 21)
  2. Namun, ketika aku sudah cukup dewasa, mengerti hidup, dan bersinggungan dengan banyak orang, aku tak menyangka bahwa apa yang terjadi di dunia nyata jauh lebih keras dari apa-apa yang terjadi di buku fiksi dan layar kaca. (halaman 26)
  3. Masalah-masalah yang datang, sejatinya hanya kita hadapi sendiri, semua orang yang ada di sekitar kita, tidak harus kita akui, kehadiran mereka setidaknya membuat kita merasa tenang karena punya tempat untuk bercerita. (halaman 42)
  4. “Hidup ini memiliki banyak pilihan yang akan kamu temui di sepanjang perjalanan. Kejarlah yang menurutmu baik. Kejarlah sampai kamu tahu bahwa pilihan itu juga memilihmu. Kalau kemudian kamu mendapati bahwa jawaban atas pilihan itu justru berlawanan dengan keinginanmu, tidak apa-apa kalau kamu ingin bersedih, asal jangan lama-lama.” (halaman 44)
  5. Bahwa tidak apa-apa mengalami kegagalan. Tidak apa-apa kalau kebingungan. Tidak apa-apa kalau masih bingung dengan tujuan. Boleh kamu mau istirahat dulu sejenak. Boleh kalau mau menangis dan marah kepada semua orang yang tak mampu memahami. Asal, jangan dulu menyerah. (halaman 50)
  6. Hidup ini tidak selamanya tentang salah dan benar. Kalau kita berhasil melewati suatu masalah, bukan berarti mereka yang gagal adalah orang-orang yang salah. Bisa jadi, mereka memang sedang dilatih ketahanan dan ditempa untuk menjadi pribadi yang mereka butuh kelak kemudian hari. (halaman 51)
  7. “Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?” (halaman 73)
  8. Mengapa orang lain begitu repot memikirkan hidup yang kujalani? Bahkan mereka pun tak mengalaminya! (halaman 79)
  9. Aku ingin memulai dengan kejujuran: tak ada sesuatu yang kututup-tutupi. Karena ku percaya bahwa penerimaan itu tidak bisa dipaksakan, sekaligus tidak boleh dikhianati oleh kebohongan. (halaman 90)
  10. Kalau pernah terbesit luka karena mereka pernah salah dalam mendidik dan membesarkan kita, pahamilah bahwa pada masanya, itulah ilmu yang mereka miliki. Tentu berbeda dengan kita saat ini yang bisa belajar tentang pengasuhan sambil rebahan. (halaman 97)
  11. Dan aku percaya bahwa muara hidup ini bukanlah segala hal yang tampak megah dalam hidup. Namun, bagaimana aku bisa melewati hidup ini dalam keadaan sabar dan syukur yang tak pernah surut. Dalam ikhtiar dan tawakal yang berkesinambungan. Dalam iman dan amal saleh yang tak pernah terpisahkan. (halaman 108)
  12. Sungguh teman itu bukan seberapa banyak, tapi seberapa dalam. (halaman 115) 
  13. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, dan bukankah kita juga tidak disenangkan oleh semua orang? Kita tidak perlu berjuang keras untuk disukai oleh semua orang karena bukankah kita juga tidak menyukai semua orang? (halaman 125)
  14. Takaran-takaran tentang apa yang terbaik, memang tidak akan pernah ada dalam ukuran kita, melainkan ukuran-Nya. (halaman 129)
  15. Kita pasti bisa melewatinya meski proses yang akan kita tempuh nanti tidaklah mudah. Paling tidak, kita percaya kepada diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita layak memenangkan semua kebisingan ini. tunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang kita, tidaklah berarti apa-apa. (halaman 143-144)
  16. Aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua urusan hidup. Memberi jeda yang cukup untuk diriku sendiri. Untuk bisa mendengarkan diri sendiri. Dan, untuk bisa melakukan semua ini, ternyata tidak mudah. (halaman 41)
  17. … “Kita tak akan pernah bisa menghapus masa lalu, sekelam apa pun. Jejak itu melekat. Kita hanyaperlu menerima senagai bagian dari diri kita” (halaman 152)

Baca juga:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s