[Resensi Buku] SI ANAK BADAI Karya Tere Liye

KEBERANIAN “GENG SI ANAK BADAI”  MEMPERTAHANKAN

KAMPUNG HALAMANNYA

Penulis multitalenta Tere Liye, seolah tidak pernah kehabisan ide cerita, kini kembali hadir dengan buku barunya yang berjudul Si Anak Badai, yang sudah terbit Agustus 2019. Cepat sekali ya, pikir saya.  Hanya berselang delapan bulan setelah buku Si Anak Cahaya di bulan Desember 2018. Buku ini merupakan buku ke enam dari Serial Anak Nusantara.  Salah satu serial favorit saya.   Serial ini merupakan bacaan yang  target pembacanya untuk semua umur, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Saya sangat senang dengan kehadiran Serial Anak Nusantara, seolah sedang bernostalgia dengan masa kecil, bahkan seperti sedang  diajak untuk menyelami kesederhanaan hidup khas anak-anak yang tetap ceria, juga bahagia, meski hidupnya sangat sederhana bahkan tidak mengenal gadget.  Cerita ini kemungkinan  ber-setting tahun 1990-an dimana belum tersentuh era digital dan perkembangan teknologi secanggih sekarang .  Serial ini bisa menjadi referensi bacaan keluarga masa kini. Buku keenam sangat berbeda dari lima buku sebelumnya.  Buku ini berdiri sendiri dan tidak ada kaitan dengan ke lima buku yang sudah  terbit duluan, yaitu: Si Anak PemberaniSi Anak SpesialSi Anak PintarSi Anak Kuat dan Si Anak Cahaya.  Tidak berkutat pada cerita keluarga Mamak Nurmas dan anak-anaknya (Eliana, Pukat, Burlian, Amelia) lagi, tetapi menceritakan keluarga lain dengan latar belakang baru di sebuah muara bernama Manowa.  Sehingga hal ini terlihat sangat bervariasi, sesuai dengan konsep serialnya yang bertemakan “Anak Nusantara.” Kelihatannya, serial ini akan jauh lebih berkembang banyak. Jika sebelumnya bertemakan serial Anak-Anak Mamak yang saya pikir akan bercerita tentang karakter-karakter di keluarga Mamak Nurmas, dengan adanya recover sejak Desember 2018 pada buku-buku sebelumnya, dan kehadiran Si Anak Badai dengan cerita baru, membuat saya sebagai pembaca semakin penasaran akan kelanjutan kisah serial “Anak Nusantara” lainnya.

SINOPSIS:

Badai kembali membungkus kampung kami.  Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes hujan dengan riang.  Inilah kami, Si Anak Badai.  Tekad kami sebesar badai.  Tidak pernah kenal kata menyerah.

Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan.  Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik mereka, hari-hari penuh keceriaan dan petualangan seru.

Kali ini dalam buku Si Anak Badai muncul dengan karakter baru yaitu Zaenal, yang akrab disapa Za, kelas 6 SD. Memiliki dua adik yaitu Fatahillah dan Thiyah.  Mereka tinggal di Kampung Manowa.  Cita-cita Za sepertinya lebih visioner dari teman-teman seusianya “Aku ingin menjadi orang yang ahli tentang cuaca.  Bisa memperkirakan akan turun hujan atau tidak.  Bisa memperkirakan akan ada badai atau tidak.  (halaman 160).

Di sana, seluruh rumah warga berada di atas air.  Kokoh berdiri dengan tiang-tiang yang tertanam di dasar muara.  Bukan hanya rumah, masjid, dan sekolah juga di atas air.  Sebagai penghubung antara satu rumah dengan rumah lainnya juga penghubung kampung kami dengan daratan , dibangun jembatan yang terbuat dari papan ulin selebar satu setengah meter.  Itulah jalan papan ulin tempat mereka berlalu lalang.  Penduduk juga menggunakan perahu-perahu kecil untuk bepergian.  Namun, Kampung yang tadinya damai, semenjak kedatangan Pak Alex atau si bajak laut, menjadi tidak tenteram.  “Sekarang orang-orang pintar itu akan membuat pelabuhan di sini.  Mereka tidak akan tahu apa dampaknya bagi kita.  Lebih celakanya lagi, mereka tidak peduli apa akibatnya bagi kita.  Yang penting pelabuhan itu jadi, yang penting mereka mendapat uang banyak dari pembangunan pelabuhan. ” (halaman 98)

Kampung Manowa terancam digusur, utusan gubernur mengatakan akan membangun pelabuhan besar. Meskipun dengan dalih kesejahteraan dan kemajuan  warga kampung, kenyataannya itu hanyalah alasan  untuk  menguntungkan orang-orang yang berkepentingan saja.  Zaenal bersama gengnya “Si Anak Badai” berusaha keras untuk menyelamatkan kampung Manowa dari orang-orang berkepentingan yang ingin membangun pelabuhan. Segala cara mereka lakukan demi mempertahankan kampungnya, sebab mereka tidak mau kehilangan tanah kelahirannya. Tekad dan keberanian mereka benar-benar diuji. Akankah mereka berhasil mengatasinya?

Nama geng “Si Anak Badai”  didapatkan Zaenal, ketika melakukan tindakan heroik saat kapal yang membawanya dan orang-orang kampung dihantam badai besar yang mengancam keselamatan seluruh penumpang kapal. Sejatinya, dalam buku ini bukan tentang kisah milik Za saja, melainkan Za beserta gengnya.

Tapi kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang.   “Inilah kami, “Si Anak Badai.”  Tekad kami sebesar badai.  Kami pantang menyerah.  (halaman 312)

Aku harus berhitung cepat.  Aku memang bukan anak nelayan, aku hanya anak pegawai kecamatan.  Tetapi pelaut tidak ada urusannya dengan siapa orangtua kita.  Pelaut sejati mengandalkan pengalaman dan kecakapan.  –Zaenal (halaman 246). Pesan ini menyadarkan saya bahwa ini bukan tentang dari mana kita berasal, melainkan bagaimana diri kita saat ini dan bisa belajar untuk berjuang dan memecahkan masalah yang kita hadapi. Meskipun Zaenal bukan anak nelayan, dengan kecakapan yang dia miliki, buktinya ia mampu mengatasi dan menyelamatkan sahabatnya saat diterjang badai.

Baca : Tentang Kamu karya Tere Liye

Karakter Pak Kapten dalam buku ini juga terasa lebih hidup, yang paling lucu kalau galaknya kumat dan mengancam anak-anak yang nakal akan merubahnya jadi kodok.  Namun  karisma sosok yang akrab disapa Pak Kapten alias Sakai bin Manaf, membuat novel ini semakin menarik.  Walaupun galak, tapi disegani dan dihormati warga Kampung Manowa, dan ditakuti anak-anak Kampung.   Beliau memang galak namun tegas, dan jauh dilubuk hatinya beliau sangat lembut, penyayang dan perhatian, bahkan rela menanggung resiko seberat apapun demi melindungi orang-orang yang dicintainya juga kampung halamannya. Saya sangat sedih saat Pak Kapten dituduh dengan keji hingga diseret paksa ke penjara. Pak Kapten tetap menyemangati warga, sekalipun kondisinya tidak baik, namun baginya integritas di atas segalanya, bahkan Pak Kapten menolak saat akan didatangkan pengacara kondang dari Ibukota untuk membelanya padahal masih kerabat dari warga di kampungnya. Ia rela dipenjara selama membela apa yang dianggaapnya benar, “Jangan ada yang berubah.  Jika kita terlihat lebih sedih, kita telah kalah selangkah dari lawan.  -pesan Pak Kapten pada warga saat dirinya akan dibawa ke penjara (halaman 226). Saat Rahma bersedih menghadapi kenyataan bahwa Kakek-nya di penjara, guru ngajinya yaitu Guru Rudi menasehati:

“Manusia mendapat ujian bukan karena dia telah berbuat kesalahan.  Ujian itu kadang untuk lebih menguatkan.  (halaman 221)

Hal menarik lainnya juga saat Ibu-Ibu berlatih rebana, untuk mempersiapkan diri menyambut tamu dari ibu kota provinsi. Saya jadi teringat lagu “Perdamaian” dari Nasida Ria, lirik ini sangat bagus sekali “Perdamaian, perdamaian, banyak yang cinta damai, namun perang semakin ramai.”  Bagian lirik “bingung … bingung kumemikirnya,” ini jadi hal yang kadang membuat kocak jika dikondisikan dengan kebingungan yang dialami misalnya oleh Za dan karakter lain dalam buku tersebut.

Saat Mamak sibuk menjahit belasan baju untuk para ibu-ibu yang akan tampil pada saat penyembutan tamu penting dari provinsi, maka terpaksalah anak-anak Mamak makan jadi seadanya, yang paling mengocok perut saya, saat tiga bersaudara Za, Fatah dan Thiyah belajar menyiapkan sarapan dengan membuat nasi goreng untuk lima porsi.  Hasilnya?  bisa ditebak, tapi silahkan baca sendiri 😀

Hal baik dari kegagalan kami membantu Mamak adalah apa yang dikatakan Bapak waktu makan malam meresap dengan sendirinya.  Bagiku itu terasa nyata.  Bahwa menjahit, memasak, dan mencuci itu sulit.  Dan Mamak mengerjakannya sekaligus, masih sambil menjahit pula.  Tahu beratnya pekerjaan Mamak membuat kami tidak banyak protes. Apa pun yang Mamak masak, akan kami makan.  Betapa pun tidak rapinya baju yang disetrika Mamak, selalu kami kenakan dengan gaya.   (halaman 128)

Di sini, Bapak sangat bijak sekali dalam menangani dan membesarkan hati anak-anak yang protes dengan Mamak yang selama dua minggu terakhir sangat sibuk dan mereka kurang terurus.  “Kau boleh jadi benar, Fat, tumis kangkung ini memang hambar.  Tapi rasa hambar itu bisa tetap lezat kalau kalian tahu besarnya perjuangan Mamak menyiapkan tumis kangkung dan tempe goreng ini.” (halaman 122). Ayo habiskan makanan kalian.  Bayangkan semua perjuangan Mamak, pasti akan terasa lezat. (halaman 122-123). 

Sementara Mamak menyesal dan merasa bersalah karena tidak sempat memasak masakan enak untuk anak-anak dan suami, hati Mamak tak karuan, kurang istirahat dan keluarganya kurang diperhatikan, namun urusan menjahit baju sangat menyita waktunya. “Ranum si buah duku.  Jatuh hanyut dalam selokan.  Sedih rasa hatiku.  Melihat buah hati terlantarkan.”  (halaman 130). Bapak juga paling jago dalam hal membesarkan hati Mamak dan menghiburnya, “Oi, tidak baik menyesali apa yang telah diputuskan.  Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.  Lagi pula, sudah kewajiban kita ikut membantu satu sama lain.”  (halaman 131).

Geng Si Anak Badai yang mengisahkan empat orang anak laki-laki kelas 6 SD yang terdiri dari Za, Ode, Awang, dan Malim. Mereka tinggal di atas air yaitu di kampung Manowa. Ceritanya mengalir begitu saja, dan saya seolah sedang merasakan denyut kehidupan di kampung Manowa. Namun, suatu hari kampung mereka yang indah mengalami ancaman dan bahaya besar. Berkat perjuangan dan kegigihan penduduk kampung Manowa, khusunya Geng Si Anak Badai, gangguan bisa diatasi. Mereka pantang menyerah, ketika kegagalan menyapa, mereka terus bangkit, bangkit, dan mencoba lagi, semangat mereka begitu menggebu. Dan  yang keren sekaligus cerdas menurut saya, tentu saja tentang “siasat jitu” dari geng Si Anak Badai. Apa siasat yang mereka gunakan? Bagaimana nasib sekolah mereka?  temukan dalam bukunya. Selain kisah heroik,  diantara mereka juga tak luput dari suka dukanya sebuah persahabatan yang terjalin, tak hanya senang saja yang ditemukan, bumbu pertengkaran kerap hadir di antara mereka, saling meledak, dan saling peduli, menjadikan persahabatan mereka terukir sangat indah. Selain itu, kecerdasan dan solidaritas tim di Geng si Anak Badai dalam menghadapi tekanan dan persoalan hidup mereka, hal ini jadi mengingatkan saya bahwa saya harus banyak belajar dari anak-anak,  ketulusan hati mereka, kegigihan, semangat, serta perjuangan untuk  mendapatkan apa yang mereka inginkan  benar-benar patut dijadikan pelajaran berharga untuk saya.

Saya juga sangat suka interaksi Za dengan Rahma, cucunya Pak Kapten, percakapan mereka sangat seru, dan menggemaskan! Apalagi Mamak pun ikutan meledek tentang kedekatan mereka—meski hanya sebagai teman. Bagaimana tidak, saat Za disuruh Mamak beli ubi jalar, tapi tiba-tiba ada keributan, diduga ada maling yang menyelinap di pasar terapung, bukannya beli ubi jalar, malahan ia ikut mengejar maling sampai harus berurusan dengan pihak keamanan. Beruntunglah saat itu, Za berpapasan dengan Rahma, dan dari percakapan mereka Rahma tahu bahwa Za sedang mendapat mandat dari Mamak membeli ubi.  Kalian keliru kalau menyangka aku gagal mendapat ubi jalar warna ungu yang bagus-bagus. Ingatlah, selalu ada pertolongan Tuhan untuk anak sebaik aku.  (halaman 175). Ayo tebak, siapa yang membelikannya? Dan bagaimana akhir kisah mereka?  temukan jawabannya dengan membaca bukunya 😀 Tapi jangan membayangkan mereka pacaran, karena novel-novelnya Bang Tere tidak ada pacaran, sekali pun genre romance. Sudut pandang yang digunakan Bang Tere menggambarkan bahwa kedekatan dengan seseorang itu tidak harus dengan pacaran.

Saya membayangkan keseruan pasar terapung, ditambah  saat Za dan Rahma bertemu di pasar terapung, hmmm indahnya 😀 Sumber gambar: http://erwinyogapratammaeyp.student.umm.ac.id/2018/08/29/pasar-terapung-muara-kuin/

Buku ini sangat mengaduk emosi saya, mulai dari senang, sedih, bahagia, kesal, bete. Dari hal yang lucu, kocak, menggemaskan, hingga menyebalkan menjadi  komplit dan tersaji sesuai dengan porsinya yang pas. Dari yang membuat tertawa, terkagum, hingga dibuat menangis saking menghayati bacanya >.< Hadir cerita khas tentang anak-anak dengan petualangannya yang sangat seru, kadang kondisi mereka membuat sedih dengan keterbatasan yang ada, namun mereka tetap dapat menikmati kehidupan yang mereka jalani, tak lupa unsur kenakalan khas anak-anak pun menjadi bumbu tersendiri yang menjadikan buku ini tetap bisa saya nikmati dengan senang hati, rasanya baru sebentar membacanya tahu-tahu sudah selesai.  Membayangkan kehidupan di muara,  perjuangan orangtua dan anak-anak dalam mempertahankan tempat tinggal mereka dari gangguan orang-orang yang hanya ingin mengeruk keuntungan semata tanpa mempedulikan nasib mereka di masa yang akan datang.  Sebenarnya kisah yang tersaji dalam buku ini sangat sederhana, namun dari kesederhanaannya itulah banyak sekali pesan yang bisa saya petik dan dapatkan.

Yang menarik dan membedakan buku ini dari lima buku sebelumnya dalam serial anak Nusantara adalah cerita, karakter dan setting-nya.  Namun ada satu hal yang menyamakan dengan buku sebelumnya, yaitu tentang bab “Seberapa Besar Kasih Sayang Mamak.”  Bab ini selalu sukses membuat saya terharu sampai sesegukan dan tak terasa berurai air mata, menurut saya bab ini sangat spesial dan  membuat saya semakin kagum dengan sosok Mamak.”  Boleh di bilang, bab ini menjadi ciri khas serial Anak Nusantara mulai dari buku pertama sampai yang terbaru ini, ada bab khusus tentang Mamak.  Bedanya, kalau Mamak dalam buku satu sampai empat Mamak Nurmas, buku kelima bernama Mamak Qaf, nah kalau di buku ke enam ini nama Mamak-nya adalah Fatma.  Mamak dari Zaenal, Fatah, dan Thiyah.  Pada buku-buku sebelumnya  juga selalu ada bab tentang teman yang putus sekolah, menganggap sekolah tidak penting, tapi pada akhirnya berkat bujukan yang tak kenal lelah dari para sahabat dan guru yang sangat peduli, maka akhirnya bisa kembali bersekolah.  Termasuk dalam buku ini, Malim yang merupakan sahabat Za, sempat memutuskan untuk tidak sekolah, namun Za, Ode dan Awang si geng Anak Badai terus membujuknya untuk melanjutkan sekolah. Di sini penulis seolah ingin mengingatkan anak-anak dimana pun berada agar tidak putus sekolah, sebab pada kenyataannya pendidikan itu sangat penting. Hanya dengan pendidikan-lah, bisa membuat masa depan jadi lebih baik.

Dalam serial Anak Nusantara ini, selain pesan berisi tentang keluarga, persahabatan, hidup dalam bermasyarakat dan bertetangga, juga selalu menekankan akan pentingnya pendidikan.  Tentang sekolah, sekolah, dan sekolah tak peduli apa pun latar belakang dan keterbatasan yang menghimpit kehidupan mereka, sekolah itu tetap sangat penting.  Mungkin karena masih ditemukan tentang anak yang putus sekolah, dalam serial ini penulis pun seolah tak bosan, lewat karakter dalam novel selalu mengingatkan tentang betapa sekolah itu sangat penting.

Ada banyak penyebab kenapa tangkapan ikan mereka berbeda.  Jika yang satu punya alat lebih baik, pengalaman lebih banyak, keterampilan lebih tinggi, kemungkinan besar dia mendapatkan tangkapan lebih banyak.  Itulah kenapa kalian harus sekolah, agar kalian tahu banyak hal, memiliki ilmu pengetahuan.  (halaman 62)

“Tapi itu betul.  Mau jadi apa pun kita, sekolah tetap penting.  Jadi pedagang juga butuh sekolah.”  (halaman 189)

Co-Author: Dalam serial Anak Nusantara, buku satu sampai buku ke empat tidak ada Co-Author.  Sementara untuk buku ke lima dan ke enam, ada Co-Author-nya yaitu Sarippudin, nama yang sama yang menjadi Co-Author untuk buku Pergi dengan penulis yang sama.  Tapi tenang saja, meski ada Co-Author tak sedikit pun terasa ada yang berbeda, tetap  dengan rasa yang sama tulisan khas Bang Tere yang memang dibalut unsur kesederhanaan, pokoknya benar-benar Tere Liye banget. Terus terang, sejak kemunculannya dalam buku Pergi, saya penasaran dengan sosok sang Co-Author. Keren sekali bisa mirip begitu tulisannya, bagaimana caranya bisa berkolaborasi seapik itu? pikir saya. Dan pada kesempatan acara “Bedah Buku Si Anak Badai” yang diadakan di Batam, melalui info dari seorang sahabat @septriyanii2, ternyata Sarippudin tidak lain dan tidak bukan adalah Abangnya Bang Tere, lebih tepatnya beliau Kakaknya Bang Tere. Jadi buat yang penasaran seperti saya, para Co-Author baik di Serial Anak Nusantara maupun di beberapa buku lain, ternyata itu saudara-saudara dan keluarganya sendiri. Bang Sarippudin ini wajahnya mirip, suaranya mirip, menurut sahabat saya, dan menurut saya tulisannya juga mirip! 😀 Pokoknya yang biasa baca novel-novel Tere Liye, buku ini Tere Liye banget. Wow, langka sekali penulis multitalenta bisa melahirkan bakat-bakat penulis dari keluarganya sendiri, salutnya lagi saya sama sekali tidak merasa terganggu, rasanya sama seperti novel-novel Bang Tere, proyek kolaborasi ini berhasil membuat saya makin takjub dan berharap kedepannya para Co-Author nya pun bisa menerbitkan karya sendiri. Aamiin.

Satu hal yang sangat disayangkan, meskipun saat itu saya membeli buku ini dengan ikut PO (Pre-Order) di website bukurepublika.com, biar dapat diskon, dan hemat jajan buku 😀 Tapi tak ada goresan tanda tangan penulis. Biasanya, bila ada PO, rata-rata selain dapat diskon buku, juga plus ttd penulisnya, bahkan penulis-penulis besar masih meluangkan waktunya untuk menggoreskan ttd-nya. Bagi pembaca seperti saya, berburu PO buku baru salah satunya bisa mendapatkan goresan ttd penulisnya,  itu berarti sangat menyenangkan. Mungkin Bang Tere sangat sibuk, atau mungkin memang suatu hari nanti semoga saya berkesampatan datang ke salah satu acara bedah bukunya beliau, agar bisa booksigning semua karya Bang Tere, hihi! Tapi terus terang saya salut, walaupun sering mengadakan acara bedah buku yang hanya bisa saya pantau lewat akun Ig-nya @tereliyewriter, penulis  multitalenta sekelas  Bang Tere, ternyata mengadakan acaranya tanpa dipungut biaya, siapa pun bisa datang.  Begitulah, saya harus membiasakan diri dengan penulis besar ini, biar pun multitalenta, tapi beliau sangat sederhana *bener-bener panutanku*.

Cover: saya sangat suka cover yang di design oleh Resoluzy. Sejak vote pemilihan cover di upload pada tanggal 26 Juni 2019, baik lewat akun Instagram @bukurepublika dan @tereliyewriter, saya langsung jatuh cinta dan memilih cover opsi 1. Hasilnya? tadaaa, cover pilihan saya dan belasan atau mungkin  puluhan ribu yang ikut voting ini berhasil jadi cover Si Anak Badai. Benar-benar menggambarkan setting yang ada dalam buku ini. Kabarnya, novel Si Anak Badai ini terinspirasi dari kisah hidupnya sang Co-Author. Dulu ketika kuliah, beliau tinggal di dekat laut. Sehingga latar tempat novel ini di tepi laut. Jika kamu mengikuti kisah Serial Anak Nusantara, pada buku-buku sebelumnya nama Mamak Nurmas adalah nama Ibunya Bang Tere, dan nama dalam buku-buku sebelumnya adalah nama-nama keluarganya. Beneran, keluarga sederhana yang inspiratif sekali. 🙂 Sebenarnya dari serial sebelumnya, saya mengharapkan kisah Bapak Syahdan, Paman Unus, Nek Kiba, Pak Bin, Wak Yati, punya cerita tersendiri seperti Mamak Nurmas.

Si Anak Badai muncul dengan cerita yang lebih fresh dan setting berbeda. Bila dalam lima buku sebelumnya serial anak Nusantara, setting kehidupannya di lembah yang indah di pedalaman Sumatera, meskipun tidak secara detail di sebutkan nama kampungnya. Maka Si Anak Badai ber-setting di Kampung Manowa. Saya saking penasaran sampai searching di google maps, tapi tidak ketemu 😂  Andai saja, penulis memberikan setting tempatnya real, kalau buku ini sampai difilmkan, bisa jadi kampungnya ngehits dan jadi destinasi tujuan wisata macam Belitong yang jadi makin terkenal setelah film LP (beginilah pembaca buku macam saya yang senang traveling, bahkan baca buku fiksi saja mikirnya tempat yang ada di dalam buku bisa dikunjungi suatu hari nanti—kalau ada). 😁 Menurut saya, meski fiksi, lebih asik bila setting-nya real, siapa tahu pembaca terispirasi untuk datang ke tempat yang jadi lokasi cerita. Jangan hanya film saja lokasi shootingnya dikunjungi penonton, buku fiksi pun bisa. Dan berharap buku-buku Serial Anak Nusantara selanjutnya, digambarkan setting yang nyata, misal Palembang dan lain-lain. Biar pembacanya tahu dan habis baca tergerak datang ke lokasi cerita. 😊

Moral Lesson:  seperti biasa, Bang Tere selalu menyisipkan nasehat-nasehat yang relevan dalam kehidupan meskipun disajikan dalam bentuk fiksi, namun terasa dekat dengan keseharian. Ada banyak pelajaran hidup dan pesan moral yang bisa diambil dan  direnungkan dari novel Si Anak Badai.  Diantaranya: kita harus menyadari bahwa ilmu yang kita miliki jika dibandingkan telunjuk dan lautan, tidak ada bandingannya.  “Banyak hal di dunia ini yang kita tidak tahu jawaban pastinya.  Mengapa shalat Magrib tiga rakaat, sementara shalat Subuh dua rakaat.  Mengapa ikan bisa berenang, sementara burung bisa terbang.  Mengapa tidak dibalik saja.  Ikan-ikan beterbangan di angkasa, sementara burung menyelam di dalam air.”  … Ilmu milik Allah sangat luas.  Bayangkan kalian mencelupkan telunjuk di laut, kalian angkat telunjuk itu, maka air yang menempel di telunjuk kalian itulah ilmu yang dianugerahkan Allah kepada kita.  Selebihnya, air lautan yang tak terhingga banyaknya, itulah ilmu Allah.  Ada yang kita tahu, ada juga yang kita tidak tahu.  Kalau kalian terus menanyakannya, itu akan jadi rumit sekali.  (halaman 58). Tentang cinta, kasih sayang dan menghargai perjuangan Mamak (baca bab Seberapa Besar Kasih Sayang Mamak), dibagian ini membuat terenyuh dan tak terasa derai air mata sukses mengalir. Tentang  belajar dari kesalahan dan memaafkan, “Kita tidak boleh terus marah atas kesalahan orang lain.  Tidak boleh membahas-bahasnya lagi.  Setiap orang melakukan kesalahan, Fat.  Yang membedakan orang yang melakukan kesalahan itu adalah ada yang belajar dari kesalahannya, ada juga yang tidak mengambil pelajaran apa-apa dari kesalahannya itu. – nasehat Bapak kepada Fatah.  (halaman 72).  Pesan bahwa kita harus selangkah lebih maju dibandingkan dengan lawan (baca halaman 226), dan tentang kejahatan dan kekerasan yang dibalas dengan kebaikan, “Itu benar sekali.  Tidak selalu api dilawan dengan api.  Kadangkala, cara terbaiknya justru dilawan dengan cara lemah lembut.”  (halaman 300).… “meskipun dia tega merobohkan sekolah kami, jauh di lubuk hatinya, dia pasti orang yang baik.  Tukang pukul itu juga, meskipun mereka galak, sejatinya mereka juga tetap orang baik.  Mereka punya keluarga, anak, istri yang harus dinafkahi.   Kami tidak bisa melawan kekerasan dengan kekerasan, kami harus mengambil hati, memanfaatkan sisi kebaikan mereka.  (halaman 295). Juga tentang setia kawan, “Seorang kawan tidak akan meninggalkan kawannya sendirian.” (halaman 202). Persahabatan yang dibangun oleh Za, bersama gengnya sungguh sangat solid. Seru juga kali ya, bersahabat dengan mereka *eh. 😀

Tak lupa, seperti biasa juga terdapat kalimat sindiran halus yang disampaikan oleh penulisnya saat pejabat dari provinsi datang terlambat dan membuat warga kampung menunggu berjam-jam, “… Biasanya begitulah.  Namanya tamu penting, pasti terlambat.  Kalau dia sudah datang sejak tadi, jadi tidak penting.”  (halaman 80). 

Sebuah buku yang sarat akan pesan moral, mendidik, dan menarik untuk dibaca oleh semua umur. Buku untuk keluarga Indonesia di seluruh nusantara. Jadi, tunggu apa lagi.  Buat kamu yang suka membaca buku genre anak-anak dan keluarga, jangan sampai terlewatkan membaca buku Si Anak Badai!  Bagi saya pribadi, seperti judulnya yang terdiri dari tiga kata yaitu  “Si Anak Badai.” Maka tiga kata yang mewakili buku ini untuk saya : Super Super  Seru! 😎🤩

Rate: 5/5. Dan mari kita nantikan buku baru  berikutnya dari Bang Tere 😀

Keterangan Buku:

Judul Buku SI ANAK BADAI
Penulis Tere Liye
Co-Author Sarippudin
Penerbit Penerbit Republika
Tahun Terbit ,Tebal & ISBN Cetakan I, Agustus 2019.  322 hlm. ; 21 cm.  9786025734939

 

Pengumuman lomba tanggal 11 November 2019. Alhamdulillah artikel saya masuk dalam 10 resensi pilihan. Terima kasih Republika. Sumber foto akun  twitter @bukurepublika Selamat kepada semua pemenang 😊👏

Update Kamis 21 November 2019, alhamdulillah hadiah dari Republika sudah sampai. Terima kasih Republika Penerbit. Semoga semakin sukses. Aamiin

Hadiah dari Republika Penerbit. Terima kasih 🙂
BERHENTI BELI BUKU BAJAKAN! — pesan dari Republika Penerbit dalam pengiriman paketnya, mantaaaap

Teruntuk pecinta serial Anak Nusantara, mari kita nantikan buku-buku berikutnya dalam serial ini.  Dengan kisah-kisah  seru yang berbeda, lokasi yang berbeda, dan anak-anak yang istimewa.


Baca juga review buku Serial Anak Nusantara lainnya:

  1. Si Anak Pemberani,
  2. Si Anak Spesial,
  3. Si Anak Pintar,
  4. Si Anak Kuat
  5. Si Anak Cahaya.

Note: buku ini ikutan Pre-Order di http://www.bukurepublika.com

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙


Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan berbagai genre. Dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini buku-buku Tere Liye yang sudah saya baca dan saya review:

NOVEL GENRE ANAK-ANAK & KELUARGA :

1. Hafalan Solat Delisa,

2. Moga Bunda Disayang Allah,

3. Bidadari-Bidadari Surga (recover jadi Dia adalah Kakakku),

4. Eliana, recover dan retitle menjadi Si Anak Pemberani,

5. Burlian, recover dan retitle menjadi Si Anak Spesial,

6. Pukat,   recover dan retitle menjadi Si Anak Pintar,

8. Amelia, recover dan retitle menjadi Si Anak Kuat,

9. Si Anak Cahaya

10. Si Anak Badai,

GENRE ROMANCE : 

11. Berjuta Rasanya,

12.  Sepotong Hati Yang Baru

13. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, 

14. Sunset dan Rosie,

15. Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah,

GENRE FANTASY:

16. Ayahku Bukan Pembohong,

17. Sang Pengintai, recover menjadi Harga Sebuah Percaya,

18. Bumi,

19. Bulan,

20. Matahari,

21. Bintang,

22. Ceros & Batozar

23. Komet

24. Komet Minor

25. Selena (unedited version),

GENRE POLITIK & EKONOMI:

26. Negeri Para Bedebah,

27. Negeri di Ujung Tanduk.

GENRE ACTION:

28. Pulang

29. Pergi

Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup:

30. Hujan 

Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: 

31. Rembulan Tenggelam di Wajahmu

KUMPULAN PUISI:

32. Dikatakan atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta

KUMPULAN QUOTE:

33.  #About friends

34. #About Love,   

35. About Life

GENRE SEJARAH:

36. RINDU

GENRE BIOGRAFI

37.  TENTANG KAMU 

BUKU TERE LIYE Yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

7 thoughts on “[Resensi Buku] SI ANAK BADAI Karya Tere Liye

    1. Aamiin Aamiin, Terima kasih doanya Kak 🙏😇😇

      Terima kasih berkenan untuk membacanya 😍😍😍😍

      Yuk Kak, ikutan lomba resensi si anak badai (info lengkapnya di Ig bukurepublika) 😊

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s