[Review Buku]: Dia Adalah Kakakku Karya Tere Liye

Dia Adalah Kakakku, merupakan buku recover dari Bidadari-Bidadari Surga. Buku  ini, tentang  kisah Kak Laisa.   Kakak yang sangat mencintai keempat adiknya: Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan si bungsu Yashinta.  Mereka tinggal di sebuah lembah yang sangat indah, lembah Lahambay.  Kak Laisa rela mengorbankan apa pun, agar adik-adiknya bisa sekolah, termasuk mengorbankan impiannya.  Ia berhenti sekolah karena saat itu Mamak tidak sanggup membeli baju sekolah untuk adiknya, Dali.  Sejak saat itu Kak Laisa membantu Mamak  mengurus ladang, bekerja keras mengumpulkan uang untuk menyekolahkan adik-adiknya.  Sejak Babak meninggal di terkam penguasa Gunung Kendeng, Kak Laisa menunaikan janji yang selalu dipegangnya erat-erat.

Buku ini sangat menyentuh sekali, apalagi hubungan Kakak-adik yang terjalin sangat indah.  Saya suka hubungan kakak adik Laisa – Yashinta – Dalimunte, dimana sebagai adik, Yashinta dan Dalimunte sangat nurut dan mencintai Kakaknya.  Lain halnya dengan Ikanuri dan Wibisana, saudara yang nyaris kembar kelakuannya, padahal mereka bukan anak kembar, sebab usia mereka terpaut satu tahun lebih.  Namun kenakalan mereka berdua luar biasa, mereka ngeyel, dan selalu membuat Mamak dan Kak Laisa repot dengan ulah dua sigung tersebut.  Meskipun mereka nakal, sebetulnya hubungan kakak – adik antara kak Laisa – Ikanuri dan Wibisana ini justru jauh lebih emosional, namun tetap indah karena pada kenyataannya Ikanuri dan Wibisana sangat mencintai dan menghormati Kak Laisa.  Menurut saya, yang paling menyentuh pada saat Ikanuri meminta maaf pada Kak Laisa, tepat saat mereka tiba di kamar Kakaknya, setelah belasan jam lintas benua demi menemui Kakak tercintanya.

Baca: review buku Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi

Judul buku : DIA ADALAH KAKAKKU
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : cetakan I, Oktober  2018.  Cetakan IV, Agustus 2019
Halaman : 398 halaman
ISBN         : 978-602-5734-37-3

Sinopsis:

“Buat apa kamu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain?  Buat apa kamu mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain?  Kekhawatiran dan kecemasan sejatinya mungkin tidak pernah ada.”

Tentang seorang kakak yang mengorbankan apa pun agar adik-adiknya bisa sekolah.  Tentang rasa sabar dan penerimaan.  Tentang keluarga yang penuh perjuangan.

Dulu, sekarang, hingga kapan pun, dia adalah kakaku.

Lembah Lahambay yang digambarkan penulisnya, sangat eksotis sekali, ingin saya berada di sana (bila ada, sayangnya ini fiksi hehe)  Bagian pertama di buka dengan Mamak memberikan kabar pada keempat anaknya melalui sms, dan mereka disuruh untuk pulang.  “Pulanglah, anak-anakku! Untuk pertama dan sekaligus untuk terakhir kalinya, kakak kalian membutuhkan kalian.” –Mamak (halaman 3)

Maka cerita seru mereka dimulai! Seperti biasa, dalam kesederhanaanya, penulis selalu lihai dalam memberi kejutan.  Membaca buku ini, membuat saya tertawa, terharu dan tak terasa embun satu per satu perlahan membahasi pipi karena segala keharuan yang dialami oleh masing-masing karakter dalam buku ini.

Baca: review buku Anak Rantau

Kak Lais, mengajarkan adik-adiknya untuk selalu kerja keras, kerja keras, kerja keras!  Sepeninggal Babak, kehidupan mereka sangat susah.  Perlahan tapi pasti dengan usaha gigih Kak Lais yang membuka perkebunan strawberry di lembahnya yang sangat indah, meski percobaan pertama gagal.  Namun Kak Lais pantang menyerah, sehingga usaha perkebunan strawberry yang awalnya hanya satu hektar,  setelah sukses maka berkembang menjadi ribuan hektar.  Berkat Mamak dan Kak Lais, adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik, bahkan dua adiknya Dali dan Yash, mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri, sementara Ikanuri dan Wibisana, bisa lulus kuliah saja bagi mereka seperti keajaiban dunia ke depalan dan ke sembilan.  Meskipun Kak Lais menawarkan pada mereka untuk melanjutkan kuliah, tapi dua adik kembar ini tidak mau.  Keempat adiknya menjadi orang-orang sukses di bidangnya masing-masing, hal tersebut sangat kontras dengan apa yang diraih Kak Lais.  Tapi bagi Kak Lais, ini bukan tentang bagaimana kehidupannya, melainkan bagaimana ia bisa menepati janji kepada adik-adiknya untuk tak pernah terlambat, dan selalu ada saat mereka butuhkan.  Seperti cerita tentang Dali, berkat dukungan Kak Lais yang berhasil meyakinkan penduduk untuk membuat kincir angin.  Kak Lais yang membawa Yashinta melihat berang-berang, semua itu akan mempengaruhi masa depan kedua adiknya.  Dan keberanian Kak Lais menyelamatkan Ikanuri dan Wibisana saat akan di terkam siluman penguasa Gunung Kendeng, membuat kedua adiknya yang nakal ini jera dan banyak belajar tentang kehidupan dari Kak Lais.  Sebuah fiksi yang sangat menarik, dikemas dengan sederhana, namun mampu membuat hati pembaca terenyuh dengan sosok Kak Lais, juga keluarga Mamak.  Hubungan Kakak- Adik yang unik namun indah sekali.  Cerita tentang menjadi seorang kakak yang sangat dicintai adik-adiknya dan juga sangat mencintai adik-adiknya, bahkan rela menukar nyawa demi keselamatan adik-adiknya.  Pengorbanan yang Kak Lais lakukan, memang layak diganti dengan menjadikannya salah satu bidadari di surga-Nya.  Dalam novel ini pun, tersirat pesan tentang bagaimana pentingnya sekolah, sekolah, dan sekolah.  Serta sikap yang diajarkan Mamak dan Kak Lais untuk berdoa, shalat, bekerja keras, mandiri, dan bertanggung jawab, sehingga hasilnya bisa dilihat dengan kesuksesan yang akhirnya bisa diraih keempat adiknya Laisa.  Garis kehidupan sederhana dan apa adanya milik mereka menjejak masa depan yang gemilang.  Anak-anak yang mengukir indahnya perjuangan hidup.  Di buku ini pun, penulisnya menyelipkan berbagai pengetahuan.  Buku ini entah nyata atau tidak, tapi terasa seperti kisah nyata yang diceritakan penulis.  Pertanyaan itu muncul dalam benak saya terutama saat saya baca bab terakhir, “menjadi saksi urusan ini, mungkin pula jika mereka mengizinkan, menuliskan kemabli kisah-kisah masa kecil mereka yang indah.  (halaman 387).  Benar atau tidaknya kisah dalam novel ini, hanya penulisnya yang tahu. 

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku Dia Adalah Kakakku:

  1. “Pernahkan dari kita bertanya tentang detail kabar tanda-tanda akhir? Hari Kiamat?  Membacanya?  Mendengarnya?  Pasti pernah.  Dan setidaknya bagi siapa pun yang masih memercayai janji hari akhir tersebut, maka tidak peduli dari kitab mana pun, berita-berita tersebut boleh dibilang mirip satu sama lain.”  –Professor Dalimunte, (halaman 13)
  2. Jika kita ibaratkan, maka peradaban manusia persis seperti roda. Terus berputar.  Naik-turun.  Mengikuti siklusnya.  Ada suatu masa, ketika kemajuan ilmu pengetahuan mrncapai puncaknya, manusia menguasai teknologi-teknologi hebat.  Lantas, karena peperangan, bencana alam, atau penyebab masif lainnya, di masa-masa berikutnya kembali meluncur ke titik terendah.  Jika kita ingin berpikir sejenak, siapa bilang ribuan tahun silam manusia masih primitif?  Masih bodoh?  Tidak mengenal teknologi telepon seluler?  Internet? Penerbangan ke bulan, dan sebagainya.  –Professor Dalimunte (halaman 16)
  3. “Kau Anak laki-laki Dalimunte! Anak laki-laki harus sekolah! Akan jadi apa kau jika tidak sekolah?  –Kak Lais pada Dali (halaman 67)
  4. Sekolah! Sekolah jauh lebih penting daripada bekerja.  Kalian tidak akan jadi apa-apa kalau bodoh seperti Mamak!  Kalian pikir hidup susah itu menyenangkan?  –Mamak pada Ikanuri dan Wibisana, (halaman 77)
  5. …Tapi Kak Laisa tidak akan pernah membiarkan adik-adiknya kecewa. Tidak akan pernah membiarkan adiknya merasa malu.  Jika harus ada yang kecewa dan malu itu adalah dirinya, bukan adik-adiknya.  (halaman 100)
  6. “Karena … karena Kak Laisa tidak pernah datang terlambat untuk kita. Tidak pernah.  Kak Laisa tidak pernah sedetik pun dating terlambat dalam hidupnya untuk kita.  Kak Laisa tidak pernah mengingkari janjinya, demi kita adik-adiknya.”  –Wibisana pada Ikanuri (halaman 138)
  7. “Ikanuri, Wibisana … suatu hari nanti, kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini. Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah …  kakak berjanji akan melakukan apa pun demi membuat semua itu terwujud.  Tapi, sebelum hari itu tiba, sebelum masanya dating, dengarkan Kakak, kalian harus rajin sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras.   Bukan karena hanya demi Mamak yang sepanjang hari terbakar matahari di lading.  Bukan karena itu.  Tapi Ikanuri, Wibisana, dan Dalimunte, kalian harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras, karena dengan itulah janji kehidupan yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput.  Kelak kalian akan melihat kerlip cahaya yang lebih indah.”  –Kak Laisa (halaman 150-151)
  8. Wahai, kalian akan lebih terharu saat melihat seseorang yang selama ini dikenal nakal, tukang jahil, bebal, atau apalah tiba-tiba menangis.    (halaman 152)
  9. Kak Laisa yang tidak pernah terlihat menangis di depan adik-adiknya. Tidak pernah.  Sesakit apa pun, sesesak apa pun rasanya.  Kak Laisa selalu berusaha terlihat semua baik-baik saja.  (halaman 188)
  10. “Kau tetap bisa membantu, Dali. Dengan belajar sungguh-sungguh.  Dengan nilai-nilai yang baik.  Kau akan membantu banyak dengan semua itu. –Kak Lais pada Dali (halaman 207)
  11. “Kau tidak perlu menunggu Kakak.   Sama sekali tidak perlu.  Kelahiran, kematian, jodoh, semua sudah ditentukan.  Masing-masing memiliki jadwal.  Giliran (halaman 235)
  12. Buat apa kamu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain?  Buat apa kamu mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain?  Kekhawatiran dan kecemasan sejatinya mungkin tidak pernah ada.” (halaman 236)
  13. …. “Untuk Kak Laisa yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi kami. Yang selalu mengajarkan makna bekerja keras, bekerja keras.  Yang demi Yash, demi kak Dalimunte, demi kami semua, dulu memutuskan berhenti sekolah … Untuk Kak Laisa yang selalu menepati janji, tidak pernah dating terlambat buat kami … kami, kami tidak akan pernah melihat Kak Laisa berdiri di sini, tapi bagi kami Kak Laisa-lah yang selalu berdiri di sini.  –Yashinta saat kelulusan sarjananya.  (halaman 263)
  14. Meski terlahir sendiri, sudah menjadi kodrat menusia untuk berkeluarga, memiliki tempat untuk berbagi, memiliki teman hidup. (halaman 279)
  15. Wahai, rasa lega dan kebahagiaan itu dekat sekali dengan tangis. Kalian akan akan menangis karena perasaan lega yang luar biasa.  (halaman 303)
  16. Energi pengorbanan itu sungguh luar biasa, jika kalian bisa melihatnya seperti nyala api, maka energi itu bisa membuat terang benderang seluruh Lembah Lahambay. Malam itu Kak Laisa sudah kembali riang bersama yang lain.  (halaman 312)
  17. …. Belasan jam lamanya. Hingga keajaiban itu terjadi.  Hingga kecintaan pada saudara karena Allahrasa berserah diri yang tinggi kepada kuasa langit, ritual ibadah yang penuh pemaknaan, kebaikan dengan sesame, proses bersyukur yang indah, mampu membuat manusia menembus batas-batas akal sehat itu.  (halaman 323)
  18. “Apa kubilang dulu? Bertengkar sekarang, bersenang-senang kemudian. “ (halaman 359)
  19. Nah, karena sudah terlanjur menjelaskan bagian yang ini, kalian juga berhak tahu jawaban bagaimana sebenarnya Mamak mendidik anak-anaknya hingga menjadi begitu cerdasdan membanggakan. Tumbuh dengan karakter yang kuat.  Akhlak yang baik.  Tentu saja semua itu hasil dari proses yang baik.  Tidak ada anak-anak di dunia ini yang instan tumbuh seketika menjadi baik.  Masa kanak-kanak adalah masa peniru.  Mereka memerhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan.  Lingkungan, keluarga, dan sekitar akan membentuk watak mereka.  Contoh yang keliru.  Teladan yang salah dengan segala keterbatasan lembah dan kehidupan miskin, anak-anak yang keliru justru bisa tumbuh tidak terkendali.  (halaman 365)
  20. Dan sungguh di surge ada bidadari-bidadari bermata jeli. Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah.  Mereka baik lagi cantik jelita.  Andaikan ada seorang penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya ia menerangi ruang antara bumi dan langit.  Dan sesungguhnya kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.  (halaman 368)
  21. Hanya orang seperti Kak Laisa, yang mewarisi kebijakan Lembah Lahambay yang tahu. Belajar langsung dari alam liar.  Dan mungkin kebijakan itulah yang dimiliki Kak Laisa, mengorbankan seluruh hidupnya demi adik-adiknya.  (halaman 382)
  22. “Ya Allah, Lais sungguh ikhlas dengan keterbatasaan ini, dengan segala takdirmu. Karena, karena engkau menggantinya dengan adik-adik yang baik.”  (halaman 392)

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan berbagai genre, dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini genre-genrenya:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : Hafalan Solat Delisa, Moga Bunda Disayang AllahBidadari-Bidadari Surga (recover jadi Dia adalah Kakakku), kemudian ada  Serial Anak NusantaraEliana recover jadi Si Anak Pemberani, Burlian  recover jadi Si Anak Spesial, Pukat recover jadi Si Anak Pintar, Amelia  recover jadi Si Anak Kuat, Si Anak Cahaya (2018), Si Anak Badai (2019)
  2. Genre romance : Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang BaruDaun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  Sunset dan Rosie,  Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah,
  3. Genre fantasy : Ayahku Bukan PembohongHarga Sebuah Percaya (recover dari Sang Penindai)SERIAL BUMI : Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar ,Komet, Komet Minor
  4. Genre ekonomi dan politik: Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk.
  5. Genre action : Pulang , Pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends, #About Love   , About Life,
  9. Kumpulan puisidikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta
  10. Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: Rembulan Tenggelam di Wajahmu
  11. Genre Biografi: TENTANG KAMU 

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Advertisements

25 thoughts on “[Review Buku]: Dia Adalah Kakakku Karya Tere Liye

      1. Alhamdulillah kalau udah, menurut saya bukunya bagus, sayang kalau gak baca 😁
        Recover sebetulnya ceritanya sama Kak, cuma saya heran aja, meski udah baca buku cover sebelumnya, ketika baca lagi kok rasanya kayak baru baca 😂😂😂
        Mungkin krn udah lama, jadi lupa ceritanya 😁

        Liked by 1 person

      2. Saya setuju dengan mba ai, bukunya bagus. Tere liye tetap memberi nilai2 istimewa dari kisah ini. Kisah ringan tapi menggugah hati. Saya lebih dulu nonton serialnya di tv, ternyata setelah baca novelnya, ceritanya ga jauh berbeda, jadi bisa ngerasain perjuangan Laisa luar biasa.
        Biasa tu mba ai, kalau udah suka setiap kali baca seperti pertama kali baca. 😆

        Liked by 2 people

      3. Terima kasih Kak Ra ❤️
        Iya Kak, setuju banget Bang Tere memberi nilai istimewa dalam kisah Dia Adalah Kakakku, bener banget Kak jadi berasa ngerasain perjuangan Kak Laisa 😭
        Saya malah belum liat serialnya Kak 😣

        Hahaha, iyaaaa Kak bener banget 😆😆

        Like

      4. Iya, menanam strawberry 🍓🍓🍓 sampai jadi sukses dan bisa sekolahin adik-adiknya 👍
        Baru liat trailer nya, menarik. Baca bukunya aja sedih dan mengundang gerimis di pipì, kalau liat serialnya takut makin sedih 😁

        Liked by 1 person

  1. Aku udah baca buku ini. Dan nggak inget ceritanya sampai detil kareba bacanya udah lama banget. Tapi, baca kutipan-kutipan yang Mbak Ai pilih, bikin aku pengin mewek aaaaaa 🙁😭 terharu banget sama hubungan perkakak-adikkan mereka :’)

    Liked by 1 person

    1. Mantaaap Kak Shinta 👍
      Terima kasih sudah membacanya 😊
      Saya juga udah lama baca buku BBS. Lupa cerita dan hanya ingat Kak Laisa.
      Pas baca recover-nya Dia Adalah Kakakku. Buku lama rasa baru, jadi kayak baca buku baru lg padahal isinya sama aja . Buku ini sukses bikin saya mewek lagi 😭, sangat tersentuh dengan hubungan kakak – adik yg luar biasa indah ❤️❤️

      Like

      1. Iya sama2 ❤

        Ini Mbak Ai beli buku lagi atau baca ulang buku BBS? Iya pasti begitu ya, apalagi pas dulu kita baca buku tersebut kan dengan usia yang masih “muda”. Jadi, kalau sekarang dibaca ulang, pasti cara pikir kita udah beda. Makanya jadi berasa buku lama rasa baru 😂

        Kayaknya aku pun bakal mewek kalo baca buku ini lagi 😭 entar aku baca lagi deh yaaaa 😍

        Liked by 1 person

      2. Beli buku baru lagi, soalnya suka banget sama cover yg ini, lebih fresh 😍😍 Jadinya saking suka, punya dua buku dengan cerita yg sama 😋🤦‍♀️
        Bener banget Kak Shinta, dulu dg sekarang cara pandang kita sudah berbeda. Memaknainya pun beda, kalau saya ini buku lama kok rasa baru 😂

        Ayo Baca lagi Kak. 😎😍
        Dan saya meweknya lebih deras daripada sebelumnya. 😭 Hubungan kakak adik ini super indah ❤️

        Liked by 1 person

      3. Wah, Mbak Ai ini benar-benar pecinta karya Tere Liye ya 😂😂😍

        Semoga kita meluangkan waktu untuk membaca buku yang lama ya mbaaak. Barangkali ada beberapa pesan yang terlewatkan 😁

        Siap! 💕

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s