[Review Buku] : Nyomie & Max Another 3.000 mdpl Story 30 Puncak, 5 Tahun, 1 Kasih Sepanjang Masa

Sinopsis:

Kita sering terjebak pusara waktu.  Kadang kita berandai-andai.  Apabila melakukan hal sebaliknya dari yang bisa kita lakukan, apakah hidup akan lebih baik?***

Terkadang hidup itu rumit, tak perlu banyak dipikirkan apalagi diperdebatkan.  Kita hanya perlu kembali pada gunung dan laut untuk menemukan jawaban.  Bersama Nyomie, Ibu hebat yang membawa anaknya Max mendaki gunung sejak bayi, kita akan dibawa bertualang menapaki 30 puncak yang telah mereka gapai bersama.  Cita-cita, impian, dan semangat apakah yang melatari perjalanan mereka?

Naik-naik ke puncak gunung bersama anak bayi?  Kenapa tidak?  Nyomiez dan Max, sudah membuktikan bahwa mereka bisa.  Tapi perjalanan ini tentu saja bukan tentang bisa atau bisa naik puncak. Namun tentang pengalaman dan waktu yang mereka habiskan bersama untuk mencintai alam, bersama anak dan ibu.  Tak hanya soal itu, buku ini juga berisi rangkaian kata berupa penyemangat dari penulis, serta alasan mengapa dan bagaimana penulis bersama anaknya-Max, medaki gunung.  Disertai juga dengan tips yang dibutuhkan untuk membawa anak naik gunung.  Ini merupakan buku pertama yang saya baca, tentang pengalaman seorang Ibu yang membawa anaknya ke puncak-puncak gunung.  Jarang sekali melihat apalagi membaca buku tentang pengalaman mendaki.  Biasanya saya hanya baca pengalaman para pendaki lewat blog saja.  Meskipun buku ini bukan berupa catatan perjalanan setiap tempat yang mereka daki.  Namun, uraian kata yang disampaikan penulisnya sangat menyentuh, kadang terasa sentimentil, namun juga banyak mengundang decak kagum saya terutama akan sosok Max yang sangat menikmati perjalanan bersama ibunya (melihat foto-foto Max, kedekatan bersama ibunya, keceriaannya, duh membuat saya makin gemas dengan Max).  Terlihat sekali bahwa Max bukan sekedar ikut ajakan ibunya naik gunung, lebih dari itu, anak kecil ini lewat foto kita bisa melihat bahwa anak ini juga sangat menikmati perjalanan ke 30 puncak bersama ibu tercintanya.  Duh Max, saya kalah sama kamu, dan saya sangat salut sama kamu.  Menurut penuturan ibunya, Max lebih suka bercengkrama dengan alam, ia tidak menyukai Mal.  Pantas saja, Max terlihat ceria sekali.  Beruntung buku ini full color, jadi saya pun bisa menikmati foto-foto perjalanan Max, dilengkapi caption yang ditulis ibunda tercinta.  Kalau kamu memperhatikan cover buku ini, dimana Max dan Ibunya sedang berada di Gunung Merbabu via Wekas pada bulan Mei 2015.

Baca juga: review buku Komet Minor, Komet, Ceros dan Batozar (Buku SERIAL BUMI)

Penulisnya bisa kita jumpai lewat akun media sosialnya Instagram di @nyomiez, merupakan seorang dokter hewan yang berpraktik mandiri di Jakarta selama 7 tahun.  Seorang single parent dari anak ganteng bernama Max yang sekarang berusia 5 tahun.  Mengikuti Diklasar dan terdaftar sebagai  anggota penuh Pasma 54 sejak 1999, Impala Unbraw sejak 2002, anggota muda Mapala Vetpagam sejak 2003.  Aktif berorganisasi, pernah beberapa kali menjadi ketua operasional Diklatsar.  Awalnya tidak begitu menyukai aktivitas mendaki gunung, hanya beberapa pendakian ke Gede Pangrango, Lawu, karena tergabung dalam divisi caving (susur goa) di pasma 54 dan kemudian divisi arung jeram Impala Unbraw.  Mendaki gunung Semeru pada 2009, kemudian ‘gantung carrier’ sampai akhirnya kembali mendaki Argopuro tahun 2014 di musim hujan, sebelum memutuskan masih sanggup mebawa Max yang baru berusia satu tahun untuk mendaki gunung yang lebih tinggi.

Kepada hidup kukatakan, jangan disalahkan bagaimana pun jalannya.  Bukan ia yang merancang getir yang harus dirasa, tapi hati kita yang belum bisa menangkap maknanya.  (halaman 160)

Bukan main ibunya Max ini hebat, salut sekali.  Saya kira, menbawa anak naik gunung pasti membutuhkan persiapan yang sangat matang dan terperinci, dan harus siap mental menghadapi berbagai kemungkinan, butuh persiapan extra, dan Ibunya Max membuktikan, bahwa mereka bisa melakukannya.  Meskipun diakui oleh penulisnya, bahwa tak jarang beliau pun menggunakan jasa porter, untuk menggendong Max (apalagi bayi tersebut sudah tambah besar dan berat), namun ia tak sembarang memilih orang, tetap lebih mementingkan kenyamanan Max.  Mau tahu seperti apa persiapannya? bagaimana packing naik gunung membawa anak?  Perlengkapan apa saja yang harus dibawa?  Silahkan baca bukunya.  Buat para pendaki gunung yang telah berumah tangga dan mungkin ada niat juga keinginan membawa anaknya naik gunung, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca.  Meskipun jika kelak saya jadi seorang ibu, belum tentu saya sanggup membawa anak naik gunung, maka membaca buku ini seolah membayangkan sekaligus menikmati bagaimana keseruan seorang ibu mendaki gunung bersama anaknya sejak bayi.  Wow, Max, kamu sangat berntung diajak ibu naik gunung! 😀

Lantas 30 gunung apa saja yang sudah mereka capai?  Baca saja bukunya!  Saya sangat takjub dan salut dengan pengalaman mereka berdua.  Max pertama kali dijaka naik gunung saat berusia 5 bulan, yaitu ke Gunung Bromo. Wow!  Temukan rincian ke 30 puncak gunung yang sudah mereka datangi di halaman 27!

Judul Buku    : Nyomie & Max Another 3.000 mdpl Story 30 Puncak, 5 Tahun, 1 Kasih Sepanjang Masa
Penulis           : Nyoman Sakyarsih
Penerbit         : Qanita
Tahun Terbit : Cetakan pertama, Juli 2018
Halaman        : 128 halaman, ukuran 19
ISBN                : 978-602-402-123-8

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini:

  • Terkadang hidup itu rumit.  Tak perlu banyak dipikirkan apalagi diperdebatkna.  Kadang, kau hanya perlu kembali pada laut dan gunung untuk menemukan jawaban.  Sendiri, menenangkan hati dan pikiran, merasakan dalam setiap hembusan aroma alam, aroma kehidupan yang tak tersentuh keegoisan manusia.  Berikanlah senyuman pada dunia.  Semua hal sederhana yang kau miliki akan selalu terasa kurang dan hampa bila hanya diisi dengan curiga.  Isilah dengan cinta, akan mebuatmu bermakna.  (halaman 34)
  • Ya, bukan ambisi yang mengantarkan kami, melainkan sebuah keajaiban hidup.  Mampu melihat dunia dari sisi yang berbeda adalah anugerah.  Dan aku tak pernah menjadi ibu sempurna.  Tak punya waktu 24 jam penuh mengawasi langkah anakku.  Hanya mampu sesekali menemaninya dalam tidur untuk terbangun membuka mata menatap dunia dari atas awan.  Begtulah cara kami belajar menghargai kehidupan.  Berada di atas tidak menjadikanmu hebat di atas segalanya,  Semua orang pada akhirnya harus memberanikan diri menengok ke bawah.  Melihat tempat di mana kamu dibutuhkan, turun pada saatnya.  Berhati-hati tanpa cedera dan mau mengulurkan tangan pada yang lainnya.  Karena kalau pun sendiri, terlihat kecil dan rapuh tidak menjadikanmu lemah.  Suatu saat akan tiba waktunya untuk naik lagi untuk bersyukur.  (halaman 28)
  • Teruntuk para ibu yang jauh di sana, yang sedang menapaki gunung terberat dalam hidupnya.  Kuharap kau baik-baik saja.  Menjadi ibu adalah petualangan terberat kita, jauh lebih berat dibandingkan pendakian gunung mana pun.  Aku tak bisa menyemangatimu lebih dari yang kumampu, tidak bisa juga hadir untuk mendengar ceritamu.  Hanya berharap akhirnya kau akan sampai ke puncak dan bisa tersenyum melihat hasil perjuanganmu, beranjak dewasa dan bahagia. Itu lebih dari apa pun.  Walau rintangan berat di depan mata, selalu ada buah perjuangan.  Hasil akhir yang manis.  (halaman 40).
  • … Dia adalah alasanku untuk beratahan hidup.  Menapak jejak alam adalah usahaku melepas beban. Dan bersamanya untuk membagi kebahagiaan.  Tanpa dia, tak pernah ada alasan untukku kembali mendaki setelah bertahun kulupakan.  Bukan siapa yang paling kuat.  Bukan siapa yang paling beruntung.  Kami ditakdirkan ada untuk saling menguatkan.  (halaman 57)
  • Setiap anak terlahir istimewa.  Aku tak pernah sedikit pun menutupi kekurangannya ketika orang mempertanyakannya.  Aku lebih suka menyebutnya istimewa daripada bermsalah, bukan menutup mata karena ia tidak meninggalkan sekolah terlalu lama dan berbagai terapi selama setahun terakhir, istimewa karena apa pun kekurangan anak, dia tetap punya kelebihan.  Tahan banting, lebih disiplin, penurut di lapangan.  Baik dan rendah hati bahkan ketika mainan direbut atau dilukai siapa pun tidak sekikit pun membalas.  Tidak pernah meminta dibelikan jajan atau apa pun di perjalanan.  Sesuatu yang tidak bisa kutemukan bahkan pada anak-anak yang disebut normal.  Perjalanan-perjalanan kami adalah salah satu proses belajar.  Semua masalah yang kami hadapi ada karena kami diyakini bisa melaluinya.  Dia terlahir sangat aktif, mungkin karena aku harus lebih fokus padanya, pada kedekatan kita ketimbang pekerjaan atau tentunya ini risiko karena memang hasil dari kedua orangtua yang ‘tidak bisa diam’.  Perjalanan kami memang tidak hanya liburan.  Karena tidak ada liburan yang bisa kunikmati tanpa dia disisiku. (halaman 60)

Baca juga: About Life karya Tere Liye

Masih banyak lagi kalimat-kalimat yang menyentuh, tapi lebih baik membaca bukunya.  Sebagai seorang yang menyukai anak-anak, membaca buku ini dan melihat foto-foto Max, membuat saya jatuh hati dan sayang sama anak ini.  Semoga kamu tumbuh menjadi anak hebat, kuat, cerdas, serta selalu sayang sama Mommy 🙂  Stay humble Max!

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Advertisements

14 thoughts on “[Review Buku] : Nyomie & Max Another 3.000 mdpl Story 30 Puncak, 5 Tahun, 1 Kasih Sepanjang Masa

  1. Wow… luar biasa sekali ya ibunya Max ini. Saya gendong bayi naik bukit Tangkiling yang cuman 500 mdpl aja nggak bisa sampai puncak. Baru pertengahan udah nyerah 😅. Capek banget euy. Karena nggak biasa juga kali ya.

    1. Setuju Mbak, ibunya Max luar biasa.

      Wah, sudah mencoba naik bukit sambil gendong bayi,tetap mantap mbak. Iya, mungkin harus dibiasakan biar lama-lama jadi biasa. 👍

  2. Sempat baca beberapa potongan kisah Nyomie dan max dalam pendakian. Bersyukur kali ini dapat menikmati review bukunya. Terima kasih ya mbak Ai

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s