[Review Buku] Orang-Orang Biasa Karya Andrea Hirata

“Ordinary Pepople, destined to be the second international bestseller for Indonesian author, Andrea Hirata, after his first one that surprised the world’s reader, The Rainbow Troops. –Jill Simmons, New York

Sinopsis:

Belantik—sebuah kota yang penduduknya lupa berbuat jahat.

Aini adalah anak seorang miskin yang hidup dalam kebodohan.  Dalam perpaduan dua hal terkutuk itulah —kemiskinan dan kebodohan, siapa sangka ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, sebuah peristiwa yang menjadi titik tolak perubahan Aini.

Di sisi lain kota Belantik, ada seorang Polisi yang begitu tertekan lantaran sudah cukup lama dia hanya berdiam diri di ruang kerjanya.  Bukan karena dia malas, namun karena tingkat kriminalitas di kota itu sangat rendah, bahkan begitu rendah sebab berada di angka nol.  Hingga suatu hari, ada tiga kejahatan serius di kota tersebut.  Apa yang sebenarnya terjadi dengan Aini?  Dan bagaimana bisa tiba-tiba ada tiga kejahatan serius di kota tersebut?

Buku Orang-Orang Biasa ini adalah novel ke-10 yang diterbitkan Andrea Hirata bersama Penerbit Bentang Pustaka.  Andrea Hirata menulis novel ini karena kekecewaan yang besar akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk masuk Fakultas Kedokteran, Universitas Bengkulu. Meski telah diterima di fakultas kedokteran tersebut, anak itu tak dapat kuliah karena ketika itu ia tak mampu membayar uang muka.

Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir.  Kupersembahkan untuk Putri Beliantri, anak miskin yang cerdas, dan kegagalan yang getir masuk Fakultas Kedokteran, Universitas Bengkulu.

Baca juga: review Laskar Pelangi

Seperti buku-buku sebelumnya, Andrea Hirata mengemas nilai-nilai kearifan lokal, isu-isu sosial terkini dengan bahasa yang sederhana.  Melayu-nya masih terasa sangat kental, Andrea Hirata banget! Lama-lama, baca buku Andrea Hirata, yang saya ingat, budaya Melayu.  Yang membedakan dari buku sebelumnya, karya Pak Cik kali ini genre-nya tentang detektif.  Dengan gaya khas-nya Pak Cik, buku ini tak melulu bercerita hal yang serius, tetap memasukan unsur humorisnya juga, ada banyak sindiran halus yang disampaikan penulis terkait dunia pendidikan, juga kriminal.  Saya lebih suka buku OOB dibanding Sirkus Pohon.  Hanya butuh waktu beberapa jam dalam sehari, untuk menyelesaikan buku ini.

Di buku OOB (Orang-Orang Biasa), Andrea Hirata memaparkan keseharian hidup Masyarakat Melayu di Kota   Belantik.  Dengan gaya bahasa Andrea Hirata yang ringan, jenaka,  cerdas tanpa menggurui, jujur dan sangat mudah diresapi karena dekat dengan kehidupan sehari-hari.  Di buku OOB ini, kita diajarkan bahwa mereka yang biasa, bisa melakukan hal yang luar biasa!  Selama ada kemauan dan usaha keras, pasti ada jalan.

Bagi kamu yang suka dengan genre perdetektifan, atau pun kamu yang suka dengan tema pendidikan, persahabatan, buku ini recommended banget!

Baca juga: review Sang Pemimpi karya Andrea Hirata

“Fiksi, bukan sekedar mengadakan yang tidak ada, fiksi adalah cara berpikir.” -Andrea Hirata

Judul Buku         : Orang-Orang Biasa
Penulis                : Andrea Hirata
Penerbit              : Penerbit  Bentang (PT. Bentang Pustaka)
Tahun Terbit       : Cetakan 1, Februari 2019
Jumlah Halaman : 300 halaman

Beberapa kalimat favorit saya dalam buku ORANG-ORANG BIASA (ORDINARY PEOPLE):

  1. Anak sekolah zaman sekarang ternyata suka berkelompok berdasarkan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, dan bagaimana mereka ingin dilihat orang lain.  Yang keren, modis, cerdas, dan berbakat macam-macam pula grupnya asing-masing. Yang suka tepuk Pramuka bergaul sesama mereka, yang suka menaikkan bendera juga.  Lalu, muncul grup baru, yang disebut para pembuli.  (halaman 9)
  2. …Lebih dari itu, dia terkenal tak tercela integritasnya, sebab, konon, tak ada yang lebih ditakuti penjahat selain penegak hukum yang jujur. (halaman 15)
  3. Hanyalah orang-orang yang ikhlas yang dapat melihat kemuliaan pekerjaannya, Sersan.  Mereka yang tak melihat kemuliaan itu tak kan pernah mencintai pekerjaannya.  (halaman 22)
  4. Ah, Kawan, usahlah risau dalam menjalani hidup ini sebab lain waktu, lebih beruntung.  (halaman 27)
  5. Berjualan buku di negeri yang penduduknya tidak suka membaca adalah tindakan heroik.  (halaman 37)
  6.  ….bahwa mereka yang mau belajar, tidak bisa diusir.”  (halaman 44)
  7. ‘Dunia ini rusak gara-gara banyak bawahan yang suka melapor pada atasan asal atasan senang saja, Sersan! Bawahan seperti ini adalah para penjilat, kalau melaporkan apa pun pada saya, apa adanya, Sersan! Jangan dikurang-jurangi, jangan ditambh-tambahi.  (halaman 48)
  8. Ada orang-orang yang dilahirkan ke muka bumi ini memang untuk berjaya.  Tak peduli durjana tabiatnya, nasib senantiasa memihak mereka.  Orang lain harus bersusah payah mendpatkan sesuatu, mereka tinggal menjentikan jari.  Orang lain belangsatan mecari nafkah, mereka cincai-cincai saja.  Mereka telah senang, bahkan sebelum mereka dilahirkan.  (halaman 51)
  9. Orang-orang lebih senang membaca di internet ketimbang membaca buku.  (halaman 58)
  10. Inspektur senang karena ternyata menjadi orang jujur tidaklah selamanya sulit.  (halaman 67)
  11. Kita ini melawan ketidakadilan!  Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan pemerintah!  Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya.  Tengoklah langkanya anak-anak orang miskin jadi dokter!  Mendaftar ke fakultas itu saja mereka berani.  Padahal, kecerdasan mereka siap diadu!  Ilmu mereka hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada bayaran!  Para pemimpin, birokrat, polisi, sibuk dengan periuk belanga mereka sendiri.  (halaman 117-118)
  12. Benar pepatah sejuta umat sepanjang zaman: dimana ada kemauan, di situ ada jalan.  (halaman 120) 

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Advertisements

9 thoughts on “[Review Buku] Orang-Orang Biasa Karya Andrea Hirata

  1. Zaleha R

    Bagus ya kayaknya buku yang ini. Untuk karya Andrea Hirata, saya paling terkesan dengan Sang Pemimpi. Mungkin karena saat pertama kali membacanya dulu usia saya hanya sedikit lebih tua dari usia Arai dkk di novel. Jadi serasa novel Sang Pemimpi itu dekat banget dengan dunia saya.

    1. Menurut saya, buku ini bagus Mba 😊👍

      Buku Sang Pemimpi memang bagus Mba 👍👍
      kalau buku serasa dekat dengan dunia pembacanya, pasti bukunya akan berkesan ya, Mba Zaleha 🤩

  2. Waah saya baru aja mulai baca novel ini kak, tp blm selesai. Walaupun hampir semua bukunya mengangkat budaya melayu, tp emang nggak ngebosenin, justru jadi ciri khas pak cik. Tp entah kenapa setiap baca karya2 pak cik ini ujung2nya jd kangen sama novel laskar pelangi 😅😅

    1. Selamat membaca Kak. 📖😊
      Semoga suka, dan terhibur dg kekocakan geng yg mau ngerampok 😂😂

      Iyaaaaa, bener banget Kak! Saya juga ujung-ujungnya ingat dan kangen sama novel Laskar Pelangi. Mungkin novel tersebut telah meninggalkan kesan yg mendalam bagi kita.

      Pokoknya denger kata “Pak Cik dan Andrea Hirata” memori saya langsung teringat Laskar Pelangi! Karya yang fenomenal, baik buku maupun filmnya. Bahkan dunia sastra Indonesia dikenal oleh dunia internasional salah satunya juga lewat karya pak Cik berjudul Laskar Pelangi.
      Saya belum kesampaian ingin berkunjung ke Belitung, Kak 😂

      1. Iyaa kak. Dari bab awal aja udah banyak dibikin ketawa sama geng bangku belakang 😂
        Setuju kak. Laskar pelangi memang sangat fenomenal, apalagi udah diterjemahkan ke banyak bahasa. Novel itu secara tidak langsung udah mengenalkan salah budaya melayu yg ada di Indonesia ke negara2 lain.
        Ah, sama. Belitung juga jd salah satu tempat yg pengen saya kunjungi setelah baca laskar pelangi 😅😅😅

      2. Iya, geng bangku belakang, kocak 😂

        Betul, banget Kak 👍
        Wah, sama ya kita pengen ke sana.
        Mudah-mudahan pas ke sana, pas kita bisa ketemu 😅

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s