[Review Buku] Ghost Fleet Karya P.W. Singer & August Cole

Sinopsis:

Ghost Fleet, sebuah kisah tentang armada hantu dan Perang Dunia Ketiga yang diramalkan  akan segera terjadi.  Pasukan marinir bertempur dalam dahsyatnya pertempuran Pearl Harbour modern: para pilot pewasat tempur  yang berusaha mengalhkan drone-drone antiradar; hingga para peretas remaja yang mencoba saling meretas sistem pertahanan antarnegara.  Bahkan, miliader Silicon Valley pun ikut mobilisasi cyber-war dan seorang pembunuh berantai yang membawa dendam pribadinya.

Siapakah yang akan menjadi pemenangnya?  Seperti apa bentuk dunia setelah perang paripurna ini?  Pada akhirnya, pemenang bergantung pada siapa yang lebih cakap mengambil pelajaran dari masa lampau dan ahli memanfaatkan senjata masa depan.  Jangan sepelekan, kisah di novel ini mungkin saja jadi realitas masa depanmu.

Ghost Fleet, debut novel karya dua pakar keamanan nasional ternama di Amerika ini menjadi perbincangan dunia karena didasarkan pada riset mutakhir.

Ghost Fleet adalah sebuah novel techno-thiller yang dirilis pada 30 Juni tahun 2015 karya P.W. Singer & August Cole.  Dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan, cetakan pertamanya terbit pada bulan Desember 2018.  Novel ini berlatar belakang masa depan, dalam buku tersebut menggambarkan sebuah skenario dimana Tiongkok dapat meluncurkan serangan yang ditunjang teknologi melawan Amerika Serikat, yang berujung pada pendudukan Hawaii.

Baca juga: resensi novel KOMET MINOR

Sejak pertama melihat promonya di Mizanstore, sebelum buku ini terbit, saya sudah sangat mengincarnya.  Sayangnya bukunya cukup mahal, jadi saya menunggu momentum saja.  Pas ulang tahun Mizan yang ke-36, diadakan diskon buku sebesar 36% dan gratis ongkir!  Maka saya pun langsung membeli buku ini.  Saya tidak memiliki ekpektasi apa pun terhadap buku ini, sehingga pas bacanya tinggal menikmati berbagai kejutan yang disajikan kedua penulisnya .  Buku ini lebih menegangkan.  Walaupun fiksi, berbagai istilah dalam dunia cyber tech sungguh terasa real.  Kalau dibayangkan seram juga, jika terjadi dalam dunia nyata.  Masih ingat peristiwa Pearl Harbour atau bom di Hirosima Nagasaki?  Beberapa puluh tahun kejadiannya sudah berlalu, namun bagaimana dampak yang dihasilkan dari peristiwa tersebut?  Sangat mengerikan!  Nah, pikirkan jika teknologi dalam novel ini terjadi dalam dunia nyata?  Saya tak sanggup membayangkannya, tentang dampak mengerikan yang bisa diakibatkannya.  Walaupun ini hanya fiksi, bersiaplah kamu akan dibuat tegang! Ada banyak pengetahuan yang bisa kamu dapatkan, terkait tren teknologi di dunia nyata, dan gambaran tentang bagaimana Perang Dunia Ketiga yang mungkin terjadi.   Saya paling suka cerita tentang ayah dan anak, Kapten Simmons dan Mike.  Saat membaca buku ini, saya jadi penasaran ingin baca buku The Art of War.

Baca juga:  Buku-buku yang sudah saya review

Kisah ini terinspirasi dari tren dan teknologi dunia nyata.  Tetapi pada akhirnya, ini hanyalah fiksi, bukan prediksi.  Buku ini ditulis oleh dua orang, merupakan kerja tim.  Keren juga, pikir saya.  Jarang-jarang ada novel ditulis oleh dua orang, dengan tema berat, dan isinya sangat menegangkan! Penulisnya Peter Warren Singer adalah ahli strategi di New America Foundation.  Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai pemimpin 21st  Century Secutiry dan Intelijen di Brookings Instituition.  CNN pernah memasukkannya ke dalam daftar Next Generation of Newsmaker, dan Foreign Policy Magazine menjadikannya salah satu dari Top 100 Global Thinkers.  Singer pernah menjadi konsultan bagi Departemen Pertahanan AS dan FBI, dan menjadi penasihat bagi sejumlah program hiburan, di antaranya serial video game Call of Duty dan Metal Gear Solid, film Traitor, Whistleblower, Line of Sight, dan Battleship, serta serial televisi The News Wing, 24, Curiosity, dan Strikeback.  Singer juga telah menulis banyak buku, salah satunya Wired for War yang menjadi New York Times Bestseller.

August Cole sangat gemar membaca novel-novel karya William Gibson dan Tom Clancy.  Kegemaran inilah yang pada akhirnya membuat Cole melepaskan pekerjaan di Wall Street Journal dan mulai menulis kisah fiksi terkait kebijakan politik luar negeri  dan pertahanan nasional Amerika pada abad ke-21.  Dia pengajar di Atlantic Council, menjadi penasihat proyek The Art of Future War, mengeksplorasi fiksi naratif dan media visual demi memperluas wawasan akan konflik-konflik yang mungkin terjadi di masa depan.   Dia juga menjadi penulis di Avascent, sebuah perusahaan konsultan strategi dan manajemen pertahanan dan dirgantara

Baca juga: review Berhenti di Kamu 

Judul Buku         : GHOST FLEET
Penulis                : P.W. Singer & August Cole
Penerbit           : Mizan (PT. Mizan Pustaka).  Penerjemah : Reinitha Amalia Lasmana dan Maria Lubis
Tahun Terbit       : Cetakan II Maret 2019
Jumlah Halaman : 544 halaman

Beberapa kutipan yang saya suka di dalam buku Ghost Fleet:

  1. Kau bisa berperang untuk waktu yang lama, atau bisa membuat negerimu kuat. Kau tidak bisa melakukan keduanya sekaligus.—Sun Tzu, The Art of War (halaman 11)
  2. … Dengan gelombang bunyi, komputer “melihat” seluruh ladang yang terpendam berkilometer-kilometer jauhnya di bawah kerak bumi. Teknologi torpedo mini itu berasal dari sistem perburuan kapal selam terkini milik Angkatan Laut AS; cikal bakal perangkat lunak pemeta sumber daya alam itu adalah penelitian desertasi seorang mahasiswa program doktor di Universitas Boston.  Mereka tak akan pernah tahu peran mereka dalam pengukiran sejarah.  (halaman 15)
  3. PACE; Program for Afloat College Education, program pendidikan di atas kapal, cara cepat bagi para pelaut untuk menyelesaikan SKS dengan biaya dari Angkatan Laut, sangat populer di antara para kru. (halaman 27)
  4. “Tapi, saat menganalisis keamanan nasional, seperti yang telah diajarkan kepada kalian di bangku sekolah, kita tidak boleh memandang ke luar saja, tetapi harus juga mengenal diri kita dan tempat kita di dalam sejarah.” (halaman 30)
  5. “Rekan-rekan, kuncinya adalah memperhitungkan ancaman-ancaman ini. Bahaya memang ada, tapi jangan sampai dibiarkan menumpuk setinggi 3 meter.  (halaman 32)
  6. …‘Ketika terkepung, seranglah sesuatu yang berharga yang dimiliki musuh.’ (halaman 47)
  7. “Saya mulai dengan kearifan kuno Guru Sun untuk mengingatkan kita bahwa meskipun kita semua merasa telah meraih kembali kejayaan masa silam kita, pada kenyataaannya kita menghadapi situasi ‘tanpa jalan keluar’. Bahkan, orang Amerika punya ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan situasi kita, yaitu ketika kekuatan kita berkembang, namun pilihan kita semakin terbatas: Takdir Ilahi.  (halaman 48)
  8. Serang musuh ketika mereka tidak siap, muncullah ketika mereka tak mengharapkanmu.—Sun Tzu, The Art of War (halaman 55)
  9. Partai Komunis mendorong warga Tiongkok yang mahir menggunakan komputer untuk merusak situs-situs web Amerika sebagia ungkapan rasa tak senang mereka bersama. Ribuan remaja Tiongkok diorganisir secara online, dan dengan senang hati mereka bergabung dalam gerakan vandalisme cyber, menyasar beranda situs-situs web Amerika, dari Gedung Putih sampai perpustakaan umum di Minnesota.  Setelah krisis itu berakhir, para milisi peretas menjadi poros krusial dalam spionase.  Mereka mencuri rahasia-rahasia dalam jaringan, mulai dari desain jet tempur hingga strategi negosiasi perusahaan minuman ringan. (halaman 61)
  10. …desain trimaram tiga-lambung yang tajam itu membuat Coronado mirip dengan pesawat luar angkasa futuristik dalam film Star Wars. (halaman 72)
  11. Semua peperangan didasarkan pada tipu muslihat.—Sun Tzu, The Art of War (halaman 119)
  12. “Perang mengubah banyak hal bagi kita semua.” (halaman 134)
  13. “Aku hidup dalam keterasingan sepi. Dan bertanya-tanya, kapan hidupku akan berakhir.”  (halaman 139)
  14. “Kau tidak akan tahu kejadian sesungguhnya hanya dengan menyambungkan seorang sersan ke alat pemindai otak. Para sersan belajar berbohong kepada perwira di sepanjang karier mereka.”… (halaman 141)
  15. Radiasi Cherenkov membuat reaktor nuklir bercahaya biru, kalau tak salah karena partikel-partikel bermuatan listriknya melewati medium di sekeliling reaksi nuklir pada kecepatan yang berbeda dengan kecepatan cahaya. Seorang Rusia bernama Cherenkov menemukannya kira-kira seratus tahun lalu.  Dia memenangi Hadiah Nobel karenanya.”  (halana 163-164)
  16. “Itulah yang Anda pelajari ketika naik pangkat dari perwira eksekutif menjadi pemegang komando. Kita tidak pernah dipaksa untuk memilih opsi terbaik; kita harus memilih yang terbaik di antara opsi-opsi terburuk.”  (halaman 176)
  17. Setiap orang berbeda-beda. Beberapa orang membutuhkan stimulan saat melakukan pekerjaan yang tak mampu dilakukan orang lain.  Sebagian orang mebutuhkan fokus.  (halaman 183)
  18. Tenaga medis dalm perang mengenal satu jam pertama yang amat penting untuk menyelematkan nyawa. Inteogator Direktorat memiliki satu jam yang amat penting untuk mengeksploitasinya.  Begitulah yang pernah Conan dengar.  Lebih baik mati di sini, seorang diri di rahang seekor raksasa, daripada harus dicabik-cabik secara fisik dan mental oleh lawan.  (halaman 183-184)
  19. “Menaklukan musuh tanpa bertempur adalah kepiawaian tertinggi.” (halaman 186)
  20. “Rasa hormat saya terhadap Sun-Tzu sudah dikenal, jadi saya akan mengakhiri dengan kutipan yang memperlihatkan perjalanan kita di masa mendatang. ‘Kunci menyelamatkan diri dari kekalahan terletak di tangan kita sendiri, namun peluang untuk mengalahkan musuh disediakan oleh musuh itu sendiri.’” (halaman 188-189)
  21. “Kita harus membangunkan bagi musuh jembatan emas untuk mundur.” (halanan 192)
  22. “Pria tua seperti Anda pasti tahu cara bersabar.” (halaman 223)
  23. Ada pepatah Angkatan Laut yang mengatakan bahwa kapal ibarat seorang wanita simpanan: cantik, memesona, misterius, membutuhkan banyak perhatian, dan pada akhirnya, bisa merusak rumah tangga.” (halaman 2224)
  24. Dan mereka juga belajar dari pengalaman bahwa cara terbaik untuk mencapai sesuatu yang dianggap mustahil adalah dengan mempersatukan otak-otak yang tepat. (halaman 249)
  25. Energilah yang memberi kehidupan kepada mesin dan memberi semangat kehidupan bagi manusia: nyawa elektrik. (halaman 254)
  26. “Kami Angkatan Laut—semuanya berbahaya,” jawab Mike. “Tapi barangkali kita akan mengawal kapal-kapal bala bantuan.  Kecil kemungkinannya kau akan ditembak saat kau mencari jalan termudah untuk masuk ke teritori kawan, lain halnya jika kau sengaja  mencari gara-gara.  Tapi, tiada yang bisa menjamin.”  (halaman 277)
  27. “Jangan khawatir, Aku akan mendampingimu di saat yang penting.” (halaman 277)
  28. ada dua aturan dalam perkelahian: tonjok belakangan, pergi duluan—tapi hanya setelah seratus persen yakin lawanmu tumbang. (halaman 286)
  29. Gunakan kekuatan normal untuk melawan; gunakan kekuatan luar biasa untuk memang. –Sun Tzu, (halaman 309)
  30. “Jika ada satu hal yang harus kuajarkan kepadamu, itu adalah berhentilah berpikir bahwa semua hanya bisa berlangsung seperti yang dikatakan kepadamu. Kita tidak bisa memenangi peperangan dengan cara itu.  Tidak pernah ada yang bisa.”  (halaman 326)
  31. Saya menunjukkan dia kepada Anda tidka untuk mengungkit kenangan buruk, tapi memberi tahu Anda bahwa meskipun saya terburu-buru, kebenaran sejati yang saya cari lebih penting daripada kebenaran Anda sendiri. Jika ingin menyelamakan mereka, Anda harus bekerja sama.  (halaman 368)
  32. “Jika kau menunggu di sugai cukup lama, jasad musuhmu akan datang mengambang.” (halaman 409)
  33. “Pikirkan masak-masak dan seksama sebelum kau bergerak.” (halaman 415)
  34. “Tak pernah mencoba, tak kan menang.” (halaman 417)
  35. “Jika kau tak sepenuhnya paham keburukan perang, kau tak kan sepenuhnya paham cara memetik manfaat terbaik darinya.” (halaman 470)
  36. Keputusan-keputusan manusia telah diambil; yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu dengan tenang, (halaman 470)
  37. Kenanglah mereka yang tiada hari ini. Dan mereka yang sakit atau jauh.  Dan yang tak pernah hidup untuk menyaksikan Akhir Perang dan Kemenangan.  –William Walker, “Absent Friends’ (halaman 497)

NOTE: Novel ini mengandung content dewasa!!!! Para pembaca mohon untuk bijaksana dalam menanggapi!

Happy reading!

-With Love-

Advertisements

2 thoughts on “[Review Buku] Ghost Fleet Karya P.W. Singer & August Cole

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s