[Review Buku] Everything in Between – Bersepeda dari Belanda ke Indonesia dan Cerita di Antaranya Karya Marlies Fennema Pictures By Diego Yanuar

Dalam postcardnya ada quote seperti ini: “Something going the other direction, turns out to be the better direction.” “Terkadang, memilih arah yang berbeda, ternyata malah membuat kita menemukan arah yang lebih baik.” 🙂

Judul Buku         : Everyhing in Between | Bersepeda dari Belanda ke Indonesia dan Cerita di Antaranya
Penulis                : Marlies Fennema, Pictures by Diego Yanuar
Penerbit              : Penerbit  Bentang (PT. Bentang Pustaka).  Penerjemah : Ade Kumalasari
Tahun Terbit       : Cetakan 1, April 2019
Jumlah Halaman : 188 halaman

Based on @everythinginbetween.journal

Sinopsis:

Dear Diary, Tak ada jalan lagi untuk kembali,

Akankah ada beruang di dalam tenda kami?  Akankah kami merindukan Ben dan Jer, tikus peliharaan kami, setiap hari? Akankah kami jatuh sakit di negeri yang tidak kami kenal?  Akankah pundak saya cukup kuat untuk memikul seluruh pengalaman dan pelajaran yang saya temui?  Ya Tuhan, kuatkanlah keyakinan akan harapan dan mimpi kami menemukan kepercayaan di tengah keasingan dan ketidaktahuan yang jauh dari rasa nyaman.  Ya Tuhan, tuntunlah kami pulang dengan aman.

Dear Diary, dalam setiap putaran pedal yang kami kayuh dari Belanda menuju Indonesia, saya akan berbagi kepadamu segala sesuatu yang ada di antaranya.  Saya berjanji, Marlies.

Sejak munculnya promo di IG Mizanestore, saya sangat tertarik dengan buku ini.  Maka, saya pun ikutan PO, yang keuntungannya tentu saja dapat diskon, tanda tangan penulis, juga dapat postcard.  Marlies, yang berasal dari Belanda, dan Diego berasal dari Indonesia (Adiknya penyanyi Andien Aisyah).  Satu pasangan, mereka melakukan perjalanan bersepeda dari Belanda ke Indonesia dengan melewati 23 negara, menempuh jarak sejauh 12.237 km, selama 11 bulan.  Uang donasi yang dikumpulkan 19.632 Euro and still counting, 

Kami menamakan perjalanan Everything in Between: karena ini adalah cara terbaik untuk menemukan semua yang ada di antara dua negara asal kami.  (halaman #x)

Perjalanan kami ini juga punya tujuan lain, tidak hanya untuk memuaskan keingintahuan kami.  Kami bersepeda sekaligus menggalang dana untuk amal.  Karena tidak bisa memilih hanya satu jenis amal yang terpenting buat kami, kami memilih tiga: untuk sesama manusia, binatang, dan pohon.  Lebih jelasnya: untuk anak-anak hebat di Yayasan Lestari Sayang Anak, untuk para relawan luar biasa  di Jakarta Animal Aid Network, dan untuk para idealis yang realistis di Kebun Kumara. (halaman #xi)

“Kalau kamu penasaran seberapa jauh 12.237 kilometer itu: bayangkan bahwa untuk setiap kata yang kamu baca sekarang dari awal buku ini sampai titik ini, kamu harus MENGAYUH 1 KILOMETER.  Begitulah rasanya bersepeda 12.237 kilometer.”  (halaman #50)

Saya sangat suka cover bukunya, foto-fotonya full color, menarik, dan menyenangkan sekali, puas bacanya, juga puas menikmati foto perjalanan mereka. Marlies yang merupakan soerang copywriter membuat tulisannya terasa spesial, tidak seperti tulisan catatan perjalanan pada umumnya, dan Diego Yanuar yang sangat menyukai fotografi, membuat setiap foto yang ditampilkan dalam buku ini tidak terlihat seperti foto biasa, melainkan seuah foto yang begitu melihatnya saja seakan berbicara.  Meskipun foto-foto versi lengkapnya bisa dilihat langsung di instagram mereka @everythinginbetween.journal, namun saya tetap suka buku ini.  Dan menariknya, perjalanan Marlies dan Diego ini, mereka melakukannya untuk amal.  Keren banget dan salut kepada mereka.

Baca juga: beberapa buku yang sudah saya review

Mengapa mereka menamakan perjalanannya Everyhing in Between?  ADA SEBUAH KALIMAT KLISE YANG BERBUYI “TRAVELING IS NOT ABOUT THE DESTINATION, BUT ABOUT EVERYTHING IN BETWEEN [PERJALANAN BUKANLAH TENTANG DESTINASI, TETAPI TENTANG SEMUA HAL YANG TERJADI DIANTARANYA]”.  YA, BEGITULAH YANG ADA DI PIKIRAN KAMI.

Perjalanan yang mereka namai Everything in Between ini mereka mulai sejak awal April 2018 dari Belanda, dan hingga saat buku ini ditulis, mereka baru saja tiba di Jakarta pada akhir Februari 2019.  Dari perjalanan ini, mereka berharap akan ada pendewasaan diri yang lebih baik.  Mereka merasa, kebanyakan manusia di bumi ini hidup dalam tempo serbacepat.  We think to much, but less feeling.  Dengan perjalanan ini, mereka ingin terus belajar menyayangi sesama, tidak hanya sesama manusia, tapi dengan hewan, dan juga tumbuhan.   Sebuah pelajaran yang menyertai langkah mereka kini dan selamanya.  Even though, some say that the world is not gonna get any better, but to postpone it for something good isn’t so bad.

Jadi, buat kamu yang suka baca buku traveling, menurut saya buku ini bagus dan recommended.  Tapi jangan harap akan diberitahu tentang berapa budget yang mereka habiskan selama bersepeda dari Belanda ke Jakarta, karena isinya memang bukan seputar tips dan budget, tetapi tentang segala hal yang ada di dalam perjalanan mereka.   Hal-hal menyenangkan yang mereka temukan di sepanjang perjalanan.  Baca buku ini, membuat saya semakin penasaran dan ingin suatu saat bisa mengunjungi Iran.

Baca juga : Love traveling

Beberapa kutipan yang saya suka di dalam buku everything in between:

  • Pluit kami cukup spesial, saya dapatkan dari orang tua saya untuk keadaan darurat. Suatu hari saya dan Diego terpisah di hutan di Turki.  Cukup menakutkan waktu itu, tetapi kami bisa saling menemukan dengan menggunakan pluit kecil yang nyaring itu.  (#xiv)
  • SEBAB, KALAU ADA SATU HAL SAJA YANG SAYA PELAJARI DARI TRAVELING, SEGALA HAL SELALU BERJALAN PERSIS SEPERTI YANG TIDAK KAMU RENCANAKAN (#xvi)
  • … Inilah sisi lain Instagram yang memperlihatkan media sosial digunakan untuk kebaikan – terutama buat saya, karena saya tidak pernah menyukai konsep media sosial sama sekali (sikap yang tentunya berlawanan dengan bidang pekerjaan saya). Diego menyukainya. Kalau tidak, kami tidak akam bertemu dengan orang-orang yang luar biasa ini.  (halaman #5)
  • Hal yang tidak mereka lihat adalah bahwa kami berdua bekerja keras untuk membuat Everuthing in Between menjadi mungkin, bahwa kami sebenarnya melakukannya untuk kebaikan orang-orang lain (tidak hanya untuk berlibur) dan bahwa saya masih menerima pekerjaan copywriting, sementara Diego menangani media sosial. Selain itu, kami berkemah sebanyak mungkin dan kami hidup sederhana.  Hal yang terakhir lebih susah di Austria karen biaya hidup di negara ini lumayan malah.  (halaman #11)
  • Maka setiap kali saya merasa bahwa perjalanan bersepeda ini terlalu berat buat saya, saya mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur karena kami punya kesempatan melakukannya. (halaman #11)
  • Jadi lebih baik untuk tidak punya ekspektasi sama sekali. Sebab ketika sesuatu yang tidak begitu hebat terjadi, kamu setidaknya tidak menganggapnya “salah” karena kamu tadinya tidak mengharapkan apa pun.  Semua hanya terjadi saja dan merupakan bagian dari petualangan.  (halaman #16)
  • Kami tidak hanya bersepeda melalui tempat-tempat dan momen yang Instagrammable, tetapi lebih ke semua hal yang ada di antaranya. Kami lebih memilih untuk merayakan sebanyak mungkin hal-hal yang baik.  Untuk menikmati burung bernyanyi, matahari terbit, aroma musim panas, berbaring di rerumputan, juga suara air.  Hal-hal besar yang kecil.  Kami bisa membagikan banyak hal momen buruk, tetapi kami lebih baik fokus ke yang indah.  Kami memilih perjalanan ini sendiri, jadi kami tidak bisa menyalahkan apa pun atau siapa pun dalma setiap momen yang sulit.  Lagi pula, momen buruk tidak akan menjadi lebih baik dengan mengeluh atau fokus padanya.  Kami mempunyai plihan bebas untuk melakukan perjalanan ini, jadi kami lebih baik menikmatinya.  Sebab, memang banyak yang kami nikmati.  (halaman #29)
  • Orang-orang bilang traveling bukan semata tentang semua tempat yang kalian datangi, melainkan tentang orang-orang yang kalian jumpai. (halaman #57)
  • Ingat ketika saya menulis bahwa orang-orang Turki adalah yang paling ramah sejauh ini? Well, saya kira ini tidak mudah, tetapi keramahtamahan orang-orang Iran levelnya jauh berbeda.  Seolah-olah mereka adalah peserta “Iran’s Got Hospitally”, kompetisi untuk menjadi yang paling ramah.  Keramahtamahan orang Iran pula yang membuat saya mengurungkan niat pulang.  (halaman #57)
  • Hal yang akan paling banyak dirindukan oleh saya dan Diego adalah keramahtamahan mutlak orang-orang di Iran. Meski beberapa di antara mereka bukan orang berada, mereka membagikan semua yang mereka punya untuk kami.  Sementara mereka  tahu bahwa tidak ada yang bisa kami berikan kembali dan bahwa kami pergi keesokan harinya.  Mereka orang-orang baik tanpa pamrih.  Bagi kami ini menakjubkan, mengingat orang-orang Iran melewati masa yang susah saat ini.  Uang mereka berharga lebih sedikit daripada setengah dari biasanya (karena sanksi dari AS) dan mereka harus menghadapi banyak aturan dan larangan dalam kehidupan sehari-hari.  (halaman #64)
  • Jadi, kalau kamu mencari destinasi traveling: kunjungi Iran. Yang kamu dengar dan lihat di media tidak mengatakan apa pun tentang orang-orang dan budaya mereka sebenarnya Iran beragam dalam semua aspeknya dan orang-orangnya adalah yang paling ramah kepada traveler yang akan kamu temui dalam hidupmu.  (halaman #67)
  • … Pamir Highway adalah bagian dari Jalur Sutra tersebut, lokasinya di Tajikistan. Sekali lagi, ini bukan sebuah highway atau jalan tol.  Namun, ini adalah jalan yang berada di tempat yang tinggi, salah satu yang tertinggi di dunia.  Di buku ini saya akan membagikan beberapa cerita kami sepanjang Jalur Sutra dan Pamir Highway yang memandu kami melalui Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirghizia.  (halaman #85)
  • Di perjalanan ini saya belajar bahwa kekayaan tidak membuat seorang manusia menjadi lebih bahagia. Orang paling bahagia yang kami temui adalah orang yang tinggal dekat dengan alam, dan hidup sederhana…   (halaman #93)
  • Pamir Highway adalah jalan yang sangat indah di atap dunia, yang dihuni oleh sedikit orang-­- orang sederhana yang bekerja keras dan tinggal dengan yang tanah mereka tawarkan kepada mereka. Saya berharap perdamaian akan kembali dan tinggal selamanya di tempat unik di bumi ini.  (halaman #94)
  • Karena perempuan tercantik yang saya lihat – dari negara ke negara – adalah perempuan-perempuan yang mengenakan makeup alami mereka : senyuman sejati. (halaman #103)
  • Tadinya kami ingin mengunjungi tempat-tempat tertentu, tetapi kami memahami bahwa perjalanan ini ternyata bukan tentang tempat-tempat itu. Perjalanan ini tentang bertemu dengan bermacam-macam orang, berada di sembarang tempat, atau menyaksikan beberapa peristiwa.  Kalau kamu terbuka untuk itu (sesekali matikanlah ponselmu, ini akan membantu), kamu bisa menemukan hal tak terduga dan tak terlupakan di mana pun, tersembunyi di hal-hal kecil.  Bahkan mungkin di suatu tempat yang dekat denganmu?  (halaman #140)
  • Menulis dan membaca memorimu memberikan kesempatan untuk berpkir kembali dan menghidupkan kembali peristiwa dan pada saat yang sama membantumu untuk tinggal pada momen ini, untuk mengulur rentang waktu “sekarang”. Lebih sederhananya, buku kecil pribadi akan menambahkan percikan pada kisahmu dan kamu pada masa depan bisa belajar banyak dari kamu pada masa lalu.”  (halaman #179)

Baca juga: The Naked Traveler 8 (The Farewell)

Happy reading!

-With Love-

Advertisements

One thought on “[Review Buku] Everything in Between – Bersepeda dari Belanda ke Indonesia dan Cerita di Antaranya Karya Marlies Fennema Pictures By Diego Yanuar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s