[Review Buku] : SI ANAK PEMBERANI Karya Tere Liye

Judul Buku         : SI ANAK PEMBERANI
Penulis                : Tere Liye
Penerbit              : Republika Penerbit
Tahun Terbit      : Cetakan 1, Desember 2018
Jumlah Halaman : 420 halaman

Sinopsis:

“Aku, Eliana si anak pemberani, anak sulung Bapak dan Mamak yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan.” Buku ini tentang Eliana, si anak pemberani yang membela tanah, sungai, hutan, dan lembah kampungnya. Saat kerakusan dunia datang, Eliana bersama teman karibnya bahu-membahu melakukan perlawanan. Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya.

Buku ini merupakan buku keempat dari serial anak nusantararecover dari buku berjudul Elianaserial anak-anak Mamak. Secara cover, yang sekarang lebih fresh walaupun secara cerita tetap sama, saya sangat suka cover yang ini. Tapi uniknya, meskipun saya membaca cerita yang sama, namun dengan judul berbeda, tidak sedikit pun menyisakan kebosanan saat membaca buku ini. Tetap seru dan membuat terharu. Saya rasa, buku ini bisa dinikmati oleh semua umur: anak-anak, remaja, dewasa juga orang tua. Buku ini juga sangat penting dibaca anak-anak zaman sekarang, kita diajak bernostalgia di jaman tahun 1970-1980. Dimana kehidupan masih sangat sederhana namun membahagiakan, meskipun teknologi belum semaju sekarang. Buat anak-anak zaman sekarang, lewat serial Anak Nusantara akan tahu tentang bagaimana indahnya anak-anak kala itu. 👍👍❤️❤️

Baca juga: Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Yang membedakan buku ini dengan buku Eliana: di buku Eliana diceritakan tentang kisah pertemuan Mamak dengan Bapak, sementara dalam buku Si Anak Pemberani tidak ada.  Buku sebelumnya berjumlah 500 halaman lebih, sementara setalah recover buku ini hanya 400 halaman lebih, banyak yang di edit, tapi sebenarnya tidak mengurangi keindahan ceritanya.  Sosok Eli tetap mendominasi dengan segala kisahnya yang sangat menyentuh.  Si sulung, kakak dari  Amelia dan Burlian, dan Pukat.  Kak Eli, begitulah ia disapa oleh ketiga adiknya, seakan mengajak saya berpetualang dengan segala keunikan, keberanian hingga kisahnya menjadi seorang kakak, yang hidup di sebuah lembah indah dimaana saat itu belum masuk listrik, saat malam masih mengandalkan penerangan dari petromak dan lampu canting.

Baca juga: saya masuk dalam kategori mythic 

Lewat buku ini, dari kacamata Eliana sebagai anak pertama, membuat saya tahu ternyata jadi anak sulung itu tidak enak, dan Eli benci jadi anak pertama! Temukan keseruannya dalam buku ini. Karakter-karakter dalam buku ini tentu saja adik-adik Eli: Pukat, Burlian, dan Amelia. Mamak, Bapak, Wak Yati, Pak Bin, Nek Kiba, Paman Unus, Mang Dullah, dan geng-nya Eli si Pemberani. Karakter antagonisnya bernama Johan.  Awalnya geng “Empat Buntal” beranggotakan Eli, Hima, Damdas dan Marhotap. Sayangnya salah satu angotanya, Marhotap meninggal. Pada akhirnya geng “Empat Buntal” salah satu penggantinya adalah Anton, sahabatnya Marhotap.

Di setiap Bab buku milik anak-anak Mamak, selalu ada cerita tentang kesalahpahaman anak-anak terhadap Mamak yang mengira Mamak tidak sayang, padahal Mamak sangat mencintai mereka Di bab tersebut pasti saya menangis antara sedih, terharu, dan makin cinta dengan sosok Mamak.  Selain karakter Mamak, cerita yang selalu membuat saya terharu juga tentang Pak Bin, yang begitu tulus mendidik murid-muridnya. Temukan pula keseruan Eli saat diajak Bapak naik kereta api ke Ibukota Provinsi menemui Bapak Presiden, kemudian menghadiri pameran Herbarium bersama Pak Bin, juga Hima, Damdas, Anton.  Kemudian petualangn lainnya saat diajak Paman Unus bersama Amel naik motor trail masuk ke hutan gubuk larangan dan menemukan spesies tumbuhan langka yaitu bunga bangkai.

Baca juga: Si Anak Cahaya (kisah tentang masa kecil Mamak)

Yang paling kocak saat Eli diajali Amel, Burlian, Pukat dan Wak Yati 🤦‍♀️😝 Eli ini termasuk Kakak yang jail, hingga akhirnya dia kena jail juga, ini terjadi saat Eli mencari bando kuning spesial pemberian Wak Yati 😀 Ada lagi yang lebih seru, bagian Eli dan Anton yang bersitegang, dimana Eli ingin membuktikan bahwa perempuan bisa melakukan apa saja. Hingga akhirnya akibat ulah Eli, menyebabkan warga kampungnya ingin menghukum Eli 😅😂 (ayo baca, Eli ngapain! 😌) Kemudian aksi Eli bersama geng buntal-nya melakukan penyerbuan yang justru menghantarkan mereka pada perangkapnya Johan. Saat pertolongan seolah tidak mungkin lagi, maka kata-kata bijak yang disampaikan Paman Unus terbukti, “ Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada satu musim diantara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, dan membalas sendiri para perusaknya. (Halaman 380). Salut sama kegigihan Eli dalam membela hutan juga tanah leluhurnya.

Baca juga : review buku Si Anak Kuat – Amelia (adik kesayangannya)

Pesan moral yang saya dapatkan dari buku ini bahwa kejujuran selalu menjadi prioritas utama, sesulit apa pun kehidupan yang dialami Eli dan keluarganya, maka ia pantang untuk mencuri. Menjadi Kakak pertama tidak selalu enak dan mudah, saat diberikan tanggung jawab lebih oleh Mamak untuk mengurusi adik-adiknya yang rusuh, tidak menurut bahkan nakal, maka terkadang sebagai Kakak harus siap kena getahnya juga, misalnya bukan Eli yang melakukan kesalahan tapi tetap saja kena omel Mamak ketika adik-adiknya tidak menuruti perintah Mamak. Contoh : Burlian dan Pukat susah dibangunkan tidur pagi, maka kalau Eli belum berhasil membangunkan mereka justru Eli-lah yang diomeli Mamak. Atau saat rambut Amel terpaksa digunting karena tersangkut sisir, lagi-lagi Eli dimarahi. Atau saat bertugas menemani Burlian dan Pukat Nonton layar tancep dan yang terjadi kemudian kaki Burlian terkena pecahan beling. “Kau seharusnya memperhatikan adikmu, Eli. Apa yang dia mainkan, apa yang dia lakukan, kau harus perhatikan. Itu tugas anak sulung. Bertanggung jawab atas adik-adiknya. (Halaman 277)

Baca juga : review buku Si Anak Spesial – Burlian

Meskipun Mamak digambarkan sebagai sosok yang galak, tapi hatinya justru sangat lembut dan penuh kasih sayang. Saat Eli mengira Mamak membenci dan tidak membutuhkannya, maka Wak Yati terpaksa memberitahu Eli tentang apa yang dilakukan Mamak untuknya selama menginap beberapa hari di rumah Wawaknya. Wawak menyadarkan Eli bahwa selama ini seharusnya dia ‘memperhatikan’ siapa yang duluan bangun dan siapa yang terakhir tidur, serta siapa yang bergabung terakhir saat makan, memastikan anak-anak lebih dulu mendapatkan makanan, baru beliau yang terakhir. Setelah Eli tahu apa yang dilakukan Mamaknya. Eli sungguh meminta maaf atas sikapnya pada Mamak. Melalui sosok Eli, saya belajar bagaimana menjadi Kakak yang baik, walaupun galak sama adik-adiknya, tapi sungguh Eli sangat menyayangi adik-adiknya. Kalau di buku Si Anak Kuat, Si Anak Spesial, Si Anak Pintar, kita akan menemukan cerita adik-adiknya saat Kak Eli sekolah SMP di Kota Kabupaten, dan ketika sabtu pulang, Kak Eli membelikan Amel buku atau Majalah bekas, membelikan mainan otok-otok untuk Pukat dan Burlian. Nah, walaupun Kak Eli ini galak, tapi sangat perhatian kok 🥰🥰

Baca juga: review buku Si Anak Pintar – Pukat

Pada akhirnya, si anak pemberani Eli ini memperoleh lisensi praktek pengacara dalam usia yang Amat muda. Bahkan ketika Burlian dan Pukat masih sibuk Kuliah di Tokyo dan Amsterdam, Eli sudah membuka kantor praktek sendiri. Hima menjadi guru di SD lama mereka, Damdas sukses menjadi petani karet. Sedangkan Anton, ia menjadi pedagang besar pedagang besar di Kota.

Sungguh bacaan yang sangat bagus 👍

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dari buku Eliana:

  1. Kita semua paham, sungai, hutan, lembah, secara hukum bukan milik kita. Bahkan, tanah dan rumah penduduk saja tidak banyak tang bersertifikat. Urusan ini sungguh bukan sekedar bilang ‘tidak’ . Kita harus pintar tahan banting, dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan puluhan tahun. (Halaman 19)
  2. Bukan main! Soal bekerja simultan— istilah kerennya: multi tasking — Mamak memang nomor satu. Tangan, kaki, dan mulutnya bisa melakukan tiga hal berbeda dalam satu kesempatan. (Halaman 26)
  3. Jangan pernah bersedih ketika orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebeliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus selalu membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas. (Halamana 29)
  4. Buku yang baik tidak pernah terlihat dari sampulnya, bukan? (Halaman 32)
  5. Aku menuruti saran Mamak: Menjualnya tanpa memedulikan untung-rugi, tidak menolak saat ditawar, dan ringan tangan memberi bonus tambahan. (Halaman 45)
  6. Bukankah Bapak pernah bilang, jika Kalian tidak tahu untung-rugi, bahaya-manfaat, dan benar-salah suatu urusan, maka lebih baik ditinggalkan. Menyingkir segera. Atau, setidaknya bertanyalah pada yang lebih mengerti. Dan kau sudah bertanya, itu keputusan yang bijak. (Halaman 71)
  7. ….. dalam hidup ini tidak ada yang lebih berbahaya selain mengabaikan petuah orangtua. (Halaman 77)
  8. …… rasa takut, gugup yang berlebihan bisaa merusak semuanya. Menggagalkan rencana-rencana, membawa celaka dan malu. Apalagi dalam urusan lain. Ketakutan yang berlebihan itulah yang membawa celaka. (Halaman 78)
  9. ….. jangan pernah takut atas hal yang kasatmata di dunia ini. Jangan takut pada sesuatu yang tidak sejati. Kalian keliru jika takut pada hal-hal yang remeh seperti itu. Takutlah berbuat jahat, mengambil hak orang lain. Takutlah menganiaya, berbohong, mencuri, dan merendahkan harga diri. Takutlah atas hal-hal seperti itu, sesuatu yang lebih sejati. Maka kalian tidak akan pernah takut dengan apapun lagi. (Halaman 78).
  10. “Nasib buruk, nasib baik, mati, kecelakaan, hadiah, rezeki, hanya Alllah yang mengatur. (Halaman 81)
  11. “Nah, maka takut dan berharaplah pada zat yang paling berhak menerima rasa takut dan pengharapan. Kalian paham? Takut dan berharapalah pada tempat yang tepat.” (Halaman 82)
  12. Pak Bin selalu menekankan tentang disiplin, disiplin, dan disiplin. Itulah jawaban semua keterbatasan. Pak Bin Berada di garis terdepan pendidikan anak-anak kampung kami. …. Pak Bin percaya pendidikan yang baik akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi kami. (Halaman 88)
  13. Pengetahuan itu seharusnya memberikan pencerahan, pemahaman bahwa kita harus menjaga kehidupan. (Halaman 93)
  14. …..Jangan pernah melewati batas, atau hutan tidak lagi bersahabat. (Halaman 94)
  15. “Nah, hati yang senang bisa membuat tubuh sehat. Kau setuju?” (Halaman 102)
  16. “Latihan, Kawan. Matematika adalah latihan. Semakin terlatih kau, maka Tidak ada soal yang tidak bisa kau kerjakan. (Halaman 115)
  17. Bahkan sehina apa pun hidup kami, aku tidak akan pernah mencuri. Ratusan kali Mamak mengajari kami tentang kehormatan keluarga. Tidak terhitung teladan dan kalimat bijak Bapak menasihati kami tentang kejujuran dan harga diri. Aku tidak akan pernah mencuri. (Halaman 125)
  18. “Kita akan membicarakan masalah ini baik-baik; Tanpa kekerasan, tanpa tindakan yang memperkeruh situasi. Semoga masih ada yang punya nurani di sana. (Halaman 144)
  19. Kalimat Bapak dulu benar, dalam kehidupan kita selalu ada momen, kejadian, atau peristiwa hebat yang menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat. (Halaman 160)
  20. Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.” (Halaman 184)
  21. Apa kata bijak itu? Barang hilang sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari semakin tidak ketemu. Saat di lupakan, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata. (Halaman 193)
  22. Jangan pernah meremehkan anak perempuan. Kau juga benar kalau laki-laki dilahirkan lebih kuat, lebih cepat. Tapi bukan berarti perempuan tidak punya kelebihan. Esok lusa, kau akan tahu, dimana-mana, di bidang apapun, perempuan bisa terlibat dan melakukan segala hal sebaik laki-laki. Sejatinya kita memang tidak boleh saling meremehkan. (Halaman 220)
  23. Tapi kita hidup dalam aturan main, Nak. Kenapa pisang harus matang setelah sekian hari di tandannya? Kenapa lebah harus membuat madu? Kenapa air mendidih jika dipanaskan? Karena mereka taat dengan aturan makin yang ada. Sekuat apa pun pisang menolak matang, air tidak mau mendidih, lebah menolak membuat madu, mereka harus menurut. Itu aturan alam, sunnatullah. “Jika alam saja punya aturan main, punya kaidah-kaidah yang harus ditaati, apalagi dalam agama? (Halaman 230)
  24. ….Karena pemahaman kita, apalagi pemahaman kau yang masih terbatas, emosional, berbeda dengan pemahaman saat aturan itu diberikan. (Halaman 230)
  25. “Nah, karena itulah anak laki-laki tidak boleh merenehkan anak perempuan. Juga sebaliknya. Kita harus saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan mashing-massing. (Halaman 232)
  26. “Tidak semua yang Kalian inginkan harus terjadi seketika. Kita tidak hidup di dunia dongeng. Bahkan banyak orang di luar sana harus berjuang mati-matian untuk mewujudkan satu keinginan kecil. Bersabarlah. (Halaman 254)
  27. “Esok lusa kau akan melihat banyak hal, Eli. Mengerti banyak hal. Tidak hanya mengenal hutan dan sungai kampung kita. Esok lusa kau akan menjadi seseorang yang tangguh dan amat berbeda. Kau akan menjadi putri sulung kebanggaa Mamak kau.” Aku mengangguk, balas memeluk Bapak. (Halaman 259)
  28. Malam itu aku tahu, kalimat hebat itu selalu benar. Jika kau tahu sedikit saja apa yang seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan , rasa cinta, rasa sayangnya kepada kalian. (Halaman 309)
  29. “Oi, seharusnya anak-anak seperti kau mendapat kesempatan yang sama besar seperti anak-anak pintar dari keluarga berkecukupan. Boleh jadi malah lebih berhak. Eliana si Pemberani. Kau seharusnya malah sekolah di Ibu kota, dengan guru-guru yang hebat.” “Pak Bin juga guru yang hebat,” aku berkata pelan. (Halaman 355)
  30. Apa cita-citaku? Aku ingin menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Kalian jangan tertawa dulu. Bukan pembela kebenaran dan keadilan mac pahlawan kartun di film-film yang sering ditonton Pukat, melainkan pembela orang-orang lemah dan tersisihkan. Pembela atas lingkungan hidup yang terancam. Pembela kampung kami, hutan-hutan kami, sungai, lembah, bahkan bunga bangkai yang mekar dengan bau menyesakkan. Aku, Eliana si Anak Pemberani, sulung Bapak dan Mamak akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan. (Halaman 356).
  31. “Kita harus pintar, tahan banting, dan punya daya tahun menghadapi mereka, Kawan. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan ke bijakan leluhur kampung bertahan puluhan tahun. Soal tahan banting dan punya daya tahan, kita bisa diandalkan. Soal pintar, nah, itu yang harus kita siapkan.” (Halaman 366)
  32. Tidak akan sia-sia. Setidaknya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bergaul dengan murid-murid dari sekolah bagus di kota. Mereka akan belajar banyak hal. (Halaman 400)
  33. Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada satu musim diantara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, dan membalas sendiri para perusaknya. (Halaman 380 dan Halaman 414).
  34. Alam telah membuat perhitungan, yang kadang kala justru orang-orang tak berdosa juga terpaksa menanggung getahnya. (Halaman 416)
  35. Akulah Eliana. Anak Gadis, sulung kebanggaan Mamak. Akulah Eliana. Usiaku sekarang tiga puluh dua tahun. Pengacara nomor satu di negeri ini. Bukan nomor satu dalam hal kekayaan, terkenal, polularitas, tapi nomor satu yang berdiri gagah di depan ketidakadilan. Akulah Eliana, si Anak Pemberani. (Halaman 418).
  36. Kalimat Bapak terngiang di kepalaku, urusan ini bukan sekedar bilang ‘tidak’, Eli. Kita harus pintar, tahan banting dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan puluhan tahun. (Halaman 420).

Selamat membaca kelanjutan kisah serial Anak Nusantara , menurut saya bukunya keren, bisa belajar mendidik anak dari Mamak dan Bapak

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan berbagai genre, dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini genre-genrenya:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : Hafalan Solat Delisa, Moga Bunda Disayang AllahBidadari-Bidadari Surga (recover jadi Dia adalah Kakakku), kemudian ada serial Anak-Anak Mamak  ada : ElianaBurlianPukat , Amelia dan Si Anak Cahaya, 
  2. Genre romance : Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang BaruDaun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  sunset dan rosie,  aku kau dan sepucuk angpau merah,
  3. Genre fantasy : Ayahku Bukan PembohongHarga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet). Komet Minor
  4. Genre ekonomi dan politiknegeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisidikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta
  10. Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: Rembulan Tenggelam di Wajahmu
  11. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU 

Buku-Buku Serial Karya Tere Liye:

  1. Buku Serial BUMI
  2. Buku Serial ANAK NUSANTARA
  3. BUKU SERIAL ANAK-ANAK MAMAK

Happy reading! 📚 📖 📚

With Love, ❤️

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s