Perjalanan dari Lucerne (Swiss) ke Milan (Italy): Melewati San Gottardo –  salah satu terowongan terpanjang di Eropa

Rabu, 26 Desember 2018:  LUCERNE – MILAN

Setelah menikmati eksotisnya negara Switzerland, alamnya, pegunungan, danau, hingga puncak Jungfraujoch.  Dengan berat langkah, karena masih betah.  Kami melanjutkan road trip kami.  Pukul 12.40, di tengah suhu dingin nol derajat, kami berangkat dari kota Lucerne menuju kota Milan. Jarak yang ditempuh 243 kilometer, bisa di tempuh sekitar 3,5 jam.

Mr Reno tetap setia menjadi guide sekaligus yang membawa mobil, mengurus dan menemani perjalanan kami. Kami berenam tentu saja duduk dan menikmati pesona di sepanjang jalan yang dilalui, sambil ngemil, mendengarkan musik.  Guide kami ternyata bawa banyak camilan juga dari Amsterdam dan kami disuruh untuk makan, dan kami juga bawa, sehingga kami pun sharing camilan.

Ini dia terowongan terpanjang kedua di Eropa

Baca juga: Liburan ke Swiss #inlovewithSwitzerland (part 1)

Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang dari mata menembus kaca mobil, sensasi keindahan alamnya tidak membuat saya bosan atau bahkan mati kutu karena duduk berjam-jam.  Saya sungguh dibuat kagum, dan sepertinya tak pernah ada habisnya, alam Switzerland ini terus saja memberi kejutan.  Mana bisa tidur, kalau saya disuguhi pemandangan alam yang indah macam itu.   Bayangkan saja, pegunungan megah diselimuti salju, rumah-rumah khas Swiss yang berdiri kokoh di atas perbukitan, rerumputan hijau seolah melambai ke arah saya, minta disamperin hahaha. Sayang sekali kalau perjalanan tersebut dihabiskan dengan tidur saja.  Smartphone saya selalu siaga mengabadikan momen dalam perjalanan dari kota Lucerne menuju kota Milan.

Baca juga: Jungfraujaoch top of Europe #INLOVESWITZERLAND (Part 2)

salju pun masih menyelimuti

Bagi saya, yang paling menyenangkan dari perjalanan darat adalah, bisa mengamati, melihat, memperhatikan juga menikmati banyak hal yang cukup saya lihat dari balik kaca mobil.  Seperti keadaan alamnya bagaimana, jalannya mulus atau tidak, macet atau tidak bagaiman rumah penduduk yang saya lewati, ada apa saja sih disepanjang perjalanan tersebut.  Dan setelah mengalami sendiri, di Switzerland itu tidak hanya dibuat kagum saat mengunjungi tempat wisatanya, bahkan hanya melewati jalanan saja, saya terus terbengong-bengong sambil bersyukur dengan keindahan yang bisa saya saksikan langsung.  Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Kalau kamu suka dengan pemandangan alam, saat ke Switzerland menuju Milan, alternatif lain selain menggunakan kereta, kamu bisa mencoba dengan membawa kendaraan.  Memang apa menariknya?  Tentu saja, selain alamnya yang bisa dinikmati, jalanannya yang mulus dan lancar, kamu juga bisa merasakan sensasi masuk ke dalam terowongan yang  menembus pegunungan Alpen.  Sebetulnya banyak terowongan yang akan dilalui, tapi salah satu yang spesial tentu saja terowongan San Gottardo.  Terowongan sepanjang 17,5 km ini merupakan terowongan terpanjang kedua di Eropa, setelah Swedia, yang bisa dilalui oleh mobil. Begitu penjelasan Mr Reno.  Jadi, sebelum memasuki terowongan, saya sudah girang saja akan melewati terowongan tersebut.  Sejam sebelum memasuki terowongan, memang kami sempat merasakan macet.  Kata guide kami, itu terjadi karena kita harus mengantri saat masuk terowongan. Kendaraan dibatasi, hal tersebut dilakukan untuk mencegah kecelakaan dan penumpukan kendaraan di dalam terowongan.  Tepat pukul 13.56, saat mengecek smartphone, kami mulai antri masuk terowongan yang memberlakukan sistem buka – tutup.

Baca juga: jalan-jalan ke Barcelona

saat mobil sedang antri

Tenang saja, walaupun macet, saya tidak akan bete kok, ngapain bete kalau macetnya beda dengan di ibukota.  Macet di sana masih bisa menatap hal-hal indah, pegunungan berselimut salju, kontur alam yang spektakuler, pepohonan yang melambai ditiup angin, sungai, bisa melihat air terjun yang turun dari perbukitan (ya ampuuun ingin rasanya berhenti tengah jalan tol, tapi apa boleh buat itu tidak mungkin), terus saya pun bisa melihat cable car yang melaju dari bawah menuju pegunungan,(entah di daerah apa namanya, kemungkinan itu masuk dalam tempat wisata), banyak hal yang bisa dilihat, bahkan banyak terowongan yang dilewati, saking banyaknya saya sampai lupa menghitungnya.  Sepanjang jalan, duduk di samping kanan persis kaca mobil, saya benar-benar sibuk melihat-lihat.  Bukan main, betapa kecenya negara yang saya kunjungi tersebut.  Tatanan jalan yang rapi dan mulus, malah perjalanan tak berasa lama, apalagi disediain camilan, yang ada sih santai kayak di pantai, tahu-tahu tibalah di bibir terowongan.  “Ini dia terowongan yang saya bahas, kita akan memasukinya sekarang,” ujar guide kami , dan kami pun memasuki terowongan menembus pegungan Alpen.

Ini dia terowongan terpanjang kedua di Eropa

Begitu masuk, tak ada kesan seram sedikit pun,  yang ada malah kagum saja, melihat betapa kokoh dan megahnya terowongan.  Salut dengan pemeliharaan yang dilakukan oleh mereka.  Saya pikir bisa berlama-lama berada dalam terowongan.  Nyatanya 17,5 meter terasa sebentar kalau kondisi jalannya mulus dan tidak dipadati kendaraan.  Padahal saya masih ingin lama-lama, mungkin karena ini pengalaman pertama saya memasuki salah satu terowongan terpanjang, jadinya gak berasa, hahha.

di dalam terowongan

Ternyata Switzerland itu, selain punya terowongan San Gottardo, juga ada terowongan Gotthard Base Tunnel yang merupakan terowongan kereta terpanjang di dunia, dengan panjang 57,1 km.  Satu lagi yang ingin saya tambahkan, meskipun saya belum keliling dunia, menurut saya Switzerland juga masuk dalam salah satu negara terindah yang pernah saya kunjungi, dengan kekayaan alamnya yang sulit ditandingi dan sulit dilupakan karena meskipun liburan telah usai, tapi saya masih terbayang-bayang saat berada di sana.

Sebelum memasuki perbatasan Switzerland dan Italy, puku; 15.30 kami mampir ke pom bensin di rest area, juga ke toilet yang harus bayar sekaligus menghabiskan mata uang Swiss Frank di sini.  Oh iya, ketika di pom bensin jangan harap kita akan dilayani seperti saat kita mendatangi pom bensin di tanah air.  Di sana itu mandiri.  Saya perhatikan saat Mr Reno mengisi bahan bakar untuk mobil, ia memasukan (mungkin) nominal uang terus isi sendiri bensin-nya.  Kami juga istirahat di rest area.  Kata guide kami, kalau mau mengahabiskan uang dan koin Swiss Frank disinilah tempatnya, setelah itu kita akan memasuki perbatasan Italy, sehingga mata uang tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi, dan berikutnya kita akan menggunakan mata uang Euro saat memasuki Italy. Kami juga mampir ke toilet.  Ada yang unik dari toilet di tempat tersebut.  Ternyata sebelum masuk toilet, kita harus memasukan koin dulu, setelah memasukan koin, barulah pintu di buka.  Jadi kalau kamu gak punya koin Swiss Frank, walaupun sudah kebelet, pintunya tidak bisa di buka, kecuali kalau ada orang yang berbaik hati menolong kamu, dengan memberikan koin tersebut.  Jadi, pipis di tempat perbatasan tersebut, harus bayar!

Baca juga: persiapan traveling di musim dingin

Kemudian, pukul 15.44 kami makan di Marche Restaurant,  kami pesan pasta vegi, dissert mini, oh ya lasagna-nya enaak banget!  Tempat ini beralamat di Marche Bellizona, Nord (Bellizona Nord A2) 6503.  Karena memasuki kawasan perbatasan Swiss dan Italy, meneliti aksen dan orang bicara para pelayannya sudah menggunakan bahasa Italy.  Rest area di sana nyaman sekali, apalagi pemandangan alam yang tersaji pun tak kalah bagus dengan yang sudah kami lalui sebelumya.  Pukul 16.00 kami jalan lagi.

Sudah sejauh itu kami berjalan, saya dan adik-adik sepupu masih anteng saja, belum dihinggapi rasa kantuk.  Selama road trip, kami bertiga (saya dan kedua adik sepupu yang laki-laki), selalu duduk bertiga di belakang.  Sebetulnya, tak ada rencana kami akan mampir lagi.  Tapi guide kami berinisiatif mengajak kami mampir ke sebuah danau yang berada di perbatasan Swiss.  Setengah jam perjalanan, tepat pukul 16.30 mampir ke Lake Lugano, alhamdulillah bisa melihat sunset.  Kemudia mobil yang kami tumpangi dibawa ke parkiran turun pakai lift di sebuah gedung.  Mana boleh parkir sembarangan di tepi jalan.  Biar aman, kami diturunkan guide kami di tepi danau, sementara guide kami memarkir mobil di gedung setelah itu bergabung dengan kami menikmati sore yang indah.

Pukul 17.07 jalan lagi menuju Milan.  Walaupun daerah perbatasan, saya perhatikan tetap ramai dan sudah seperti di kota-nya saja.  Masih ingin berada di Switzerland, oh rasa-rasanya berat sekali berpisah dari negara tersebut.  Beruntung masih bisa menyaksikan sunset dan pemandangan indah yang seakan tak ada habisnya dipamerkan di hadapan saya.

Memasuki Milan, sempurna gelap membungkus kota, yang tersisa hanya lampu-lampu yang sudah dinyalakan.  Tepat ketika memasuki kota Milan, guide kami memberitahu kami. “Sekarang kita sudah memasuki Kota Milan.”  Tidak ada pengecekan visa walaupun kami memasuki wilayah negara berbeda, Italy.  Menurut guide kami, pengecekan visa hanya sewaktu-waktu saja, tapi itu jarang.  Wah, enak sekali ya, mau ke luar negeri tidak usah pakai pesawat, bahkan di perbatasan saat masuk juga tidak ada pengecekan visa, gumam saya dalam hati. Begitulah salah satu hal enak yang patut disyukuri kalau tinggal di belahan bumi Eropa, mau ke luar negeri tidak melulu harus naik pesawat, bisa naik  mobil, kereta, banyak alternatif.

Dengan kecepatan normal, sebenarnya perjalanan Lucerne – Milan ditempuh hanya 3,5 jam menggunakan mobil.  Namun, karena road trip kami ini jalan-jalan santai dan nyaman,  jadi tidak terikat waktu, dan asiknya guide kami juga sangat fleksibel dalam mengatur waktu.  Bukan guide yang  kaku dan harus sesuai banget dengan jadwal yang ada dalam itinerary.  Menyenangkan sekali, guide kami yang satu ini.  Kalau kita mau mampir ke mana dianterin.  Dan lebih menyenangkan, karena liburan kami tersebut menggunakan private tour yang semuanya sudah diurus oleh pihak travel.

Walaupun sudah memasuki negara Italy, guide kami bilang bahwa perjalanan masih lumayan jauh untuk sampai di pusat kota dan hotel, jadi mendingan tidur.  Namun, sayangnya saya tetap tak bisa tertidur.  Pukul 19.30 baru sampai hotel, dan bermalam di Del Cavalieri Milan, lantai 8.  Nah, setelah perjalanan dari Switzerland yang dimanjakan jalanan yang mulus dan rata.  Maka, tiba di pusat kota Milan, jalanannya sungguh berbeda sekali!  Tidak mulus, tidak rata, sangat khas dan unik.  Penasaran?  Nantikan ceritanya dalam artikel tentang pengalaman saya selama berada di Italy.

menjelang malam dan beberapa km lagi memasuki kota Milan, dihadiahi golden sunset. Alhamdulillah, meski lagi musim dingin tapi bisa lihat sunset 🙂

Berikut beberapa artikel tentang perjalanan saya ke beberapa negara di bawah ini:

  1. Thailand : trip to Bangkokmakan Durian montong di Thailand
  2. Jepang : menikmati Jepang di musim gugur 
  3. Hongkong : Trip Hongkong
  4. China: Mampir di Restoran Modern Toilet di kota Shenzen
  5. Singapura : Mengunjungi Universal Studio SingaporeSingapore Flyer
  6. Saudi Arabia: My Amazing journey at Masjidil Haram, Masjid NabawiJeddah
  7. UAE (United Emirate Arab): Pesona kota Dubai 
  8. Inggris: I eft my heart in London
  9. Prancis: Lost in Paris
  10. Turki : petualangan yang spektakuler di Turki
  11. Australia : menikmati musim panas di Sydney
  12. New Zealand: liburan di Queenstowndan terpikat keindahan alam Mount Cook
  13. Spanyol : Musim dingin yang terasa hangat di Barcelona
  14. Switzerland : Liburan di Swiss (part 1)Jungfraujoch top of Europe 

Happy Traveling 🙂

With Love,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s