Liburan Di Swiss : In Love With Switzerland (Part 1)


“Life holds special magic for those dare to dream.” –Anonim

Jika perjalanan ke New Zealand,mengingatkan saya pada film The Lord of The Rings, maka Perjalanan ke Swiss ini, mengingatkan saya pada bungkus cokelat Toblerone.  Coklat berbentuk segitiga dan gunung yang berbeda di sisinya.  Gunung tersebut disebut Matterhorn, terletak di Zermatt. Toblerone ini diciptakan di kota Bern. Saya teringat, ketika masih SD, saya diberi coklat toblerone oleh Om saya.  Meneliti dari bungkusnya, coklat mewah bagi saya saat itu, ternyata berasal dari Swiss.  Sejak itulah saya bermimpi suatu hari nanti ingin ke Swiss.  Belasan tahun kemudian, impian itu menjadi kenyataan.  Alhamdulillah.  Uniknya, saya lebih dulu bermimpi tentang Swiss dibandingkan New Zealand.  Nyatanya, saya lebih dulu ke New Zealand, baru dua tahun kemudian mengunjungi Swiss.  Kedua negara ini, memiliki bentangan alam yang sangat spektakuler. Terlalu indah.  Sepotong surga di New Zealand yang telah saya lihat, kini bertambah dengan sepotong surga di Switzerland.  Apakah saya bermimpi?  Tentu tidak, saya hanya beruntung mengunjungi negara yang sudah lama saya impikan.

“You have to dream, before your dreams can come true.”  A.P.J. Abdul Kalam

Sumber gambar: Instagram visitswitzerland

Minggu, 23 Desember 2018: BARCELONA – ZURICH – LUCERNE

Dalam perjalanan ke Eropa pada musim dingin 2018 dari Barcelona menuju Zurich dengan Swiss Air, ditempuh sekitar kurang lebih dua jam.  Ketika pesawat melewati wilayah bagian Prancis, dilihat dari atas bentangan alamnya sangat indah sekali, kemudian memasuki wilayah Swiss semakin indah karena bisa mengintip megahnya pegunungan Alpen yang diselimuti salju dari balik kaca pesawat.  Pukul 16.35 saat pesawat menyentuh bandara udara International Zurich atau Flughafen Zurich, hujan cukup lebat menyambut kedatangan kami, ditambah hari sudah gelap.

Tiba di bandara Zurich International Airport – Swiss

Baca: Persiapan traveling musim dingin

Kami dijemput oleh Pak Budi rekan Mr.  Reno, kemudian mobil melaju keluar dari bandara.  Rencana awal akan langsung makan malam di sebuah restoran Indonesia yang berada di Zurich, namun menurut info dari Mr.  Reno, restorannya sedang tutup.  Akhirnya Mr Reno membawa kami langsung ke kota Lucerne, tempat kami akan bermalam selama beberapa hari di sana.  Perjalanan dari Zurich menuju Lucerne ditempuh sekitar satu jam.

Saat menunggu mobil jempuatan siap, kami menunggu di sini. Ternyata, di airport ada statiun kereta api juga / Ubahn
toko buku

Sepanjang perjalanan hujan terus menemani, tak banyak yang bisa saya lakukan, karena tak bisa memejamkan mata, saya mencoba mengenal keadaan kota diantara gelap malam dan hujan yang seakan enggan berhenti.  Tentunya saya belum bisa menikmati pemandangan alam, hanya merasakan kondisi jalan yang sangat nyaman, dan melalui beberapa terowongan yang kokoh.

Satu jam kemudian, kami berhenti di sebuah restoran Thailand bernama Cha Cha Restaurant yang beralamat di Burgenstraise 3, 6005 Luzern (www.chacha.ch).  Senang sekali bisa makan dan bertemu menu Asia.   Perut kami seakan tak bisa berkompromi lagi, maka saat hidangan tersaji dengan memesan menu satay gai portion, tofu ramen suppe, gebratener reis, rindchackf leisch kra, portion reis, pad Thai gai, shrimp chips portio, kami pun sibuk menyantap dengan khusyuk menu masing-masing.  Menu yang kami pesan, untuk delapan orang.  Wah ternyata menu banyak sekali, dan restoran tersebut akan mengobati kerinduan pada nasi.  Sebenarnya, tak apa tidak ketemu nasi, saya masih kuat kok, tapi kalau ketemu nasi ya tetap saja senang dan dimakan juga, haha. 😀

Selesai makan, ternyata kita cukup berjalan beberapa ratus meter, karena hotel kita ada dekat restoran.  Malam itu kami menginap di Raddison Blue Hotel Luzerne.

Baca juga: Musim dingin yang terasa hangat di Barceloba, Spanyol

Senin, 24 Desember 2018:  LUCERNE – GRINDELWALD – JUNGFRAUJOCH – INTERLAKEN – LUCERNE.

Saya kira sudah kesiangan, nyatanya waktu baru menunjukkan pukul empat pagi, padahal saya baru tertidur pukul 23.30.  Sulit sekali memejamkan mata. Sayangnya saya sedang didatangi oleh bulan, ditambah pula perut sudah bernyanyi!  Oh, tidaaaak.  Lagi-lagi si perut belum bisa menyesuaikan waktu. Akhirnya saya bangun, minum terus  ngemil.  Kemudian iseng buka horden, ternyata gemericik hujan masih terdengar.  Sambil termenung, saya hanya bisa berdoa, semoga hujan segera reda.  Didatangi bulan saat traveling, rasanya tak nyaman memang, tapi apa boleh buat, sambil menunggu subuh sekitar pukul 06.19 dan sunrise pukul 08.11, akhirnya saya baca buku.  “Tenang, tinggal dikit lagi kok, bulannya pergi” hibur saya dalam hati.  Karena hari itu mau pergi ke Jungfraujoch, saya sepertinya terkena efek pengen cepat-cepat berangkat, makanya tidak bisa tidur lama, macam saya bocah saja sampai sebegitunya, hahha.

Jam 08.00 kita sudah bersiap dan langsung menuju restoran untuk sarapan.  Tiba di lobby, tak sehangat seperti petugas hotel saat kami berada di Barcelona, sambutan para petugas cenderung dingin.  Tak ada kata sapa “ good morning, atau guten morgen.”  Baiklah, mungkin memang mereka sikapnya cenderung dingin bila belum akrab!  Hadeuh, harus akrab dulu ya biar ada sapaan hangat?  😛

Baca juga:  Jungfraujoch Top of Europe #inloveswitzerland (part 2)

Kami pun tak ambil pusing langsung mencari tempat duduk di restoran.  Eh, para petugas di restoranya juga diem-diem bae!  Ah, sudahlah, makanan dan minuman ambil sendiri saja.  Mungkin karena biasanya kadang petugas mendatangi tamu menawarkan mau minum apa, teh atau kopi, ternyata di restoran tempat kami menginap tidak demikian.  Saya agak sedikit heran.  Ok, ini tempat berbeda, lingkungan berbeda, jelas tak akan sama.  Makanan di restoran seperti biasa ada aneka macam roti, buah-buahan, salad, kue, dan lain-lain, tentu tanpa nasi.  Saat sarapan, hujan mulai reda.  Masih ada harapan dan doa agar hari itu cuaca bisa cerah.  Meskipun saat mengecek di aplikasi weather, diperkirakan hujan turun sampai sore.  Namun, karena tiket ke Jungfraujoch sudah di pesan.  Maka kami tetap berangkat, jalan dari hotel pukul 09.30.

Sayangnya, pagi itu saya tidak bisa melihat mentari menampakkan senyum terindahnya karena hujan masih enggan beranjak.  Perjalanan dari Lucerne ke Grindelwald membutuhkan waktu sekitar dua jam setengah.  Sepanjang perjalanan hujan kembali deras.  Keindahan yang spektakuler pagi itu tak sepenuhnya terlihat.  Derai hujan yang terus mengguyur sepanjang perjalanan. seolah ingin menyembunyikan di balik keanggunan alamnya.   Hanya bisa merasakan mulusnya jalanan, dan terpesona dengan banyaknya terowongan yang kami lewati, namun berdiri kokoh dan terawat dengan baik.  Tiba di Grindelwald, kami menuju tempat pembelian tiket menuju Jongfraujoch.  Sebetulnya kami sudah mempunyai tiket karena pihak travel tentu sudah mem-booking-nya, hanya ingin memastikan kereta akan berangkat jam berapa.  Di loket pembelian tiket sepi sekali, hanya ada keluarga kami, beberapa menit kemudian menyusul keluarga dari Indonesia juga yang sedang berlibur dan akan menuju tempat yang sama.  Setelah Mr Reno dan Om berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan bahwa hari itu kami tidak jadi naik ke Jungfraujoch.  Percuma juga, kalau hujan pemandangan alamnya tak akan seindah dilihat saat cuaca cerah.  Akhirnya, kami booking tiket lalgi untuk perjalanan esok hari ke Jungfraujouch, karena kalau beli tiket on the spot belum tentu dapat, saran Mr Reno.  Jadilah ke Jungfraujoch di reschedule.

Dari Grindelwald kami pulang lagi menuju Lucerne, kami pun melewati Interlaken.  Hujan tetap deras, sehingga kami tidak mampir di Interlaken.  Padahal kalau cuacanya cerah pengen banget mampir.  Interlaken merupakan kota yang terdiri dari dua danau.  Laken artinya danau, dan Laken berarti dua danau, begitulah penjelasan Mr Reno.  Sambil mengemudi dengan gesit, Mr Reno tak lupa memberikan info pada kami.  Jalanan yang kami lalui sangat mulus sekali, tapi kata Mr Reno jangan keenakan sampai kebut-kebutan ya, karena di sana mereka sudah punya aturan maksimal kecepatan mobil, kalau melebihi kecepatan, kamu tidak akan ditangkap polisi.  Tapi nanti kamu akan dapat surat cinta berupa denda yang harus kamu bayar karena telah melanggar aturan. Tak hanya itu, kemungkinan izin berkendaraan atau sim internasional kamu juga akan bermsalah dicabut kalau melanggar peraturan.  Sepanjang jalan yang saya lalui, tidak ada tempat untuk membayar tol, karena memang tidak bayar tol.

Negara Swiss tidak memiliki bahasa Ibu.  Bahasa resminya adalah Bahasa Jerman (64%), Bahasa Perancis (20%), Bahasa Italia (6,5%), dan Romansh (0,5%). Tapi tenang saja, banyak orang Swiss yang bisa Bahasa Inggris dengan baik.  Kota tempat kami meginap di Lucerne penduduknya kebanyakan menggunakan Bahasa Jerman.  Bahasa yang digunakan pun tergantung daerahnya.  Misal kalau di Jenewa mereka lebih banyak menggunakan bahasa Perancis, di Lucerne, Zurich menggunakan Bahasa Jerman.

Menjelang kota Lucerne, hujan salju mulai turun.  Ini pemandangan langka bagi saya.  Berhubung kami ingin berhenti untuk istirahat.  Mr Reno mencarikan restoran yang tepat berada di pinggir jalan yang kami lewati.  Saat berhenti untuk memarkir mobil.  Hujan salju cukup deras.  Saya melirik smartphone, waktu menunjukkan pukul 12.33, untuk pertama kalinya saya melihat dan menikmati hujan salju di negara Swiss  Ah senang sekali turun dari mobil langsung bisa menyentuh hujan salju.  Sebelum memasuki restoran, asik main hujan salju dulu.  Saya norak? Iya, memang!  Kapan lagi coba main hujan salju.  Haha.  Pokoknya di Swiss hari pertama di sambut hujan air, hingga hujan salju.  Puas berada di bawah hujan salju, barulah memasuki restoran.

Kami mampir ke restoran bernama Gasthaus Brunig Kulm.  Saya pesan hot chocolate.  Kemudian untuk camilan-nya kita sharing untuk berdepan.  Pesan chicken wings, french fries, dan goreng ubi di potong panjang-panjang menyerupai potongan kentang goreng, saya tidak tahu nama menunya, tapi rasa ubinya ngalahin rasa ubi cilembu, ennaaaaak banget!  Makan goreng ubi habis hujan salju, rasanya sungguh nikmat, kawan!  Swiss tidak temasuk dalam negara Uni Eropa.  Mata uang di Swiss adalah Swiss Franc (CHF). CHF 1 = +/- Rp 14.000.  .

Sekitar satu jam kami berada di sana.  Tempatnya sangat nyaman, dengan design khas Swiss yang didominasi dengan kayu-kayu, unsur klasiknya sangat terasa sekali.  Makanannya enak, terus toiletnya juga bersih, pelayanannya cukup ramah.  Kalau ke Swiss terus road trip dari Lucerne menuju ke Grindelwald, tempat ini bisa jadi alternatif untuk dikunjungi, sekedar untuk bersantai, atau recharge energi.  Pukul 13.22 kami melanjutkan perjalanan.  Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Kota Zurich.  Jalanan pun asih setia ditemani hujan.

suasana kota Zurich

Memasuki kota Zurich hujan mulai reda.  Sesuai perkiraan cuaca, menjelang sore hujan reda.  Tiba di Zurich pukul 15.00.  Kami turun dari mobil dan berjalan kaki ke pusat Kota Zurich.  Kotanya nyaman, selain kendaraan roda empat, banyak trem berseliweran.  Saat itu, menjelang malam natal suasana di kota tidak terlalu ramai. Zurich bukan pusat kota para turis, begitu menurut penjelasan Mr Reno.  Oh iya, kendaraan roda dua di sana, tidak sebanyak yang saya lihat seperti di Barcelona.  Kami mencari kedai kopi Starbucks.  Tiba di tempat, kami duduk dan memesan minuman.  Sementara Om dan Tante pergi sebentar ke supermarket, saya dan ketiga adik sepupu duduk bersantai meluruskan kaki.  Beruntung ada free wifi, jadi saatnya cek smartphone sebentar.  Selama perjalanan saya memang sengaja tidak membeli paket internet lewat provider langganan saya, karena saya ingin menikmati liburan.  Cukup mengandalkan free wifi saat di hotel dan beberapa tempat yang dikunjungi. Di mobil pun memang sengaja tidak pakai wifi, biar tidak fokus main hp, hehehe. Puas minum hot green tea latte.  Kami pun naik mobil lagi, menjelang sunset, kami berhenti di Lake Zurich.

Lake Zurich

Suasana di danau ini sangat menyenangkan. Berada di tengah kota Zurich.  Udara dingin dengan suhu dua derajat, tidak menghentikan semangat untuk menyusuri pinggiran danau yang dipenuhi pepohonan, beberapa hanya menyisakan batang tanpa daun, namun beberapa pohon juga masih dipenuhi dedaunan yang berwarna kecoklatan, disertai kicauan burung beterbangan, bebek dan angsa tak kalah ramai.  Apalagi saat diberi makanan, mereka berebutan.  Tepat dekat para hewan sedang beratraksi, saya melihat seorang pria berusia sekitar enam puluh tahunan sedang memegang alat dan mencelupkan ke dalam sebuah tempat berwana hitam.  Kemudian beliau menggoyangkan alatnya, maka bermunculan balon berukuran raksasa.  Baru pertama kali melihat gelembung balon yang berukuran besar seperti itu.  Saya pun meneruskan langkah kaki menuju dermaga, memotret beberapa kawanan burung.  Pemandangan dari situ bisa melihat sekeliling danau yang dipenuhi bangunan-bangunan, hotel-hotel, cafe-cafe, menambah semarak cantiknya Lake Zurich.  Setelah perjalanan mulai pagi hingga menjelang sore diguyur hujan.  Sore itu, kami bisa menikmati senja yang sangat indah dari danau tersebut.

Beautiful sunset at Lake Zurich

Puas menikmati kota Zurich, kami kembali ke kota Lucerne.  Hari itu tepatnya malam natal, suasana kota memang tidak terlalu ramai.  Tadinya kami berencana makan malam dengan menu khas Swiss yaitu Cheese Foundue di Swiss Old House rekomen dari guide kami.  Sayangnya sesampainya ditempat ternyata restorannya tutup, beberapa toko di pusat kota Lucerne juga sudah tutup, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel, makan malam di hotel saja dengan menu nasi padang (ah sungguh nikmat), lanjut istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut  hari esok.  Alhamdulillah malam itu saya bisa tidur nyenyak dan baru bangun pukul enam menjelang subuh.   Maka jadwal tanggal 24 Desember hari itu: Lucerne – Grindelwald – Zurich dan kembali ke Lucerne.

senja di Lake Zurich💕💕

Selasa, 25 Desember 2018: Lucerne – Grindelwald – Jungfraujoch

Tepat tanggal 25 Desember, cuaca sangat cerah sekali. Doa kami dikabulkan, karena sepanjang hari mulai matahari terbit, hingga menjelang malam, sehingga kami bisa menikmati keindahan alam Swiss yang spektakuler.  Selengkapanya, pengelaman ke Jungfraujoch akan saya tulis dalam artikel terpisah.

Rabu, 26 Desember 2018:  Lucerne

Pukul 08.00 pagi kami sudah sarapan, suhu saat itu mencapai nol derajat celcius.  Selama berada di kota Lucerne, suhu diangka nol derajat dan satu derajat, dingin sekali. Kemudian pukul 10.30 kami check out dari Raddison Blue Hotel.  Tempat kami menginap selama tiga malam di kota Lucerne ini nyaman. Tidak jauh dari pusat kota, dan berada dekat dengan Lake Lucerne, danau di pusat Swiss dan merupakan danau keempat terbesar di Swiss.  Sarapan di restorannya juga enak.  Dari hotel kami lanjutkan menuju tempat wisata. yaitu:

The Lion Monument: 

Selain danau Lucerne, kita juga bisa melihat The Lion Monument atau Lowendenkmal, berupa pahatan singa dalam keadaan sekarat di cerukan tembok.  Batu alami ini merupakan salah satu icon kota Luzern.  Dibuat untuk memperingati tentara Swiss yang meninggal saat revolusi Prancis pada tahun 1972.   Tempat ini merupakan simbol dari tentara bayaran Swiss dan pernah disewa oleh salah satu raja di Perancis.  Simbol yang melambangkan keberanian dari tentara Swiss yang mati di medan perang yang dibayar oleh Raja Louis XVI dari Perancis yang menjaga dia dari revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon.  Dua ribu tentara Swiss, meninggal dunia sewaktu menjaga raja.  Bila mengambil gambar dan men-zoom patung singa, akan terlihat tombak patah dan menusuk tubuh singa, merupakan lambang matinya, tombak tersebut terlihat hingga patah.  Di bawah patung singa, ada kolam dimana banyak orang yang buang uang atau melempar koin di kolam monumen tersebut, melambangkan jika kita melempar koin, katanya kita bisa kembali ke sini. Masuk ke tempat ini, gratis.

Chapel Bridge (Kapellbrucke)

berfoto dengan background landmark kota Lucerne di tengah musim dingin dengan suhu satu derajat, mantap!

Dari The Lion Monument kami menuju ke Chapel Bridge atau Kapellbrucke merupakan landmark kota Lucerne atau Luzern yang sangat terkenal.  Tepatnya berada dekat hotel tempat kami menginap.  Dibangun pada tahun 1365. Awalnya pada abad ke-14 jembatan kayu dan water tower yang berbentuk oktagonal ini adalah benteng pertahanan. Benteng tertua di Eropa ini terletak di atas sungai Reuss, dekat dengan Danau Lucerne.  Deretan lukisan di atap jembatan, menambah indahnya jembatan ini.  Di water tower juga banyak terdapat toko souvenir.  Kami menyebrangi jembatan tersebut. Meskipun sudah ratusan tahun, jembatan tersebut tetap berdiri kokoh.  Saya salut banget dengan kondisi bangunan tua di Swiss ini, sangat terjaga sekali, bersih tidak terlihat sepotong sampah pun dan terlihat anggun, menandakan bahwa bangunan tersebut dirawat dengan baik.

Keluar dari jembatan, kami langsung disambut kawanan burung yang telah asik berebut makanan.    Selesai menikmati spot ini kami menuju mobil.  Pak Budi kemudian pamit pada kami dan akan pulang ke Amsterdam.  Sementara road trip kami masih berlanjut ke Italia, dan otomatis Mr Reno selain sebagai guide juga merangkap dengan membawa mobil menemani dan mengurus perjalanan kami.  Selesai berpamitan kami akan menuju kota Milan, namun mampir dulu ke toko coklat.

Borong Coklat di LINDT & Sprungli.

Kurang afdol rasanya ke Swiss tidak beli coklat.  Ini menurut saya, yang jelas-jelas ketika itu awal bermimpi saja berangkat dari coklat Tobleron. Pecinta coklat pula.  Kalau ketemu coklat pokoknya lupa timbangan.  Kalau lagi sedih, makan coklat itu juga menenangkan dan mengenyangkan kalau makan coklatnya banyak.  Selain buku, saya juga berteman dengan coklat.  Nah, mumpung lagi ke negara penghasil coklat terenak di dunia, senang sekali bisa mampir ke toko coklatnya.

Swiss terkenal sebagai salah satu penghasil coklat terbaik di dunia.  Kalau dulu saat SD, perkenalan pertama saya baru lewat Toblerone, maka beberapa tahun belakangan ini saya mengenal coklat Lindt & Sprungli atau yang lebih dikenal sebagai Lindt, salah satu pruduk terkenalnya yaitu Lindor, coklat berbentuk bulat yang diberi filling serta memiliki varian rasa dan ketika kita memakannya akan merasakan sensasi lelehan coklat, enak banget.  Lindor ini sudah diproduksi tahun 1949, penggagasnya adalah David Sprungli-Schwarz dan putranya Rudolf  Sprungli-Amman.

Biasanya bukan saya yang beli coklat ini, tetapi Om yang sering beli saat beliau ke luar negeri.  Saya kecipratan rezekinya, dan tak disangka, saya ternyata bisa berkunjung ke toko di negara yang memproduksi coklat tersebut.

Saat memasuki toko untuk melihat-lihat coklat, karena yang beli coklat tentu saja Om dan Tante.  Pelayannya nanya mau beli coklat apa, saya bilang saya nemenin Tante, sambil nunjukkin keranjang yang saya bawa.  Terus pelayannya ngasih coklat kepada kami, yaitu Lindor warna merah.  Saya hanya mengambil satu, pengen banyak sih tapi kan malu (padahal memang dikasih testernya cukup satu hehe), terus saya  bilang “Terima kasih” kemudian langsung di makan.  Sayangnya gak bisa nambah ya Mbak, hihihi, pikir saya.  Bisa sih nambah, tapi beli, hahaha. Kira-kira itulah jawaban yang akan saya dapat jika saya punya keberanian menanyakan hal tersebut! 😀 Beruntung Tante beli beraneka coklat Lindt, saya dibelikan salah satu coklat favorit saya yaitu Dark Chocolate Lindt 70%.  Sebetulnya selain Lindor, Lindt juga menjual coklat batangan dengan berbagai persentase cocoa yang digunakan.  Ada cocoa 50%, 60%, 70%, 80%, 85%, 90% hinggan 99%. Dan juga coklat Lindt aneka rasa  Puas cuci mata dan belanja coklat, tepat pukul 12.40 kami melanjutkan perjalanan dari kota Lucerne menuju kota Milan.

Tentu saja mengeksplor Swiss dalam waktu empat hari tiga malam, tidak akan cukup.  Tapi bagi saya pribadi, bisa menginjakkan kaki di Swiss saja sudah sangat bersyukur dan beruntung.  Selama traveling di beberapa negara Eropa, Swiss masuk dalam salah satu negara favorit saya.  Liburan yang sangat menyenangkan.  Memanjakan mata, hati, dan pikiran.

Tentang Swiss: Kalau kamu pernah mendengar bahwa liburan ke Swiss itu mahal, itu bukan katanya, melainkan kenyataannya seperti itu.  Kini saya paham, kenapa Swiss itu mahal, salah satunya punya keindahan alam yang tidak dimiliki negara lain, bersih, infrastruktur seperti jalanannya juga sangat bagus, terowongan-terowongan berdiri kokoh, rapi dan terawat dengan baik, nyaman, dan aman.  Tidak akan was-was karena takut kecopetan.  Dan selama berada di Swiss, Mr Reno tidak bawel mengingatkan kami untuk berhati-hati dengan tas yang kami bawa, itu artinya negara ini masuk dalam kategori aman.

Thank you for this amazing journey. I’m so in love with Switzerland.

Berikut beberapa artikel tentang perjalanan saya ke beberapa negara di bawah ini:

  1. Thailand : trip to Bangkokmakan Durian montong di Thailand
  2. Jepang : menikmati Jepang di musim gugur 
  3. Hongkong : Trip Hongkong
  4. China: Mampir di Restoran Modern Toilet di kota Shenzen
  5. Singapura : Mengunjungi Universal Studio SingaporeSingapore Flyer
  6. Saudi Arabia: My Amazing journey at Masjidil Haram, Masjid NabawiJeddah
  7. UAE (United Emirate Arab): Pesona kota Dubai 
  8. Inggris: I eft my heart in London
  9. Prancis: Lost in Paris
  10. Turki : petualangan yang spektakuler di Turki
  11. Australia : menikmati musim panas di Sydney
  12. New Zealand: liburan di Queenstowndan terpikat keindahan alam Mount Cook
  13. Spanyol : Musim dingin yang terasa hangat di Barcelona
  14. Switzerland :  In love with switzeland (part 1), Jungfraujoch top of Europe (oart 2)

Happy Traveling.

With Love,

Advertisements

8 thoughts on “Liburan Di Swiss : In Love With Switzerland (Part 1)

    1. Kalau suka Harry Potter, nama Grindelwald tidak akan asing. Ada salah satu karakter bernama lengkap Gellert Grindelwald. Karakter ini juga ada di film Fantastic Beast: The crimes of Grindelwald.

      Jadi, nama kota Grindelwald di Swiss ini memang serasa tak asing, setidaknya bagi Saya juga.

      Iya, coklat tipis, tapi enak 👍

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s