[Review Buku]: Yusuf – Zulaikha karya Abidah El Khalieqy

Sinopsis: 

Zulaikha sedang bahagia. Tapi karena pria lain yang bukan suaminya. Dia berusaha menamai rasa ini dengan “persahabatan yang nyaman”. Meski hatinya tahu, ini cinta yang baru.  Yusuf sudah berusaha, sekuat tenaga menolak pesona Zulaikha. Dia tahu perasaannya ini salah. Namun, seberapa jauh dia bisa mencegah hatinya?  Ini tentang cinta yang terlambat. Kisah yang terulang dan bangkit dari masa lalu nun jauh di negeri padang pasir. Ini tentang dua insan yang harus rela saling melepas atas nama cinta kepada Sang Pencipta. 

Beberapa komentar di buku, dari yang sudah lebih dulu membaca buku ini:

“Romansa Yusuf-Zulaikha modern diolah bercita rasa milineal.” –A. Fuadi, penulis.

“Konsistensi dan kesetiaan Abidah untuk mengolah unsur-unsur referensial yang besumber dari khasanah Islam, telah melahirkan karya-karya fenomenal di tengah dinamika sastra Indonesia modern.  Seperti juga dalam novel ini, kisah legendaris Yusuf-Zulaikha hidup kembali melalui tokoh dan peristiwa-peristiwa kekinian yang layak dibaca siapa saja, bik akademi maupun oramg biasa.” –Suminto A. Sayuti, Guru Besar Ilmu Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

“Kisah cinta yang mebawa pembacanya tenggelam pada keindahan Nil dan Boshporus, sembari menikmati kenangan dari silam dan kecantikan masa kini.  Mumtaz!” –Fadhil Yani Ainusyamsi, Profesor Sastra Arab UIN Bandung, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Cinta

“Seperti wangi kopi, novel ini menghadirkan aroma masa lalu di atas meja hari ini.  Cangkirnya penuh puisi, bikin demam cinta tiada henti.”  —Ahmadun Yoshi Herfanda, Penyair, pemerhati sastra Indonesia kontemporer

“Kalau jodoh memang akhirnya akan bersatu.  Dan kisah Yusuf & Zulaikha era modern ini telah membuktikannya.  Latar Turki memperindah romantika keduanya. –Dini Fitria, penulis

“Ceritanya menggebu sekaligus menyejukkan.  Saya merasa berada di Turki dengan semua keindahan dan keromantisan, menyaksikan langsung keteduhan Yusuf.  Tidak bisa tidak setuju dengan Mbak Zul, bukan iri terhadapnya.  Dan saya mulai mengidamkan Yusuf untuk memimpin saya shalat.  Terima kasih sudah membiarkan saya membaca kisah ini….”  —Faradisme, penulis

Alhamdulillah, buku-buku incaran saya di bulan Desember 2018, selesai saya baca.  Untuk buku ini, senang sekali dapat tanda tangan dari penulisnya, karena saya ikut Pre-Order di bukabuku.com.  Pertama kali melihat cover buku ini sebelum terbit di akun Instagram penerbit Falcon Publishing, saya langsung jatuh hati sama cover-nya!  Pokoknya saya mau baca! Cover-nya ini Masjid Ortakoy yang menghadap jembatan Boshporus di Turki, seketika saya kangen Turki, dan feeling saya buku tersebut banyak membahas Turki!  Sesuai dugaan, memang banyak cerita yang menyajikan sisi lain keindahan Turki, tidak cukup disitu. Surpringly, buku ini pun menyajikan sisi lain keindahan wisata di negara Mesir.  Buat kamu yang ingin ke Turki, atau ingin mengulang kembali perjalanan ke Turki, lewat buku ini kita akan mengetahui banyak info wisatanya yang mungkin belum banyak dibahas di novel lain (kecuali buku tema traveling hehe), lewat Yusuf yang bertindak sebagai guide dadakan dalam perjalanan tersebut, kita akan diterangkan tentang sejarah beserta informasi tujuan wisata yang mereka kunjungi. Mantaaap!  Baca buku ini bikin mupeng dan kangen sama negera Turki, rasanya ingin mengeksplor lagi tempat-tempat yang diceritakan sang penulis lewat para karakter di bukunya 😂 selain itu juga jadi banyak referensi tentang wisata di Mesir yang tidak melulu tentang piramida.  Rasanya saya pun ingin ikut menyusuri sungai Nil, salah satu sungai terbesar di dunia. Baca buku ini jadi baper pengen ke Mesir 😁😁

Baca juga : review novel yang bikin Baper, Bait-Bait Multazam karya Abidah El Khalieqy

Cerita dalam novel ini dibuka saat Leha orang Betawi dan Armando yang keturunan Turki, berserta Rashyed (sahabat Armando) menghadiri acara Islam Kulturu Senligi di Turki bertepatan saat musim dingin.  Mereka bertemu dengan Yusuf Mangkunata, kawan bisnis Rasyed di bidang perumahan tradisi.  Yusuf adalah magister bisang arsitektur kelahiran Surakarta, dan pernah kuliah di Bandung.  Mereka sama-sama menghadiri acara tersebut, dan menginap di hotel yang sama yaitu di hotel bintang lima The Marmara Taksim Hotel dengan pemandangan jembatan Boshporus yang indah.  Saat waktu luang, mereka jalan bareng ke beberapa tempat wisata, seperti naik Galata Tower, menyebrangi selat Boshporus.  Selesai acara, mereka melanjutkan petualangan mengunjungi kota Safranbolu, Konya, hingga akhirnya Leha berhasil membujuk Armando untuk memperpanjang bulan madu mereka hingga ke Mesir, ikut dengan rombongan Yusuf dan kedua sahabatnya Yusuf yaitu Andre dan Bustan.

Baca juga: persiapan traveling di musim dingin

Seperti di buku sebelumnya Bait-Bait Multazam yang merefensikan beberapa penyanyi Arab yang bagus dengan lagu dan lirik yang indah.  Lewat buku ini pula, sang penulis menghadirkan referensi penyanyi Turki hingga penyayi Mesir yang legendaris seperti Umi Kulsum beserta penyanyi yang sedang hits zaman ini.  Lirik-lirik indah yang penulis terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan pas pula dengan suasana hati para karakter utama dalam buku ini.  Membuat buku ini kaya akan informasi, tanpa mengurangi keindahan dari cerita serta konflik yang disajikan dalam buku ini.  Buku ini bikin saya baper, membayangkan saya bisa dipimpin shalat oleh Yusuf, Hahaha! Bagaimana Mbak Zul tidak senang dengan sosok Yusuf, saya pun yang membacanya bikin mupeng pengen jalan-jalan ke Turki dan Kairo terus ada private tour guide-nya Mas Yusuf sang arsitek berbakat ini, memiliki pengetahuan yang luas, taat beribadah,  sikapnya yang santun, soleh, tampan, perhatian, dewasa, punya sense of humor yang bagus,siapa pun yang ada di dekatnya akan ketularan aura positif,  duh ini idaman banget.  Tidak hanya idaman Mbak Zul, rasanya idaman para wanita yang membaca buku ini! maksdunya saya hahha,  uhuk.  Meskipun konflik Leha atau Zulaikha dengan Armando sangat menyesakkan.  Leha yang tabah harus menghadapi suami seperti Armando, serta mimpi-mimpinya saat sebelum menikah, ternyata menjadi kenyataan!  Setidaknya, cerita ini berujung happy ending!  Jadi semakin yakin, kalau kita tabah dan sabar, seberat apa pun ujian, pada akhirnya Allah akan menghadiahi orang-orang sabar dengan hal-hal terbaik yang pantas untuk didapatkan.

Baca juga: beberapa buku yang saya baca di tahun 2018

Judul Buku          : Yusuf- Zulaikha
Penulis                 : Abidah El Khalieqy
Penerbit               : PT. Falcon
Tahun Terbit         : Cetakan pertama, Desember 2018
Jumlah Halaman  : 412 Halaman

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dari buku Yusuf – Zulaikha:

  1. Dari majalah hotel yang baru saja dibaca, ternyata Beyoglu merupakan pusat seni, rancang-bangun serta mode dan inovasi selama berabad-abad.  Butik indah dimana-mana, musik dan toko buku, perpustakaan, galeri seni, bioskop, teater, kafe, bar, restoran, pub, rumah kopi, patisseries, chocolateries. (Halaman 5)
  2. Matanya saja sudah memesona. Ternyata di balik mata itu jauh lebih dahsyat lagi daya pukaunya.  (halaman 11)
  3. Leha tertohok. Merasa jadi muslim yang telah jauh dengan nilai-nilai Islam.  Tidak seperti saat kecil dulu.  Doa itu pun telah diajarkan Bu Guru di Sekolah Dasar.  Namun seiring berlalunya waktu, tiap kali hendak makan, yang diingat Leha justru lezatnya makanan tersebut memenuhi selera atau tidak, kandungan gizinya cukup tinggi atau minim saja, memiliki gengsi atau murahan. (halaman 41)
  4. Dengan sabar Yusuf menerangkan arrti doa yang dibaca serta menerangkan maknanya secara mendalam. Dengan doa itu, apa pun jenis yang kita makan, kalau kaya vitamin atau miskin mineral, meu oenuh nutrisi atau kurang kandungan gizi, mau kuliner lokal maupun internasional, mau menu bergengsi atau jajanan pasar, insyaallah semua penuh berkah dan menjadi jalan bagi sehatnya jiwa dan raga, asalkan halal.  (halaman 43)
  5. Dia ingin jalan menikmati keindahan Beyoglu yang sudah jauh-jauh dikunjunginya.  Dia kemari bukan untuk mendekam di kamar hotel seperti kodok dalam tempurung.  Tapi siap jadi burung yang mengangkasa meraup bintang-bintang, menerangi awan dan memetik sekuntum rembulan yang ada di wajah seseorang.”  (halaman 51)
  6. Mempraktikan ilmu memiliki sensasi petualangan. Akan tambah asyik jika banyak kejutan, agar beban tugas berubah menjadi rekreasi,  (halaman 101)
  7. Ibunya pernah bilang, mimpi saat tengah malam akan menjadi kenyataan. Kenyataan dari simbol-simbol dalam mimpi.  (halaman 105)
  8. Kadang peristiwa-peristiwa justru meminta waktu dan menyedot perhatian lebih di luar perkiraan dan harapan. Inilah misteri lain dari kehidupan.  (halaman 110)
  9. Alangkah misteri halaman kehidupan yang bernama mimpi, yang datang dari alam malakut itu. Kadang mimpi bukan sekedar bunga tidur.  Ia seperti kalimat penuh simbol dalam sebuah paragraf yang sarat makna. Apalagi jika dua orang bermimpi dengan tema yang sama.   Bak membaca dua frasa dengan simbol-simbol luar angkasa yang tidak dikenali oleh pancaindra namun dirasakan akrab oleh jiwa.  (halaman 117)
  10. “Dan hijau adalah pakaian-pakaian penghuni surga.” …. Benar. Dalam Al-Quran diceritakan para penguhuni surga bertelekan bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.  Di surga Adnan, mereka juga memakai pakaian hijau (yalbatsuna tsiyaban khudhran) dari sutera halus dan sutera tebal. (halaman 134)
  11. Menghormati tamu, siapa pun dia, merupakan ajaran mulia yang sudah tertanam dalam sikap dan menjadi perilaku dalam kehidupan. Leha sangat paham.  (halaman 173)
  12. Leha berserah pada kebijakan yang Maha Mengatur. Tuhan yang menciptakan mimpi dan jaga, serta menghiasi keduanya seperti hukum-hukum-Nya yang tak bisa ditawar.  Manusia hanya pejalan yang sedang menguak rahasia kehidupan dan Leha hanyalah sebutir di antara lautan pejalan.  Mari berserah pada kebijakan Sang Maha Segala.  (halaman 181)
  13. Jika seorang suami tidak memiliki minat kepada istri, sudah jelas ada sebab di belakangnya. (halaman 184)
  14. Yusuf bisa menjadi private tour guide yang menyenangkan dan mendegupkan jantung kebahagiaan. Leha terpesona melihat perilaku Yusuf, menikmati caranya berbahasa dan tersungkur kalah saat menatap matanya.  (halaman 187)
  15. Untuk bahagia, agaknya perlu perjuangan yang tak main-main beratnya. Dunia pun terkesima.  (halaman 2014)
  16. Yusuf tidak tersinggung tapi jutru salut dengan kepribadian Leha yang jujur, meski sering terkesan ceplas ceplos kalau bicara. (halaman 207)
  17. Jadi apa makna mimpi dan fakta yang dialaminya kini, ada kaitan atau tidak. Leha tak tahu secara pasti.  Namun dia yakin jika semua itu bukanlah kebetulan.  Ada misteri yang belum mampu diungkap oleh akal pikiran.  Simbol-simbol abstrak dari lama malakut yang serba asing dan gelap.  Satu hal yang diketahui Leha, bahwa kini hatinya dipenuhi taman bunga.  Itu saja.  (halaman 211)
  18. Sesuatu yang menarik dari pribadi Yusuf, yang telah beberapa kali dilihatnya. Tentang karakter Yusuf yang jujur, ikhlas, tidak berkhianat kepada kawan serta memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka secara adil.  (halaman 233)
  19. Sungai Nil yang tenar dan mendunia. Sungai kehidupan yang darinya Mesir mengambil banyak karunia. Meskipun kata para ahli, Nil juga bisa memberikan petaka berupa banjir besar yang menenggelamkan sekaligus merendam pemukiman serta lahan pertanian.  Untuk itu dibangun bendungan Aswan yang spektakuler.  (halaman 236)
  20. Lagi pun Yusuf bukan laki-laki bodoh yang mudah digiring masuk perangkap kata, meski itu kalimat berkekuatan nuklir sekali pun. (halaman 254)
  21. Tentu saja segalanya tidak datang serta merta. Semua frasa membutuhkan energi untuk melahirkannya.  Bahkan sekedar membubuh titik dan koma juga mengandalkan pikiran cerdas dan tidak asal-asalan.  Lebih lagi jika ending yang ingin dicapai adalah nyaman dan seimbang dalam cinta.  Kata ustadz dalam khutbah nikah kemarin, diistilahkan sebagai kondisi, sakinah, mawadah wa rahman.  (halaman 269)
  22. “Eh, Leha. Di dunia ini, tidak semua nyang kite mau bisa kite dapetin.  Ntu ude hukum alam.  Kadang juge, sesuatu nyang kagak kite harepin, kagak kite ngimpiin, eh malah nongol aja die.  Ntu ude biase.  Kite kudu siap menghadapi apa pun kenyataan.  Yeh?  Jadi orang jangan dikit-dikit kecewa, dikit-dikit mewek, dikit-dikit putus ase.  Kudu sabar.  Sabar!  Yeeh”
  23. Senyum Leha mengembang tiap mengingat tawaran Armando untuk meminta apa saja, sebagai kompensasi atas perlakuan kasar yang telah dilakukan. Sekarang Leha yakin kalau suaminya laki-laki baik dan penuh perhatian.  Barangkali kesibukan kadang membuatnya capek.  Dan, kesalahpahaman bisa menjadikan orang ringan tangan mengatasi persoalan. Dengan pemahaman seperti ini, rasanya hidup masih layak diperjuangkan.  Pernikahan masih berarti untuk dipertahankan.. (halaman 288)
  24. Turki bukan hanya terkenal dengan karpetnya saja tapi hampir semua yang dihajatkan manusia, terutama barang-barang yang digandrungi kamu Hawa diproduksinya. (halaman 298)
  25. Tak baik berdiam tegang menikmati pesona cemburu kepada kawan. Apalagi di hadapan dunia yang sedang memandangmu dengan terpana.  Ikhlaskan mereka dan nikmati bagianmu saja.  Biar selamat dari jebakan bencana.  (halaman 329)
  26. Hari gini, kiranya masih ada laki-laki tampan yang baik hati, santun, intelek, modis, tidak kuper dan pengetahuannya seperti kamus. Ilmunya bak ensiklopedi.  (halaman 345)
  27. Baginya hamba bermohon kepada Engkau, jaga dia dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.  Lepaskan dia dari cobaan hiduo yang berat yang tak mampu ditanggungnya.  Dan berikanlah kebahagiaan di dunia dan akhiray baginya. Lindungalah dia dari siksa neraka. Aamiin ya Mujibassaailin!”  (halaman 377)
  28. Leha kini jatuh tersungkur. Mungkin kondisinya penuh lebam dan bliur-bilur.  Kadang perjalanan harus di tempuh di luar alur. Siapa tahu pemandangannya lebih eksotik dari Jabal Nur.  (halaman 378)
  29. “Ya. Alhamdulillah!  Berita yang disampaikan Yusuf itu selalu membahagiakan ane, Ndo.  Itu anak memang penuh berkah.  Semua yang  disentuhnya mendatangkan rizki dan keberkahan dari langit.  Masyaallah!  (halaman 283)
  30. Tercekat Leha. Lidahnya kelu kehabisan bahasa untuk deklarasi gegap gempita. Namun di antara sunyi.  Segalanya tumpah.    (halaman 401)

Baca juga : review buku SI ANAK CAHAYA dan SERIAL ANAK NUSANTARA.

Happy reading! 📚📖😊

With Love, ❤️

Advertisements

2 thoughts on “[Review Buku]: Yusuf – Zulaikha karya Abidah El Khalieqy

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s