[Review Buku]:  The Naked Traveler 8 Karya Trinity 

Sinopsis: 

Dalam edisi terakhir dari seri The Naked Traveler ini, kita melihat perjalanan panjang Trinity menuliskan rekaman perjalanannya menggenapi kunjungan ke-88 negara di dunia.

Trinity menumpahkan hal-hal seru, yang bikin senang, kesal, geli, haru, sedih, dan bikin nagih – semua lagi-lagi menularkan virus untuk traveling. Dari perjalanan menyaksikan pesona Iceland yang overrated, menikmati megahnya alam Afganistan dari perbatasaan saat road trip di Asia Tengah, merasakan atmosfer Islam di Iran, menderitanya menjadi traveler difabel, hingga mencoba peruntungan kencan online di Eropa. 

Simak juga curhatan pembaca setia yang hidupnya berubah setelah membaca seri The Naked Traveler. Kali ini dua di antaranya turut berkontribusi menuliskan pengalaman mereka dalam bab #TNTEffect yang menambah keseruan buku ini.  The Naked Traveler is over, but its spirit is immortalized right here, in print, forever.

Saat tahu bahwa seri The Naked Traveler akan berakhir, rasanya kaget dan sedih! 😂 Maklumlah selama ini selalu ketinggalan pre-order buku-bukunya 🙄 Sehingga untuk buku terakhir ini saya tidak boleh ketinggalan update dan ikutan pre-order.  Akhirnya ada buku karya Mba Trinity yang dapat tanda tangannya.  Selain membubuhkan tanda tangan, Mba Trinity menuliskan ini:  Thank you for being part of my journey! saya”terharu 😂 Dibuka dengan curhatnya mengenai dunia kepenulisan saat ini, serta alasan kenapa seri TNT berakhir. 

Dalam buku seri terakhir ini, tetap menyajikan cerita menarik khas Mba Trinity.  Tapi kurang tebaaaal 😭😭😭 Kan saya masih ingin terus bacanya! 😁 Banyak hal seru dan kocak  yang bikin ketawa dengan pengalamannya selama traveling, ada juga pengalamannya yang menyentuh.  Launching buku ini dilakukan pada tanggal 11 Januari 2019, bertepatan dengan ulang tahunnya Mba Trinity, saya tidak datang, hanya nonton lewat Live Instagram di akun Bentang Pustaka.

Buku ini berisi tentang:  Traveling jaman dulu (yang mungkin nggak kebayang pada zaman sekarang) dan traveling masa kini, yang paling versi Trinity (sepeti negera favorit, kota favorit, kota dengan pemandangan paling kece, dll).  Tidak biasa: Iceland indah?  Kota Merdeka Christiania, Disabled Traveler, berkat luar biasa.  Tips for newbieAsia lain: hemat ke Maldives, ke mana adi Taiwan?, Lima alasan Taiwan itu menyenangkan, Jordan is more than Petra, Iran iu berbahaya?  Berjilbab di Iran.  Negara Stan:  Islam yang ramah di Asia Tengah,  What to see and do in Almathy, Kazakstan? Road trip di tiga negara Stan.  Benarkah cewek Uzbek kece?  I survived in public toilets in central Asia#TNTEffect:  Tante ‘Trinity’ The Naked Traveler  mengubah hidup saya dan racun itu bernama Trinity.  Yang nyebelin: sial di negara maju.  Menginjak San Marino.  Miss Rempong.  My sotoy driver in Oman.  Yang nyebelin di perjalanan.  Opini: touristy, the power of female traveler, adakah tempat yang Anda merasa cinta sekaligus benci?  Amankah Indonesia? hidup dangdut!  Bukan traveling:  deg-degan sekolah Freediving, kencan online di Eropa, berakting di film sendiri, residensi penulis 2018 di Peru dan Bolivia.  Menarik sekali bukan?  Bukan kamu yang suka baca buku traveling, jangan sampai terlewatkan untuk membaca buku ini. Sebagai traveler yang sudah puluhan tahun traveling ke puluhan negara, pengalamannya membuat buku-buku yang dikeluarkan Mba Trinity, selalu seru untuk dibaca, dan akan banyak dapat informasi serta pengetahuan baru dari pengalaman yang didapatkannya.  Dan sebagai traver writer, tulisannya sangat khas sekali, membuat saya sebagai pembaca, tidak pernah bosan melahap buku-bukunya, ini buku kedepalan yang saya baca dari karya Mba Trinity.

Mari sedikit mengingat kembali beberapa judul buku dari seri TNT, yaitu:

  1. The Naked Traveler 1
  2. The Naked Traveler 2
  3. The Naked Traveler 3
  4. The Naked Traveler 4
  5. The Naked Traveler Round The World (RTW. 1)
  6. The Naked Traveler Round The World (RTW. 2)
  7. The Naked Traveler 7
  8. The Naked Traveler 8

Baca juga: rekomendasi buku-buku traveling

 

Judul Buku          : The Naked Traveler 8 The Farewel
Penulis                 : Trinity
Penerbit               :  B first
Tahun Terbit       : Januari 2019
Jumlah Halaman  : 250 halaman

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dari buku TNT 8:

  1. Kini inspirasi destinasi traveling di dapat dari media sosial seperti: Instagram, Facebook, Twitter, atau YouTube.  Ditambah lagi dengan teknologi yang sangat memepermudah traveling, informasi destinasi, pemesanan hotel, beli tiket, dan lain-lain, yang dapat dilakukan dengan cepat melalui aplikasi ponsel membuat traveling semakin impulsif.   Harga yang semakin terjangkau dan FOMO semakin mendorong milineal untuk traveling.  Bahkan menurut penelitian, generasi milineal ini lebih anyak menghabiskan uang untuk membeli pengalaman daripada materi.  (halaman 12)
  2. Karena tujuan utama traveling para milineal adalah berfoto, prinsip traveling light sulit diterapkan. Mereka membawa jauh lebih banyak pakaian dan aksesori, plus peralatan make up.  Untuk day trip pun membawa tas besar beris stok pakaian supaya, “Kalau di foto bajunya nggak itu-itu doang.”  (halaman 13)
  3. Saya sebagai genarasi X tidak anti generasi milineal dan caranya traveling. Seperti para milenial, saya juga googling untuk mengetahui restoran terdekat, mengikuti Maps untuk pergi ke suatu destinasi, bahkan kadang saya turut menikmati upah dari media sisoal.  Namun, saya tidak segila itu untuk berfoto, tidak punya tongsis, dan tetap travel light.  Saya jauh lebih menikmati pemandangan indah dari mata saya langsung, bukan dari layar ponsel atau viewfinder  Saya tetap seorang turis yang pakai baju itu-itu saja karena saya bukan foto model media sosial. Mungkin ini semua karena saya sebenarnya mengidap FoMO (Pleasure of Missing Out).  (halaman 14)
  4. Intinya, Iceland tidak se-wow yang saya kira. Kalau sudah pernah ke New Zealand dan Cile, rasanya Iceland jadi biasa saja.  Jangan salah, Iceland tidak bisa dibilang jelek, ia tetap indah dan spektakuler.  Hanya saja, saya pernah melihat yang lebih indah lagi.  Atau, mungkin saya pergi kurang lama dan kurang jauh.  Pada akhirnya, pergi ke Iceland justru membuat saya makin cinta Indonesia.  (halaman 24)
  5. ….Kami bertemu di Antica Trattoria Da Carmine yang terkenal dengan Pizza Napoletana-ya. (FYI, piza itu asalnya dari Napoli lho)! (halaman 30)
  6. Inggris sebagai negara maju hampir selalu menyediakan fasilitas untuk difabel. Warganya pun sudah biasa memprioritaskan difabel,   ada saja orang yang menolong saya. Setiap ada anak tangga, ada pilihan permukaan rata.  Hotel kecil dipelosok sekalipun ada lift, tersedia kamar khusus difabel dengan kamar mandi yang banyak pegangan dan tidak harus memanjat bathtub.  (halaman 36)
  7. ….. Saya pun berkata kepada orang tuanya, “Thank you. You’ve raised your children very well.” Saya menyeka air mata saya dan berdoa mengucap syukur.  Saat sendiri, saya diberi teman.  Saat lapar, saya diberi makan,  Saat kesakitan, saya diberi kelegaan.  Apakah yang telah saya perbuat sampai dilimpahi berkat yang luar biasa ini.  (halaman 40.  Di sinilah dilema melanda.  Kita semua tahu jika akses makin sulit, tempat makin kece. Sementara bila akses gampang, tempat lama-lama bisa hancur saking ramainya (karena oknum yang tidak bertanggung jawab).  Namun, perekonomian lokal, kan harus berkembang.  Sebelum rasa khawatir saya berkepanjangan, ada baiknya saya bersyukur pernah ke Anambas sebelum populer.  (halaman 82)
  8. Gara-gara film The Martian-nya Matt Damon, saya jadi pengin ke Wadi Rum. Berbeda dengan gurun di mana pun di dunia, Wadi Rum memiliki bukit-bukit sandstone yang tinggi, jadi pemandangannya tidak flat. Warnanya yang kemerahan memang mirip dengan permukaan planet Mars.  Pokoknya, foto di sana sangat istagrammable, deh!  Untuk berkeliling bisa naik mobil 4×4 atau naik unta.    Coba, deh, nongkrong di salah satu puncak bukitnya menjelang sunset,wih … keren abis.  Biar pengalaman tambah mantap, kita bisa camping di gurun yang kering dan tanpa polusi cahaya.  (halaman 106)
  9. Pada buku panduan perjalanan Lonely Planet selalu ada bab mengenai higlight dari destinasi setiap negara. Di buku khusus Iran, highlight urutan pertama yang tertulis adalah orang-orangnya – melebihi destinasi wisatanya, dan saya mengamininya.  Mana mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng pula.  Pertama,s aya sebagai turis asing di Iran merasa jadi selebritas!  Iran adalah satu-satunya negara di dunia tempat yang orang-orangnya pengen foto bareng saya.  Jadi, kayak bule-bule di Indonesia yang sering diminta foto bareng sama orang kita gitu.  .  (halaman 109)
  10. Cewek-cewek Iran yang cantiknya luar biasa itu terlihat sangat fashionable dan keren, padahal pakaian mereka tidak branded sama sekali (ingat, Iran diembargo Amerika Serikat). Gaya jilbab di sana berbeda dengan gaya jilbab di Indonesia yang rambut tidak boleh kelihatan, tetapi baju malah ketat. (halaman 114)
  11. Perjalanan ke negara-negara di Asia Tengah (Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan) membuat saya tambah salut dengan penerapan Islam di sana. … Orang-orang Asia Tengah pada dasaranya ya tetap khas orang Asia.. Mereka sering kepo dan bertanya hal-hal yang pribadi, termasuk bertanya agama saya.  Apalagi, mereka menganggap Indonesia adalah negara Islam, jadi tiap bertemu pasti disambut bak saudara sendiri. (halaman 119)
  12. Sungguh saya salut dengan Islam di Asia Tengah! Perlakuan mereka baik dan  ramah, orang-orang Asia Tengah membuat saya makin nyaman traveling.  Mereka benar-benar mempraktikkan ajaran agama yang ramah, termasuk syiar, lho.  Orang-orang di negara Timur Tengah aja masih kalah.  Meski memakai jubah, raut muka dan tatapan mata mereka tidak seramah Asia Tengah.  Mungkin mirip seperti di Indonesia, di mana yang berjilbab masih ada yang beringas saling mendorong kalau di KRL.  Saya pun tersentak, kadang kita terlalu sibuk untuk looking good, tetapi lupa untuk doing good. (halaman 123)
  13. Maklum, Asia Tengah bukanlah destinasi wisata yang lumrah dikunjungi turis. Hasil pencarian internet yang keluar adalah perjalanan teman saya, Agustinus Wibowo.  Namun, saat itu dia pergi sebagai jurnalis dan perginya pada tahun jebot sehingga informasi tidak update.  Ditambah gaya jalannya yang buka tiper kami para turis hura-hura.  (halaman 135)
  14. Saya berpikir jika Afganistan dalam keadaan aman, pasti negara itu akan disukai para turis karena alamnya memang spektakuler dengan pegunungan menjulang berselimutkan salju. (halaman 150)
  15. Seminggu kami dilayani Pak Hamid dengan penuh kasih sayang membuat kami jadi baper! Bayangkan, biasanya kami traveling mandiri yang apa-apa mengurus sendiri.  Kali ini kami benar-benar pasrah diurusi Pak Hamid, mulai dari disopiri, difoto, diurus paspor, dikasih makan, dipilihkan penginapan.  He’s really working extra miles for us.  (halaman 157)
  16. ….. Ya, dimulai dari diri sendiri, jangan jadi orang yang nyebelin. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.  Simpel, kan?  (halaman 204)
  17. Well, saya sih tetap senang ke tempat touristy maupun non-touristy. Keduanya punya kelebihan dan kekurangannya masih-masing.  Jadi, tak usah sombong mengklaim traveling hanya ke tempat non-touristy, anti-mainstream, off beaten path, road less traveled, dan sebagainya.  Saya saja ragu, mana ada tempat yang tidak pernah didatangi orang sebelumnya? Mana ada hidden paradise?  Pernyataan “tempat bak surga” saja sangat ambigu.  Dibandingkan apa?  Memangnya sudah ke surga mana aja?  Jadi, yang penting traveling aja dulu!  (halaman 208)
  18. Dulu saat masih kecil, saya diajak ibu saya ke pameran buku di Senayan. Saat saya membayar (pakai uang ibu saya) ke kasir, petugasnya menewarkan apakah ,au buku yang baru dibeli itu ditandatangani penulisnya.  Saya masih ingat sekali badna saya gemetaran dan jantung saya deg-degan bertemu penulis idola saya!  Beliau tersenyum sambil menandatangani buku dan saya tidak bisa berbicara apa-apa selain kata terima kasih dengan suara yang parau.  Puluhan tahun kemudian, saya lah yang menjadi penulis yang tersenyum melihat pembaca gemetaran bertemu dengan saya!  (halaman 248)

Kalau suka baca buku traveling, buku ini recommended banget!

Berikut juga review buku :

  1. The Naked Traveler Round The World part 1
  2. The Naked Traveler 1 Year  Round The World part 2
  3. The Naked Traveler 7
  4. 69 Cara Traveling Gratis

Ikuti perjalanan Trinity di Blog : naked-traveler.com

Happy reading! 📚📖😊

With Love, ❤️

Advertisements

10 thoughts on “[Review Buku]:  The Naked Traveler 8 Karya Trinity 

    1. Hehe, Iya Mas. Buku terakhir seri TNT jadi semangat banget reviewnya meskipun sedih krn berakhir 😂

      Wah, saya malah belum baca yang di blognya tentang Iceland.
      Tapi beberapa dari blog, kadang ada di bukunya. Seperti “curhatan seorang penulis,” ini persis seperti di blog ada di buku TNT 8

      Sudah lihat blog thenakedtraveler yg sekarang?
      Tampilan sekarang makin fresh, dan taglinenya menjadi : journey redifined

      1. Kelihatan banget hlo semangatnya, sampai nular yang baca.

        Dulu sempat baca, ..iya sih sering banyak yang ada di blog, tapi kalau udah nyampe buku banyakan di edit dulu.

        Belum nih, nanti tak mampir

      2. Hehe, terima kasih Mas, sudah berkenan membacanya.

        Betul Mas, kalau sudah sampai buku banyak yg di edit. Baca blognya Mba Trinity juga tetap menyenangkan.

        Semoga bisa menyempatkan waktu mampir ke blog Mba Trinity

    1. Halo 😇
      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Wah, happy reading, Kak.
      Sedih karena TNT series harus berakhir.
      Banyak hal seru di TNT 8.
      Sama-sama, Kak 😊

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s