[Review Buku]: Dokter Yang Dirindukan Karya Asma Nadia & Dr. Anwar Fazal, dkk.

Sinopsis:

Kalau Ingin MENJADI DOKTER untuk GAYA-GAYAAN – GLAMOR – MERASA SUPERIOR

Lupakan! Kubuekan saja cita-cita menjadi dokter secepatnya.

Masih banyak karier lain yang membuat kamu bisa mendapatkan semua yang di atas, bukan profesi dokter.

Inilah karier yang akan membuatmu merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Inilah profesi yang dapat membuatmu lebih menghargai setiap detak jantung manusia karena ia biasa berhenti secara tiba-tiba, kapan saja. Ia juga menuntut pengorbanan besar dari kamu, demi menyelamatkan nyawa manusia.

Kamu menjadi penonton setiap drama tragis dan bahagia yang silih berganti saban hari. Kamu menjadi pelakon dalam transisi hidup dan mati. Kalau ia sungguh diniatkan untuk ilagi, pasti akan menundukkan hati.

Pada saat kamu berhasil menyelamatkan nyawa atas izin-Nya, kala pasien mulai membuka mata dan mengukir senyuman manisnya, diiringi anggota keluarga yang merangkul atau menjabat tanganmu dengan penuh haru dan mata yang berkaca-kaca, maka saat itulah kamu akan sadar bahwa inilah profesi yang “paling kaya”, dan kamu rela bergadang, mengerahkan seluruh tenaga hingga nyaris tak tersisa. Karena kamu tahu “rasa itu” tak akan mampu dibeli oleh segunung harta atau materi apa pun di dunia.

Atas dasar itulah “Dokter yang Dirindukan” ini ditulis, untuk menginspirasi dan saling berbagi. Ia tulus dari hati supaya bisa menyentuh hati. Bacalah dengan nama-Nya. Baca!

“Setiap diagnosis itu hakikatnya datang dari-Nya, dan dokter hanyalah perantara.”

Setelah beberapa hari, akhirnya saya baru selesai baca bukunya hari ini, dan bertepatan dengan Hari Dokter Nasional, Selamat Hari Dokter untuk para Dokter, semoga bisa tetap amanah dalam menjalankan tugasnya.  Aamiin.  Buku ini merupakan Antologi penulis Malaysia dan Indonesia, ditulis oleh 9 Dokter dan Pasien.  Dan merupakan buku terbaik di Malaysia selama 4 tahun berturut-turut dan terjual lebih dari 100.000 eksemplar.

Baca juga: Resensi buku Komet Minor (terbit Maret 2019), Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Menurut saya, bukunya bagus. Walaupun awalnya saya berpikir bahwa penulis Mba Asma Nadia, mengambil porsi tulisan lebih banyak, nyatanya tidak.  Dalam buku ini, Mba Asma Nadia menulis tentang pengalamannya menjadi pasien selama lebih dari 10 tahun.   Selebihnya, buku ini ditulis oleh para dokter dari Malaysia.  Banyak cerita yang mengharukan, banyak istilah medis yang tidak saya ketahui.  Tapi tenang saja, justru  saya sebagai orang awam, berkat buku ini mendapat  wawasan tentang berbagai istilah-istilah kedokteran.

Silahkan baca juga riview Cinta dalam 99 Nama-Mu karya Asma Nadia

Ini merupakan buku pertama yang saya baca, dimana isinya berasal dari pengalaman banyak dokter.  Senang sekali bisa membaca buku ini.  Dalam buku ini terdiri dari 20 cerita, yaitu:

  1. Alif…Ba..Ta…
  2. Dokter Yang Dirindukan
  3. Lepto
  4. Kenapa Mau Jadi Dokter
  5. Dear Diary
  6. Meet dr. Roy
  7. Adrenalin
  8. Bintang
  9. Tidak Ada Lagi Surga Untukmu
  10. Life
  11. A Timeless Story
  12. Selfie
  13. Mehnah
  14. Memori Makroadenoma Pituitari
  15. Menanti Superman
  16. Norad
  17. Tribulasi
  18. Code Blue: Ar Rahman Ar Rahim
  19. Genosida Yang Direstui Dunia
  20. E-BOO

Dari dua puluh cerita di atas, favorit saya Menanti Superman, Code Blue Ar Rahman Ar Rahim, sama Dokter Yang Dirindukan.

Selamat Hari Dokter Nasional (24 Oktober)

Judul Buku         : Dokter yang Dirindukan
Penulis                : Asma Nadia & Dr. Anwar Fazal, dkk.
Penerbit              : Republika Penerbit
Tahun Terbit      : Cetakan I, Oktober 2018
Jumlah Halaman : viii + 300 halaman

Berikut kata-kata favorit saya dalam buku ini:

  • “ALIF…BA…TA-UBAT”  Itulah obat untuk kamu, Ayu…. Pintu tobat senantiasa terbuka luas…. (Dr. Anwar Fazal, halaman 3)
  • “Dokter-dokter kita baik ya, Ma. Alhamdulillah.  Pasien yang mau berobat banyak, antreannya panjang, tapi dokter-dokter yang kita datangi selalu senyum, nggak pernah cemberut.”  (Asma Nadia, halaman 9)
  • Rani kecil tumbuh dewasa, dengan kenangan indah akan dokter-dokter yang merawatnya.  Tangan-tangan terampil yang selalu siap mendengar keluh kesah pasien.  Memutar otak di balik senyuman yang disuguhkan, menyimpan kekhawatiran dan berjuang mempersembahkan perawatan terbaik bagi pasien.”  (Asma Nadia, halaman 11)
  • Ya, dokter-dokter itu pahlawan.  Lewat mereka, Allah mengabarkan harapan akan hari kesembuhan.  (Asma Nadia, halaman 11)
  • Para dokter yang pernah merawat dulu mungkin tidak pernah tahu atau bisa membayangkan, betapa secercah senyuman , keramahan, dan kesabaran mereka bgitu berarti.  (Asma Nadia, halaman 13)
  • Semoga kesabaran dan keridhaan mereka, semoga upaya meringankan dan berharap mampu menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menyembuhkan, akan dibalas surga.  (Asma Nadia, halaman 13)
  • “Tak perlu dibuka lebar-lebar keburukan seseorang, niscaya Allah akan menutup keburukan diri kita.”  Itu pesannya buat staf yang mengadu.  Cukup untuk diketahui sendiri saja, tidak perlu diceritakan pada teman-teman lain.  Meski mungkin maksudnya baik, sebab ini menyangkut pasien.  (Dr. Mahyuddin, halaman 22)
  • Ikuti cara Rasulullah Saw.  Ketenangan meguatkan ingatan.  Kegalauan membuat lupa ingatan. (Dr. Mahyuddin, halaman 27)
  • Mulianya kita adalah karena ilmu.  Ilmu yang membedakan antara dua insan.  Ilmu membedakan antara dokter magang dan spesialis… (Dr. Mahyuddin, halaman 39).
  • Insya Allah, apa pun karier yang dimiliki, jika halal sumbernya dan Al-Quran “jiwa”-nya, maka ia akan menjadi jalan ke surga. (Dr. Anwar Fazal, halaman 53)
  • Sebagian orang mengatakan setiap orang menginginkan kebahagiaan.  Tidak ada yang mengharapkan penderitaan.  But you can’t have a rainbow without a little rain.  Tak masalah melalui sedikit hujan, untuk melihat pelangi yang diimpikan.  (Dr. Azah, halaman 61)
  • ….Tatapan mata mereka bertemu.  Ayah dan anak bekerja sama untuk menyelamatkan nyawa yang lain.  Kondisi medisnya sama dengan yang telah merenggut wanita yang mereka cintai.  Keduanya bertekad untuk menang kali ini.  (Dr. Beni, halaman 80)
  • Aku percaya, tugas seorang dokter bukan sekedar menangani pasien, namun juga keluarganya.  Menurutku penanganan terbaik untuk keluarga adalah komunikasi yang jelas dan transparan antara tim medis dan keluarga pasien.  Communication skills merupakan satu cabang keahlian yang tidakturun dari langit, tidak diwarisi, dan tidak datang secara alami.  Ia memerlukan latihan demi latihan.  Menurutku, kebanyakan kasus tuntutan atau gugatan hukum terhadap dokter terjadi akibat salah paham dan penjelasan yang kurang baik kepada keluarga pasien.  Maka pihak keluarga akan menafsirkan tindakan dokter dengan pemahaman yang sempit dan sering keliru.  (Dr. Aizzat, halaman 94-95)
  • Semua pasien adalah amanah.  (Dr. Azah, halaman 108)
  • Mr. Aziz memang sangat suka mencari tahu mengenai keluarga pasiennya.  Latar belakang keluarga merupakan salah satu faktor terpenting yang sring diabaikan saat penanganan pasien di rumah sakit.  Dukungan keluarga merupakan faktor penting, karena berkaitan dengan perawatan pasien stelah keluar dari rumah sakit.  “Treat patients as a whole!”  (Dr. Mahyuddin, halaman 121)
  • Bagiku, life yang sebenarnya adalah saat pasien datang memelukku sambil berkata, “Terima kasih Dokter, telah menjaga saya selama di sini.”  (Dr. Fatin Liyana, halaman 138)
  • Kamu tidak akan pernah tahu nikmat kehidupan, Farah, kalau sendiri terus.  Allah telah menciptakan kita seua berpasang-pasangan.  Berteman supaya ada tempat untuk berbagi dan menenangkan hati (Dr. Anwar Fazal, halaman 185)
  • Andaikan mereka mengerti betapa dirinya kesepian setiap kali satu demi satu teman menuju pelaminan.  Semakin berkurang waktu untuk bisa bersama mereka karena sudah memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap pasangan masing-masing.  (Dr. Anwar Fazal, halaman 199)
  • Cinta, jika tujuannya bukan surga, nikmat bahagianya tidak akan lama.  Yang nanyanya cinta hanya akan tiba ketika kita lebih mengutamakan Tuhan dan orang tua dalam semua perkara.  Percayalah nantinya si “dia” akan muncul di depan mata tanpa diduga-duga.  Saat itulah kita baru tahu betapa benarnya perintah agar meletakkan cinta pada tempatnya.  (Dr. Anwar Fazal, halaman 202)
  • A wise man once said, my pictures are my eyes, I photograph what I see  and what i want to see. (Dr. Aizzat, halaman 213)
  • Take your time, Dear.  Tunaikan amanah sebagai dokter, jangan terburu-buru melakukan tindakan.  Abang lakukan yang terbaik untuk selamatkan pasien.  (Dr. Aizzat, halaman 217)
  • That is one of the reason why people said, to be a surgeon, you need the heart of lion.  Dokter bedah harus punya hati segagah serigala.  (Dr. Aizzat, halaman 217)
  • You can put your trust on me, Bro, because i was trained by a great surgeon.  (Dr. Aizzat, halaman 230)
  • “Ingat, Nak,  Allah mengikuti sangkan hamba-Nya.”  Nasihat Ibu sejak bangku sekolah kujadikan kekuatan.  (Dr. Anwar Fazal, halaman 251)
  • “Khairi, kalau kamu sudah menikah dan berhasil nanti, jangan pernah mengabaikan keluarga.  Mereka semua penting, bahkan tidak ada yang lebih penting selain keluarga.”  Cetus Pak Cik Rahim tiba-tiba, suatu hari ketika kami bersama.  (Dr. Mafeitz, halaman 265)
  • Jadilah duta, jadilah jiwa dan hidup kami.  Lindungi kami dari kejahatan yang terang-terangan di luar sana.  Berjuanglah untuk kami dengan cara apa pun yang bisa kamu bisa.  Itulah jihadmu, saudaraku.  Sesuatu yang mungkin tidak dapat kami lakukan.  But you can have the ability and you should use what you are best in to help us.  (Dr. Mafeitz, halaman 265)
  • Untuk teman-teman kolega yang baru, semua dokter intership yang baru, untuk menjadi sukses, yang pertama peliharalah hubungan dengan Allah, kemudian dengan orang tua.  Insya Allah segenap urusan akan dipermudah.  (Dr. Anwar Fazal, halaman 292)
  • Cinta seorang Ibu begitu luar biasa hingga membuatku kehilangan kata-kata untuk menciptakan perbandingan yang setara.  Nyatanya, tidak ada apa pun yang kutemui sebanding dengan pengorbanannya.  Beliau berhak untuk diagungkan melebihi segala yang ada dalam jagad raya ini.  Bersyukurlah kita yang dilahirkan dan memiliki Ibu yang selalu setia mendampingi setiap detik, setiap saat.  (Dr. Anwar Fazal, halaman 293-294)

Recommended book!  Saya memesan buku ini toko Asma Nadia, atau bisa klik juga http://www.tokoasmanadia.com, dan senangnya lagi, buku ini dapat tanda tangan penulisnya Mba Asma Nadia, tentu saja setelah saya request ttd penulis  saat order buku ini 😀

Silahkan baca juga review buku-bukunya Asma Nadia berikut ini:

  1. Cinta dalam 99 Nama-Mu
  2. Bidadari untuk Dewa
  3. Cinta Dua Kodi
  4. Assalamualaikum Beijing
  5. Love sparks in Korea
  6. Rumah Tanpa Jendela
  7. The Jilbab traveler
  8. Pesantren Impian
  9. Cinta Di Ujung Sajadah
    Happy reading! 📚😊
    With Love, 💗 💕

Advertisements

2 thoughts on “[Review Buku]: Dokter Yang Dirindukan Karya Asma Nadia & Dr. Anwar Fazal, dkk.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s