[Review Buku]:  Imperfect Karya Meira Anastasia

Judul Buku            :  IMPERFECT  A Journey to Self-Acceptance
Penulis                   : Meira Anastasia
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : 2018. Cetakan ketiga, Juni 2018
Jumlah Halaman  : 172 Halaman

Sinopsis:

””Ternyata, orang cakep belum tentu istrinya cantik!”’ JLEB! Komentar di Instagram suamiku (@ernestprakasa) di atas adalah kalimat yang akan kuingat seumur hidup. Ternyata menjadi istri seorang public figure itu berat ya, karena sepertinya aku harus memenuhi ekspektasi netizen. #nangisdipojokan Rambut pendek, kulit gelap, jarang pakai makeup, juga bentuk badan dan payudara yang tidak ideal lagi setelah melahirkan dua anak, semakin memperberat jalanku untuk berdamai dengan diri sendiri.

Tetapi, jalan yang berat bukan berarti mustahil. Hanya saja butuh waktu dan kesabaran karena prosesnya lama dan sama sekali tidak mulus. Yah, samalah seperti kulitku. #storyofmylife Menulis buku ini membuatku harus membuka kembali banyak luka. Tetapi dengan mengakui luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. Juga belajar menjadi lebih kuat lagi.

Buku ini bukanlah buku motivasi, melainkan kumpulan cerita seorang perempuan, istri, sekaligus ibu yang sedang berjuang agar bisa mengatakan kepada diri sendiri: Aku tidak sempurna, tapi tidak apa-apa.Karena aku bahagia.

Menurut saya, ini merupakan buku yang asik dan menarik.  Walaupun bukan buku motivator, dari pengalaman penulisnya bisa diambil pelajaran tentang bagaimana menerima diri sendiri, mencintai diri sendiri, dan berdamai dengan diri sendiri.  

Baca: resensi buku Si Anak Badai  karya Tere Liye

Yang menarik di sini, penulis yang merupakan istri dari seorang artis Ernest Prakasa, ternyata memiliki pengalaman yang sangat tidak biasa.  Berawal dari salah satu komentar netizen di ig suaminya, maka dari situlah sang penulis mengalami apa yang namanya merasa seperti tidak diterima apa adanya, tidak percaya diri dan ternyata komentar dari netizen tersebut pada akhirnya melecutnya menjadi Mamak yang semakin kece kayak sekarang (cek di ig tentang Mamak dua anak ini)

Baca : review Terapi Berpikir Positif

Gayanya yang sederhana, tanpa make up atau pun alis on point, mungkin bagi sebagain orang yang suka dandan terlihat kok biasa saja, tapi kan tidak salah juga.  Selengkapnya baca dibukunya.  Bukunya juga disajikan dengan gambar-gambar, keren 👍 Plus ada workout tutorial.  Mantaaap.  Habis baca buku ini, rasanya ingin menjadikan hidup sehat sebagai jalan untuk bisa membuat badan ini tidak tumbuh ke samping kiri, kanan, atas dan bawah 😂 Terima kasih Mamak untuk bukunya yang kece ini! 😃

Bener juga sih mau melakukan diet apapun, kalau udah berhasil dietnya, tapi nanti pola makannya tidak teratur lagi, jadinya yaa kembali ke asal.  Pola makan menjadi point penting sama olahraga biar badannya sehat, kayak Mamak yang satu ini. 😂😂

Baca: review buku Off The Record 

Berikut ini kalimat-kalimat favorit dalam buku Imperfect:

  1. Melalui buku ini, aku ingin mengajakmu bersama-sama belajar menghargai, mencintai, menerima, dan berdamai dengan tubuhmu. (Halaman 8)
  2. Komentar – komentar yang katanya “cuma main-main” atau “namanya juga bercanda” Itu, sebenarnya bisa menjadi sangat menyakitkan untuk si penerima.  Dan dengan tingkat insecurity yang akut, orang itu bisa jadi sangat menyakahkan dirinya sendiri.  (halaman 12)
  3. Namun, itulah kenyataannya.  Ketika seseorang sudah sering mendengar komentar negatif terhadap tubuhnya sejak kecil, apalagi kalau terjadi di lingkungan terdekatnya, kemungkinan besar dianakan terus mengingat penilaian itu hingga dewasa.  Lama kelamaan, perasaan itu bisa membuat seseorang menjadi membenci  (halaman 13)
  4. Dan, yang lebih penting untuk diingat: Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan selain penampilan fisik.  (halaman 16)
  5. Karena kita sendiri pasti lebih senang kalau diberi komentar positif.  Makanya, yuk kita coba praktikkan ke orang lain. (halaman 17)
  6. Ternyata, aku bukannya terlalu sensitif.  Ternyata, memang nggak enak kok jadi korban komentar-komentar negatif seperti itu. (halaman 18)
  7. Jadi ingin pakai earplugs setiap kali ada acara keluarga.  Padahal, seharusnya hari raya dan kumpul keluarga jadi waktu yang membuat senang karena bisa berkangen-kangenan.  Senenarnya ada banyak banget topik selain fisik yang bisa dibahas, kalau memang niat nyari topik ya. (halaman 23)
  8. Aku harus mengubah mindset bahwa makanan bukanlah reward. Makan apapun diperlukan, bukan makan apa pun kapan pun aku mau.  Karena itu nggak sehat juga. (halaman 30)
  9. Dan yang paling penting, berubahlah karena kamu merasa perubahan itu akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.  Bukan HANYA karena apa yang pikirkan tentangmu.  Atau karena orang lain yang memintamu berubah.  (halaman 32)
  10. “berubahlah untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain.” Karena orang lain juga bisa berubah, untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaanmu (halaman 37)
  11. Kadang-kadang kita perlu jatuh dulu untuk bisa bangkit, berdiri, dan berlari lebih jauh.  (halaman 38)
  12. Daripada kita stress memikirkan “kenapa ya kita udah baik sama orang lain, tapi mereka kok malah  mengecewakan kita,” mendingan kita belajar mengatur ekspektasi dan tidak terlalu memikirkan perlakuan buruk mereka terhadap kita. (halaman 39)
  13. Intinya : Apa pun yang dikatakan atau dilakukan orang kepada kita, jangan terlalu dimasukkan ke hati. (halaman 39)
  14. Aku merasa kalau kita nggak nyakitin orang lain, orang lain juga nggak akan nyakitin kita.  Tapi ternyata… Kita tidak bisa mengatur orang, berharap orang tidak menyakiti kita.  (halaman 40)
  15. Nggak perlu melakukan hal-hal luar biasa.  Bisa menyebarkan hal positif dan memberikan semangat pada orang-orang terdekat, juga merupakan hal mulia.  Kadang-kadang, orang hanya butuh diberikan semangat dan diingatkan kalau ada orang yang mencintai mereka di dunia ini.  Mmeberikan semangat pada orang yang membutuhkan, bisa menyelamatkan mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan.  (halaman 44)
  16. Kita tidka pernah tahu kalau sebuah pelukan atau bahkan sesimpel senyuman bisa membuat seseorang menjadi bahagia dan merasa bahwa kehidupn patut dipertahankan. (halaman 44)
  17. Mungkin ini fa,ilier, sebanyak apa pun dukungan dari orang-orang sekitaru tapi kalau bukan kita yang memulai, ya nggak akan bisa.  (halaman 45)
  18. Pada suatu saat, kita hrus menjadi dewasa, mengambil keputusan yang mungkin salah, tapi menerima konsekuensinya, dan mulai lagi sampai mendapat hasil yang diinginkan.  (halaman 45)
  19. Itulah gunanya memperbaiki mindset, untuk siapa kita mau berubah.  Untuk kebaikan diri kita sendiri atau untuk orang lain?  Kalau untuk orang lain, ya capek banget sih pastinya.  Karena kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.  (halaman 56)
  20. Meng-upgrade mindset jauh lebih penting daripada meng-upgrade fisik.  Sesempurna apa pun fisik kita, kalau diam-diam mindset kita tetap meragukan dan menjatuhkan diri sendiri, kita akan tetap tersiksa.  Sometimes, we are own worst enemy! (halaman 59)
  21. “Akuu tidak perlu dibela dengan cara kamu marah-marah sama orang yang sudah membuatku sakit hati.  Aku lebih tenang dan nyaman kalau kamu bisa menenangkan ku.”  (halaman 73)
  22. His hug is my happy place.  Always (halama 74)
  23. Hidup memang penuh dengan pilhan-pilihan sulit yang harus kita ambil.  Tapi sebelumnya, lakukan riset dengan seksama dan ketahui apa saja konsekuensinya.  Jangan sampai ada penyesalan, karena kamu yang paling tahu pa yang bisa membuat hidupmu menjadi lebih baik.  I’m not going to judge!  I was is tha same position too.  I know that feeling.  I know that struggle!  But, never ( i repeat) never, change yourself to plaase other people.  (halaman 79)
  24. Perjuanganku adalah berdamai dan menerima diriku sendiri.  Dan perjuangan orang lain mungkin berbeda denganku.  Pelajarannya, nggak semua masalah bisa dilihat di permukaan.  Ada masalah-masalah yang nggak kelihatan, tapi juga berdampak sangat buruk terhadap diri kita.  Salah satunya ya itu, membenci diri sendiri.  (halaman 85)
  25. Ada kerjaannya traveling melulu.  Nggak pernah diam di rumah, location tagging-nya ganti-ganti terus, foto di kursi pesawat bussiness class, padahal kerjaannya nulis-nulis di blog #dreamjob (halaman 86)
  26.  Ingat saja, kalau dibalik kesempurnaan yang terlihat, mereka juga manusia yang pasti punya kelemahan.  Kalaupun mereka nggak share itu, ya nggak apa-apa karena itu hak masing-masing.  Yang penting kita bisa mengatur agar nggak langsung membandingkan dengan diri sendiri dan nggak menelan bulat-bulat apa pun yang dilihat di media sosial.  (halaman 89)
  27. Di balik semua yang terlihat menyenangkan, selalu ada perjuangannya.  (halaman 90)
  28. Kadang-kadang, kalau kita terlalu berkutat dengan media sosial, kita jadi lebih susah bersyukur kerena lebih sering membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang orang lain punya.  LIFE IS MORE THAN WHAT WE SEE THE SCREEN!  (halaman 91)
  29. Anyway, kadang-kadang proses itu nggak kelihatan.  Karena proses nggak seksi, nggak seru, dan nggak bikin orang berdecak kagum.  Proses biasanya lambat, pelan, bertahap, dan kadang-kadang maju kadang-kadang mundur.  (halaman 93)
  30. Healthier = happier!  Aku sangat percaya kalau olahraga bisa mebuat kita lebih bahagia.  Karena berkeringat dan olahraga membuat tubuh kita memproduksi endorfin.  Ini akan mebuat kita lebih percaya sama diri kita sendiri, kalau kita bisa mencapai goal tertentu yang tadinya nggak pernah terpikirkan bisa kita capai.  (halaman 100)
  31. Mendingn kita kasih wkatu tubuh kita untuk berubah dengan proses.  Kalau bukan kita yang menyayangi tubuh kita, siapa lagi dong?  Kita berencana memakai tubuh kita sampai waktu yang lama, kan?  Jadi, mendingan kita rawat, kita sayang-sayang, biar tubuh juga sayang sama kita.  Jangan tiba-tiba menyerah dengan cara yang nggak benar.  Don’t punish your own body! (halaman 104)
  32. Jadikan olahraga seperti seorang sahabat baik, yang selalu ada untuk kita, dan mengajarkan kita untuk berpikiran positif sehingga selalu bisa memberikan tantangan baru yang seru dan membantu kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih kuat dan lebih baik lagi.  (halaman 108)
  33. Aku nggak mau menilai orang dari luarnya saja, karena ternyata nggak enak banget diperlakukan seperi itu.  (halaman 116)
  34. Mari belajar berempati (lagi) sebelum kita mengeluarkan komentar tentang penampilan fisik orang lain.  (halaman 108)
  35. Setelah aku berani mengakuinya, ketidaksempurnaanku akhirnya menjadi sempurna.  (halaman 128)
  36. Kita nggak bisa memuaskan semua orang.  Jadi aku memilih fokus pada mereka yang mau menerima aku apa adanya dan pada mereka yang memilih untuk memakai kacamata positifnya.  Karena hidup ini sudah terlalu berat untuk ditambah dengan segala macam kenegatifan.  (halaman 128)

Baca: Buku Bajakan merugikan diri sendiri dan banyak pihak

Baca : Nyomie & Max Another 3.000 mdpl 5 tahun 30 puncak dan satu kasih sepanjang masa

Happy reading! 📖😊

With Love, ❤️

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s