[Review Buku]: Bait – Bait Multazam karya Abidah El Khalieqy

Sinopsis:  

Hilya terpesona oleh perjuangan Henry Toga Sinaga.  Berawal dari wawancara, reporter itu larut dalam kisah sang mualaf.  Henry tumbuh bersama dera ,membuat hidupnya berada dalam gulita, sampai akhirnya cahaya ilahi memberi terang, menunjukkan jalan iman dan jalan islam.

Namun, menjadi mualaf barulah sebuah mula.  Di satu sisi, awal perjalanannya diiriingi dengan kebanggaan.  Tapi, di sisi lain, keputusannya itu membuat keluarganya marah.  Ia dianggap mengkhianati keluarga, tradisi, dan agama yang dianutnya sejak lahir.
Jalan baru yang ia tempuh bukanlah tanpa hambatan.  Imannya terus diuji, orang-orang yang dulu menyembutnya dengan hamdalah gegap gempita seolah tak pernah ada untuk membantunya.  Ia seperti sendiri.  Namun, ia terus melangkah, memperdalam agama bahkan hingga ke Suriah.  Bertahan dalam situasi karut-marut di sana.  Bersabar di tengah tatapan-tatapan curiga.
Hanya pada tali Allah ia berpegang.  Di sudut Multazam ia larungkan bait-bait doanya.  Dan, di Mekah pula untaian kisahnya diabadikan pena Hilya.

Saya baru pertama kali membaca buku dari penulis Abidah El Khalieqy.  Awalnya saya tidak tahu buku ini, berkat rekomendasi seorang sahabat blog saya, Kak Wi .  Saya pun searching, pas lihat covernya saja langsung menuju toko buku online dan order.  Terima kasih Kak Wi, buat rekomendasi bukunya.  Saya suka banget, dan di hari minggu yang sangat indah, saya pun membaca buku ini dalam sehari, dan melupakan latihan menulis, saking terpesona sama cerita dibuku ini. hehehe

Hilya Annisa. Penulis cantik muslim yang berasal dari Yogyakarta, melakukan perjalanan hajinya di Makkah. Sambil berhaji, tujuan lain ia berangkat ke Makkah adalah untuk melakukan wawancara dengan para pejabat Indonesia yang berada di kedutaan besar Indonesia di sana. Wawancara tersebut Hilya lakukan untuk nantinya dijadikan bahan pembuatan novel barunya. Selama hampir dua bulan berada di Mekkah, Hilya sudah menyelesaikan hampir  seluruh rukun hajinya,  dan begitu pula dengan bahan – bahan pembuatan novel barunya.  Hilya sudah mewawancarai hampir seluruh Kepala Panitia yang berurusan dengan penyelenggaraan Haji para penduduk Indonesia.

Tak  lama kemudian, akhirnya Nina, seorang teman sekamar Hilya memberitahu bahwa ada seorang pria yang berpotensi sebagai narasumber untuk bahan tulisannya. Akhirnya Hilya pun menemui pria tersebut,  sang mualaf. Nama asli pria tersebut adalah Continue reading “[Review Buku]: Bait – Bait Multazam karya Abidah El Khalieqy”

Advertisements