[Review Buku] : I Am Sarahza Karya Hanum & Rangga

Judul Buku: I AM SARAHZA
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Jumlah Halaman : 368 halaman
Penerbit : REPUBLIKA Penerbit

Tahun Terbit : April, 2018

Sinopsis:

Manusia bilang di mana ada kehidupan, di situ ada harapan. Tapi bagiku, ruh yang telah dinasibkan di Lauhul Mahfudz, selama manusia memelihara harapan, maka aku akan selalu hidup.
Dari Alam Rahim, aku menyaksikan bagaimana kedua orangtuaku jatuh bangun memerolehku. Melewati puluhan terapi, menghadapi ratusan jarum suntik, sayatan pisau operasi, berkali inseminasi dan gagal bayi tabung, bahkan sampai harus melalui badai depresi.
Meski segala ilmu manusia akhirnya bertekuk lutut pada Pencipta Ilmu Segala Ilmu, kedua orangtuaku tak menyerah. Bahkan setelah ibu menjadi ‘tak sempurna’ karena upayanya.
Tahukah apa yang membuat Pencipta bisa Luluh pada hamba-Nya? Dengan segala usaha dan penyerahan diri sepenuhnya, akhirnya takdirku ke dunia dihantarkan oleh ribuan malaikat yang bersujud pada manusia-manusia yang sabar dan berupaya.
Inilah kisahku. I am Sarahza

Ini merupakan buku keenam karya Mbak Hanum. Sebenarnya saya sedang menantikan buku kelanjutan The Faith and the City, yaitu Converso. Namun, kehadiran buku ini langsung mencuri hati saya untuk segera membacanya. Sebetulnya, saya baru baca empat novelnya yang bertemakan traveling: 99 Cahaya di Langit Eropa, Berjalan di atas Cahaya, Bulan terbelah di langit Amerika dan Faith and the City.
Meskipun dari beberapa novel dengan unsur Traveling-nya Mbak Hanum yang selalu membuat hati ini membuncah untuk bisa merasakan traveling ala Mbak Hanum. Tapi buku ini sangat berbeda dari buku-buku sebelumnya. Banyak cerita yang mengharukan tentang perjalanan sebelas tahun perjuangan Mbak Hanum dan Mas Rangga menantikan kedatangan Sarahza, membuat saya jadi ingin ikutan menangis seperti sedang merasakan perjuangan penulisnya. Buku ini pasti akan berhasil memikat, menyentuh, dan saya pun sangat salut atas perjuangan para perjuang tangguh dalam memperjuangkan harapan dan juga keyakinannya. Pokoknya “what a beautiful story with beautiful ending!” Very touching! 😂

Ceritanya tentang perjuangan Mbak Hanum dan Mas Rangga dalam memperjuangkan untuk memiliki anak.  Perjuangan yang luar biasa.  Ketegaran Mbak Hanum yang sungguh tangguh.  Dibalik karya-karyanya seperti 99 Cahaya di langit Eropa, ternyata penulisnya sedang melakukan usaha dan perjuangan untuk bisa memperoleh anak.  Berbagai usaha telah dilakukan, baik ketika di Wina, di Jogja hingga Surabaya.

Alhamdulillah, akhirnya punya buku yang di tanda tangani langsung oleh penulisnya: Mbah Hanum dan Mas Rangga 😊 Terima kasih 😊

Berikut ini ada banyak bagian dan kalimat favorit dalam buku I Am Sarahza:

  1. Aku yakin, seorang calon manusia yang dituliskan di Lauhul Mahfuzh, tengah menanti ditempatkan dalam rahimmu. Aku hanya punya keyakinan yang terus kupelihara!” (halaman 6)
  2.  Saat Tuhan telah memutuskan mereka sebagai calon orangtuaku, sinarku yang melingkupi dimensiku berkilauan. (halaman 9).
  3.  Papà selalu mengingatkan aku harus menjadi pria hebat. Hebat dan special itu ukurannya adalah memegang teguh kesetiaan. Jatuh cintalah sekali saja, menjajaki perkenalan secukup menyesap kopi pagi hari, lalu pinanglah. Hiduplah bagai pohon dengan akar yang kuat. Pohon yang juga bisa bertumbuh, berkembang, bertunas, menjadi tambatan bagi yang lain. Ini adalah cita-cita, prinsip. (halaman 20)
  4. Tapi bagiku ketidakpastian atau kegalauan hanya menghampiri orang yang tidak percaya kepada ketetapan Allah. (halaman 20)
  5. Dan, Aku tahu benar apa yang bisa menjadi obat luka itu: teman bicara. (halaman 27)
  6. Kalau boleh jujur, baru kali ini Aki bertemu pria yang tidak kukenal sebelumnya dengan cara yang tak biasa. (halaman 32)
  7. “Num, orang beriman itu tandanya mengucap Laa Ilaaha Illallah saat memperoleh kenyataan seburuk apapun. Sementakitkan apapun. (halaman 39)
  8. Ia pria yang selalu berpikir untuk memilih diksi yang tepat agar tak melukai perasaa orang. (halaman 53)
  9. Sejak Rangga selalu datang tiba-tiba di saat yang tepat dengan solusi yang akurat untuk permasalahan hidupku, aku menjulukinya man of surprises, laki-laki yang penuh kejutan.(halaman 54)
  10. Mintalah saran pada Bapak-Ibuk, mereka pasti akan memberi saran yang nggak hanya berlian tapi brilian.(halaman 60)
  11. Ibuk sudah baca Al-Quran, nggak ada spesifik dijelaskan kewajiban perempuan untuk berkarier atau mencari nafkah, tugas utama perempuan itu ya menjadi ibu dan tiang keluarga yang kuat.(halaman 61)
  12. “Num, percaya sama Ibuk. Family is priority, family must come first whatsoever. Rangga itu pria bertanggung jawab, setidaknya dia punya visi untuk rumah tanggamu. (halaman 62).
  13. Bumi Allah itu luas, berkarya bisa dimana saja.  Jadi perempuan pembahagia suami itu lebih konkret daripada apa pun yang kamu kerjakan sekarang ini. (halaman 63
  14. Berbaktilah pada suamimu, Allah akan mengganjar dengan balasan yang berlipat ganda. Tinggalkanlah sementara kariermu, Yang Maha Pengganti Nikmat akan menukarnya dengan kebahagiaan yang hakiki.  (halaman 68)
  15. Ayahku memang piawai membuat Ibu tertawa di saat genting melanda. Suatu trik untuk menutupi kegentingan perasaan sendiri.  Ibu tak kan pernah tahu betapa Ayah beristighfar dalam hati tanpa henti.  (halaman 73)
  16. Leib dein Leben, ‘Cintailah Hidup Anda’ (halaman 75)
  17. Tumbuhkanlah selalu semangat kami Allah! Peluk kami, kami akan terus mencoba!  Aku merasa beruntung, setiap momen penting hidupku kulalui setelah Tuhan mempersatukan kami.  Believe me, Allah lagi nulis suratan takdir yang baik untuk kita, jangan digesa-gesa, nanti suratnya kurang indah.  Yang jelas kita akan tetap bersatu, Say.  Tetap bersatu.  (halaman 78)
  18. Dalam situasi serba tak pasti, satu-satunya yang pasti aadalah aku harus mengusahakannya yang terbaik. (halaman 80)
  19. Sadar jauh dari orangtua dan orang-orang tercinta,Ayah tahu hanya dirinyalah satu-satunya tonggak bagi Ibu agar tetap berdiri tegak. Ayahku selalu berusaha mencari cara menyembuhkan kesedihan Ibu.  (halaman 81)
  20. “Kalaupun kita belum berhasil menumbuhkan calon manusia dalam rahimmu, kita bisa menumbuhkan tanaman dari rahim bumi.” (halaman 82)
  21. Ayah tahu benar,manusia juga diberi pilihan untuk menyikapi setiap kegagalan. Melarut dalam kesedihan atau melecut diri mengejar harapan.  (halaman 87)
  22. Ada satu alasan lagi yang membuat Ayah dan Ibu tidak langsung ke Indonesia hingga memutuskan hijrah sementara ke kota kecil di pinggiran Sungai Danube ini. Ada yang istimewa di Linz.  Pusat kilinik fertilitas terbaik di Eropa.  Kinderwunsch Zentrum Linz.  (halaman 89)
  23. Ibu menyunging senyum dalam sakitnya.  Membuat pertahanan  Ibu semakin kokoh sekokoh cayaha yang melingkupiku sekarang.  ibu seperti menunjukkan hanya dia yang bisa menahan rasa sakit tak terdeskripsikan ini.  (halaman 98)
  24. Kuselidiki lebih lanjut tentang Eva Herz lebih dalam.  Publikasi ilmiahnya tentang Hypothalamic pituitary dysfuction menjadikan Herz endokrinolog fertilitas terbaik di Eropa.  Konon pula, hanya Kinderwunsch Zentrum Linz yang punya peralatan ultrasound 4 dimensi paling canggih, teknologi transvaginal sonography yang bisa melakukan scanning dengan sangat akurat kondisi rahim, uterus, dan tuba falopi.
  25. Ayah, Ibu, tidak perlu kaget.  Aku senang kalian telah berinisiatif datang pada Herz. Seorang dokter yang tidak arogan pada ilmunya.  Pada akhirnya ia tetap percaya sesempurna apa pun rekayasa, rekayasa Tuhanlah pemenangnya.  (halaman 103)
  26. Orang bilang semakin banyak mencoba semakin terasahlah kemampuan seseorang untuk melakukan hal yang sama.  Lebih cepat, lebih baik, dan lebih berharga dalam melakukannya. (halaman 104)
  27. ”Riset Novel itu lebih sudah daripada riset ilmiah. Menurut ilmu kaum motivator, kalau bikin skala prioritas hidup, harus ndahuluin ngerjain bagian yang susah dulu.  Kalau mau masukin ribuan batu ke dalam kaleng, masukin yang besar dulu baru kerikil.” (halaman 107)
  28. “Saay… maksudku, lihat tanganmu.  Ia memiliki kelebihan yang bisa mentansfer apa yang ada di otakmu menjadi tulisan indah. And that’s awesome.”  Sebulan lalu ia memberiku ide tentang penulisan traveling Islami ke tempat-tempat yang pernah kami kunjungi selama di Eropa. (halaman 109).
  29. Ayah mendapatkan panggilan mengajar di UGM sebagaimana angan-angannya selama ini.  Meskipun 4 tahun Ayah dan Ibu tinggal di Eropa dengan mengenyam segala fasilitas dan kesejukan panorama dunia, Indonesia tetaplah rumah untuk berlabuh. Dalam beberapa bulan ke depan Ayah dan Ibu akan meningalkan Eropa dan pulang ke Jogja. (halaman 111)
  30. Menulis itu menyembuhkan.  Pepatah itu bekerja baik pada kasus Ibu dan Ayah. (halaman 115)
  31. Bagi Ibu, senyum lelaki di hadapannya selalu mengingatkannya tentang seorang pasien yang akhirnya menjadi suaminya.  Seorang pria yang mengajaknya ke sebuah sawah lapang luas beratap langit dan berjanji menjadi pelindungnya, for the rest of his life. (halaman 128)
  32. Ia tak boleh kalah oleh waktu.  Bahkan ketika waktu terpaksa mengkhianatinya untuk menguji keteguhannya. (halaman 129)
  33. Warisan utama mereka kepada keturunan adalah pendidikan dan keterampilan.  Dengan terdidik dan terampil, diharapkan ada kecerdasan berbalut akhlak yang dikelola dan dipelihara. (halaman 130)
  34. Maklum, banyak pemuka Agama yang menyatakan teknologi IVF (In vitro fertilization) atau fertilasi di luar rahim melawan fitrah, bahkan menggugat Takdir Alllah.  Tapi aku teringat fisikawan Muslim Abdus Salam yang menyatakan bahwa tidak mungkin ada kontradiksi antara Islam yang melanggar tanda-tanda kebesaran Allah dan Sains Alam semesta.  Signs dan Science, sebagaiman pengucapannya yang hampir sama, mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan, seperti dua mata sisi uang yang menimbulkan makna saat manusia diminta Tuhan: Iqra’bismitabbikalladzii khalaq.  Al-Quran adalah bahasa simbol multisisi sehingga ia tak lekang oleh waktu, tak usano oleh peradaban hingga akhir zaman. (halaman 147)
  35.  Hanum! Jangan pernah, ingat jangan pernah sekalipun mengungkit tentang uang yang dikeluarkan untuk biaya program ini. (halaman 164)
  36. ”Ibuk dan Bapak dulu sama frustasinya kayak kalian.  Kalian jauh lebih beruntung di zaman sekarang yang semua dokter melek teknologi.  Zaman Ibuk, mana ada inseminasi apalagi bayi tabung. (halaman 165)
  37. Tunjukkan pada Tuhan, kita bukan kaum jiper, ngeper, cengeng ketika gagal mendapatkan apa yang diharap. Termasuk belum dikasih anak.  Pamerkan sama Tuhan kita pejuang sejati.” (halaman 171)
  38. Buku memang hanya benda mati, hanya barang yang berisikan puluhan ribu kata dan sesekali barang pelengkap.  Tapi Tuhan menyematkan takdir istimewa pada setiap halaman buku itu untuk kedua calon orangtuaku.  (halaman 173)
  39. Inilah film religi yang fenomenal yang pernah dibuat di Indonesia!  Inilah perjalanan sepasang suami istri yang menakjubkan dalam menyibak sejarah islam di  Eropa! Inilah film yang tak sekedar tontonan namun tuntunan. (halaman 176)
  40. Kehebatan laki-laki bukan ditentukan dari kemampuannya memiliki banyak wanita, tapi ketika ia berani memutuskan untuk setia hanya pada satu wanita.  Kedua orangtuaku selalu mengatakan, milikilah sesuatu yang paling mahal seorang pria bisa berikan kepada wanita: kesetiaan. (halaman 211)
  41. Masjid akhir-akhir ini jadi tempat peraduanku.  Tatkala Tuhan menyepak harapanku berkali-kali, aku merasa masjid tetap melambaikan tangannya padaku.  Agar tak pernah lekang merinduinya. (halaman 221)
  42. Andai saja kamu tahu Num, sejak patah hati aku berjanji siapa pun wanita yang berhasil membuatku tersenyum dia harus jadi istriku dan selama-lamanya. Dan kamulah orangnya. (halaman 224)
  43. ”Hope is our weapon again and our endurance during all these program is the victory.  Come what may… We will bring them down.”  Harapan memang satu-satunya senjata yang kami punya sekarang ini. Dan, ketahanan adalah kemenangan kami. (Halaman 225)
  44. Tapi yang jelas, aku harus yakinkan Ibu bahwa Tuhan tidak akan membebankan ujian yang lebih berat dari yang sanggup Ibu pikul. (halaman 231)
  45. Kehilangan yang dicintainya, yang didambanya setelah sekian lama tanpa berdaya menyelamatkannya adalah puncak kesakitan.  Loving dan losing memang hanya beda sehuruf.  Namun berlawanan makna, berjarak miliaran rasa. (halaman 241)
  46. “Dah gitu, kalau sama yang lain belum tentu bisa berantem. Coba sama kamu, aku bisa berantem pas diskusi nulis buku.  Bikin ide, plot, twist, film. Seru-seru gemes tuh.  Aku milih debat sengit sama kamu daripada jatuh cinta sama orang lain, Num.” (halaman 260)
  47. Masih ada dua hal yang bisa mendoakan kita, yang bisa menyumbangkan pahala yang tak putus-putusnya, meski manusia sudah berkalang tanah.   Mereka adalah amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. (halaman 265)
  48. Al-Quran itu dibaca dan diresapi, jangan hanya dijadikan pajangan rak.  Dibaca nyaring biar aura rumahmu terkena pesonanya, rasanya di tubuh juga plong lega.  Malaikat juga berbondong-bondong ikut mendengarkan.  Al-Quran itu obat dan sahabat.  Kalau kamu merasa sendiri, ya dia itu sahabatmu sejati. (halaman 270)
  49.  Gunakan waktu luang, bahkan ketika kamu melamun dengan zikir. (halaman 270)
  50. Zikir dengan segenap jiwa akan menyusun kembali kimia otakmu dengan akurat. (halaman 271)
  51. ”Num, sebagaimana zikir, sedekah itu melegakan hati.  Bonusnya, membersihkan harta plus pikiran dan kecemasan. (halaman 272).
  52. Melihatku berketurunan adalah harapan yang ingin ia wujudkan sebelum tiada.  Untuk itulah ia tergesa segera bersimpuh dihadapan-Nya. (halaman 287)
  53. …sejak itu Ibuk sudah berjanji sama diri sendiri, selama Ibuk masih hidup, Ibuk akan nemenin kamu program hamil.  Sampai kamu berhasil. (halaman 290)
  54. Bagi Ibuk ia masih memiki utang menemaniku hamil dan melahirkan, seolah aku sudah pasti punya jatah.  Ibuk selalu hadir dalam setiap kehamilan dan kelahiran anak dan mantu perempuannya.  Di Surabaya, ia berniat mewujudkan cita-cita itu sekarang untukku.  (halaman 319)
  55. Keadaanku beberapa bulan lalu, kuterjemahkan sebagai kekalahan telak dari diriku sendiri.  Dari setan,dari ego, dari  nafsu.  Di Surabaya bersama Ibuk, aku mulai berdamai dengan segala perasaa di kalah.  Aku tidak ingin mempertanyakan lagi kekalahanku.  Aku hanya berharap Tuhan memberikan kemenangan di mata-Nya.  Lewat shalat fardu dan sunnah, hingga Tahajjud kutatah setiap waktu.  Selain Ibuk, Al-Quran dan shalat menjadi kawanku sehari-hari. (halaman 323)
  56. “Num, Bapak sudah menepati janji.  Sekarang giliran kamu yang juga harus berjanji.  Berjanjilah  untuk menjadi Ibu yang kuat, sabar, dan tak patah semangat.  Yang bisa menjadi contoh untuk anak-anakmu nanti.” (halaman 347)
  57. Takdir Tuhan memang tak bisa dilukiskan hanya dengannya sebaris kata ‘indah.’  Atau ‘sempurna’ sekalipun.  Yang aku pelajari dalam 11 tahun penantian, keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran.  Kebahagiaan akan selalu tergoda mendatangi mereka yang bersyukur.  Sesuai janji Tuhan, Ia melunasi permohonan hamba-Nya yang tak bosan menengadahkan tangan.  (halaman 348)
  58. 12 Rabiul Awal, 12 Desember.  Setelah hampir 12 tahun menunggu, akhirnya pada tanggal ke-12 bulan 12 ini akan hadir seorang yang menjadi kabar gembira bagi semestaku.  (halaman 349)
  59. SARAHZA REASHIRA.  Perempuan cantik nan kokoh yang menjadi angin pembawa berita gembira. (Halaman 351)
  60. Aku dan istriku menyematkan doa pada nama anak kami.  Agar kelak ia juga bisa menjadi angin yang membawa kabar gembira bagi semesta.  Sebagaimana teladan yang harus menjadi penutan bagi hidupnya kelak : Rasulullah Muhammad Saw.  (halaman 352)

EPILOG

Jangan engkau ciut pada apapun, karena kamu hanya boleh takut pada Allah.  Jadikanlah ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu.  Jadikan imanmu sebagai jangkar yang mengatasi badai cobaan.  Perbanyak amalanmu sebagai bekal mengarungi kehidupan.  Bacalah Al-Quran sebagai kompas yang memandu arah pelayaran.  Kibarkanlah ilmu pengetahuan sebagai layar yang menggerakkan lajumu.  Cakrawala masa depanmu tanpa batas, demikian juga harusnya cintamu pada Tuhan.  Gapailah semua tujuanmu dalam batas-batas  ketentuan-Nya.  Ingatlah Nak, setiap tujuan membutuhkan perjuangan.  Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan.  Setiap pengorbanan membutuhkan kesabaran.  Setiap kesabaran punya terminal bernama penyerahan.  Dan sebaik-baiknya tujuan adalah kembali pada Allah. (halaman 358-359)

Membaca buku ini membuat saya sering berkaca-kaca, tak bisa menahan haru dan sedih 😭😭 tapi Alhamdulillah akhirnya menyenangkan! 😊 Highly recommended book 📚

Baca juga review buku-buku karya Mbak Hanum dan Mas Rangga:

  1. 99 Cahaya di langit Eropa
  2. Bulan Terbelah di Langit Amerika
  3. Faith and the City

Happy reading! 📖 😊

With Love ❤

Advertisements

15 thoughts on “[Review Buku] : I Am Sarahza Karya Hanum & Rangga

    • Terima kasih kak, masih inget review-nya 😊
      Sayang banget udah gak ada 😂kalau mau, boleh tau emailnya? atau bisa email ke saya (ailatifah@gmail.com), nanti saya kasih tau tempat langganan saya beli buku via online (saya cek masih ada bukunya)
      Saya suka banget buku tsb, gara2 baca saya juga jadi nambah referensi bacaan buku lain, tepatnya lagi nyari-nyari buku yg ada dalam daftar pustakanya

      • Oh gitu kak 😂😂😂
        Sayang banget, padahal kalau kita deketan bisa saling pinjam meminjam buku hehe 😊
        *berasa kayak perpustakaan*

      • Kalau boleh tau, di Pulau apa kak?
        Iya, Alhamdulillah kalau di Pulau Jawa banyak yg jual buku online jadi bisa hemat buat borong buku 😂 terus kalau mau nyari buku lama yg udah gak ada di toko buku, bisa nyari dan beli online, cukup terbantu dg adanya yg jual buku online 😊

        Seru kali ya, kalau kita deketan bisa sekalian diskusi buku dan sharing info seputar buku 😁

      • Saya tinggal di hampir ujung pulau sumatera. Perbatas aceh dan sumatera utara. 😀

        Kalau beli online, harga satu buku bisa borong tiga buku sekaligus di toko buku.

        Pastinya. 😂 ngopi2 sambil sharing buku. Semoga aja ntr bisa terwujud. 😆

      • Huwa jauh sekali 😂
        Ok kak, kalau gitu beli di toko buku aja 😀

        Iya, semoga bisa terwujud kak 😊😊
        Aamiin YRA 🙏🙏🙏

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s