[Review Buku]: Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere Liye

Sinopsis:  Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata : ” Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertaya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu?”

Maka apakah kita akan bertanya : Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?

Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri. Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.

Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia ‘fantasi’ tere-liye tentang perjalanan hidup. Di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega…

“Tere Liye, lewat novel ini mengajarkan saya bagaimana memaknai kehilangan.  Rasa kehilangan yang begitu rumit, sakit, tapi tidak untuk Tere Liye, semuanya begitu indah dalam bingkai kesederhanaan.” Sita Elanda Lestari – Mahasiswi UI

Novel yang keras dan menyentuh.  Tentang anak manusia yang apa adanya.  Aku berharap jadi ‘si gigi kelinci,’ mencintai dan dicintai dan berakhir jadi bidadari surga.” Ida Safitri- pembaca novel Tere Liye

Satu hal yang membuat buku ini bagus: meraih surga dan dunia dengan sederhana.”  Yudi Randa – Mahasiswi IPMI Business School 

Novel ini, salah satu novel yang pada saat membacanya membuat emosi saya naik turun, ikut terhanyut dengan ceritanya 😂 Selalu suka dengan karya-karyanya Bang Tere.  Dari sekian banyak novel Bang Tere, ketika membaca judulnya saja, terlihat puitis “Rembulan tenggelam diwajahmu” membuat penasaran dengan ceritanya, yang ternyata setelah baca, buku ini bagus banget!  Satu hal lagi, dari mulai cetakan pertama  hingga cetakan yang memasuki cetakan ke XXXV, covernya masih sama, membuat buku ini tetap istimewa meskipun terbit nya tahun 2009, saya rasa buku ini bagi para penggemar novel-novel Tere Liye, tak akan terlewatkan untuk dibaca, bukunya keren 😊 Dan tentu saja banyak pesan moral yang disampaikan penulis melalui karakter-karakter dalam buku ini.
Novel ini berkisah tentang seorang anak manusia bernama Rehan Raujana, sebut saja Ray , sejak kecil Ray tinggal di panti asuhan yang sangat menyedihkan, pengurus panti asuhan tersebut yang disebutkan sebagai ‘penjaga panti sok suci ‘ ya Ray tumbuh menjadi pemberontak, Ray sangat membenci penjaga panti sok suci yang selalu menyuruh anak-anak panti asuhan untuk bekerja menjadi penyemir sepatu dan pengamen, yang uangnya disetor ke penjaga panti untuk pergi haji. Ray benci itu…

Namun, dia termasuk orang yang terpilih. Tuhan memberikan dia kesempatan agar dia mendapat jawaban-jawaban yang selalu dia nantikan. Disitulah muncul seorang malaikat yang berwujud manusia dengan wajah yang sangat lembut, dengan jubah putihnya mendatangi Ray. Dengan lembut berkata, lima pertanyaan, lima jawaban. Akhirnya Ray pun diajak kembali menyaksikan kisah-kisah masa lalunya, mengajak Ray untuk mendengar jawaban atas pertanyaan , disitulah mailakat itu menjawab semua pertanyaan hidup ray ?

1.      Kenapa dia dibesarkan di panti asuhan yang busuk, kenapa tidak di tempat lain? Kenapa dia hidup seperti ini?
2.      Kenapa hidup tidak adil? Dia tidak pernah melihat kedua orangtuanya, tidak seperti anak-anak lain mendapatkan kasih sayang ayah bundanya. kenapa setiap orang yang berbuat baik malah menemui banyak masalah, banyak kesulitan. Namun, para penjahat selalu diberikan kemudahan, harta yang banyak. Kenapa?
3.      Kenapa langit tega mengambil istrinya, orang yang mungkin hanya bisa membahagiakan dia. Kenapa Tuhan tega dan tidak habis-habisnya memberikan kesulitan terhadapnya?
4.      Kenapa hatinya masih terasa kosong, padahal dia telah menyibukkan diri dengan segala aktivitas, menjalarkan usaha bisnisnya yang sampai menggurita. Yang dulu beli senar gitar untuk mengamen pun harus meminjam dari pengamen lainnya, hidup di sebelah bantaran kali yang bau. Namun, saat usaha propertinya dimana-dimana, mau makan apa saja dimana saja pun tinggal berangkat, selalu saja ada kosong, ada yang hampa dalam hatinya. Kenapa?
5.      Kenapa Tuhan tidak segera memanggil dirinya saja, malah memberikan berbagai penyakit-penyakit pada dirinya padahal badannya yang kekar dan gempal. Dari serangan jantung, kadar gula tinggi sampai harus cangkok ginjal harus dilakukannya. Kenapa?
Orang yang berwajah lembut itupun menjawan tiap pertanyaan. Ya, tiap satu pertanyaan ada satu jawaban. Yaa itulah lima pertanyaan Ray semasa hidupnya. Mungkin tidak jarang kita semua pun mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang sama tentang kehidupan ini, tentang takdir kita masing-masing.

Judul Buku          : REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU
Penulis                 : Tere Liye
Penerbit               : Penerbit Republika
Tahun Terbit       :  Cetakan I, Februari 2009.  Cetakan XXXV, April 2018
Jumlah Halaman:  426 Halaman

Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu:

  1. “Selalu berprasangka baik, jika di sederhanakan, berharaplah sedikit dan memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan (hal.201)”
  2. Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur.” (hal. 416-417)
  3. Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”
  4. “Andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu, karna ilmumu terbatas. Kau hanya yakin , bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibanding menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah.”
  5. Semua orang selalu diberikan kesempatan untuk kembali. Sebelum mau menjemput, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya.”
  6. Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”
  7. “ …tidak ada niat yang baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.”
  8. ” …Begitulah kehidupan ini, bagai sebuah kolam raksasa. Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak. Riak itu adalah gambaran kehidupannya… Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah. Ah, itu jika kita memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif…… Kalau kau memahaminya dari sisi positif, makan kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar butir air yang membuat riak tersebut. Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apa pun riak itu. Dan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil. Sekecil apa pun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab akibat…”
  9. “Kalau semua orang berpikiran itu bisa dibenarkan, bukan berarti itu menjadi bisa dibenarkan. Kalian tetap meyakini kalau itu sesungguhnya keliru karena kalian tahu itu memang keliru.”
  10. “Ray, kehidupan ini selalu adil, keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini terlanjut sulit bagimu, karena kau selalu keras kepala.”
  11. “…. Ah, sayang kita selalu menurutkan perasaan dalam urusan ini. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga… Tidak puas menduga-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekali, menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita.”
  12. “…mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Beribu wajahnya. Berjuta bentuknya. Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Selalulah berprasangka baik. Aku tahu kata-kata ini tetap saja sulit dimengerti. Aku sederhanakan bagimu, Ray, maksudnya adalah selalulah berharap sedikit. Ya, berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan.”
  13. “…. Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kerjadian menyakitkan itulah yang abadi. Benar, kau bisa memilih untuk menerimanya.”
  14. “Ray, kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkannya. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya.”
  15. “…. Semua kehilangan itu menyakitkan. Apa pun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan….”
  16. “Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.”
  17. “…. Tuhan tidak sedang mengujimu. Tuhan justru sedang mengirimkan seribu malaikat untuk menjemput istrimu….”
  18. “…. Dan lazimnya para pecinta dunia, dia tidak akan pernah terpuaskan oleh yang bisa disediakan dunia…”
  19. “…. Aku senang mendengarnya. Amat senang. Tapi aku tidak membutuhkan itu semua. Rumah besar, mobil, berlian. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan, untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup.”
  20. “… Sebuah lagu tentang betapa dunia ini, sehebat apa pun dia, setinggi apa pun dia, ternyata tidak sejengkalpun, tidak sehastapun yang akan dibawa mati.”
  21. “…. Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. Wajah seperti ini cantik, wajah seperti itu jelek. Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin. Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar, yang disebut buku perbandingan.”
  22. “Kau benar, Ray. Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaanNya. Tahukah kau? Itulah janji menatap wajahNya. Menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa pembatas… Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam tenggelam tiada artinya. Sungguh seluruh persona dunia akan layu. Percayalah selalu atas janji itu, Ray, maka hidup kita setiap hari akan terasa indah.        Kabarnya, menurut penulisnya Bang Tere Liye, novel ini akan difilmkan, semoga filmnya bagus dan bisa menyampaikan isi pesan dalam buku ini dengan baik.Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:
    1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: Eliana, Burlian, Pukat dan Amelia
    2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
    3. Genre fantasy : Harga Sebuah Percaya, SERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceros & Batozar serta buku kelima Komet).
    4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebah, negeri di ujung tanduk.
    5. Genre action : pulang , pergi
    6. Genre sejarah : Rindu,
    7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
    8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
    9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
    10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

    Happy reading! 😊

    With Love, ❤️

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s