[Review Buku]: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye

Sinopsis:

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun.

Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun” daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

Pertama kali lihat judulnya saja panjang, puitis pula: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Genrenya romance.

Novel ini  tentang ‘cinta yang tak sampai’. Tania (tokoh utama, aku) dan adiknya, Dede diasuh oleh Danar, orang yang mereka kenal dari tempat ngamen. Terjalin hubungan kekerabatan antara keluarga Tania (yang saat itu masih ada Ibu) dengan Danar. Danar hidup sendiri. Danar adalah sosok malaikat penolong bagi keluarga Tania, sejak Tania SD hingga lulus kuliah, sejak Dede SD hingga kuliah. Sayangnya, Tania harus mengalami keadaan di mana dia secara tidak kuasa mencintai malaikat itu, yang usianya terpaut amat jauh. 

Baca juga: Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Seperti biasa, Bang Tere Liye ini memang paling jago dalam urusan konflik cinta dan romantisme. 👍😄Bisa dibilang seakan dia punya banyak solusi atas semua permasalahan cinta. 👍 Mantaaaplah Bang Tere! 😊  Walaupun tidak happy ending, tetap saja menurut saya buku ini bagus. 

Judul Buku         :  Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis                : Tere Liye
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : Cetakan pertama Juni 2010.  Cetakan ketiga puluh empat : Mei 2018
Jumlah Halaman : 264 Halaman

Baca: review Bait-Bait Multazam

Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku daun yang jatuh tak pernah membenci angin: 

  1. “Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok atau lusa.”
  2. Berjanjilah nak, kau tidak akan pernah menangis sesulit apapun keadaan yang kau hadapi. 
  3. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
  4. Kehidupan terus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kehidupan ini seperti daun yang jatuh, biarkanlah angin yang menerbangkannya.
  5. Bahwa hidup harus menerima..Penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti..Pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami..Pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
  6. “Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kamu akan mengerti, akan memahami dan akan menerima. 
  7. “Kau memang berhak menyampaikan perasaanmu, tetapi kau lupa dia juga berhak untuk tidak mendengar apa yang akan kau sampaikan.”
  8. Benarlah kata orang-orang, prinsip hidup itu teramat lentur, prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada di depan kita, disadari atau tidak.
  9. Hidup harus terus berlanjut, dalam bentuk apapun.
  10. Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung menghubungkan satu dan yang lainnya. Mencari-cari penjelasan yang membuat hatinya senang. 
  11. Ah, yakinlah mengenang semua perasaan itu tidaklah sesulit yang dibayangkan.
  12. Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. jendela-jendela bergetar, layar tv bergoyang, telpon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat. 
  13. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tidak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
  14. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami, kami akan menerima.
  15. Ah, aku dulu sama sekali tidak percaya dengan kata-kata: lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu. Bagaimana mungkin kau akan bahagia, jika kau terpaksa menikah dengan seseorang yang tidak pernah kau cintai, tidak peduli seberapa besar dia mencintaimu. Itu akan menyakitkan. Bagaimana kau akan menjalani hari-harimu? Tapi ternyata itu benar, sayang. Kau tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kehidupan kita ketika kau menikah dengan seseorang yang ternyata tidak mencintaimu, meskipun kau amat mencintainya.
  16. Ada banyak kebaikan yang justru balik menikam, menyakitkan pemberinya. 
  17. Pria selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang sekecil itu jauh lebih absurd daripada seorang wanita terabsurd sekalipun.
  18. “Pohon Linden, pohon ini indah karena menakjubkan. Pohon ini indah karena bisa menumbuhkan sesuatu. Menimbulkan perasaan-perasaan yang tak pernah kita mengerti. Cinta. pohon ini membuat kita berterus terang dalam kehidupan..”
  19. Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta. 
  20. Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemai satu langsung kau injak. Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak.”
  21. Cinta tak harus memiliki. tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna.  

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan berbagai genre, dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini genre-genrenya:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : Hafalan Solat Delisa, Moga Bunda Disayang AllahBidadari-Bidadari Surga (recover jadi Dia adalah Kakakku), kemudian ada serial Anak-Anak Mamak  ada : ElianaBurlianPukat dan Amelia,
  2. Genre romance : Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang BaruDaun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  sunset dan rosie,  aku kau dan sepucuk angpau merah,
  3. Genre fantasy : Ayahku Bukan PembohongHarga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politiknegeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisidikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta
  10. Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: Rembulan Tenggelam di Wajahmu
  11. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU 

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s