[Review Buku] Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang       : Tere Liye
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit   : Cetakan kedua puluh, April 2018
Tebal buku      : 507 halaman

Sinopsis:

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Kalau Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya beraroma budaya Melayu dan mengeksplorasi Pulau Belitong. Kemudia A. Fuadi dengan Negeri Lima Menara-nya yang Minang banget dengan budaya merantaunya yang khas. Maka Tere Liye dengan Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah-nya dengan kehidupan di sungai Kapuas (Sungai Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang total 1.143 km.). Budaya Dayak, Melayu dan Cina peranakan, dengan alur ceritanya sederhana dan kisah kehidupan sehari-hari, maka aroma Pontianak-lah yang membuat buku ini memiliki nilai plus. Setting tempatnya sangat menarik, baru pertama kali saya membaca buku dengan setting kota Pontianak.

Novel ini menceritakan Kisah Cinta sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan dan kejutan. Jalan cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat saya ingin terus menerus membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan, melalui perasaan tokoh utama yang dengan cepat dibuat berubah.
Yang menarik dari novel ini yaitu, adanya misteri yang disajikan. Mulai dari, amplop merah, ketidak sukaannya Papa Mei, dan menjauhnya Mei dari kehidupan Borno. Misteri itu disajikan dengan menarik, sehingga membuat saya penasaran.

Baca juga: Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

BORNO, bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Selepas lulus sekolah, dihabiskan waktunya mencari nafkah dengan kerja serabutan. Mulai dari bekerja di pabrik pengolah karet yang baunya luar biasa, membantu Cik Tulani di warungnya, menunggu toko kelontong Koh Acong, ikut melaut mencari sotong. Disuruh-suruh tetangga memperbaiki genteng, toilet mampet, jendela lepas, bahkan mencari kucing hilang. Hingga akhirnya menjadi pengemudi sepit. Kemudian ia berkembang menjadi pemilik bengkel dan berkongsi dengan bapaknya Andi, sahabat baiknya.

MEI, si gadis sendu yang misterius. Seorang guru di sebuah yayasan. Wanita yang telah menyita perhatian Borno, penumpang specialnya di sepit Borneo. Rambutnya panjang, keturunan Melayu Pontianak, dengan wajahnya Cina Peranakan.

PAK TUA, begitulah beliau dipanggil. Pria yang sudah mengelilingi separuh bumi, namun tetap hidup bersahaja dan menjadikan pekerjaannya sebagai pengemudi sepit miliknya sebagai hobi, bernama asli Hidir. Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas, beliau juga pandai membaca raut wajah. Karakter pak Tua ini, merupakan salah satu karakter favorit saya. Perhatikan saja, bahkan selain tokoh utama Mei dan Borno, karakter Pak Tua ini pun mendominasi cerita dalam novel ini. Satu hal lagi, tentang kisah si Fulan dan si Fulani, sahabat baiknya pak Tua, yang diceritakan pak Tua pada Borno dan Andi, ini merupakan kisah tentang cinta sejati yang sangat menyentuh dan hebat 👍
Karakter Ibu, Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, dan kemunculan Sarah pun menjadikan novel ini lebih lengkap dan seru dengan karakter kuat yang mereka miliki.

Kau disini adalah Mei, Aku adalah Borno, dan sepucuk angpau merah yang merupakan surat yang ditulis Mei untuk Borno, sebagai misteri menjadi penutup paling sakti dari sebuah rahasia besar, yang kebenarannya baru bisa diketahui di bab terakhir novel ini. Ikuti terus perjalanan mereka dari awal hingga saat Mei menjadi guide Pak Tua dan Borno di kota Surabaya. Berlanjut Borno menjadi guide Mei di kota Pontianak. Hingga akhirnya rahasia besar pun terungkap! Baca bukunya yuk, biar makin seru menikmati cerita dalam novel ini. Meskipun cukup tebal, tak akan terasa membacanya. Buku ini membuat saya senang, sedih, bahkan bisa membuat saya tertawa dengan kelakuan karakter Bang Togar, Borno saat saling jail dengan teman baiknya yaitu Andi, apalagi Pak Tua, meskipun beliau merupakan karakter paling bijak dalam buku ini, tapi ada saat-saat dimana beliau pun memiliki selera humor yang baik, apalagi kalau lagi ‘iseng nyindir’ Borno 😃😆

Novel ber-genre romance ini berbeda dari novel romance lainnya karya Tere Liye,seperti : sunset bersama rosie dan daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dan ini adalah buku ke 29 yang saya baca dari buku-bukunya Tere Liye. Buku ini terbit tahun 2012, saya sebetulnya nyari yang cover pertamanya, tapi tidak menemukan yang ori 😂, sehingga saya pun akhirnya membeli yang cover terbarunya. Walaupun telat bacanya, novel ini ‘worth it to buy’ dan ‘worth it to read.’ 😊 Tapi jangan berharap romance-nya kayak buku Dilan ya, disini tidak ada, namun tetap novel ini sangat menarik untuk dibaca 😊

Beberapa tempat di Pontianak yang terdapat dalam buku ini:
Istana Kadariah, Masjid Jami yang merupakan masjid tertua kota Pontianak, yang merupakan kota Garis khatulistiwa. Jalan-jalan ke Tugu khatulistiwa, dan restoran terapung

Beberapa tempat di Surabaya yang terdapat dalam buku ini:
Gereja Santa Maria. Masjid Cheng Ho. Kembang Jepun. pasar Ampel yang merupakan pasar Arab terbesar di kota Surabaya.

Beberapa pengetahuan yang khas tentang Pontianak juga pengetahuan lainnya:

1. Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. (halaman 10)

2. Apa itu Pontianak? Tidak lain tidak bukan adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntilanak. (halaman 17)

3. “Logika mesin tempel itu sederhana. Hanya terdiri atas mesin penggerak, transmisi dan propeler. Itu saja.” “Logika pengemudi sepit itu sama persis dengan mengemudi opelet. (Halaman 55)

4. Tidak ada rel kereta api di seluruh Kalimantan, apalagi Pontianak. (halaman 55)

5. Penduduk Pontianak mayoritas terdiri atas Melayu, Dayak, dan Cina. Akhir abad ke-19, daratan Cina dilanda perang sipil yang membuat ribuan penduduk Cina mengungsi keluar dari negerinya. Salah satu tujuan mereka adalah Pontianak. Selain dekat dengan Laut Cina Selatan, penduduknya juga ramah terhadap pendatang. (halaman 195).

6. Mobil mati mendadak saat dikendarai, itu bisa empat hal: filter bensin mampet, rotax alias pompa bensin mati, kalbulator nya kotor, atau sistem kelistikan bermasalah. (halaman 364).

Beberapa kutipan-kutipan menarik dan bijak yang terdapat dalam buku ini:

1. Hidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta. (halaman 20)

2. Ada satu hal yang menggelitik dan sepertinya patut ditiru: Jika kalian berurusan dengan polisi lalu lintas atau satpam galak tanpa senyum, sapalah dia dengan menyebut namanya, bersahabat, maka urusan jadi gampang seketika: “Karena mereka terkadang sudah kesal dari sananya. Seharian atau semalaman bosan berjaga, menghadapi orang-orang. Kau lurus-lurus saja bisa mengundang masalah, apalagi kalau kau memang membawa masalah. Nah, dengan menyapa nama, itu membuat mereka merasa dihargai setelah kesal sepanjang hari. Percayalah. Itu selalu berhasil. (halaman 25)

3. Kota ini kota sungai, maka tidak perlulah planologi lulusan terbaik untuk menyimpulkan bahwa di kota ini transportasi air sangat penting. (halaman 33)

4. Bentuk bangunan paling tinggi di kota Pontianak? Apalagi kalau bukan hotel mewah burung walet. Bentuk banguunan sarang walet menyerupai kotak, tinggi, tanpa cat, dibuat permanent dari beton dengan kontruksi serta material terbaik. (halaman 45)

5. “Meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin di setrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menggumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan.” (halaman 42)

6. “Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” (halaman 49)
7. “Imajinasi jauh lebih penting dibanding pengetahun,” (halaman 56).

8. “Kau bolak -balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi.” (halaman 59).

9. Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. (Halaman 168)

10. Cinta adalah perbuatan. Kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi. (halaman 168

11. Cinta beda tipis dengan Sungai Kapuas. Cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu. Cinta sejadi adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tidak pernah berhenti, begitu pula cinta. Siklus Sungai Kapuas ini jauh lebih abadi dibanding cintal gombal manusia. Beribu tahun tetap ada di sini, meski airnya semakin keruh. Sedangkan cinta gombal kita? Jangan bilang kematian, bahkan jarak dan waktu sudah bisa memutusnya. (halaman 168)

12. Cinta adalah kebiasaan. Kau tidak bisa membayangkan betapa indah proses transformasi perasaan dari sekadar sahabat menjadi seseorang yang special, macam melihat ulat berubah jadi kupu-kupu. (halaman 170)

13. Kalimat bijak pak Tua pada Borno. “Kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amar berbeda, amat menakjubkan.” (Halaman 175).

14. Cinta sejati selalu menemukan jalan,Borno. ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalaah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya..” (halaman 194)

15. Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik dating, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.” ( halaman 210 )
16. Jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai dengannya, mengenal dengan baik. (halaman 225)

17. “Kau lupa,Borno. kalau hati kau sedang banyak pikiran,gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan.” (halaman 258)

18. Sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang mengganggu. (halaman 282)

19. Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (halaman 288)

20. Masa muda adalah masa ketika kita bisa lari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah. (halaman 164)

21. Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Apakah gadis itu merupaka jodoh Borno?!

22. Ada sebuah rahasia kecil di antara para gadis. Jika dia memberikan sebuah buku pada seorang laki-laki, terlebih buku kesukaan dan hobi laki-laki itu, maka laki-laki itu amat penting bagi gadis itu. Bukan sekedar teman. (Halaman 333)

23. “Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal yang menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”

24. Tetapi montir adalah survivor sejati. Dari salah satu buku yang kubaca, montir yang baik selalu bisa menggunakan apapun yang tersedia. (Halaman 366)

25. “Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (halaman 428)

26. “Berikanlah hadiah buku kepada seseorang yang amat kau hargai.” (halaman 500)

Sama halnya sensasi setelah membaca buku Laskar Pelangi, dan Negeri Lima Menara, maka membaca buku ini juga membuat saya pengen ke Pontianak dan pengen nyoba naik sepit 😁

Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: ElianaBurlianPukat dan Amelia
  2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
  3. Genre fantasy : Harga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
  10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

Selamat menikmati bacaan yang menarik dan bagus ini!

Happy reading! 📖📚😊
With Love, ❤

Advertisements

12 thoughts on “[Review Buku] Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

  1. ” Meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi…” Itu yang dibahas apa kak?

    • Saat Borno bekerja di pabrik pengolahan karet, penghasilannya halal, tidak curang. Meskipun bau, tapi hasilnya wangi. Sayangnya pabriknya tutup.
      Sehingga Borno mencari tempat kerja lain. Saat dia bekerja di kapal fery sebagai yg memeriksa karcis, ternyata ada yg curang, sehingga ia memutuskan utk berhenti. Kalau boleh memilih, Borno lebih senang bekerja di pengolahan karet.
      Seperti itu penjelasannya kak 😊

  2. Asik nih Novel, udah baca juga. Saya suka dengan karya Kang Tere, lumayan dah banyak baca buku beliau. Tapi yang ‘pergi’ itu belum….

    • Iya kak, novel ini asik dan seru. Kalau suka dengan karya-karya Kang Tere, Novel terbaru Pergi, recommended banget untuk dibaca kak 😊

      Kabarnya, lanjutan dari serial Bumi: Komet akan keluar bulan Juni, terus ada Bor-Obudur, juga akan terbit di bulan yg sama, don’t miss it kak 😃

      • Iya itu… Serial Bumi udah punya, tapi belum sempat baca. Tau” komet mau keluar. Thanks bgt Infonya 🙂

      • Sekali mulai baca, semoga ketagihan baca kak 😆 Serial Bumi menurut saya seru, kalau suka Harry Potter, boleh dibilang Serial Bumi itu HP-nya Indonesia. Meskipun tentu saja berbeda. Kalau HP itu cerita tentang dunia sihir, kalau Serial Bumi cerita tentang science dan teknologi. 😊

        Sama-sama Kak 😊

  3. Udah lama juga baca buku ini, akhirnya happy ending kan ya? Hehehe. Di sungai Barito aja luas dan besaaaaar sekali menurut saya, apalagi Kapuas ya?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s