[Review Buku] Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

Sinopsis:

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Kalau Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya beraroma budaya Melayu dan mengeksplorasi Pulau Belitong. Kemudia A. Fuadi dengan Negeri Lima Menara-nya yang Minang banget dengan budaya merantaunya yang khas. Maka Tere Liye dengan Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah-nya dengan kehidupan di sungai Kapuas (Sungai Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang total 1.143 km.). Budaya Dayak, Melayu dan Cina peranakan, dengan alur ceritanya sederhana dan kisah kehidupan sehari-hari, maka aroma Pontianak-lah yang membuat buku ini memiliki nilai plus. Setting tempatnya sangat menarik, baru pertama kali saya membaca buku dengan setting kota Pontianak.

Novel ini menceritakan Kisah Continue reading “[Review Buku] Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye”

Advertisements