[Novel Sejarah] : Review dan Sinopsis Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy

Judul Buku : API TAUHID
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Terbit :Jakarta, 2013. Cetakan XVI, Januari 2018
Penerbit : Republika
Halaman :587 Halaman

Sinopsis:

“Kehadiran novel Api Tauhid ini sangat pas dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada saat dunia Islam dihadapkan pada persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban.
Kekuatan sebuah novel sejarah tentu terletak pada kemampuannya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara Indah dan menawan. Novel menjadi sarat dengan hikmah sejarah yang berfungsi untuk menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi sesudahnya. Sejarah yang merupakan pengalaman masa lalu (mati) dalam novel ini menjadi hidup kembali (living history), memberikan ibrah yang luar biasa. Inilah yang dihidangkan novel Api Tauhid ini.
Kemampuan untuk menghidupkan kembali peristiwa di balik tokoh berpengaruh dan penuh”keajaiban” , Sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi, merupakan daya tarik tersendiri dari novel ini.
Siapapun yang mengidamkan dan ingin mewujudkan pertemuan berbagai peradaban yang berbeda-beda itu dalam balutan cinta dan penuh perdamaian – bukan pertentangan dan permusuhan (clash of civilization) – harus membaca novel Api Tauhid ini.
Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan.

“Ini sungguh novel sejarah Pembangun jiwa. Halaman demi halaman yang saya baca telah membuat pikiran saya menjelajah lipatan waktu di mana sang tokoh utama Badiuzzaman Said Nursi dikisahkan. Ramuan pengalaman dan imajinasi kreatif Kang Abik menjadikan novel ini sarat dengan nilai-nilai keteladanan.” — Taufik Kasturi, Ph.D., Dekan Fakultas UMS

“Ini bukan novel biasa. Ini adalah novel peradaban. Subhanallah, novel sejarah ini menggetarkan jiwa saya.” — Meyda Sefira, Artis film dan sinetron

“Deskripsi dan visualisasi yang matang. Novel sejarah, penuh kisah heroik, diayam dengan kisah pergulatan cinta yang dramatis.”— Dr. Saiful Bahri, M.A. Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat.

Ini adalah novel roman dan sejarah. Novel roman yang bercerita seputar perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.
Dalam perjalanannya, Fahmi harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Fahmi pun galau. Semua persoalan yang dialaminya itu, tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya.
Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beritikaf di Masjid Nabawi, Madinah, selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 12 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.
Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti.
Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan.

Syaikh Said Nursi, sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan Badiuzzaman (Keajaiban Zaman).
Keistimewaan Said Nursi, membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada.
Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi.
Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.
Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Attaturk, pada masa awal Perang Dunia I.
Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah, ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya, baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.

Menurut Kang Abik “Penghayatan jejak-jejak keteladanan Badiuzzaman Said Nursi yang saya hidangkan melalui perjalanan wisata ruhani enam pemuda Fahmi,Subki, Hamzah, Aysel, Emel, dan Bilal yang dibalut kehangatan romantis dalam musim dingin yang menjadikan novel ini berbeda dengan novel mana pun. (P. xviii).
Saya tahu novel ini, saat membaca buku Journey The Greatest of Ottoman. Sudah lama saya tidak membaca penulis Adikarya AAC, lulusan Sarjana Al-Azhar University Cairo. Novel terakhir yang saya baca berjudul Bumi Cinta, setting-nya di Rusia.
Buku ini setting-nya di Indonesia tepatnya provinsi Jawa Timur, di Arab setting nya di kota Madinah ❤ penulis pun menyebut dalam bukunya Hotel Movenvick dan Bin Dawood, kedua tempat tersebut alhamdulillah sudah saya datangi saat umrah 4 tahun yang lalu (2014). Dan seperti yang terpampang jelas di covernya, dengan gambar masjid tersohor Sultan Ahmet Cami atau dunia mengenalnya dengan nama Blue Mosque di negara yang berada di dua benua yaitu Turki. Serta keterangan cover depan: foto Syaikh Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960). Buku ini sukses membuat saya kangen Madinah dan Turki 😂 mau kesana lagi ya Allah (Aamiin). Apalagi disebutkan pula Kapadokya atau dalam bahasa inggrisnya dikenal Cappadocia, disana juga ada gunung Erciyes, gunung tertinggi di Turki yang ada salju abadi di puncaknya. Walaupun saya saat ini baru memandang gunungnya saja selama jalan-jalan dì Cappadocia.

Dalam buku ini,saya seperti diajak oleh penulisnya untuk keliling Turki, melihat jejak-jejak Islam, sekaligus jejak Badiuzzaman Said Nursi. Keliling Istanbul, kota terbesar di Turki. Kemudian dijak terbang ke Kota Kayseri. Dari Kayseri melalukan perjalanan darat dari Gaziantep-Sanliurfa-Akcatekir-Konya (kota cinta) – Isparta (kota mawar) – Barla.
Tentunya buku ini melalui riset mendalam dari penulisnya, menjadikan novel berlatar belakang sejarah ini, kaya pengetahuan sejarah. Perjalanan panjang dari 1997 hingga 2012 itulah modal utama penulisan novel Api Tauhid. Selain perjalanan panjang Said Nursi sendiri. Dari novel ini pun saya jadi tambah pengetahuan tentang runtuhnya kekhalifahan yang sudah berdiri 600 tahun lebih, keterlibatan Turki dalam perang dunia I, tentang muncul dan berkembangnya sekulerisme, juga bagaimana cara pembuatan dan penyebaran Risallah Nur. Temukan jawabannya dengan membaca tuntas buku ini 👍
Membaca buku ini, membuat saya
Menyusuri jejak Said Nursi yang diceritakan oleh Hamzah, sebagai pemandu perjalanan mereka selama di Turki. Hanya saja bagian yang paling menggemaskan 😂 saat Fahmi meminta diceritakan tentang kewafatan sang tokoh, Hamzah bilang “Nanti akan aku carikan buku Sirah Dzatiyah Ustasz Said Nursi, kau bisa membacanya.” Hamzah selalu tidak kuat untuk mengenang detik-detik wafatnya Said Nursi. Itu kisah sangat mengharu biru dan menyayat jiwa. (Halaman 556). Padahal saya maunya dicerikan sampai tuntas 😂
Dalam bukunya, Kang Abik pun merujuk pada kitab dan buku pendamping (halaman 579), menjadikan bukunya ini sangat bergizi, terutama tokoh yang mendapat julukan Badiuzzaman (keajaiban jaman), so inspiring. Maka, dari sejumlah novel karya Kang Abik, buku favorit saya dari karyanya beliau tentu saja novel ini.
Novel yang lebih dari 500 halaman ini adalah novel biografi seorang tokoh ulama besar asal Turki, Said Nursi Badiuzzaman. Seorang jenius yang hapal sekitar 80 kitab di usia belasan tahun. Sebuah novel sejarah yang mengisahkan perjuangan Said Nursi, dengan berbagai peristiwa di balik runtuhnya khilafah terakhir Turki Utsmani, yang mengubah wajah sejarah dan peta politik dunia hingga kini.
Saya termasuk suka membaca tentang sejarah, dan untungnya saya termasuk penikmat cerita.
Walaupun saya hanya tahu tokoh-tokoh islam terbatas pada para ilmuwan seperti Ibnu Sina atau Al-Farabi, Sultan Muhammad Al Fatih, serta penjelajah seperti Ibnu Batutah dari negara Morocco yang mengelilingi dunia jauh lebih hebat dibanding Marcopolo, mendadak tertarik pada kisah luar biasa yang sebelumnya tidak saya kenal, Badiuzzaman Said Nursi.
Awal saya memutuskan membaca buku ini karena ingin tahu sejarah tentang Turki melalui novel sejarah. Karena ada kata sejarahnya maka saya pun menuntaskan buku ini.
Membaca kisah Said Nursi, seolah-olah mengisi lembar-lembar kosong penggalan pengetahuan sejarah saya yang sangat terbatas. Buku Api Tauhid, mengisi kekosongan pengetahuan tersebut.
Saya tahu sedikit sejarah Palestina, sejarah dunia versi islam, dan tentu sejarah ‘versi umum’ yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Dibuku ini juga dijelaskan tokoh yang melobi Sultan Hamid II agar mengizinkan untuk menyewa tanah di Palestina dan mendirikan negara zionis. Meskipun Sultan tidak menyutujuinya, namun pada akhirnya Sultan digulingkan dari kekhalifahan, dan 50 tahun kemudian berdirilah negara Israel.
Dalam sejarah ‘versi umum’ yang kita tahu, Mustafa Kemal At-tartuk adalah pahlawan yang dielu-elukan karena berhasil membawa Turki ke arah yang lebih ‘modern’, -nama lain untuk sekuler. Dalam buku ini, kita bisa tahu lebih dalam, bagaimana permainan politik At-tartuk yang turut berperan dalam kejatuhan Khalifah dan berusaha memusnahkan sendi-sendi islam dalam berbagai aturan yang tidak populer dalam masa pemerintahannya.
Kara Mustafa Pasha adalah penjahat perang yang fotonya terpajang di Wina, Austria. Mengingatkan saya akan buku dan judul film yang sama, dimana salah satu frame dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa 1, saat Aisye dibully oleh temannya karena [National Best Seller book]: 99 Cahaya di Langit Eropaberagama islam dan berasal dari Turki. Juga saat di museum, Fatma menangis karena kebencian dan penyesalannya terhadap Kara Mustafa Pasha yang ternyata adalah kakek buyutnya.
Dalam buku Api Tauhid, kita akan menemukan satu kejadian saat Said Nursi berusaha mengingatkan Kara Mustafa Pasha agar bertobat. Bagaimana Said Nursi dengan berani menentang kesewenang-wenangan Pasha, dan memperkirakan akhir hidupnya akan seperti apa. Sebuah ramalan yang kelak terbukti tidak hanya pada akhir hidup Pasha, tapi juga akhir hidup Nursi dan sahabatnya sendiri. Turki pada masa itu memang tengah bergolak. Banyak terjadi penyelewengan termasuk yang dilakukan oleh pemerintah Turki Utsmani yang semakin jauh dari islam..
Syeikh Said Nursi hidup dimasa peralihan dari turki klasik (Turki Ustmani) menjadi turki modern seperti saat ini. Beliau menjadi tokoh yang merasakan bagaimana Turki sebagai pusat peradaban Islam disulap oleh Mustafa kamal atturk menjadi Turki sekuler.
Oh iya, berbicara mengenai Mustafa kamal atturk. Mungkin bila di buku sejarah umum tertulis bahwa beliau dianggap sebagai pahlawan dari Turki. Namun lewat  buku karya Habiburrahman ini, kita disuguhkan fakta sejarah yang berlainan.
Dalam buku Api Tauhid, Mustafa Kamal adalah tokoh utama yang mematikan simbol-simbol islam di negara tersebut. Dibuatnya peraturan-peraturan yang sengat menindas ajaran agama Islam. Dari adzan yang harus memakai Bahasa Turki, pelarangan memakai huruf hijaiyah arab. Selian itu, ada larangan memakai jilbab bagi perempuan sampai penutupan madrasah-madrasah agama Islam.
Entah apa yang menjadi motivasi Mustafa kamal sampai melakukan hal-hal “berani” seperti itu. Bila membaca buku mengenai pemikiran modern islam, Beliau sendiri sangat terpengaruh dengan modernisasi yang terjadi dibarat. Sehingga menjadikan barat sebagai role model yang ingin diterapkan di Turki.
Melihat penindasan terhadap simbol-simbol Islam, Said Nuriska tidak hanya diam. Beliau terus berjuang melalui nasehat-nasehatnya kepada penguasa. Namun, apalah daya apa yang beliau lakukan kerap kali menghantarnya ke tempat pengasingan atau penjara.
Kemudian kisah kejujuran orang tua Said Nursi ini benar-benar inspiring. Dari 7 bersaudara, ternyata Said Nursi menurut pengakuan ibunya, memang sudah memiliki keistimewaan, salah satunya saat bulan ramadhan, pada saat siang hari ketika bayi tidak mau minum susu. Dia seolah ikut berpuasa. Banyak tanda-tanda yang diakui oleh ibunda tercinta Said Nursi mengenai beliau.
Membaca Api Tauhid, seolah kita turut merasakan kembali kegetiran serta keresahan seorang Said muda. Membuat saya pribadi mengira-ngira situasi dunia saat itu. Tahun-tahun sebelum kejatuhan khilafah saat Indonesia masih dalam kungkungan penjajah.
Lewat novel ini, Kang Abik seolah mengajak kita melakukan rihlah, napak tilas seorang ulama besar lewat penceritaan tokoh-tokohnya. Seakan kita sendiri diajak berkeliling Turki, merasakan bekunya udara saat musim dingin, pahitnya kopi khas Turki, serta mengunjungi tempat-tempat selain tujuan wisata yang telah dikenal selama ini. Memberi kita alternatif  baru untuk bertandang, lengkap dengan makanan dan hotel-hotel yang disinggahi.
Berbalut cerita cinta antara Fahmi dan Nuzula, Kang Abik menyajikan cerita dalam cerita. Dengan Hamza sebagai pemandunya dan tokoh Fahmi untuk mewakili pembaca yang awam terhadap Said Nursi.
Kisah hidup beliau sudah merupakan cerita lengkap dengan berbagai konflik yang nyata.
Penggambaran setting Turki cukup detail, bahkan bisa menjadi rujukan destinasi pilihan. Api Tauhid memang  berbeda dari karya-karya Kang Abik lainnya. Namun spirit kisah di dalamnya, niscaya akan mampu memberi inspirasi baru bagi pembaca.
Sebuah bacaan yang layak direkomendasikan, meskipun bacaan berat tapi terasa ringan dengan bahasa dan sudut pandang yang disajikan oleh penulisnya menjadikan buku ini recommended sekali 👍👍👍👍

Berikut kalimat favorit dalam buku ini:

1. Kata Mutiara  Syeikh Baiduzzaman Said Nursi “Siapa yang mengenal dan mentaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan meupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona.”

2. Keindahan sejarah tiada bandingnya. Karena salah satu muatan Al-Quran adalah sejarah Nabi dan umat terdahulu agar kita menyalami lautan hikmah dalam keindahan. (Halaman 9)

3. Bagiku, kampungku adalah surga. Mungkin bagimu, kampungmu adalah surga. Dan yang membuat kampungku adalah surga paling surga di atas muka bumi ini adalah karena di kampungku hidup sosok yang sangat aku cintai, sosok yang melahirkan diriku yaitu ibu kandungku. Dan tentu saja sosok yang melindungi diriku, sosok yang melahirkan diriku yaitu ibu kandungku. Dan tentu sosok yang melindungi diriku sosok yang memberikan nafkah untukku, sosok yang jadi teladan hidupku sejak kecil, yaitu Bapakku. Memandang wajah mereka berdua adalah surga. Merasakan elusan tangan mereka berdua adalah surga. Mendengar Suara mereka adalah surga. (Halaman 26).

4. Muhammad Saw menyalakan kembali lentera tauhid yang nyaris padam di atas muka bumi ini. Sejak itu detik demi detik, hari demi hari adalah perjuangan menyeru kepada tauhid, perjuangan memerdekakan manusia dari menyembah yang tidak layak disembah untuk hanya menyembah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, yaitu Allah SWT. (Halaman 83)

5. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah telah menghidupkan bumi setelah mati.” (Halaman 148)

6. Obat sakit hati karena kecewa yang paling baik adalah memaafkan dan mengikhlaskan. (Halaman 216).

7. Yang memberi kemenangan itu Allah. Aku sama sekali tidak berhak mengatakan bahwa aku ini akan mengalahkan mereka dalam debat. (Halaman 226)

8. “Nyawaku ada dalam genggaman Allah, aku akan mati jika sampai ajalnya.” (Halaman 227).

9. “Al-Quran adalah Wahyu Allah. Saya akan buktikan dan tunjukkan kepada dunia bahwa Al-Quran itu seperti matahari yang tidak akan padam cahayanya. Al-Quran tidak akan bisa mereka musnahkan. (Halaman 293)

10. “Agama adalah penerang hati, sedangkan ilmu pengetahuan peradaban adalah penerang akan.” (Halaman 305)

11. Diantara yang paling penting yang telah aku pelajari dan aku dapatkan dari kehidupan sosial manusia sepanjang hidup adalah bahwa yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri. Faktor-faktor yang melahirkan cinta adalah keimanan, keislaman, dan kemanusiaan serta berbagai mata rantai nurani yang kokoh dan benteng maknawi yang tangguh. (Halaman 372)
Masih banyak sebenarnya kalimat favorit dalam buku tersebut. Tapi sekian dulu ulasan saya. Ayo baca bukunya! 😊

Happy reading! 📖😊
With Love, ❤💙

Advertisements

10 thoughts on “[Novel Sejarah] : Review dan Sinopsis Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy

    • Semoga segera ditemukan bukunya kak 😊 kalau di Gramedia stocknya kosong, bisa olshop di Tokopedia (nama tokonya Buku Gaul), saya beli disitu, Alhamdulillah dapat diskon 😃 ini buku menurut saya lebih keren dari AAC, romance nya juga gak ketebak tapi beautiful ending.

      Oh iya, baru keingat tokoh di AAC sama AP ini cuma beda m dan r 😄

    • Sama-sama Mbak 😊😊

      Mantaaap mbak, apalagi mbak tinggal di Turki 😊
      Semoga nanti setelah baca buku nya, menjadi referensi untuk explore home of Turkey 🇹🇷

      Baca buku ini, saya mau ke Turki lagi 😂 *Aamiin*

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s