[Review Buku]: Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye

Judul Buku:  Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis:  Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit:   Cetakan kedua puluh satu, April 2018
Jumlah Halaman: 299 halaman

Sinopsis: 

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya? Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri.

Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya. Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Bagi saya, buku yang ditulis Tere Liye bukunya selalu menyentuh, bikin menangis dan merenung.  Selalu memberikan nasehat yang baik.  😂😂 Membaca buku ini bikin dada terasa sesak, saking haru dengan ceritanya. 😂. Kalau suka membaca karya-karya penulis Tere Liye, buku ini jangan sampai terlewatkan untuk dibaca, bagus 👍

Baca juga: Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye

Ceritanya adalah tentang seorang anak berumur sekitar belasan tahun bernama Dam, yang mempunyai seorang ayah yang sangat ia sayangi. Dia paling suka ketika ayahnya bercerita tentang masa lalunya, atau mendongeng tentang masa lalunya yang menurut Dam rada-rada fiksi; tetapi dia tetap menyukai kisah-kisah ‘masa lalu’ ayahnya tersebut, terutama cerita ketika ayahnya pergi menemukan apel emas di Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin, dan bahwa ayahnya berteman sangat dekat dengan pemain bola terhebat menurut Dam di seluruh dunia, yaitu El Capitano alias El Prince.

Tetapi beranjak dewasa, Dam merasa apa yang selama itu diceritakan dan dikisahkan oleh ayahnya hanyalah sekedar pembohongan publik belaka. Karena menurutnya tidak mungkin Lembah Bukhara dan Suku Penguasa Angin tersebut nyata. Apalagi, saat Dam ingin menuliskan surat kepada El Prince yang sering disebut Sang Kapten tersebut, ayahnya tampak sedikit gugup dan menolak keinginannya.

Tapi ayah Dam, mengejutkannya, adalah orang yang selalu dihormati setiap orang. Dari orang terkaya di kota tersebut sampai walikota. Sampai-sampai, saat Jarjit, anak di sekolah yang selalu membenci Dam, meledek bahwa keluarga Dam rendahan dan miskin, dia disemprot oleh papanya sendiri untuk tidak pernah meledek keluarga Dam miskin, karena keluarga Dam katanya lebih kaya dari setiap orang yang ada di kota itu.

Dam mendengarnya sendiri namun dia tidak dapat mencerna apa maksud papa Jarjit. Keluarganya memang benar miskin, mereka terlalu miskin untuk dapat membeli mobil dan bahkan rumah mereka bayar kredit selama dua puluh tahun.

Saat dewasa, dan Dam sudah menikah, ia semakin tak percaya dengan cerita-cerita ayahnya. Bahkan dia berani berkata terang-terangan kepada ayahnya kalau ia tidak ingin cerita-cerita bohong ayahnya itu meracuni anak-anaknya, Zas dan Qom. Kalian bisa tahu sendiri kan perasaan ayahnya dituduh pembohong oleh anaknya sendiri.

Ayahnya pernah bercerita bahwa almarhumah istrinya, alias ibu kandung Dam, dulunya adalah merupakan seorang bintang televisi yang sangat terkenal dan sedang naik daun ketika ia divonis hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Kemudian ibu Dam bertemu dengan ayah Dam, dan ayah Dam menceritakan seluruh kisah hidupnya yang kata Dam tidak nyata tersebut, dan ibu Dam langsung menangis berkata kalau seluruh cerita itu benar. Mereka menikah dan semua kebahagiaan itu membuat jangka waktu hidup ibu Dam bertambah bertahun-tahun berikutnya sampai Dam besar.  Dam yang sudah gelap mata karena tidak mempercayai seluruh cerita ayahnya, menganggap itu juga kebohongan.  Ayah Dam yang sakit hati keluar dari rumah di bawah hujan, dan tepat saat itu Dam menemukan kalau cerita tentang ibu Dam yang merupakan bintang televisi adalah benar setelah mencari kata kunci nama ibunya di mesin pencari internet.

Ayahnya ditemukan pingsan di pusara ibunya. Dam menemukan kebenarannya sudah terlalu terlambat.  Beberapa hari kemudian, ayahnya meninggal menyusul istrinya. Dan yang membuat Dam menangis terisak adalah para pelayat kematian ayahnya adalah orang-orang dalam kisah ayahnya yang selama ini dia anggap tidak nyata, termasuk Suku Penguasa Angin, Si Nomor Sepuluh dan pamannya yang merupakan sahabat baik ayahnya sejak berumur delapan tahun, Sang Kapten; Sang Kapten bercerita kalau selama ini dia mencari jejak ayah Dam sejak kehilangan beliau berpuluh tahun lalu saat ayah Dam lulus dari sekolah hukum dan meninggalkannya.

Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Ayahku Bukan Pembohong :

  1. Ayah pernah bercerita bahwa suku Penguasa Angin bisa bersabar walau beratus tahun dizalimi musuh musuh mereka ? suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas
  2. Ah yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahwa kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain (halaman 38)
  3. Kau tahu Dam, laksamana Andalas terkenal di seluruh dunia, dihormati anak buah, teman-temannya, disegani musuh-musuhnya karena disiplin dan selalu tepat waktu.  
  4. Ilmu pengetahuan adalah proses kontemplasi panjang. Ketika kepala kalian digunakan untuk merenung, berpikir terus-menerus, bukan sekedar hiasan atau lelucon (Halaman 119)
  5. Alim khan menjelaskan pemahaman hidup yang sederhana, kerja keras, selalu pandai bersyukur, saling membantu (halaman 140)
  6. Suku penguasa angin sungguh tidak memenangkan pertempuran melawan penjajah. Mereka memenangkan pertempuran melawan mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah dan kekerasan di hati
  7. Kami tidak mendidik kalian sekedar mendapatkan nilai diatas kertas. Seluruh kehidupan kalian tiga tahun terakhir, dua puluh empat jam, baik di kelas ataupun tidak adalah proses pendidikan itu sendiri. Itulah penilaian yang sebenar-benarnya. Kau lulus dengan baik (halaman 241)
  8. Nah, Dam . selamat melanjutkan hidup. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak perduli seberapa menyakitkan aau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana (halaman 242)
  9. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahuin berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak,kabar baik, keberuntungan, harta benda yang dating, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu dating dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, Itu semua juga dating dari luar. Saat semua itu dating dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan (halaman 292)
  10. Apakah Ayah dan Ibu kau bahagia? Kalau kau punya hti yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya , termasuk kesedihan karena cemburu, iri atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikitpun beningnya kebahagaiaan yang kau miliki (halaman 294)
  11. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam alah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar, dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta (halaman 299)

Good book, highly recommended! 

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan berbagai genre, dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini genre-genrenya:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : Hafalan Solat Delisa, Moga Bunda Disayang AllahBidadari-Bidadari Surga (recover jadi Dia adalah Kakakku), kemudian ada serial Anak-Anak Mamak  ada : ElianaBurlianPukat dan Amelia,
  2. Genre romance : Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang BaruDaun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  sunset dan rosie,  aku kau dan sepucuk angpau merah,
  3. Genre fantasy : Ayahku Bukan PembohongHarga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politiknegeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisidikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta
  10. Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: Rembulan Tenggelam di Wajahmu
  11. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU 

Happy reading! 📖😊

With Love, ❤️

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s