[Novel] Serial Anak-Anak Mamak : AMELIA ❤️ Karya Tere Liye

Judul buku : AMELIA
Penulis : Tere Liye
Penerbit. : Republika
Tahun Terbit : cetakan pertama 2013
Halaman : vi + 392 halaman
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm

Deskripsi :

Selamat datang di dunia Anak-anak Mamak. Dunia yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Di mana rasa ingin tahu dan proses belajar menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak.

Siapa tidak tahu si sulung Eliana?! Di sekolah, di kampung, di Kota Kecamatan, bahkan Pejabat Kota Kabupaten, semua mengenal ‘Eli si Pemberani’. Maka, jangan pernah coba-coba membuatnya marah.

Anak Mamak nomor dua adalah ‘Pukat si Jenius’. Kelak semua orang akan tahu betapa pintarnya Pukat; calon profesor, penemu hebat, demikian Pak Bin guru sekolahnya membanggakannya.

Yang ketiga adalah anak paling jahil sedunia, Burlian. Ia ‘Anak Spesial’. Tak ada seorang pun yang menandingi keteguhan hatinya. Amelia, si bungsu yang paling disayang. Ia sebal jika diledek hanya akan menjadi ‘Penunggu Rumah’. Kelak, ia tahu sejauh apa pun ia pergi, takdir akan membawanya kembali.

Bapak dan Mamak mereka sungguh telah mewariskan sifat-sifat baik pada keempatnya. Di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, tersemat kasih sayang keluarga dan pengorbanan. Sebuah pemahaman baik atas kehidupan yang akan terus melekat hingga mereka tumbuh dewasa.

***
“Serial Anak-anak Mamak adalah potret keluarga impian.”
– Niam Masykuri, Editor in Chief Majalah Parents Guide

“Serial ini sempurna untuk memahami dunia anak-anak.”
– Ulil Absar, penggalan review dari ratusan review di http://www.goodreads.com

“Sebuah kisah yang mengharukan, sekaligus penuh bersitan hikmah. Layak dikoleksi sebagai bacaan keluarga.”
– Ahmadun Yosi Herfanda, Ketua Komunitas Sastra Indonesia.

Genre novel serial anak-anak Mamak ini masuk dalam novel anak-anak dan keluarga. Sangat baik untuk bacaan anak-anak. Membaca buku Amelia ini juga sangat mengharukan. Serial

Dan Anak-Anak Mamak yang terdiri 4 buku: Pukat, Burlian, Eliana, dan Amelia menyajikan cerita yang sangat menarik dari setiap karakter anak-anak Mamak. I’m blessed reading those books. Sangat menginspirasi.
Setiap buku selalu sukses membuat saya menangis, tertawa, terharu akan sikap anak-anak dengan pemikiran yang luar biasa layaknya orang dewasa. Misalnya Amelia, si anak bungsu yang pada akhirnya mengetahui rahasia kecil yang dilakukan Mamaknya, bahkan ia pernah melihat langsung ternyata Mamaknya yang terbiasa bangun jam 2 malam untuk melaksanakan solat tahajud, pernah menangis di depan Bapak, betapa ia sangat khawatir dan mencemaskan keberadaan Kak Eli di sulung yang melanjutkan sekolah SMP di Kota Kabupaten. Rahasia kecil yang tidak diketahui oleh ketiga kakaknya. Cerita yang mengharukan lainnya ketika Kak Eli menggendong Amel, saat Amel kakinya sakit (mereka mengambil kayu disuruh Mamak) 😂😂
Cerita keseruan Amel dan gengnya bernama “Geng Anak Bungsu,” terdiri dari Maya, Chuck Norris dan Tumbusai juga sangat menyentuh, mereka anak-anak yang luar biasa.
Karakter Pak Bin, Wak Yati, Nek Kiba, Mang Unus serta Kang Bujang, juga memperkaya cerita Novel Amelia. Dengan ending yang Indah menutup rangkaian cerita anak-anak Mamak. Baca, nikmati dan resapi setiap bab yang tersaji, maka saya bersyukur pernah membaca ke empat novel ini. Dari ke empat novel serial anak Mamak, di buku Amelia paling sering nangis bacanya 😂 Mau banyak belajar dari karakter Mamak, Bapa, ke empat anak special ini, pak Bin guru sekolah yang tulus mengabdi telah menjadi pelita yang menerangi masa depan anak didiknya, Nek Kiba seorang guru mengaji yang sangat disegani dan dihormati warganya, serta setiap karakter yang melengkapi cerita kehidupan anak-anak Mamak.
Serunya di buku Amelia juga diceritakan tentang Burlian dan Pukat sunat, tentu bagian sunat tidak ditulis kan di bukunya Burlian dan Pukat, yang ternyata kedua sigung ini berulah disaat hari sunat, mereka berdua sempat kabur karena takut di sunat 😅😪
Amelia mendapatkan geral doktoral dan menyusul kakaknya, Pukat, Kuliah di Amsterdam. Namun, ia mengabdikan ilmunya di kampung halamannya, beautiful ending ❤ *proud of you, Amel* 👍

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Amelia:

1. “Kakak kau itu memang jahil, Amel. Tapi dia akan melihat dunia, dia akan belajar banyak. Kakak kau itu special, Amel, memiliki keteguhan hati. Nah, semoga kalau besar nanti, jahilnya berkurang.” (Halaman 3)
2. Menemani, itu jelas pendekatan komunikasi paling brilian yang dicontohkan Bapak. (Halaman 22)
3. Nah, soal Kak Eli terus marah -marah, menyuruh-nyuruh, maka cara mengatasinya mudah sekali, Amel. Kau tinggal menuruti semua yang disuruh. Lakukan tugas dari Mamak dengan gesit dan rapi, maka Kak Eli tidak akan punya alasan apapun untuk marah-marah. (Halaman 24)
4. “Kau tahu, Amel. Menurut Bapak, menjadi anak bungsu itu keren sekali. Kau adalah anak yang paling disayang. (Halaman 24).
5. “Kau anak paling kuat di keluarga ini, Amel. Itu benar sekali. Bukan kuat secara fisik, tapi kuat dari dalam. Kau adalah anak paling teguh hati nya, paling kokoh dengan dengan pemahaman yang baik. (Halaman 26).
6. “Jangan dengarkan kalimat mereka Amel. Kata Bapak, kita tidak pernah dinilai dari wajah kusam, pakaian kumal, apalagi dari kampung atau bukan.”
7. Aku selalu ingin dipanggil seperti panggilan Kak Eli. Bukan karena nama itulah yang menyuruh-nyuruhku, bisa mengatur semua orang, sangat berkuasa di rumah. Melainkan aku tahu sekarang, karena aku ingin persis seperti Kak Eli, yang selalu menyayangi adik-adiknya. Kakak terbaik sedunia yang aku miliki. Kakak sulugku yang amat pemberani. (Halaman 76).
8. “Itulah salah satu jawaban kenapa kemiskinan, keterbatasan, bisa dikalahkan oleh ilmu pengetahuan. Tentu kerja keras menjadi syarat utamanya. Akan tetapi jika di tambah ilmu pengetahuan, petani kampung kita bisa hidup lebih makmur dan berkecukupan. (Halaman 82).
9. Sama bisanya dengan membedakan bibit yang baik dengan bibit yang buruk. Ada ilmunya. Tetapi masalah terbesarnya adalah bagaimana mendidik petani di kampung kita agar memahami situasinya, kemudian berhasil mengajak mereka menjadi petani yang modern. Bayangkan apa yang terjadi kalau kopi atau karet yang dihasilkan ternyata bisa tiga kali lipat dari sekarang. Kampung ini akan lebih makmur, dengan lahan ladang yang sama. Orangtua kalian akan punya cukup uang. Anak-anak tidak perlu pergi membantu ke ladang, bisa terus sekolah. (Halaman 83)
10. Cara belajar mendikte seperti ini harus diterapkan pak Bin bukan karena ia malas mengajar, tapi karena keterbatasan. Dengan cara itu, ia bisa meninggalkan kelas untuk mengurus kelas lain. Juga karena di sekolah kami buku teks amat terbatas. Mencatat adalah cara terbaik agar kami bisa membacanya, belajar lagi di rumah.
11. “Tidak akan pernah rugi membeli buku yang baik, Amel. Berapa pun harganya.” (Halaman 151).
12. “Karena Norris adalah teman kita, tetangga kita. Berada di sekitar kita, dan ada dalam kehidupan kita. Sebelum kita peduli pada jutaan anak-anak itu, mulailah peduli dengan yang paling dekat. Kau telah melakukannya dengan baik Amel, jangan berkecil hati.” Pak Bin menatapku penuh penghargaan. Asal kau tidak menyerah, semoga besok lusa kita berhasil.” (Halaman 160).
13. “Kau harus bersabar, Amel. Bersabar juga usaha terbaik. Kau tetap melakukan apa yang telah kau lakukan selama ini. Terus peduli dan membantu. Cepat atau lambat, keajaiban akan tiba. Dan ketika tiba, bahkan tembok paling keras pun akan runtuh. Batu paling besar pun akan berlubang oleh tetes air hujan kecil yang terus-menerus.” (Halaman 161).
14. “Berhentilah bertingkah seperti kau orang paling menderita di dunia, Norris. Berhentilah merasa kau berhak melakukan itu semua. Bertingkah semau-maunya. Ada jutaan anak yatim piatu di dunia ini. Kau hanya kehilangan ibu. Dan itu tidak sedikit pun tidak pantas menjadi alasan semua tingkah lakumu.” “Kau kira kau orang paling susah karena ibumu pergi,hah? Sama sekali tidak. Lihat sendiri Bapak kau, ditinggal pergi orang yang paling dicintainya. Harus mengurus kalian semua. Ditambah lagi menghadapi kelakuanmu. Kau kira kau yang paling kehilangan, hah? Lihat Bapak kau Norris. (Halaman 171).
15. “Kau adalah anak paling kuat di keluarga kita, Amel. Kau tahu kenapa?” “Karena hati kau dibuat dari kristal paling bening. Hanya seorang putri terbaik yang memperolehnya. Putri Amelia.” (Halaman 172).
16. “Tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar, Nak. Tidak kemarin, tidak hari ini, juga tidak akan pernah esok lusa. Ayo bergabung masuk. Pak Bin merentangkan tangannya, menyambut. Ia tersenyum amat tulus— sungguh itulah senyum sejati seorang pendidik yang akan kukenang sepanjang hidupku. Tiada tara oleh kasih sayang dan kepeduliaan. (Halaman 179).
17. “Itu tidak pernah menjadi urusan kita, Amel.” Jawaban Mamak tegas sekali. Suaranya lantang. “Membicarakan aib orang lain itu adalah pekerjaan bergunjing.” Dosanya besar. Allah membenci orang bergunjing. (Halaman 99)
18. Karena biasanya anak paling bungsulah yang paling dekat emosionalnya dengan orangtua (halaman 106)
19. Lagipula, dengan tetap tinggal di kampung, bukan berarti seseorang tidak bisa melakukan hal besar. Karena besar kecilnya perbuatan, tidak semata-mata dilihat dari ukuran kasat mata. Melainkan juga diukur dari hal yang tidak terlihat. Ketika kau menolong seorang anak yang kelaparan misalnya. Mungkin itu perbuatan kecil, hanya satu anak, apakah artinya. Tapi bagi anak itu, jelas perbuatan besar; dia diselamatkan dari laparnya. Dan kaidah agama bilang, menyelamatkan satu orang itu sama dengan menyelamatkan seluruh orang di dunia. (Halaman 107)
20. Gunakan selalu imajinasi terbaik. Gunakan kemampuan berpikir kreatif. Senangi proses menulisnya. Selalu gembira, riang, maka akan jadilah sebuah tulisan yang baik. Lupakan soal berbagai peraturan menulis yang sering kali justru mengungkung kreativitas. (Halaman 119).
21. Nah, meskipun kalian berdua anak laki-laki (Burlian dan Pukat), besok lusa kalian tetap harus bisa menyetrika pakaian sendiri. Ingat baik-baik, mencuci pakaian, menjemur, menyetrika itu jelas bukan pekerjaan anak perempuan. (Halaman 126).
22. Wak Yati pernah berbisik padaku, “Kau tahu Amel, sebagian Ibu-ibu itu hanya lincah mulutnya, lincah bergunjing. Tapi Mamak kau sebaliknya, tangannya lebih lincah bekerja. Semua dikerjakan dengan cepat, teleti, tanpa kesalahan.” (Halaman 186).
23. “Hidup ini dipergilirkan satu sama lain. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Kadang kita tertawa, lantas kemudian kita terdiam, bahkan menangis. Itulah kehidupan. Barang siapa yang sabar,maka semua bisa dilewati dengan hati lapang.” (Halaman 202).
24. Itulah Pak Bin, guru satu-satunya di sekolah kami. Dengan semua keterbatasan yang ada, hanya dia-lah pelita jangkar, harapan, semuanya yang kami miliki. Pak Bin-lah yang secara nyata memberikan jalan bagi cemerlangnya masa depan anak-anak kampung terpencil. Dengan metode mengajarnya, dengan semua ketulusannya, dengan semua keriangannya. Sungguh. Aku menatap wajah tua Pak Bin lamat-lamat, wajah yang sedetik lalu masih marah, sekarang berubah 180 derajat menjadi riang saat menghadapi murid-muridnya. (Halaman 212).
25. Kau mungkin bukan anak Syahdan dan Nurmas yang paling pintar seperti Pukat Kakak kau ini, tapi kau jelas adalah yang paling kuat pemahaman baiknya. Kau mewarisi sifat baik Mamak kau, Amel. Tenang benderang lembah ini oleh sifat baik Mamak kau bahkan saat usianya sepantaran kau. (Halaman 219).
26. Menurutku, Nek Kiba adalah guru ngaji terbaik sedunia. Berpuluh-puluh tahun mengajar mengaji, tidak serupiah pun ia meminta bayaran. Bahkan dipaksa sekalipun oleh penduduk kampung Nek Kiba tidak mau. Meski tidak dibayar, kami semua tahu, rumah panggungnya paling besar diantara yang lain. Kebun karet dan kopinya juga luas. (Halaman 219).
27. Dengarkan aku Pukat, Burlian. Apakah doa bisa mengubah sesuatu? Apakah doa bisa terwujud menjadi bala bantuan tidak terbilang yang langsung dikirim dari langit? Maka jawabannya adalah iya, Nak. Doa adalah benteng pertahanan terbaik. Doa juga sekaligus senjata terbaik bagi setiap muslim. (Halaman 223)
28. Rasul Allah berpesan kepada Auf Bin Malik, “Banyaklah mengucapkan kalimat La haula wala quwwata illa billahil aliyyul adzim.” “Tiada daya dan kekuatan melainkan (atas pertolongan) Allah yang Mahatinggi dan Maha Agung. Diucapakan dengan sungguh-sungguh, maka jadilah kalimat itu sebuah doa terbaik yang ada. (Halaman 223).
29. Saat Itulah turun firman Allah, “barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” Sungguh benar Allah, lihatlah, tidak ada yang bisa dilakukan Auf untuk menemukan anaknya yang hilang tak tahu rimbanya. Dia miskin, lemah. Dia sedang terjepit oleh situasi. Tapi dia memiliki keyakinan kepada Allah. Dan itu lebih dari cukup untuk menolong situasi. (Halaman 224).
30. Kau pasti pernah mendengar nasihat Pak Bin, ketika kita pergi melihat dunia luar, maka kita akan menemui tempat baru, teman-teman baru, pengalaman baru, kesempatan baru. Maka jangan pernah bersedih.” (Halaman 241).
31. “Syahdan, kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepasnya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun ia menggenggamnya erat-erat.” (Halaman 243).
32. “Yati, ada banyak kesempatan di sana. Kau bisa menjadi orang besar. Jangan habiskan waktu sia-sia di kampung terpencil ini.” (Halaman 265).
33. “Itu mudah Amel. Karena Mamak kau tidak mau terlihat menangis di depan anak-anaknya. Tidak akan pernah dia lakukan Amel. Seorang ibu menyimpan misteri besar dalam hidup ini. Ketika dia berbicara A tentang keinginan dan harapannya, maka itu boleh jadi maksudnya Z.”
34. “Amel tahu, Mamak orang yang terakhir bergabung di meja. Dialah yang terakhir menyendok sisa gulai atau sayur. Yang kehabisan makanan. Mamak yang terakhir kali tidur setelah semua tidur. Mamak yang terakhir beranjak istirahat, setelah semua istirahat. Mamak selalu yang terakhir dalam setiap urusan. Dan Mamak juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang pertama bangun. Dia yang pertama membersihkan rumah. Dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel. Dia yang pertama kali ada saat kami terluka, menangis, dan sakit. Dia yang pertama kali memastikan kami baik-baik saja. Mamak yang selalu pertama dalam urusan itu. Amel tahu itu semua, Amel memperhatikan, kok.” (Halaman 267)
35. “Nanti malam, kau bangun jam dua dini hari. Aku tahu. Mamak dan Bapak kau punya kebiasaan shalat malam berdua setiap hari tertentu. Jangan berisik, dengarkan percakapan mereka setelah shalat. Maka kau akan tahu, tidak seorang pun ibu di dunia ini yang mau berpisah dengan anak-anaknya. Mulutnya berkata ‘pergilah’, tapi hatinya berteriak menolak. Ibu adalah Ibu, Amel. Kalian boleh saja tidak tahu, mereka setiap malam sering kali bersimpuh menangis demi pengharapan terbaik bagi anak-anaknya.” (Halaman 268).
36. Mamak selalu menyimpan sendiri perasaannya. Jika ia terlihat biasa, semua pekerjaan rumah beres, seperti ada atau tidak ada Kak Eli sama saja, maka itu karena Mamak ingin kami melihatnya demikian. Jika ia menatap datar di peron statiun, sama sekali tidak menunjukkan perasaannya, karena ia ingin Kak Eli pergi dengan riang, tanpa beban pikiran.” (Halaman 275)
37. “Tidak usah cemas, Amel. Sepanjang kita tahu apa yang sedang dilakukan, bagaimana melakukannya, semua aman.”
38. “Kalian camkan baik-baik, tidak ada anggota keluarga kita yang mencuri, Burlian, Pukat, Amel. Kita lebih baik tidak makan dibandingkan melakukan itu. Kalian paham?” (Halaman 293)
39. “Amel tidak bilang itu akan mudah, Nurdin.” Pak Bin yang ternyata duluan menimpali. “Dia justru dengan terang benderang bilang kalau itu sulit, sangat sulit. Semua orang harus berani berkorban. Saya kira, kalimat Amel amat jelas sekali tadi. (Halaman 301).
40. Tidak akan mudah. Tapi jika berhasil, kau akan membuat perubahan terbesar sejak leluhur kita dulu mendirikan rumah panggung pertama di lembah ini. Peduli adalah energi kebaikan yang penting. Berlimpah ruah kepeduliaan itu di hati kau. Sungguh teguh hati kau, Amel. (Halaman 303)
41. Tapi jangan kau terlalu cemaskan, sepanjang kita sudah melakukan yang terbaik maka sudah baiklah semuanya. Karena sejatinya bertani adalah proses panjang penuh kesabaran. Kau harus tahu, dengan bibit hasil kloning terbaik sekalipun tetap ada kemungkinan gagal. (Halaman 321).
42. “Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu.” “Se seorang yang mengerjakan amal, tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka. Semua orang dituntut belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari suatu ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampung ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mengetahui ilmu naik haji jelas penting.” (Halaman 322)
43. Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan, dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis di atas kertas, maupun di sampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu-dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.” (Halaman 322).
44. “Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika se seorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti, maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa menjadi kekeliruan yang besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tahu jalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.” (Halaman 322).
45. “Apakah menuntut ilmu hanya untuk urusan agama? Tidak. Pun dalam sehari-hari, terkadang ini juga bisa digunakan. Seorang harus memiliki ilmu saat melakukan sesuatu. Sungguh, ketika sebuah urusan diberikan kepada orang yang tidak cakap, maka tunggulah kehancuran. (Halaman 323).
46. “Dalam urusan apapun, penting sekali memiliki ilmunya. Maka, anak-anak sekalian, tuntutlah ilmu sejauh mungkin, rengkuh dia dari tempat-tempat jauh, kumpulkan dia dari sumber-sumber terbaik, guru-guru yang tulus, agar terang cahaya kalian, terang oleh ilmu itu. Jangan bosan karena waktu. Jangan menyerah karena keterbatasan. Jangan malu karena katidaktahuan. Kalian adalah anak-anak terbaik yang dimiliki kampung ini.” (Halaman 324).
47. “Orang berilmudan beradab tidak akan diam di kampung halaman.” Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. (Halaman 325).
48. “Jangan terlalu didengarkan, Amel. Sepanjang kau tahu persis apa yang kau lakukan, cakap orang lain tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati.” (Halaman 331).
49. “Kau adalah anak paling kuat di keluarga kita, Amel. Teguh hatinya …. tidak ada yang bisa melawan keteguhan hati.” (Halaman 343).
50. Tapi cara terbaik untuk membuat mereka percaya adalah justru dengan membiarkan keyakinan itu muncul di hati mereka sendiri. Jangan digoda dengan angka, dengan janji-janji. Kalian bukan rombongan pembawa kabar baik. (Halaman 344).
51. Paman Unus sudah berpesan, jangan dipaksa, lakukanlah seperti air sungai yang mengalir. Bertemu kelokan is berbelok. Bertemu batu besar ia menyamping. Bertemu tebat atau bendungan ia menunggu. Terus menunggu hingga airnya banyak, kemudian berhasil melampaui tebat tersebut, untuk mengalir lagi mengikuti jalurnya. (Halaman 351).
52. Selalu Jawab dengan tegas. Jangan mengambang. Jangan mendua. Jangan ragu-ragù. Paman tahu kalian ingin semua orang mendukung usaha ini, ingin membujuk, ingin meyakinkan, tapi kita tidak akan menggunakan pendekatan itu. Strategi kita justru sebaliknya, menggunakan pendekatan terbalik. Kita sama sekali tidak peduli dengan bagaimanan keputusan mereka, yang kita peduli adalah mereka tahu semua informasi dan fakta. (Halaman 352).
53. Kita tidak perlu mengerti untuk setuju. Sepanjang itu datang dari orang yang lebih berilmu. Besok lusa sepanjang mau terus belajar, aku juga akan mengerti dengan sendirinya. Bahkan bisa lebih mengerti lagi . (Halaman 355).
54. Ada pepatah bijak, siapa yang tidak mengambil langkah pertama untuk memulai sesuatu, maka dia tidak akan pernah melihat hasil sesuatu tersebut. Tidak akan pernah.” (Halaman 357).
55. Dalam sebuah proses perubahan, selalu bagaian terpentingnya adalah memulai perubahan tersebut. Persis seperti bola salju yang menggelinding atau kartu dirobohkan. Adalah pertama kali bola menggelinding atau kartu dirobohkan, itulah awal segalanya. Sisanya apakah berhasil hingga ke ujung, membesar, bermanfaat, atau sebaliknya gagal, terhenti, tidak banyak berfaedah adalah hal lain, misteri Tuhan yang di luar kendali kita. (Halaman 383).
56. “Bahkan agama ini memerintahkan agar kita tetap berbuat adil kepada musuh sekalipun. Sungguh, janganlah kebencian kita kepada seseorang atau kepada sebuah kaum, membuat kita tidak adil. Laknat Allah besar sekali kepada pelakunya, Hasan. Kemakmuran diangkat dari sebuah negeri, pertolongan ditahan atas sebuah negeri, ketika orang-orang didalamnya enggan berbuat adil. (Halaman 385).
57. Bertani adalah proses panjang penuh kesabaran. Petani yang baik adalah yang paling tawakal dalam setiap urusan. (Halaman 387).
58. Akulah Amelia, anak bungsu keluarga. Aku penunggu rumah. Kampung ini adalah duniaku. Jika ada orang yang bertanya apa cita-citaku, sejak ladang kopi ini mulai ditanami aku sudah memilikinya. Tidak besar, tidak megah, sederhana saja, tapi itulah pilihan hidupku. Aku memilihnya sendiri dengan kesadaran terbaik. (Halaman 388)
59. Tidak ada yang menahan anak bungsu Mamak. Kau pergilah, Amel. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu kau pikirkan. Doa Mamak menyertaimu, Nak. (Halaman 390).
60. Inilah duniaku sekarang. Dan menjadi guru adalah cita-cita terbaik yang pernah kumiliki saat menatap wajah tulus Pak Bin dan senyum lapang Nek Kiba mengurus kami dulu. Aku memiliki teladan guru-guru terbaik dalam hidupku. Guru-guru yang dulu punya keterbatasan tapi terus mengajar dengan baik dan semangat. Maka, hari ini, tidak boleh ada lagi keterbatasan di lembah ini. Tidak ada. Anak-anak lembah berhak atas pendidikan terbaik. Aku akan memastikannya. Penduduk lembah juga berhak atas kehidupan yang lebih layak dan berkecukupan. Aku akan membantunya. Meneruskan usaha besar dua puluh tahun lalu. Aku telah kembali dengan kekuatan penuh. (Halaman 391).

Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: ElianaBurlianPukat dan Amelia
  2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
  3. Genre fantasy : Harga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
  10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

Happy ending story. Selamat menikmat buku Amelia.
Happy reading! 😊
With Love 💗

 

Advertisements

6 thoughts on “[Novel] Serial Anak-Anak Mamak : AMELIA ❤️ Karya Tere Liye

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s