[Novel Sejarah]: Review Buku RINDU Karya Tere Liye

Judul buku : RINDU
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Cetakan I, Oktober 2014. Cetakan XLV, Mei 2017
Halaman : ii + 544 halaman
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm

Deskripsi :

Apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Apalah arti cinta?
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupkan jaraknya setipis benang saja.”

Novel ini tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Novel ini ber-setting tahun 1938, jaman

ketika Indonesia belum merdeka. Sebuah kapal Blitar Holland, mulai perjalanan dari pelabuhan Makassar menuju Mekkah, membawa rombongan jamaah haji. Jaman dulu, perjalanan pulang pergi haji membutuhkan waktu berbulan-bulan. Novel ini genre-nya sejarah. Saya suka banget membaca novel ini, setidaknya saya jadi tahu bagaimana perjuangan jaman dulu ketika orang -orang berangkat haji. Tere Liye memang juara dalam mengemas cerita di novel-novelnya, meskipun setebal 544 halaman, namun tidak terasa bacanya, saking seru menikmati ceritanya.
Karakter-karakter dalam novel ini juga menarik, seperti Gurutta Ahmad Karaeng, Ambo Uleng, Kapten Philips, Daeng Andipati, Mbah Putri, Mbah Kakung, Ruben, Chef Lars, Bonda Upe, yang menggemaskan tentu saja karakter Elsa dan Anna, dua Kakak adik yang juga ikut kedua orang tuanya
pergi haji.
5 karakter dalam novel ini memiliki kisah yang harus dituntaskan (misalnya kisah masa lalunya Bundo Upe), membuat mereka menyadari, hingga melepaskan dan mengikhlaskan, kemudian memetik hikmah atas perjalanan masa lalu mereka yang membuat mereka semakin memahami misteri kehidupan yang mereka alami, membuat 5 tokoh ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan bijak dalam menyikapi kehidupan.
Membaca buku ini benar-benar bisa menguras air mata, misalnya ketika Mbah Putri meninggal padahal belum sampai Mekkah, dan pada akhirnya Mbah Kakung juga meninggal setelah melakasanakan ibadah haji. Cinta mereka begitu indah, kisah yang romantis, hingga tak terpisahkan, bahkan jasad mereka di laut yang sama tempatnya (karena perjalanan di kapal, mereka berada dilautan luas yang jauh dari daratan, maka jasad orang yang meninggalkan tidak bisa dikuburkan di tanah, melainkan dilepaskan di laut). Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Rindu, selamat menikmati dan menyelami setiap karakter yang ada dalam buku ini.

Beberapa kalimat favorit saya dari buku Rindu:

  1. Hanya dua alasan yang membuat seseorang memutuskan pergi sejauh mungkin. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang amat dalam. (Halaman: 33)
  2. Sangat menyenagkan sekali jika cinta sejatimu adalah sahabat terbaikmu. (halaman:  89)
  3. Kita boleh jadi membenci atas kehidupan ini, boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milikmu hingga dia tiba di dermaga terakhirnya. (Halaman 284)
  4. Lari dari kenyataan hanya akan menyulitkan diri sendiri. Semakin keras kau berusaha lari, semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriakmelawan, semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul memenuhi kepala. (halaman: 312)
  5. Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. (Halaman 312)
  6. Peluklah masa lalumu. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disisram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. (Halaman 312)
  7. Saat kita tertawa,hanya kitalah  yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangis itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. (halaman: 313)
  8. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar  dan membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita baik. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Pada akhirnya, kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak. (Halaman 313)
  9. Berhenti lari dari kenyataan hidup. Berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin. (halaman: 315)
  10. Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi. (Halaman 372)
  11. Saat kita membenci orang lain, sebenarnya kita membenci diri sendiri. Terima dengan sepenuh hati, maka kau akan bahagia dengan pilihanmu. (Halaman 373)
  12. Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, bukan persoalan orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. (Halaman 374)
  13. Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, maupun dengan penghapus canggih, dengan apa pun itu. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya , bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. (halaman 376)
  14. Lahir atau mati adalah takdir Allah. Kita tidak bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orang tua, tanggal, tempat, … tak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda atau memajukannya walau sedetik. (Halaman 470)
  15. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Kita tak dapat mengendalikannya, namun kita dapat mengendalikan diri sendiri untuk menyikapinya. Bersedia menerimanya atau mendustakannya. (Halaman 471)
  16. Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan, semoga kita lapang hati menerimanya. (halaman 472)
  17. Mulailah melihat suatu kejadian dari kacamata yang berbeda. (Halaman 472)
  18. Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, semakin tulus kau melepaskannya. Besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. (halaman 492)
  19. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta manusia adalah Allah. Dia (Allah)-lah pemilik cerita sempurna di muka bumi ini. (Halaman 492)
  20. Cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. (Halaman 376)
  21. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika dia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman yang baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah dia dengan pohon berbuah lebat dan lezat. Tapi jika bibit itu tumbuh di tanah yang kering, disiram dengan racun maksiat, dirawat dengan niat jelek, maka tumbuhlah dia menjadi pohon meranggas, berduri, berbuah pahit. (Halaman 493)
  22. Jika harapan dan keinginan belum tergapai, belum terwujud maka teruslah memperbaiki diri sendiri, teruslah belajar. (Halaman 493)
  23. Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.  Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.  Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?  Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dlam rindu hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja. (Halaman 495)
  24. Menulis adalah salah satu cara terbaik menyebarkan pemahaman. (Halaman 501)
  25. Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani, dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman. (halaman  532)

Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: ElianaBurlianPukat dan Amelia
  2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
  3. Genre fantasy : Harga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
  10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

Happy reading! 😊

With Love 💗

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s