[Novel: Serial Anak-Anak Mamak]: PUKAT Karya Tere Liye

Judul buku : PUKAT
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : cetakan pertama, February 2010.  Cetakan ke VII, Maret  2015
Halaman : vi + 344 halaman
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm

Sinopsis:
“Mamak benci pada Pukat!”
“Oi, kau keliru, Pukat. Dengarkan Bapak, tidak ada seorang pun Mamak di atas muka bumi ini yang membenci anaknya sendiri, daging-dagingnya sendiri. Bukankah kau pandai mengkait-kaitkan banyak hal? Kau juga pandai mengartikan banyak hal. Nah, artikan sendiri makna darah-daging itu.”
Bapak benar. Aku mulai menyadarinya di antara demam panas dan gigil tubuh, betapa sabar dan lembut Mamak menyentuh dahiku, memastikan aku baik-baik saja. Mengurus kotoranku, muntahanku, tanpa meninggalkan kewajibannya yang lain sebagai seorang ibu. Itulah Mamakku. Entah sudah berapa juta butir nasi yang disiapkannya. Berapa ratus ribu gelas air minum yang dijerangnya. Bertumpuk-tumpuk piring sayur dan lauk yang boleh jadi sudah setinggi bukit. Penuh kasih-sayang, tanpa pernah berharap imbalan selain doa agar kami menjadi anak yang baik. Bagaimana mungkin aku menuduh Mamak benci kepadaku, tidak sayang lagi?

“Kembali Tere Liye meluncurkan buku yang menggetarkan.  Dengan bahasa yang enak dan mengalir indah.  Pukat mengajak kita untuk memahami nilai kejujuran, persahabatan, dan kreativitas, yang dikemas dalam sebuah kecerdasan spiritual yang jernih.  — Kak Seto, Pembina Komnas Anak

”Mimpi Pukat merupakan mimpi sebagian besar anak Indonesia.  Harta karun terbesar bangsa ini adalah anak-anak yang panta menyerah dalam mewujudkan mimpinya.” —Niam Masykuri, Editor in Chief Majalah Parents Guide

Membaca buku Pukat ini sangat mengharukan. Pada bab seberapa besar cinta Mamak, selalu saja ceritanya menyesakkan dada, namun memberikan makna tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang Mamak terhadap anaknya 😂
Karakter -karakter

dalam buku ini juga sangat kuat seperti karakter Wak Yati (kakak Bapak-nya), Pak Bin, sahabatnya Raju, Saleha, dan banyak lagi. Tentu saja, saya sangat suka dengan karakter Pukat, serta semua anak-anak Mamak. Masih sisa dua buku lagi dari serial anak Mamak : Eliana dan Amelia, can’t wait to read 😁 Bagian tentang pelajaran menghargai sebutir nasi yang mengharuskan Pukat dan Burlian membantu Bapak membuka lahan baru dan membantu Mamak mengurus padi di lahan baru, ini bagian yang mengharukan sekaligus pelajaran yang sangat  berarti untuk kehidupan mereka 👍 Buku bacaan yang keren, cerita yang bagus, membacanya mulai dari lembar pertama selalu sukses untuk segera melahap lembar demi lembar sampai habis. Tentunya, yang bikin penasaran adalah mengetahui ending yang susah ditebak.

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Pukat:

  1. “Mudah saja bukan menulis puisi?” Pak Bin tersenyum, sambil merapikan tumpukan kertas di tangannya. “Kalau kalian ingin menjadi penulis yang baik, maka caranya sederhana saja, mulailah ditulis, ditulis dan ditulis. Kalian tidak akan pernah menjadi penulis yang hebat hanya dengan tahu caranya menulis, tahu teori-teorinya, tapi kalian tidak pernah melakukannya. Itulah bedanya belajar ber-bahasa Indonesia yang baik dengan sekedar punya nilai bahasa sepuluh di raport. Kita mempraktekan langsung keterampilan berbahasa. (Halaman 48).
  2.  Esok-lusa, Bapak harap kalian akan lebih bijak menyikapi soal ini, karena sejatinya, tidak pernah ada yang bisa menebak masa depan. (Halaman 79)
  3.  Kau tahu, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar memberikan pengaruh besar dalam proses itu. Jika kau terbiasa memiliki keluarga, teman dan lingkungan sekitar yang baik, saling mendukung, maka kau akan tumbuh dengan sifat yang baik dan elok. Tidak jahat, tidak merusak. Siapa yang paling tahu kau memiliki sifat apa? Tentu saja kau sendiri. (Halaman 94)
  4. “Kitalah yang paling tahu seperti apa kita, sepanjang kita jujur terhadap diri sendiri. Sepanjang kita terbuka dengan pendapat orang lain, mau mendengarkan masukan dan punya sedikit selera humor, mentertawakan diri sendiri. Dengan itu semua kita bisa memperbaiki perangai.” (Halaman 94)
  5. “Di keluarga kita, anak laki-laki tidak akan pernah membuat masalah jika dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya itu dengan baik. Dia tidak akan pernah memulai pertengkaran jika tidak tahu bagaimana mengakhiri pertengkarannya. Hanya seorang pengecut yang memulai pertengkaran, tapi tidak pernah mau berdamai. (Halaman 97)
  6.  “Oi, meski kau jadi menteri sekalipun, tetap saja kau harus mengurus suami dan anak-anak kau. Makanan yang kau berikan boleh jadi menentukan perangai mereka kelak.” (Halaman 114)
  7. Pak Bin menerima kesederhanaan dan keterbatasan anak didiknya, tetapi dalam urusan bersungguh-sungguh belajar tidak ada kesederhanaan. (Halaman 126), saat Pukat ulangan PKN pulpennya habis, peraturan gurunya pada saat ulangan tidak boleh meminjam alat tulis ke temannya, sehingga Pukat izin membeli pulpen ke warung Ibunya Ahmad, 5 menjelang bel Pukat tiba di kelas dan menyelesaikan soalnya.
  8. . Pesan Ibunya Nek Kiba (guru ngaji): “Kiba, tidak ada yang paling menyedihkan di dunia ini selain kehilangan kejujuran, harga diri dan martabat.. Kita sudah kehilangan semuanya. Bapak kau pergi selamanya. Harta-benda, kebun-ladang , pendidikan, semuanya. Berjanjilah Kiba, berjanjilah walau hidup kita susah, sebutir beras pun tidak punya, kau tidak akan pernah mencuri, tidak akan pernah merendahkan harga dirimu demi sesuap makanan.”(halaman 158-159)
  9. “Ya Allah, wahai yang Maha Mendengar doa-doa…. lihatlah, ada tiga puluh anak-anak kampung hamba berkumpul saat ini. Sungguh, hamba mohon, berikanlah mereka kekuatan untuk memiliki hati yang baik, hati yang dipenuhi kejujuran, tidak sesulit apapun kehidupan mereka, tidak peduli seberapa jahat nafsu dan keinginan dunia ini merusak mereka.” (Halaman 163-164)
  10. . “Camkan kalimat ini Amel, orang-orang yang bersungguh-sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka meski hidupnya tetap sederhana, tetap terlihat biasa-biasa saja, maka sejatinya dia menggenggam seluruh kebahagiaan dunia. Kejadian tentang celengan ini tidak terlalu luar biasa dibanding orang-orang berhati mulia lainnya. Kau tahu Amel, Mamak kau….ya, Mamak kau adalah salah-satu pemilik pengalam hebat di kampung ini. Atas keteguhan hatinya menjaga prinsip hidup, atas ketabahannya melewati cobaan, aku melihat sendiri ketika seluruh kampung bercahaya.” (Halaman 164)
    11. “Bapak harap kau sekaligus mengembalikan kejujuran dalam mahkota hatimu; memberikannya singgasana terbaik. Jangan pernah biar kan dia hilang kembali. Jangan pernah.” Pemuda tanggung itu tertunduk, lirih meminta maaf. (Halaman 165)
    12. “Tenang, tidak sepeser pun uangnya berkurang. Apa kata Nek Kiba, “Kalian jangan pernah mencuri, sesulit apapun hidup dan nafsu dunia merusak kalian. Kejujuran adalah segalanya.” (Halaman 169).
    13. Waktu adalah segalanya, tidak ada yang memilikinya, tidak ada yang bisa meminjamkannya. Nah Pukat, bagaimana cara menghabiskan waktu dengan baik, tanpa beban dan tanpa keluhan? Itu juga teka-teli Wak Yati dulu, jawabannya adalah : berpikir, kerja keras, dan bermain. (Halaman 176)
    14. Untuk urusan cinta dan perasaan, kecantikan bukan segalanya. Ada petuah bijak seperti ini: beratus kisah tenang puteri jelita, tidak akan berhenti hingga kaiamat nanti. Berkata Wanita hendak terlihat cantik, tidak akan pernah sadar hingga ketuaan datang tidak tertahankan. Kau tahu kenapa kebanyakan orang menganggap kecantikan seorang perempuan lebih penting dibandingkan perangai yang baik? Wak Yati menatap Ayuk Eli lembut, “Karena di dunia ini, lelaki bodoh lebih banyak dibanding lelaki buta. (Halaman 178)
    15. “Oi, kenapa kali an belakangan ini susah sekali menuruti perintah. Disuruh ini tidak mau, disuruh itu membantah.” Mamak mengabaikan deheman Bapak, “disuruh sarapan saja malas-malasan. Kau tahu, diluar sana jutaan anak-anak yang ingin sarapan tapi tidak bisa makan karena mereka tidak punya uang untuk membelinya, tidak punya orang tua yang memasakakannya. (Halaman 183)
    16. “Nah, kalian sudah dengar kalimat Mamak, bukan. Dituruti, ditaati, karena begitulah anak yang baik setiap kali dinasehati orang tuanya. (Halaman 185).
    17. Kenapa setiap anak harus mendengarkan nasehat, larangan, atau apa saja dari Mamak-nya? Sungguh bukan karena Mamak pernah jadi anak kecil, sedangkan kau belum pernah menjadi orang dewasa. Bukan karena ukuran usia dan kedewasaan. Tetapi karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lalukan demi kau, Amelia, Burlian dan Ayuk Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya pada kalian.” Nasehat Bapak pada Burlian saat ngambek sama Mamak-nya (Halaman 195)
    18. “Tentu saja, urusan ini tentang berdisiplin. Anak-anak ini harus disiplin. Tahu kapannya bekerja, tahu kapannya bermain. Apapula yang dikerjakan dia, setiap hari hanya dihabiskan menonton Televisi. Tidak ada manfaatnya.” (Halaman 195)
    19. Lima belas menit, serangan mual itu berlalu. Mamak membantuku berbaring lagi. Saat itulah semua kebencian, prasangka buruk, rasa marahku pada Mamak berakhir. Dengan kondisi tubuh lemah, kepala tergolek di bantal, aku menatap Mamak yang meraih kain, mengelap keringat di dahiku. (Halaman 204).
    20. “Maafkan Pukat, Mak. Sungguh maafkan Pukat.” Oi, sepuluh tahun lebih Mamak memasakkan makanan untukku. Sudah berapa juta butir nasi yang disiapkannya. Berapa ratus ribu gelas air minum yang dijerangnya. Bertumpuk-tumpuk piring sayur dan lauk yang boleh jadi sudah setinggi bukit. Penuh kasih-sayang, tanpa pernah berharap imbalan selain doa agar kami menjadi anak yang baik. Bagaimana mungkin aku menuduh Mamak benci kepadaku, tidak lagi sayang. Belum lagi saat kami jatuh sakit, dia mengurus air kencingku, muntahku, berakku, semuanya, tanpa lalai meninggalkan kewajiban lain.” (Halaman 205–206)
    21. Dalam banyak hal, sebuah pertanyaan yang tepat jauh lebih penting dibandingkan sebuah jawaban yang sempurna. Pertanyaan akan memicu penemuan hebat, pemikiran mahsyur bahkan sebuah permulaan yang agung. Tetapi jawaban, sebaliknya, terkadang dengan sebuah jawaban yang baik, secara tidak sengaja menutup pintu untuk berkembang lebih jauh, menemukan lebih lanjut. Jawaban terkadang malah mengakhiri sebuah petualangan yang seru. Jagoannya berhenti, pulang, menghabiskan masa tuanya dengan santai.” (Halaman 221).
    22. “Jual-beli itu dihalalkan. Siapa yang menjual dengan baik, memberikan barang yang benar, tanpa menipu, senang hati melebihkan timbangan, memberi bonus, tambahan, niscaya dia mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. (Halaman 237).
    23. “Lubang pembuangan terkotor di dunia adalah mulut kita.” Nek Kiba menghela nafas pelan. “Mulut kitalah yang setiap hari mengeluarkan bau paling memualkan, mulut kitalah yang tega mengunyah bangkai, mulut kitalah yang menelan lantas memuntahkan kotoran busuk…. (Halaman 270).
    24. “Oi, andaikan kalian bisa menjaganya, tetap kebanyakan dari kalian tidak bisa menghindari mulut mengeluarkan sampah-sampah tidak berguna, meski tidak bau dan tidak mengganggu. Kalian tetap sering mengeluarkan ucapan mubazir, perkataan sia-sia. Apalagi yang sama sekali tidak bisa menjaganya. Sungguh itulah lubang pembuangan terkotor di dunia.” (Halaman 271).
    25. “Kalian pikir satu butir nasi tidak berharga, hah?” “Janga mentang-mentang kalian beruntung setiap kali ke dapur, sudah tersedia makanan. Setiap kali hendak makan sudah ada nasi, kalian jadi meremehkan setiap butirnya. Di luar sana, banyak orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan sepiring nasi. Banyak yang kurus kering bermimpi makan teratur dan cukup.” Mamak terus mengomel, membuat Kami tertunduk semakin dalam. Aku mengunyah remah nasi dengan perasaan bercampur aduk. (Halaman 276)
    26. “Seluruh penduduk kampung ini menggantungkan hidup pada alam. Tetapi ingat, leluhur kita mengajarkan keseimbangan dan saling menghargai satu sama lain. Kita tidak mengambil berlebihan, merusak berlebihan. Hutan sekitar adalah bagian dari kehidupan. Kita membuka hutan dengan proses penuh penghargaan kepada alam yang telah memberikan sumber makanan. Asal kau tahu, berpuluh tahun Bapak tinggal di kampung ini, luas seluruh ladang tidak pernah bertambah, kita tidak pernah merambah hutan perawan. Hanya mendaur ulang kebun-kebun lama.” (Halaman 294).
    27. “Ooi, begitulah seharusnya kita hidup berbudi / Satu kebaikan mekar menjadi tujuh kebaikan / Tujuh kebaikan mekar mejadi tujuh lagi / Berlipat lipat tidak terhitung kebaikan / Memenuhi bumi milik yang Maha Pengasih//“ (Halaman 308).
    28. “Ooi, begitu pulalah jika hidup tidak berbudi / Satu keburukan mekar menjadi tujuh keburukan / Tujuh keburukan mekar menjadi tujuh lagi / Berlipat-lipat tidak terhitung keburukan / Yang setiap butirnya harus dipertanggung jawabkan nanti.//
    29. “Kalian tahu, setiap butir nasi ini berharga.” “Burlian, Pukat, kalian sudah membantu banyak membuka hutan. Tahu prosesnya, mengerti kalau setiap bagian tidak mudah dilaksanakan.” (Halaman 313)
    30. “Bagi kita, petani adalah kehidupan. Proses panjang menghargai kasih sayang Alam dan lingkungan sekitar. Proses panjang dari rasa syukur kepada yang Maha kuasa. Lihat,padi-padi itu tumbuh subur, tapi hanya dengan kebaikan Tuhan-lah, esok lusa akan muncul bilur-bilur padi yang banyak. Kita tidak pernah bisa menumbuhkan padi, membuatnya berbuah, kita hanya bisa membantu prosesnya.” Bapak tersenyum melihat aku dan Burlian. (Halaman 313).
    31. “Tetapi apapun yang terjadi, kita sudah melaksanakan prosesnya dengan baik. Sekarang kita tinggal menunggu dan berharap. Itulah kebijaksanaan tertua yang dimiliki leluhur kita. Menunggu dan berharap. Selalulah meminta pertolongan dengan dua hal itu. Menunggu berarti sabar. Berharap itu berarti doa. (Halaman 314)
    32. Dalam kitab suci, kata Nek Kiba, orang -orang beriman disuruh meminta pertolongan dengan dua hal. Sabar dan solat. Sepertinya kebijaksanaan yang dibilang Bapak mirip sekali dengan penjelasan Nek Kiba. (Halaman 314)
    33. “Benarlah kata Pak Bin di sekolahan. Batang padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk.” Burlian menunjuk batang padi. Semakin berilmu, semakin pandai maka kau akan semakin rendah-hati. Bukan begitu, Pak? (Halaman 316).
    34. “Iya, Bapak menunjuk salah satu batang padi. “Semakin berisi, semakim merunduk, itu juga berarti kau tidak hanya selalu merasa bisa, bisa, dan bisa. Lebih penting dari itu adalah kau juga bisa selalu merasa. Besok-lusa kalau kalian sudah merantau ke kota-kota jauh, pulau-pulau seberang, kalian akan melihat banyak sekali orang pintar, orang hebat. Mereka selalu bilang ya, kita bisa, ya. Sayangnya, diantara begitu banyak orang hebat tersebut, sedikit sekali yang bisa berempati, merasakan, dan dipenuhi semangat kebaikan tulus. (Halaman 317)
    35. “Langit tinggi bagai dinding, lembah luas bagai mangkok… hutan menghijau seperti zamrud…. sungai mengalir bagai naga… tak terbilang kekaayaan kampung ini, sungguh tak di terbilang. “Ini teka teki Wawak yang paling hebat. (Halaman 334)
    36. Aku tidak seberuntung Burlian yang punya teman Tuan Nakamura, hingga SMA aku masih sekolah di kabupaten. Jalan baru terbuka bagiku Ketika kuliah, aku diterima universitas terbaik di Jakarta, dan apa kata bijak itu? Sekali pintu pertama terbuka, maka kunci-kunci pintu berikutnya juga diperoleh. Kesempatan itu datang susul menyusul, termasuk melanjutkan kuliaj di negeri kincir angin (halaman 337).
    37. Kamilah harta karun paling berharga kampung. Anak -anak yang dibesarkan oleh kebijakanaan alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. Kamilah generasi berikut yang bukan hanya memastikan apakah hutan-hutan kami, tanah-tanah kami tetap lestari, tetapi apakah juga kejujuran, harga diri, perangai yang elok serta kebaikan tetap terpelihara di manapun kami berada. Aku memang berhasil menjawab teka-teki ini, tetapi sebenarnya aku tidak tahu semua hal. (Halaman 342).
    Selamat membaca kelanjutan kisah anak-anak Mamak, menurut saya bukunya keren, bisa belajar mendidik anak dari Mamak dan Bapak ❤

Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: ElianaBurlianPukat dan Amelia
  2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
  3. Genre fantasy : Harga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
  10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

Happy reading! 😊
With Love,

Advertisements

4 thoughts on “[Novel: Serial Anak-Anak Mamak]: PUKAT Karya Tere Liye

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s