[Review Buku] Serial Anak-Anak Mamak: BURLIAN Karya Tere Liye

Sinopsis:
Kau, sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian, special!
Waktu melesat bagai peluru. Akhirnya aku mengerti kini, itulah cara terbaik Mamak dan Bapak menumbuhkan keyakinan dan rasa percaya diriku. Sejak kecil selalu bilang aku special agar aku punya pegangan setiap kali terbentur masalah.
Aku ingat, Bapak dan Mamak selalu bilang, “Kau anak yang kuat Amelia,” agar si bungsu yang sakit-sakitan tumbuh menjadi anak yang kuat. Atau bilang kalimat, “Kau anak pemberani, Eli,” maka jadilah Ayuk Eli seorang pemberani atas banyak hal. Sedangkan pada Kak Pukat, Bapak dan Mamak selalu bilang, “Kau anak yang pintar, dan kini jadilah Kak Pukat seorang peneliti hebat, sepintar kalimat yang selalu ia dengar sejak kecil.

Novel ini mantap! Tere-Liye sangat piawai menulis dengan hati dan berkisah tentang kebaikan tanpa perlu menggurui. Enak dibaca dan perlu menjadi bahan renungan orang tua masa kini.
– Ni’am Masykuri, editor in Chief Majalah Parents Guide & Hipoo

Yang menyenangkan dari membaca cerita Tere-Liye adalah pembaca disuguhkan

twist yang tak terduga. Penggambaran detail dari penulisnya mampu membawa pembaca seolah mengalaminya sendiri
– Sony Gaokasak, Sutradara Film ‘Hafalan Shalat Delisa’

Saya ingin menjadi ibu seperti Mamak-nya Burlian. Novel ini memotivasi kita untuk bermimpi. Sangat menarik cara Tere menjejali masalah lingkungan. Dia adalah duta lingkungan, meski tanpa lencana.
– Ratih Sanggarwaty, top model

Membaca buku ini sungguh menyentuh. Ada cerita tentang kenakalan anak-anak, kreativitas, persahabatan, keberanian, perjuangan hidup sampai kisah cinta yang manis. Sungguh membuat hati kita bisa menjadi semakin jernih.
– Kak Seto, Ketua Komnas Anak

Seandainya buku ini saya baca saat SD, mungkin ini akan jadi salah satu bacaan favorit yang akan memberi banyak pengaruh dalam hal menanam masa depan. Sayangnya di jaman saya SD buku ini belum terbit 😁
Saya tetap bersyukur baru menyelesaikan baca buku ini, Alhamdulillah bisa menikmati buku serial anak Mamak karya Tere Liye. Walaupun sudah terbit beberapa tahun lalu (2009), saya tidak melewatkan untuk membacanya. Habis baca buku ini, tentu saja ingin melanjutkan membaca serial berikutnya: Pukat, Amelia dan Eliana yang belum saya baca 😂

Baca juga: Resensi buku Komet Minor (terbit Maret 2019), Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye
Buku yang bersetting di Sumatera Selatan ini sangat bagus, ketika membacanya membuat saya terharu, sedih, menangis, dan ikut bahagia dengan apa yang diraih oleh tokoh utamanya, Burlian si anak special.
Masing-masing bab dalam buku ini menyajikan cerita yang menarik dan mengharukan, bahkan sedih seperti cerita sahabatnya Burlian bersama Ahmad yang jago main sepakbola. Atau bab tentang seberapa besar cinta Mamak, menguras air mata 😂
Buku ini sukses membuat saya menangis beberapa kali 😂 dan juga banyak tertawa membaca karakter Burlian apalagi saat dia lomba lari bersama sahabatnya Can dan Munjib.  Cara mendidik Mamak dan Bapak juga bagus sekali, salah satunya saat Burlian dihukum Mamak-nya karena bolos sekolah.  Novel ini juga menggambarkan bagaimana besarnya cinta orang tua terutama ibu tercinta terhadap anaknya.  Terdapat banyak hal seru dalam buku ini.

Judul buku : BURLIAN
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : cetakan pertama 2009, cetakan XII Desember 2015
Halaman : vi + 339 halaman
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm

Berikut ini kalimat-kalimat yang sukai dari buku ini ❤❤:

1. “Sekolah itu seperti menanam pohon, Burlian, Pukat.” Bapak tersenyum. (Halaman 29)
2. “Begitu pula sekolah, Burlian, Pukat. Sama seperti menanam pohon… Pohon masa depan kalian. Semakin banyak ditanam, semakin baik dipelihara, maka pohonnya akan semakin tinggi menjulang. Dia akan menentukan hasil apa yang akan kalian petik di masa depan, menentukan seberapa seberapa baik kalian akan menghadapi kehidupan. Kalian tidak mau seperti Bapak, bukan? Tidak sekolah, tidak berpendidikan, tidak punya pohon raksasa yang dari pucuknya kalian bisa melihat betapa luas dunia. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang banyak. Kau akan memiliki kesempatan itu, Burlian, karena kau berbeda. Sejak lahir kau memang sudah special. Juga kau Pukat, karena kau anak yang pintar. (Halaman 30)
3. Esok lusa, ketika kesempatan membawa kau pergi jauh dari kampung ini, Burlian…. menjadi orang yang hebat di luar sana, maka jangan pernah melupakan di asal kau…. (Halaman 78)
4. “Pak Bin bilang, sekolah bukan hanya tempat belajar menulis dan membaca. Sekolah juga tempat belajar banyak hal. Dengan sekolah akan banyak kesempatan yang datang… masa depan yang lebih baik… Kesenangan, keriangan. Jangan pernah berhenti percaya tentang itu.” Munjib hanya diam saja. Tertunduk
5. “Ya Allah, semoga Engkau sayang kepada Pak Bin seperti dia selalu menyayangi kami.” (Halaman 168)
6. Bagi kami, PNS atau tidak, Pak Bin adalah guru kami. Catat itu. (Halaman 171)
7. Bukan semata-mata karena aku terikat kontrak pekerjaan, tapi lebih karena semua yang kukerjakan ini akan menjadi contoh baginya kalau berbuat baik bagi orang lain, bermanfaat bagi orang banyak, jauh lebih berharga dibandingkan apapun. Membangun jalan ini… ini semua bukan sekedar menumpahkan batu dan aspal, bukan sekedar membuat parit dan jembatan. Ini semua tentang masa depan orang-orang yang dilewati proyek jalan. Nakamura-saat saat mengobrol di atas bukit sambil melihat Bintang melalui teropong dengan Burlian (Halaman 193)
8. Jangan pernah membenci Mamak kau, Burlian…. jangan pernah…. karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lalukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya pada kalian.” Nasehat Bapak pada Burlian saat ngambek sama Mamak-nya (Halaman 213)
9. Pukat, Burlian, leluhur kita hidup bersisian dengan alam lebih dari ratusan tahun. Mereka hidup dari kasih sayang hutan yang memberikan segalanya. Maka sudah sepatutnyalah mereka membalas kebaikan itu dengan menjaga hutan dan seluruh isinya. Kata Mang Unus (Halaman 260)
10. Apa kata Nakamura dulu? “Jalan-jalan ini tidak pernah berujung… jalan-jalan ini akan terus mengalir melewati lembah-lembah basah, lereng-lereng gunung terjal, kota-kota ramai, desa-desa eksotis nan Indah,tempat-tempat yang memberikan pengetahuan,tempat-tempat yang menjanjikan masa depan… lantas jalan ini akan terusss… terus menuju pelabuhan-pelabuhan, bandara-bandara… dan dari sama kau bahkan bisa pergi lebih jauh lagi, menemukan sambungan jalan berikutnya…mengelilingi dunia… melihat seluruh dunia,masa depan anak-anak kampung, masadepan bangsa kalian. Masa depan kau yang penuh kesempatan, Burlian-Kun.”
11. Bapak tertawa menengahi. “Percaya sajalah. Tidak akan banyak anak laki-laki yang bisa menaklukan hati Gadis dengan pemahaman hidup setangguh dan seberani anakmu Eli!”
12. “Bapak setuju, Eli. Itu juga merusak hutan. Penduduk kampung hanya mengambil seperlunya saja, menebang sebutuhnya. Mereka punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebus umbat rotan semuanya. Itu yang disebut “Kebijakan leluhur kampung.” (Halaman 273-274)
13. Burlian mau sekolah di tempat yang buku-bukunya menumpuk seperti gunung… guru-guru hebat seperti Pak Bin…. Burlian mau melihat dunia… menaiki kapal-kapal… melihat gedung tinggi.. bandara —“ Aku tersedak saking semangatnya (Halaman 322)
14. Mamak benar. Cerita Mamak tentang hari kelahiran-ku itu benar. Burung ini berbunyi karena melihat sesuatu di bawahnya. Bukan liang lahat yang menganga, burung ini berbunyi karena terganggu. Maka aku tahu jawabannya.
15. Hari-hari berlalu cepat sejak aku sekolah di Jakarta. Pak Bin keliru soal itu, sungguh keliru. Di sini bangunan perpustakaannya jauh lebih besar lagi. Bertingkat empat. Ada ribuan buku yang tidak akan bisa kuhabiskan selama bertahun -tahun. Dan aku bisa berkenalan dengan teman-teman baru. Melewati pengalaman-pengalaman baru.

Baca juga review buku-buku Tere Liye berikut ini:

  1. Genre Novel anak – anak dan keluarga : serial Anak-Anak Mamak  ada: ElianaBurlianPukat dan Amelia
  2. Genre romance:  aku kau dan sepucuk angpau merah
  3. Genre fantasy : Harga Sebuah PercayaSERIAL BUMI (Bumi, Bulan, Matahari, BintangCeros & Batozar serta buku kelima Komet).
  4. Genre ekonomi dan politik: negeri para bedebahnegeri di ujung tanduk.
  5. Genre action : pulang , pergi
  6. Genre sejarah : Rindu,
  7. Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup: Hujan 
  8. Kumpulan Quote : #About friends dan #About Love
  9. Kumpulan puisi: dikatakan atau tidak dikatakan tetap cinta
  10. Eksperimen berikutnya genre biografi (menceritakan kehidupan seseorang dari lahir sampai dengan meninggal): TENTANG KAMU

Selamat menikmati buku ini. Selamat membaca!
Happy reading! 📖😊
With Love 💗

Advertisements

4 thoughts on “[Review Buku] Serial Anak-Anak Mamak: BURLIAN Karya Tere Liye

    1. “Kau tahu, menurut kepercayaan orang Jepang, jika ada dua orang yang memandang bulan purnama di saat bersamaan, maka tidak peduli seberapa jauh kau terpisah dengannya, kau seolah bisa sering melihat wajah satu sama lain.”
      Selengkapnya silahkan baca di halaman 190.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s