[Review Buku] : TENTANG KAMU Karya Tere Liye

One of my fav book from Tere Liye

Judul buku : TENTANG KAMU
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : 2016. Cetakan IX, Mei 2017.
Jumlah Halaman : 524 Halaman

Sinopsis:

Tentang Kamu”
Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.
Terima kasih, nasehat  tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.  Lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu itu telah berakhir,
Masa lalu . Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

Tentang Kamu merupakan buku ke-26. Buku setebal 524 halaman ini lembar-demi lembarnya penuh kejutan, mengharukan, kok bisa ya Tere Liye kepikiran buat nulis dengan latar tempat ini dalam novel tersebut, and it’s truly exist ! Sampai saya harus googling satu-satu tempatnya yang ternyata keren.  Seperti Pulau Bungin, Sumbawa (NTB) – yang merupakan pulau terpadat di dunia (saya baru tahu, pas baca buku ini 😂). Belgrave Square, Rute 16 Cricklewood – Victoria, Quay D’orsay.
Yang pasti isi buku ini saya seperti diajak berpetualang oleh tokoh Zaman Zulkarnaen (pengacara dari Thompson and Co) yang menulisuri jejak kehidupan Ibu Sri Ningsih, di 5 kota, 3 negara, dan 2 benua (dengan setting tahun 1940 – 2016) mulai dari pulau bungi di Sumbawa, Surakarta (Jawa Tengah), Jakarta, London, berakhir di Paris. Juga perjalanan seorang Sri Ningsih keliling dunia & surat wasiyat.
Buku yang keren, bikin nangis berkali-kali, inpiratif, sangat menyentuh, dan tokoh utama dibalik kesederhanaannya menyimpan kecerdasan (benar – benar brilliant) dan keindahan perilaku serta sosok luar biasa mengagumkan dan penuh tauladan. Berhubung saya suka banget sama novel ini, jadi review nya akan panjang dan diakhiri video bedah buku oleh penulisnya. Mari membahas bukunya 📚 📖

Seorang pengacara muda di Thompson & Co di Inggris, Zaman
Zulkarnaen. Firma hukum ini sangat berbeda, mereka berdiri di atas prinsip-prinsip, mereka bukan firma hukum kebanyakan, apalagi heir hunters serakah. Apa itu heir hunters? Sebutan untuk para pemburu harta warisan. Meskipun mereka seorang lawyer, mereka justru lebih mirip detektif. Heir hunters akan mencari pewarisnya, siapa pun yang boleh jadi keturunan atau kerabat jauh. Mereka akan meminta bagian dari harta itu, 20%, 40% atau dalam kasus tertentu, mereka bisa memperoleh bagian lebih besar dibanding ahli warisnya. Ada banyak skandal dalam usaha pencarian ahli waris, mulai dari para penipu, impostor, hingga intrik hukum tingkat tinggi. Masalah harta waris tanpa klaim ini seperti gunung es, hanya atasnya saja yang terlihat, di bawahnya tersembunyi. Itu melibatkan uang yang tidak sedikit, dan mengundang banyak lalat mendekat.
Kali ini Zaman ditugaskan untuk memegang suatu kasus. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, dan belasan tahun terakhir tinggal di panti jompo yang merupakan pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar. Firma hukum tempatnya bekerja menyimpan surat keterangan yang pernah dititipkan wanita itu beberapa tahun lalu oleh pihak ketiga, melalui pos. Thompson & Co diberikan mandat untuk menyelesaikan harta warisan tua ini seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.
“Firma ini berbeda dengan ribuan firma hukum yang lainnya. Kita adalah kesatria hukum, berdiri tegak di atas nilai-nilai luhur. Kamu akan memastikan wanita tua yang malang itu mendapatkan penyelesaian warisan seadil mungkin menurut hukum. Dia akan beristirahat dengan tenang jika tahu harta warisannya telah diselesaikan dengan baik, tidak berakhir di Bona Vacantia, atau lebih serius lagi, jatuh kepada penipu.” (Halaman 14)
Nama klien tersebut adalah Sri Ningsih. Pemilik harta warisan senilai 19 triliun rupiah yang baru saja meninggal ini ternyata orang Indonesia, sama seperti asal negara Zaman. Itulah kenapa dia ditunjuk menyelesaikan settlement wasiat ini. Zaman dianggap bisa menelusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsih dengan mudah. Dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hanya sedikit data yang membahas riwayat wanita tersebut. Belum lagi, hanya hitungan hari waktu yang diberikan untuk Zaman dalam menyelesaikan kasus ini.
Kunci Zaman dalam penelusuran informasi mencari tahu kehidupan Sri, tanpa disadari pembaca, penulis menyelipkan melalui beberapa kegiatan literasi. Apa itu literasi? Literasi adalah kemampuan melek huruf/ aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Nah, Sri melakukannya melalui tiga hal. Pertama, Sri tekun membaca. Di halaman 482 disebutkan jika Sri Ningsih belajar tentang hukum melalui buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan nasional Prancis. Ketika yang lainnya sibuk menghabiskan waktu dengan mengobrol atau menonton televisi, Sri terbenam membaca buku-buku. Tidak hanya itu, dia mengkliping dari koran lama tentang artikel-artikel penting. Kedua, Sri memiliki sebuah buku diary yang dia serahkan kepada pengurus panti jompo, Aimee. Dalam buku diary tersebut, ada semacam juz kehidupan yang Sri tulis. Semacam curahan hati, kegelisahan yang ia tuang melalui tulisan dan sebagai obat kangen ‘berkomunikasi’ dengan bapak ibunya yang sudah tiada. Dalam setiap juz, kita akan menemukan poin penting makna sebuah kehidupan. Misalnya, dalam juz pertama tentang kesabaran. Tidak hanya berupa tulisan, ada beberapa potong foto yang terselip dalam diary tersebut. Ketiga, Sri gemar berkorespondensi sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan sahabatnya ketika di madrasah, Nur’aini. Ya, di tahun 1970-an, cara paling ampuh berkomunikasi adalah melalui surat menyurat antara Sri yang mengadu nasib di Jakarta dan Nur’aini yang tetap menetap di Surakarta. Melalui buku diary dan surat-surat Sri untuk Nur’aini ini, Zaman akan berkeliling ke tiga negara, lima kota dalam menelusuri kehidupan Sri. Dari sini kita bisa lihat bahwa kemampuan literasi Sri meski terkesan sederhana akan menguak tabir kehidupannya yang selama ini terpendam.

Selain literasi, penulis juga menyelipkan jiwa entrepeneur dalam diri Sri. Setelah tinggal di Jakarta yang mengharuskannya hidup tangguh dan mandiri, Sri melakukan beberapa terobosan atau inovasi yang merupakan salah satu ciri seorang entreprener. Kriteria entrepeneur yang sudah diterapkan Sri: Pertama, dia berdagang nasi goreng tidak seperti pedagang pada umumnya. Dia merancang sebuah gambar berupa alat yang mudah dibawa kemana-mana agar bisa berdagang tanpa memiliki warung. Setelah menemui tukang kayu dan montir bengkel, terwujudlah gerobak dorong impian Sri. Bermula dari satu, Sri bisa memiliki dua puluh gerobak. Awalnya hanya menjual nasi goreng, tapi menjadi variasi; bakso, mie ayam hingga berjualan sayur keliling. Kedua, setelah cara berdagangnya mulai ditiru banyak pedagang lain, Sri memulai usaha baru, sewa mobil. Bisnisnya ini lumayan maju pesat, bahkan dia sempat memiliki delapan belas mobil Toyota Corolla. Ketiga, setelah Sri mengalami musibah dan harus memulainya dari nol lagi, Sri membuat pabrik sabun mandi. Sri sudah melakukan riset, termasuk mempelajari pola penjualannya nanti. Ada beberapa hal yang bisa kita tiru dari Sri bahwa untuk menjadi seorang entrepeneur harus melakukan beberapa hal; jangan berpikir instan, jangan berpikir gratisan, siap dan berani gagal. Dan yang terpenting adalah selalu terus melakukan inovasi tiada henti. Itulah kunci sukses seorang entrepreneur.
Hampir dua pertiga buku ini fokus ke kehidupan Sri, mulai dari lahir sampai meninggal. Ada banyak kerabat, tetangga, teman atau sahabat yang memengaruhi hidup Sri.
Ada banyak persamaan kisah hidup Sri dan Zaman meski mereka berbeda generasi. Pertama, mereka sama-sama menghadapi masa sulit sebagai keluarga yang broken home. Memiliki ibu tiri menjadi hal yang paling memberatkan. Kedua, poin pertama tersebut tanpa disadari mempengaruhi kehidupan percintaan masing-masing. Baik Sri maupun Zaman, sama-sama masih melajang meski di usia matang. Kehidupan pahit di masa kecil menimbulkan keraguan untuk berkeluarga. Baik dari kehidupan Sri maupun kehidupan Zaman, penulis menyelipkan pesan bahwa jika ada seseorang yang masih melajang, bukannya sibuk mencibir ataupun nyinyir, tapi bantulah mereka untuk menemukan pasangan. Aaah Bang Tere Liye emang juara dalam hal memberikan pesan dalam bukunya 😊
Ketika akhirnya kekayaan yang Sri miliki dibagikan kepada para ahli warisnya, ini juga bagian yang tak terduga, bahwa harta yang diberikan nya telah dipikirkan matang-matang. Pada akhirnya, karakter antagonis harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatan nya. Sayangnya hingga akhir hayatnya, Sri Ningsih tidak tahu bahwa adik yang sangat dicintainya masih hidup 😂
Saya juga senang bagaimana akhirnya Sri mendapatkan jodoh. Dia wanita yang patut memperoleh cinta sejati dari suaminya. Ia menikah dengan seorang pria Turki. Kisah cinta mereka juga sangat indah. Senang juga, setelah tinggal di Paris, Sri bisa mewujudkan salah satu impiannya: Keliling Dunia 🌎
Ada banyak pesan moral yang bisa kita ambil dalam buku ini. Pertama, tentang kesabaran. Kedua, tentang persahabatan. Ketiga, tentang keteguhan hati. Keempat, tentang cinta. Kelima, tentang memeluk semua rasa sakit.
Semoga dalam menjalani kehidupan kita bisa seperti Sri, hatinya sebening kristal, tidak ada rasa dendam dalam jiwanya meskipun itu hanya sebesar debu. Karakter Sri Ningsih ini,so inspiring ❤❤🌸🌸

Dalam buku ini, ada diary yang ditinggalkan oleh Sri Ningsih sebagai petunjuk yang akan diungkap oleh Zaman. Dalam diary terdiri dari 5 juz. Menurut saya, setiap juz yang ditulis dalam diary Sri, indah, singkat dan penuh makna. Berikut ini setiap juz-nya:

JUZ PERTAMA. Tentang kesabaran. 1946 – 1960
Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tak bisa menyakitinya. Tidak bisa. Terima kasih banyak untuk tempat yang telah mengajarkan pelajaran ini. Di sini, di tempat di mana rumah-rumah saling bersinggungan atap, tiada tanah, rumput, apalagi pepohonan yang terlihat oleh elang yang terbang tinggi. Di sini, di mana rumah-rumah yang tumbuh dari atas permukaan laut, perahu tertambat di tiang-tiang, dan kambing-kambing mengunyah kertas. Terima kasih. (Halaman 48).

JUZ KEDUA. Tentang Persahabatan 1961-1966
Apa arti persahabatan? Apa pula arti pengkhianatan? Apakah sahabat baik akan mengkhianati sahabat sejatinya? Bapak, Ibu, ternyata Sri bukan sahabat yang baik. Sri telah mengkhianati teman terbaik. Sri hanya memilih, sahabat sejati atau kebenaran …. Bertahun -tahun kejadian tersebut telah berlalu, tapi Sri tetap tak bisa mengusir rasa bersalah. Di sini, diperkampungan santri dekat pabrik gula, dengan loji, kereta lori, cerobong raksasa menjadi saksi, betapa keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas. Sri ingin mengusir pergi semua kenangan mengerikan itu, tapi dia terus menghantui, sia-sia belaka. Teriakan bengis, suasana mencekam, penyiksaan. Sri tidak kuasa untuk menuliskannya lagi…. Selamat jalan, sahabat, semoga besok lusa kita kembali bertemu, dan engkau tidak lagi membenciku. (Halaman 141-142).

JUZ KETIGA. Tentang keteguhan hati. 1967-1979
Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita telah tiba pada batas akhirnya? 2x, 5x, 10x, atau berpuluh-puluh kali hingga kita tak dapat menghitungnya lagi? Berapa kali kita harus menerima kenyataan, untuk tahu bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Aku sekarang tahu jawabannya. Di sini, di kota yang sibuk mengejar dan dikejar pembangunan, gedung-gedung tinggi tumbuh seperti jamur di musim hujan. Di sini, di kota tempat harapan ribuan pendatang berlabuh, tiap hari terminal, statiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu gemerlap, jalan-jalan luas, kawasan hijau yang semakin habis, orang-orang mengejar mimpi. Terima kasih atas pelajaran tentang keteguhan. Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali aku gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x. (Halaman 209-210)

JUZ KEEMPAT. Tentang cinta. 1980 -1999
Kota London, ibu kota Inggris, Eropa, dan dunia. Tempat berbagai suku bangsa, agama, ras, dan bahasa berkumpul. Tempat berbagai kesempatan, pertemuan, pun perpisahan terjadi. Juga tempat jatuh cinta yang Indah dan abadi. Sambil menatap langit mendung, gerimis menyiram jalanan kota yang ramai. Atau kabut yang membawa rintik air menerpa wajah, sambil berpegangan tangan di taman – taman kota yang hijau. Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah Salah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Nasehat-nasehat lama itu benar, cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tetapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian. (Halaman 286).

JUZ KELIMA. Tentang memeluk rasa sakit.
2000…
Ibu, Bapak, bagaimana agar kita bisa berdamai dengan begitu banyak kejadian menyakitkan ?  Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup?  Bagaimana agar Sri bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya?  Sri sekarang tahu jawabannya.  Yaitu justru dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup .  Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan pernah dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah.  Disini, di kota dengan Menara Eiffel yang Indah dipandang mata, Sungai Seine mengalir elok.  Disini, di jantung peradaban budaya dunia, terima kasih telah mengajariku tentang hakikat kehidupan.  Sri akan memeluk semua rasa sakit.  Dulu, sekarang, esok lusa, hingga kita bertemu lagi.  Sri Ningsih (halaman 457)

Berikut ini kalimat- kalimat favorit saya dalam buku ini:

1. Aku menunggu begitu lama untuk jatuh cinta, Sri.  Hingga seorang gadis Indonesia  bernama Sri Ningsih tiba di London.  Aku juga menunggu selain lama untuk bertemu dengannya di bus kota London rute 16.  Itu suratan takdir yang menakjubkan.

2. “Sungguh terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, Sri. Itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku.  Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.” (Halaman 408)

3. “Sri terima kasih telah menjadi bagian hidupku, melahirkan bayi-bayi kita, sungguh terima kasih.  Mencintaimu telah memberikanku keberanian, dan dicintai olehmu begitu dalam telah memberikanku kekuatan.  Terima kasih.” Hakan tersenyum. “Kembalilah bahagia, Sri.  Menjadi gadis yang bersahaja dan baik hati seperti saat pertama kali kita bertemu.  Lanjutkan kisah hidupmu, kamu akan memiliki petualangan hidup berikutnya yang lebih panjang.  Penuhi mimpi-mimpi lamamu, melihat dunia.  (Halaman 409)

4. Salah satu dari empat pertanyaan Eric adalah “Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?”  Zaman menjawab pendek, “Tidak ada, Sir. Selain apa yang kita belanjakan untuk kebaikan.”  Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan.”  Eric menatap terpesona, “Kamu sungguh-sungguh dengan jawaban itu?”  Zaman mengangguk.  (Halaman 430)

5. Apakah pengacara seperti kalian tidak mengenal hari libur? (Halaman 2)

6. Perang memaksa tua-muda, kaya-miskin, siapa pun yang masih sehat dan kuat, pergi ke medan pertempuran. Itu masa-masa menyedihkan. (halaman 19)

7. Perang membawa implikasi panjang dalam hukum warisan. (halaman 19)

8. Istri-istri zaman sekarang, mereka kadang lebih sibuk dibanding suaminya

9. Jangan cuma bengong seperti ikan buntal. (halaman 75)

10. Kesabaran bisa mengalahkan apa pun. (halaman 111)

11. Kita seharusnya lebih banyak bicara satu sama lain agar bisa melewati masa-masa sulit bersama.

12. Semoga Mas Zaman segera mendapatkan jodoh terbaik.” (Hal. 148)

13. Nasib, semakin tinggi bola itu terbang, saat jatuh akan semakin sakit rasanya. (halaman 175)

14. Ternyata tidak semua orang jakarta itu jahat. (halaman 217)

15. Ternyata mencari pekerjaan di Jakarta itu susah. (Halaman 219)

16. Kenapa orang mudah sekali mengkhianati? Bukankah dalam hidup ini kejujuran adalah hal penting? (halaman 239)

17. Kerja keras tidak pernah mengkhianati. (halaman 262)

18. Setiap kali kita menunda melakukannya, semakin sedikit waktu yang kita punya. (hlalaman 292)

19. Semakin kamu bilang bukan siapa-siapa, itu justru berarti memang siapa-siapa. (halaman 343)

20. Apakah cinta memang begitu? Saat dia mulai menyemai bibit harapan, hanya untuk layu sebelum berkecambah? (halaman 350)

21. Tidak baik anak gadis berlama-lama punya hubungan yang tidak jelas. (halaman 363)

22. Jatuh cinta kadang membuat orang bisa melakukan hal bodoh. (halaman 369)

23. Aku ingin sekali punya hati sebaikmu. Tidak pernah punya prasangka walau sebesar debu. (halaman 79)

24. Aku tahu sejak lama, besok lusa, dengan hati seindah miliknya, dia akan melakukan hal hebat. Dia akan melihat dunia. London. Paris. Eropa. Tempat-tempat menakjubkan. Kamu tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang harta warisan miliknya, Nak Zaman. Tapi aku tahu, aku bisa menebaknya, harta itu bernilai triliunan rupiah. Karena itulah harga dari seorang Sri Ningsih. Bahkan lebih mahal dari itu. Maka tunaikan amanahnya, Nak Zaman. Sri berhak pergi dengan tenang.” (Halaman 206)

25. Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? (halaman 209)

26. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x. (halaman 210)

27. Sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya. (hlm. 257)

28. Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. (hlm. 278)

29. Hantu masa lalu itu kapan pun bisa muncul lagi. Tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan, karena saat kita lupa, masih ada sisi-sisi yang mengingatnya. (halaman 270)

30. Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. (halaman 278)

31. Lihatlah anak muda sepertimu, usia tiga puluh tahun, bahkan di atas pesawat sekalipun terus bekerja. Aku khawatir kamu tidak akan pernah menikah, Zul.” (Halaman 285)

32. Dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian. (halaman 286)

33. Kalau banyak yang naksir, kenapa belum menikah? (Hal. 333)

34. Sri, kamu mau aku jodohkan dengan temanku, orang Polandia?” (Hal. 334)

35. Sekarang bukan siapa-siapa, tapi besok lusa kita tidak tahu, kan? (Hal. 345)

36. Daripada kita sibuk bertanya kapan seorang gadis menikah, hanya membuatnya sedih, lebih baik bantu dia agar segera mendapatkan jodohnya. Itu lebih bermanfaat. (halaman 357)

37. Biarkan semuanya mengalir seperti air. (halaman 360)

38. Jika memang berjodoh, maka berjodohlah. Tidak perlu terlalu berharap, tapi tidak juga sangat negatif menanggapinya. (halaman 360)

39. Apa yang membuat pernikahan orang tua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apa pun, ujian seberat apa pun bisa dilewati dengan baik. (halaman 385)

40. Hati manusia persis seperti lautan, penuh misteri. Kita tidak pernah tahu kejadian menyakitkan apa yang telah dilewati oleh seseorang. (halaman 415)

41. Kehidupan modern yang individualis membawa aspek negatif dalam hubungan keluarga, menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dibanding peperangan. (halaman 441)

42. Kebencian memang bisa menjadi energi mengagumkan. (halaman 503)

43. Lihat! Baca! Biar kepalamu yang dipenuhi kebencian tercerahkan. (halaman 505)
Dari puluhan novel Tere Liye, sulit bagi saya untuk memilih Buku yang paling disukai. Tapi kalau disuruh memilih, buku Tentang Kamu ini buat saya istimewa dan akan selalu menjadi favorit saya. Apalagi salah satu setting dalam novel ini di kota London, salah satu kota favorit saya di luar negeri. Tokoh favorit saya di novel Tentang Kamu:  Sri Ningsih, Zaman Zulkarnaen, Hakan dan Aimee.  Terima kasih Bang Tere, sudah membuat karya yang indah dengan karakter Sri Ningsih yang menakjubkan. Saya mau belajar tentang kesabaran dan keteguhan dari karakter seorang Sri Ningsih. Kelak, kalau ada kesempatan datang lagi ke kota London (Aamiin Ya Allah), saya ingin membawa turut serta novel ini. Saya juga suka cover-nya, kereeeen ❤ kalau kamu sudah selesai membaca novel nya, kamu akan tahu makna dari cover tersebut. Setelah usai membaca bukunya, kita memahami maksud judul dan cover ini yang sangat merepresentasikan isi bukunya. Novel ini, salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Dan mungkin saya akan lebih dari sekali membaca bukunya, pokoknya beautiful ending 💙 Dan ini adalah novel ber-genre biography (novel tentang sessorang yang diceritakan dari mulai lahir hingga meninggal) disini biografi yang fiksi bukan kisah nyata, sebuah karya yang sangat indah. Dibuat penulisnya dengan riset selama 1 tahun (biar tambah puas, silahkan bisa lihat video bedah buku tentang kamu di youtube). Two thumbs up buat Bang Tere 👍👍
Ayo baca bukunya, highly recommended! Happy reading! 😊

Selamat membaca 😊  Happy Reading!

With Love, ❤


Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s