Untuk Bapa

img-20131103-00729

Adik Bungsu, saya, Bapa, adik Pertama

Aku selalu merindukan masa kecilku, ketika aku sering diajak ke masjid bersama Bapa, ketika aku selalu digendong Bapa solat, dan ketila menjelang maghrib Bapa biasa mengajakku solat di tongoh (masjid yang letaknya lumayan jauh dari rumah yang berada di Bunijaya), mohon maafkan aku yang dulu banyak merepotkan Bapa.  Ketika bersama Bapa, aku selalu giat diajak ke mesjid bahkan aku selalu mengintil Bapa ke sawah, belanja ke Bandung untuk barang-barang yang akan Bapa jual di pasar, atau sesekali  pergi ke pasar saat bapa berjualan. Bapa paling rajin menyuguhi aku dengan aneka  jajanan kalau ke warung atau pada saat Bapa pulang dari pasar, bahkan kalau ke Bandung Bapa tahu tempat favoritku makan daging empal, kalau ke Rongga Bapa membelikanku Bakso terenak saat itu.  Kini aku sadar, mungkin kesenanganku akan makan dan jalan-jalan, jauh sudah Bapa tanamkan sejak aku kecil, secara tak disadari.    Meski kita tidak memiliki waktu banyak sepanjang tahun, hanya waktu-waktu tertentu saja aku bersama Bapa, tapi  kenangan itu tak pernah hilang hingga kini, melekat hingga rasanya aku sanggup mengingat detail masa kecilku yang indah, meski kata bersama tak sepanjang waktu dapat kita nikmati.

Dulu ketika aku kecil selalu digerakkan Bapa, setelah belasan tahun  aku hijrah demi meraih dan mengejar masa depan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, serta impian-impianku, tentu aku harus belajar menggerakkan diri sendiri, mendorong diri sendiri, menyemangati diri sendiri, hingga akhirnya aku mampu mengeluarkan sisi dari diriku sendiri untuk menjadi diriku sendiri.

Ada saat dimana kedewasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu, meski Bapa tak disampingku.  Mungkin aku harus belajar menjadi dewasa meski tidak selalu disamping Bapa, dimana kebanyakan anak perempuan dapat bermanja kepada Bapanya,  aku memilih tidak bermanja.  Aku memilih belajar menjadi dewasa, agar Bapa tak banyak pikiran dan bisa melepas anakmu ini untuk memperjuangkan kisah hidupnya, namun tetap erat memelukku dalam doa-doa yang selalu Bapa panjatkan untukku setiap hari.  Aku mungkin tak seberuntung anak-anak pada umumnya yang memiliki orangtua namun bisa menghabiskan waktu dimasa pertumbuhannya bersama orangtuanya.  Tapi tenang saja Bapa, aku selalu merasa beruntung, sebab meski jarak dan waktu memberikan ruang pada kita untuk tidak bersama sepanjang tahun dan hanya waktu-waktu tertentu saja karena aku terlalu menyibukkan diri dengan kesibukanku, namun aku tahu doa Bapa selalu ada untukku.

Dan kini, saat aku bertemu dan melihat wajah Bapa yang lelah dan kurus, dibelakangmu aku tak sanggup menyembunyikan butiran air mataku.  Aku tersadar bahwa Bapa telah banyak bekerja keras untuk kami.  Bagiku, Bapa tetaplah Bapa yang hebat, tidak peduli keadaan Bapa jauh berbeda ketika aku masih kecil.  Mungkin kini saatnya Bapa untuk bekerja lebih keras dan giat untuk mendoakan kami bertiga anak-anak Bapa, agar kami bisa menghapus segala sedih Bapa, semoga kami sanggup untuk membahagiakan Bapa dengan keberhasilan yang bisa kami raih baik dalam pendidikan di  dunia maupun akhirat sebagai bekal kami mengarungi perjalanan hidup yang diridhoi oleh Allah SWT.  Aamiin YRA.  Bapa, mohon jangan pernah bosan mendoakanku dan adik-adikku, aku tetap cinta dan sayang Bapa meski aku tak pernah mengatakan dan menunjukkannya.

Aku beruntung dikarunia Bapa oleh Allah SWT, dari Bapa aku belajar untuk bekerja keras dan menjinakkan rasa malas, dari Bapa aku belajar untuk menerima hal-hal yang diluar nalarku untuk belajar mengikhlaskannya, dari Bapa aku belajar untuk peduli dan bersikap baik kepada orang-orang, meskipun kadang kita disakiti, namun kita selalu diberikan pilihan untuk mengobatinya dengan sikap pemaaf.  Dari Bapa pula aku belajar untuk mencintai rumah ibadahku, yang tak jarang bila tak sanggup mendatanginya, seringkali menimbulkan rasa sesak dan sedih.  Aku berdoa, semoga Bapa tidak menyesal memiliki anak sepertiku, mohon maafkan aku bila banyak mengecewakan dan membuat Bapa sedih, mohon maafkan aku yang jarang mengobrol dan seperlunya saja berbicara, mohon maafkan atas segala kekuranganku yang mungkin saja tak aku sadari.  Tulisan ini dibuat untuk Bapa  dengan hati dan rasa cinta dari seorang anak yang sangat beruntung memiliki Bapa 🙂 Terima kasih Bapaku sayang 🙂

With Love,

aisaidluv

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s