From London to Paris

Ok sejujurnya saya masih betaaaaaaaah banget berada di London, tapi apalah daya, Paris menunggu untuk saya exlpore 😀
Kalau disuruh tinggal di London, mau banget, masalahnya siapa yang mau nampung saya #that’smyproblem
Baiklah, London sudah membuat saya nyaman, betah karena keramahan orang-orangnya, suasananya.  Setelah Jepang, kini London mampu memikat hati saya untuk terus bermimpi come back again, again, and again then you never regret Ai!
Pengalaman yang menakjubkan bagi saya ketika berada di kota London, keramahan orang-orangnya.  Kami berlibur bertujuh, adik sepupu saya masih berusia 10 bulan, saya bergantian dengan Tante dan Om menggendong adik ganteng yang menggemaskan, ramah dan menyenangkan. Ketika sarapan, saat saya sedang gendong seringkali para pelayan menawarkan saya untuk membantu membawakan makanan ke meja, kalau saya dengan halus menolak mereka tetap memperhatikan, memastikan saya membawa makanan dengan selamat ke meja. Wow ini jarang terjadi, bahkan di negara saya, saya belum pernah mengalami hal seperti itu, kebanyakan cenderung cuek. Oh iya, menurut saya:  perhatian, ketulusan, dan care itu hal yang berharga dan tak bisa dibeli, di hotel  Park Plaza Westminister mereka menyajikan itu.  Seneng juga gendong adik sepupu, tidak menyangka banyak yang menyapa adik sepupu, baik  sapaan dengan nada gemas, tulus, macam-macam ekspresinya.

Sebelum check out, kami sempat menyusuri sungai ke arah Big Ben dan Westminister, duuh makin malas pulang. London Bridge  menjadi agenda penutup kunjungan liburan kami disana.  Pak Wahyu ikut mengantarkan kami sampai ke tempat dimana sudah tidak diperbolehkan lagi masuk bagi yang tidak berkepentingan.  Pak Wahyu menemani kami selama perjalanan menjemput di Hatrow International Airport, sampai keberangkatan dengan kereta ke Paris.  Hanya absen setengah hari saja, pada saat dari Harrods ke Fazl Mosque karena harus menemani tamunya nonton bola Arsenal di Emirates Stadium, saat itu yang mengantarkan kami seorang bapak yang berasal dari Sri Langka dan sudah  puluhan tahun tinggal dan menetap di Inggris bersama istri dan keempat anaknya, bapak tersebut bernama pak Noordin.  Selebihnya pak Wahyu-lah yang mengantarkan kami ke berbagai lokasi di London.

Kemudian, pukul 14.30 kami harus berangkat dengan Eurostars menuju Paris. Sebelum keberangkatan di station St. Pancras International Station, kami melalui serangkain pengecekan yang super ketat, sudah  seperti mau naik pesawat saja ckckckck.  Ngecek passport, seperti biasa jaket tebal kami pun harus dicopot, super ribet karena belum terbiasa hehe,  dan detail sekali mereka melakukan pengecekan sampai memperhatikan foto di passport dengan wajah asli kita.  Wuih mantap deh hehe, keren pisan euy.  Saya kira kalau naik kereta biasa saja pada umumnya naik kereta atau naik MRT di negara-negara seperti Singapore dan Hongkong, ternyata berbeda, tapi seru juga, berarti memang harus selalu siap, disiplin dan tentunya taat pada peraturan yang berlaku di negara mereka agar memudahkan segala proses administrasi. Selesai dicek kami hanya sempat duduk beberapa menit, tak bisa menyusuri 9 3/4 King Cross yang terkenal sebagai setting shooting Harry Potter. Sedih sih, bahkan rencana mau ke Studio Harry Potter belum terlaksana, sebab menurut keterangan dari pak Wahyu belum dapet tiketnya, ckckckck kayaknya mesti booking dari jauh-jauh hari, gak bisa on the spot.  Dengan berat hati, pelan-pelan Eurostars bergerak meninggalkan London.  Beruntung, pemandangan yang tersaji indaaaaaaaaah sekali, mengobati rasa sedih dan kembali ceria lagi.  Pernah dengar salah satu produk Prancis bernama L’ocitane? Yaaa, hamparan luas tanaman yang tersaji tersebut
Ternyata naik kereta dari station
Perjalanan di tempuh dengan waktu 2,5 jam.  Selama perjalanan, saya menahan kantuk, sebab tak ingin melewatkan perjalanan dengan kereta yang disuguhi pemandangan indah.  Alhamdulillah kami duduk di bangku yang bisa hadap-hadapan, jadi ketika makan pun serasa makan berjamaah, nikmat sekali.  Mengenai makanan, yah perut harus menyesuaikan dengan makanan Prancis.  Menu yang tersaji walau tidak tau namanya, alhamdulillah saya santap habis, mau belajar jadi bule ahaha,  ya kali someday tinggal diluar negeri  >.< Bukan itu sih sebenernya,  Sudah sejak lama Om selalu memberikan wejangan kepada anak-anaknya, dan saya keponakannya “kalau mau jadi traveller, belajar makan apa aja yang ada (dengan catatan halal)” jangan dibiasakan manja.  Kayaknya, wejangan Om masuk dalam alam bawah sadar saya, alhamdulillah kalau kebetulan ke luar negeri saya gak ribet dengan urusan makanan, selama halal ayo aja makan, jangan sampai sakit di negeri orang, urusannya berabe, begitu pikir saya, dari pada sakit gara-gara gak makan, udah makan aja yang penting halal.
Saat itu, beruntung penumpangnya tidak padat, jadi terasa lebih leluasa.  Petugas yang melayani kami ada yang mengucapkan salam, pria ramah tersebut ternyata berasal dari Al Jazair.  Bahkan saat kereta kami tiba di Paris Gare Du Nord Trains Stations, ia ikut bantu menurunkan koper kami.  Jangan heran, jasa angkut barang ada tapi jarang sekali, beda kayak di Indonesia begitu kita keluar dari alat transfortasi tanpa dicari juga sudah banyak yang newarkan jasanya, disana tidak berlaku, kebalikannya malahan, sehingga seberat apapun koper yang kita bawa, maka kita bertanggung jawab atas barang yang kita bawa.  Lumayan dari station menuju mobil jemputan, harus dorong beberapa koper besar itu tidak mudah, lumayan ngeluarin mandi keringat hihi 😀
Setengah perjalanan, mas Rama membantu membawa koper kami menuju mobil Fiat, ia yang akan mengantar jemput kami selama di Prancis.
Sepertinya ia lebih paham tentang Paris, secara ia sudah lama tinggal di Paris, selama 30 tahun, mulai dari sekolah, kuliah, kerja, fasih berbahasa Prancis, tapi tetap lancar berbahasa Indonesia. Seru juga selama di Prancis, saya pun belajar sejarah Prancis, karena sepertinya mas Rama lebih paham sejarah Prancis ketimbang sejarah Indonesia (haha, ampuuun mas Rama, tapi bener sih :P).
Belajat sedikit-sedikit pelapalan dalam bahasa Prancis, tapi sekarang sudah tidak ingat.  Kayaknya harus tinggal di negara asalnya untuk bisa menguasai serta memahami bahasanya dengan baik dan benar.
Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, bisa mendengarkan aksen English British di negera asalnya yang terdengar halus itu ternyata bikin saya gak nyesel pernah bermimpi pengen ke Ingris dan alhamdulillah kesampaian. Plus mendengarkan aksen Prancis asli disana juga menyenangkan, dua bahasa ini aksen di telinganya terdengar halus.
London to Paris. Dua kota di dua negara di benua Eropa  yang banyak diimpikan orang.  Saya tidak pernah bermimpi mengunjunginya dalam satu perjalanan. Tidak menyangka, tapi nyata.  Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, atas karunia-Mu, membawaku ke benua Eropa.  Inggris sebagai negara Eropa pertama yang sangat ingin saya kunjungi, alhamdulillah doa dan impian saya jadi kenyataan.  Terima kasih ya Allah 🙂

IMG_1628

 

With Love,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s