Traveling ke Inggris (part 1): Negara Impian Masa Kecilku

Dream Come True!

Maybe great journeys takes time.  Kemunculan atau terjadinya bahkan tak telintas dalam benak, tak direncanakan untuk diimpikan, namun ia hadir bagaikan kejutan yang tak pernah disangka dan tak pernah diduga.  Rezekinya-pun tak pernah disangka, bahkan sama sekali tak mengharapkan.  Sepertinya tak mungkin, tapi apa yang tak mungkin dimata saya, tapi bisa saja selalu mungkin dimata Allah.

Datang ke negara yang saya impikan sudah sejak lama saya simpan, saya tak mengira bahwa impian itu dikabulkan Allah begitu cepat setelah berdoa di Masjidil Haram, lebih tak mengira lagi bahwa rezekinya melalui keluarga, Om dan Tante yang sudah ikut mengurus dan mendidik  saya selama belasan tahun, mengajak saya berlibur ke negara impian.

Saya pernah memohon kepada Allah SWT melalui doa, someday kalau saya sudah cukup uangnya untuk pergi berlibur ke Eropa, maka Inggris adalah negera Eropa pertama yang sangat ingin saya kunjungi.  Tak disangka, setelah memanjatkan doa di Masjidil Haram bulan April 2014, dalam waktu kurang lebih tiga bulan, tepatnya pada pertengahan  Agustus  2014 Allah mewujudkan impian saya, Subhanallah, Allhamdulillah, Allhu Akbar.  Saya tak bisa menuliskan tentang bagaimana perasaan saya yang luar biasa senang.

Bahkan sampai tiba di London Heathrow international airport pun, rasanya saya masih seperti bermimpi.

England I’m Coming!

Rabu pagi, pukul 04.00 kami sekeluarga terdiri dari Om, Tante, tiga adik sepupu, nenek dan saya, berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta.  Setelah proses check in selesai, maka Om mengajak kami ke The Emirates Business Class Lounge Jakarta untuk sarapan.  Sebetulnya tiket yang saya genggam untuk kelas ekonomi, namun karena adik sepupu saya masih bayi baru enam bulan, maka saya yang menggantikan, alhamdulillah rezeki  teteh ya De, teteh wakilin. 😀

Sensasi dari perjalanan kali ini, serasa traveling sendiri tapi nanti bertemu keluarga.  Saya duduk di kelas ekonomi, dan Om beserta keluarga dan nenek di business class.  Saya pribadi lebih happy di kelas economy, sebab belum merasa pantas di business class, mahalnya itu yang bikin sakit perut hehehehe.  Saya asik – asik saja, meskipun berbeda kursi dan kelas, selama temanya traveling saya selalu senang menjalani dan menikmatinya.

Pagi itu, dengan Emirates berangkat pukul 07.25 WIB dari CGK menuju DXB, menempuh perjalanan selama 8 jam.  Setelah take off, perempuan di samping saya yang duduk sebelah jendela berdekatan dengan sayap pesawat bertanya “Mau kemana Mba? Sendiri aja?,”  kemudian  saya bilang “Insyaallah mau ke London, saya sama keluarga tapi tempat duduknya tidak samaan.”   Kemudian saya menanyakan hal yang sama, dan berkenalanlah kami pada akhirnya.  Ternyata gadis berkacamata teman baru ini berasal dari Bintaro sementara saya tinggal di BSD, jadi secara wilayah ternyata kami berdekatan, dan ia pergi sendiri menuju Munich tempat di mana ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di.sana. Ia bercerita bahwa setahun pertama ia belajar bahasa Jerman dan berikutnya mengikuti seleksi ujian masuk tempat kuliah, ia sedang menunggu pengumuman dari universitas yang dipilihnya, dan ia ambil jurusan Geology.

Ternyata ia sepertinya punya jiwa travelling, ia cerita mengenai beberapa negara Eropa yang dikunjunginya, beberapa bulan lalu ke Kroasia ketemuan sama abangnya yang sekolah di Culinary Arts Academy Switzerland ambil baking and pastry.   Ia pun mengajak saya untuk mampir ke Jerman (dalam hati sih mupeng banget pengen ke sana haha, saya hanya bisa bilang someday insyaallah karena Jerman juga menjadi daftar negara impian yang mau saya kunjungi, Aamiin), bahkan ia sempat  menawarkan “Kalau ke Jerman kabar-kabari aja ya, mbak.”  Sungguh gadis yang baik hati.

Obrolan kami pun sampai membahas yang masih hangat untuk dibahas, tentu saja tentang piala dunia, dan tentang euforia warga Jerman menyambut kemenangan, bahkan ia mengakui meskipun bukan pecinta bola, namun terbawa juga oleh euforia ketika piala dunia 2014 di bulan July lalu.

Setelah seru dengan obrolan, dan sarapan di pesawat sudah tersaji, berikutnya kami sibuk dengan dunia masing-masing, nonton film.  Ia memilih film action, sementara saya memilih Harry Potter yang tersedia mulai dari yang pertama sampai the deathly hallow part. 2.  Meskipun pemilihan film saya tidak update dan terkesan jadul karena serinya sudah selesai, tapi bagi saya Harry Potter bagian dari sejarah untuk terus bermimpi someday datang ke Inggris.

pengalaman ke The Wizarding World of Harry Potter di USJ, Osaka-Jepang

Sebetulnya banyak buku bagus klasik dan fenomel yang dihasilkan oleh sastrawan-sastrawan Inggris, namun dari berbagai karya yang mereka miliki, saya memilih buku Harry Potter 1 – 7 untuk jadi favorit, saya sudah jatuh hati sejak pertama kali membacanya di bangku kelas 2 SMA. Berbekal dari kesederhanaan ceritanya yang bertemakan family adventuresetting di serial ke 1, ke 5 dan ke 6 yang sedikit mengambil setting di London, rasanya makin membuat impian itu menjadi: someday I have to visit England, selain tentunya ada banyaknya  alasan lain yang menumbuhkan kemauan untuk mengeksplor negara tersebut.

Delapan jam berada di pesawat, alhamdulillah pesawat yang kami tumpangi landing dengan selamat.  Sayang karena kami berbeda tujuan, jadi saya dan teman baru bertubuh mungil ini berpisah di bandara Dubai International Airport, saya ke Inggris dan dia ke Jerman. Setelah mengucapkan salam perpisahan sambil bercipika cipiki layaknya teman yang sudah lama kenal, kemudian mengucapkan salam sampai bertemu dan semoga sukses.  Sungguh ia gadis yang mandiri, bungsu dari 2 bersaudara tersebut mengurus semuanya sendiri, dan tinggal di apartemen sendiri. Take Care and success for your study  Kasha, until I see you again, someday. Aamiin

Setelah transit selama 2 jam di Dubai, dan menyempatkan ke The Executive Bussiness Emirates Lounge Dubai, kemudian kami melanjutkan perjalanan dari Dubai menuju London yang ditempuh dengan waktu 7 jam dengan Emirates Airbus A380. Total 15 jam perjalanan yang kami tempuh, ketika keluar dari Heathrow Airport menuju mobil yang menjemput kami bernama pak Wahyu, maka untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menghirup udara dingin yang memberikan sensasi kesegaran yang menghadirkan rasa nyaman, enak, bahagia, dan udaranya yang bersih, kayaknya tuh paru-paru saya jadi bersih banget.

Entah karena terlalu excited atau apa, yang jelas udara di Heathrow International Airport, saat menginjakkan kaki di sana, rasanya seperti energy booster. Sebuah perjalanan yang akan menghadirkan kehangatan dan pengalaman  luar biasa untuk saya syukuri dan nikmati.  From Heathrow with tagline “Making Every Journey Better”  So, I’m ready to enjoy the unexpected journey.

Dari bandara menuju hotel, kami sudah disuguhi pesona kota London, mendekati hotel disuguhi panorama London Eye dan Big Ben ketika malam. Alhamdulillah sekitar pukul 19.00 waktu London atau pukul 1 pagi waktu Indonesia barat, kami tiba di hotel.  Perbedaan waktu Jakarta dengan London berbeda 6 jam.  Kami menginap di Park Plaza Westminister Bridge London dengan view Big Ben. Speechless, saking terharunya.

Berkat rezeki tak terduga dari Allah Swt. melalui Om, Tante juga Nenek, alhamdulillah Allah memberikan kesempatan pada saya untuk menikmati udara negara Eropa di mana kini Islam sedang  tumbuh di benua ini, dan tiba-tiba jadi teringat buku 99 Cahaya di Langit Eropa (meskipun dalam bukunya tidak membahas tentang sejarah islam di UK).    Let’s enjoy my first trip to England.

Perjalanan ke London ini diatur sendiri agar lebih fleksibel karena bawa nenek. Yang mengatur tentu saja Om dan Tante, saya ikut saja. Saya jadi bagian dari tim siap berangkat kapan saja, tim hore! Kami memesan tiket diurus oleh travel, namun selama perjalanan ke Eropa kali ini tidak menggunakan tour guide, hanya driver yang menjemput kami di bandara yang sudah dikoordinasikan oleh pihak travel. Menurut Om, perjalanan kali ini merupakan salah satu perjalanan termahal. Maka, saya akan menikmati waktu dengan sebaik-baiknya di negara impian masa kecilku.

Hello London

Kamis 14 Agustus,  pukul 07.30 pagi waktu setempat,  kami sarapan di hotel sekaligus bersiap untuk mengeksplor London.  Sayangnya banyak tamu yang sudah memadati restoran, sehingga kami tidak mendapatkan tempat duduk dengan view menghadap langsung landmark yang sangat iconic di Kota London, yaitu Big Ben.  Sarapan pagi itu sangat menyenangkan, makanannya enak-enak, dan pelayanannya sangat baik. Saya sampai terharu, saat saya mengambil makan, mereka menawarkan bantuan untuk membawakannya ke meja saya, sebab saat itu saya sedang gantian gendong adik sepupu.  Terus waktu ke toilet, seorang wanita yang bertugas di tempat tersebut menyapa saya dengan ramah. Wah, senangnya…

view dari hotel tempat kami menginap

Ketika keluar dari hotel, kami merasakan udara dingin sekali menembus kulit namun memberikan sensasi segar ketika dihirup.  Menarik dan seru, pikir saya.  Di pusat kota namun bisa merasakan udara sejuk hawa pegunungan kalau di negeri saya. Maklum terbiasa menghirup udara pagi Jakarta yang terasa panas ketika saat itu berangkat kerja, jadi giliran di pusat kota yang ada di negara benua Eropa ini, terheran-heran sendiri, kaget sama suasananya yang memberikan rasa nyaman dan sejuk.  Menurut perkiran cuaca, diperkirakan hari itu turun hujan.

Mari kita mulai perjalanan ini.  Di mobil saya mengaktifkan paket Blackberry, bisa kita pilih sesuai paket yang kita mau, untuk telkomsel tinggal menekan *266# ikuti petunjuk selanjutnya, kemudian bisa memilih paket yang kita mau sehari 100 ribu, maka kalau mau efisien pilih paket 300 ribu per 5 hari.

Terbawa suasana liburan, padahal saya dalam rangka  cuti, dan karena di London masih pagi, maka saya mengaganti display picture blackberry, saking gembiranya berada di kota London, sambil menulis status “Hello London”.  Eh ga taunya banyak bbm yang masuk, lupa kalau di Indonesia masih sore, hahaha *tiba-tiba nyesel update status*.  Lucunya, ada teman yang menyangka saya dapat media trip, saya cuma bisa ketawa geli, hanya kelas bos yang dapat kesempatan tersebut, saya kan belum jadi bos, tapi beruntungnya Om saya sudah jadi bos. Sehingga rezeki dari Allah datang melalui Om dan Tante yang mengajak liburan.  Kalau dipikir-pikir, saya tidak menyangka bisa liburan ke negera impian. Waktu kecil, yang saya tahu bahwa liburan itu ya pas lagi libur sekolah. Belasan tahun kemudian, saya pun merasakan, oh sebahagia ini ya, bisa liburan ke lura negeri, negara impian pula.

Saat dihujati chat dari teman-teman, maka saya pun menjelaskan bahwa saya lagi liburan sama keluarga kok pakai tanda “:)” beberapa mengerti dan menutup chat-nya dengan kata “Have fun ya” “Jangan lupa oleh-oleh tempelan kulkas” “Have fun ya Aaaaiiii… salam buat mas William”, “Nanti kalau udah pulang mau nanya tentang kerjaan, sekarang mah takut ganggu liburan”, “Aah mau ikut mba Aiiii”, “Aku kapan ke sana, kabita pisan ningalina”, “Wih Ai jalan-jalan euy”, “Omg, asiik bener sih,” “:'(Teh Ai di London,, enaknyaa({}),” “Ahhh Aiiii enak banget (<B.<B) ke London” “Selamat jalan-jalan,”. “Wah keren, liburan yah? Take care.” Macam-macam ekspresi dari pesan yang mereka sampaikan lewat chat blackberry messanger.

Udahannnya, jadi feeling guilty update status, niatnya mau bersyukur karena bahagia, eh malah bikin mupeng, mohon maaf  ya sobat-sobat, teman-teman, dan rekan kerja.   Semoga ketularan happy-nya dari saya. Sebelum sampai di tempat wisata yang kami tuju hari itu, kami hanya melewati Buckingham Palace yang sudah ramail dan menjadi salah satu tempat tujuan para wisatawan juga.

Enjoy Windsor Castle: Castle tertua di dunia

Hari itu, tempat wisata yang kami kunjungi adalah  kastil tertua dan terluas di dunia Windsor Castle, merupakan  salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Inggris selama hampir 1000 tahun .  Tak disangka meski masih pagi, ternyata sudah banyak pengunjung antri dan memadati gerbang  pembelian tiket, padahal belum di buka. Sebelum mendekati tempat pembelian tiket, akhirnya untuk pertama kalinya bisa melihat para tentara berkostum warna merah dan memakai topi khas. Salah satu yang membuat Inggris unik adalah kehadiaran para tentara yang mengawal kediaman resmi anggota keluarga atau disebut dengan Queen’s Guard atau Penjaga Ratu.  Yang menarik dari Penjaga Ratu pastinya adalah kostum baju merah menyala mereka dan tentunya topi berukuran besar yang terlihat sangat berat. Selain itu para penjajaga kerajaan ini terlihat sangat kaku.

Atas saran Pak Wahyu, maka  kami membeli tiket on the spot saja. Pak Wahyu tidak ikut bersama kami, menunggu kami di dalam mobil, sebab parkirannya jauh. menurus Pak Wahyu, kami sebaiknya tidak ikut dalam atrian panjang, karena antrian panjang biasanya untuk turis rombongan, kalau kami karena tidak ikut tur jadi bisa antri di tempat terpisah.  Beruntung pagi itu ketika tempat pembelian tiket sudah di buka oleh petugas, kami mendapat antrian yang tidak terlalu panjang. Selesai beli tiket, kami dicek oleh petugas, mulai dari isi dari tas kita masing-masing (pengamanannya ketat juga ckckckck).

Begitu memasuki gerbang barulah terlihat betapa luasnya kastil tersebut.  Duuuh pengen guling-guling dan tiduran di rumput-rumput yang hijau dan indah, sayangnya ada papan tulis yang mewanti-wanti rumputnya tidak boleh diinjek! *ok sip* Berarti wisatanya harus gaya kalem nih hehehe, berjalan dijalanan yang sudah ditentukan dan diperbolehkan karena tidak semua tempat dalam kawasan tersbut boleh dimasuki wisatawan.

Saat saya berkunjung ke sana, di lahan yang sangat luas tersebut tak ada kendaraan yang memanjakan kita, sebaiknya sambil menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Bagi saya pribadi menikmati suasana dan tempatnya, rasa capenya hilang, apalagi bisa menyaksikan langsung keindahan dan keeksotisan  kastil tersebut. Megah dan penuh nilai sejarah. Apalagi menyajikan sentuhan alam yang membuat saya semakin terpesona akan keasriaannya yang sangat dijaga.

Saya serasa berada di negeri dongeng. Saat di sana, berasa ada buku-buku cerita negeri dongeng. Padahal saya bukan berada di negeri dogeng, tapi berada negera impian dan mengunjungi kastil yang sangat bersejarah ini.  Mungkin karena saya belum memahami sejarah nenek moyang mereka, saya menikmati tempat ini dari segi arsitekturnya yang megah, klasik bak berada di negeri dongeng (kayak udah ke negeri dongeng aja haha, mungkin fantasi dari buku yang pernah dibaca).

Karena luas, lumayan lama juga berada di sana, meskipun tidak memasuki gedung yang boleh dimasuki, dan saat itu masih ada beberapa tempat yang masih dalam perbaikan.  Aaaah saya suka sejuknya udara yang menyapu tubuh saya, dinginnya suhu dan beruntungnya didukung cuaca yang sedang cerah. Kayaknya saya bakal dibikin jatuh cinta sama negeri tersebut.  Eksotis, megah,  indah, klasik, bersih, bersejarah, itu kesan yang saya dapatkan, mmmm coba ditambah ada  pangeran Williams, Kate Middleton sama prince George lewat *ngayal*

Setelah puas menikmati luasnya tempat tersebut, yang paling saya senangi lagi adalah menikmati ice cream di sana, mungkin rasanya serasa makan ice cream terenak sedunia, versi saya tentunta :P.  Meskipun bukan pecinta berat es krim, ketika Tante menawari, saya langsung jawab “mau, yang rasa coklat.”

Saya rekomendasikan jika mengunjungi tempat tersebut, carilah sudut tempat yang menjual es krim, rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, silahkan dicoba. Pengen tahu rasanya gimana? Chocolate Dairy Ice Cream di Windsor Castle rasanya nikmat sekali.

Perjalanan ke  Windsor Castle, merupakan pengalaman saya yang pertama kali, untuk mengetahui dan menikmati sejarah yang masih mereka rawat dan jaga dengan baik keasriannya. Puas menikmati wisata sejarah di kastil, beriktunya kami melanjutkan perjalanan ke Bicester Village.

Feel Homey at Bicester Village

Ini bukan ke wisata alam, tapi ke tempat untuk berwisata belanja! Bagi para pria, tak usah takut bahwa saya addicted sama shopping. Bagi para wanita yang gemar berbelanja barang branded, saya rekomendasikan tempat ini. Perempuan mana yang tidak senang belanja.  Saya senang belanja tapi saya bukan shopaholic. Profesi saya saat itu di media, belanjain uang client bisa sampai milyaran.  Tapi kalau belanja buat pribadi based on need, jadi boro-boro sampai milyaran hehehe.  Nah kalau pun setiap perjalanan saya ternyata dibawa ke tempat-tempat pusat belanja dan bertemakan shopping, kalau gak tahan bisa-bisa kalau kebanyakan uang  belanja sampai mati  (meminjam istilah Miss Jinjing), tetap saja kalau memang saya gak butuh gak beli, tapi kalau dititipin keluarga dan teman, dengan senang hati saya carikan (minimal akan memberikan pengetahuan dan menambah wawasan saya dalam dunia shopping dan pengalama saya :D).

Bagi pecinta belanja, beberapa tempat-tempat belanja yang bisa dicoba seperti Chatucak, MBK mangga duanya di Bangkok, Gotemba Premium Outlet di Jepang, Harajuku Tokyo, Shibuya, Ladies Market di HK, Louhu di Shenzhen, Dongmen Street di Shenzhen, Causeway Bay di HongkongMustafa Centre di Singapura,  Takasimaya di Orchard RoadBalad shopping centre di Jeddah, Mall terbesar di dunia yaitu The Dubai Mall, bahkan sampai ke Bicester  Village dan nantinya ke Galeries Lafayette.  Alhamdulillah tempat-tempat tersebut pernah saya datangi. Saya cuma senang memperhatikan detail tempatnya, brand yang ada di dalamnya, harganya, kalau kepincut beli kalau barangnya belum bisa meluluhkan hati saya sebesar apapun diskonnya tetap tidak menggoyahkan hati saya kalau gak kepengen.

Sebagai anak ahensi (istilah dalam dunia pekerjaan saya), diskon besar salah satu strategi yang bisa membuat saya berfikir untuk beli atau tidak.  Saya bukan pecinta barang limited edition, atau brand new arrival, jadi kalau barangnya ok, tahan lama, pas dengan dompet, apalagi diskon, terus saya tertarik maka beli, jika tidak, ya cukup tahu saja.
Sebetulnya kalau saya melakukan perjalanan kemana pun, saya lebih senang menikmati wisata yang mereka miliki mulai dari alamnya, tempat bersejarahnya, tempat unik yang mereka miliki, kulinernya dan memperhatikan serta mengamati orang-orang.  Belanja itu bukanlah prioritas, tapi karena ternyata dalam perjalanan saya tersaji wisata belanja, ya sudah dinikmati saja sambil menambah wawasan belanja.

Saya mungkin bukan perempuan sejati kalau gak tahu tempat belanja kali ya hahaha.   Jadi saya tetap berusaha menikmati setiap tempat belanja yang saya kunjungi.
Daaaan, Bicester Village ini menawarkan barang-barang branded dan harganya itu loch kalau di Jakarta bedanya bisa 40 – 50 % menurut info dari Tante.  Triknya kalau mau barang branded gak bikin jebol, belinya di negara asalnya, kalau belinya di Jakarta ya gak usah nyesel kalau harganya lumayan beda jauh sebab dikenakan pajak yang tinggi.

Selain tersaji barang branded, saya suka suasana tempatnya yang nyaman, bikin betah, kalau nungguin yang belanja juga gak bosan. Apalagi ada bangku dan taman cantik dihiasi bunga-bunga, menambah keceriaan tersendiri.  Apalagi kalau yang suka belanja, mungkin baru puas kalau belanja seharian.  Di tempat tersebut saya mencari barang titipan teman, dan ternyata sudah sold out, ok deh berarti kayaknya tempat tersebut laris manis dan surga bagi pecinta belanja.  Ya kalau para pria tidak suka belanja menemani istri atau keluarga atau rekan kerja, jangan khawatir tidak akan dibikin bosan karena menunggu, menurut saya Bicester Village itu tempatnya nyaman, bagi yang cinta dan yang tidak sama shopping.  Feel homey at Bicaster Village bukan karena belanjanya saja, saya pribadi  lebih senang  karena suasananya.

traveling ke Australia

travelling ke New Zealand

traveling ke Jepang

traveling ke Spanyol

traveling ke Italia

traveling ke Swiss

Jangan khawatir, di Bicaster Village tidak hanya tersedia toko-toko barang-barang branded, kalau mau sekedar nongkrong ada Starbucks Coffee juga. Bagi pecinta kopi, silahkan mampir ke sini. Ada pengalaman lucu di sini, karena saya berkali-kali pesan minuman dan nemenin adik sepupu, kami sampai di bilang “Hi, Hello again?”

Kalau lapar ada restoran juga.  Ada toilet juga meskipun tidak di setiap toko disediakan, dan jaraknya ya lumayan jauh, yang saya temui hanya satu dekat brand bernama Gina, di sana ada salah satu lokasi toiletnya. Sebelum melakukan wisata belanja, ketika kami tiba di sana hujan deras menyambut. Sehingga kami memilih untuk mengisi perut sekalian makan siang, bisa mampir ke Busaba Eathai, kalau kangen kwetiaw di sana juga tersedia. Tenang di restoran ini kita juga bisa memilih menu makanan halal.

Bingung mau belanja di England??? udah ke Bicester  Village saja.  Kami berada di sana mulai dari siang pas turun hujan, reda, turun hujan lagi, reda dan malam pun hadir, pertanda sudah saatnya kami kembali ke hotel.  Keesokan harinya, kami ke Chelsea Football Club,  sebuah klub sepak bola Inggris yang berbasis di Fulham, London.

Mengunjungi kandang Chelsea Football Club

Jumat, 15 Agustus 2014. Selesai sarapan, kami di jemput Pak Wahyu. Hari itu temanya mengunjungi stadiun sepakbola. Buat pecinta bola, seperti Om dan adik sepupu saya, mengunjungi stadium bola pasti sangat seru, mengasikan dan impian banget para football lover. Pagi itu kami mengunjungi Stamford Bridge.

Bagi pecinta Chelsea, datang ke stadium ini mungkin salah satu impian setiap fans-nya di seluruh dunia.  Saya beruntung  menemani adik sepupu yang mengenalkan saya untuk belajar tahu tentang dunia olahraga yang paling digemari diseluruh dunia oleh banyak pria dan sebagian wanita yaitu sepakbola, rasanya senang sekali.  Melihat ia begitu excited, di foto juga semangat, wajahnya yang nampak sumringah, priceless.

Ini impianmu, De,  Teteh  senang bisa menyaksikan impianmu jadi kenyataan.  Seru juga ketika ingat betapa ia antara tegang, mau ke stadiun-nya Chelsea.  Meskipun kami tidak ambil tour, mengingat jadwal pagi itu padat, sehingga hanya pergi ke shop Chelsea, tentunya untuk menambah kegembiraannya, happy shopping Mas.

Kalau saya, sibuk mengamati seisi tempat shopping 2 lantai ini.   Saya juga senang mengamati sekeliling pelataran museum-nya, melihat kata-kata penyemangat.  Tempatnya nyaman dan didominasi warna biru, auranya menyenangkan sekali.   Saya memang bukan pecinta sejati dunia bola, tapi saya beruntung dan senang bisa berada di tempat tersebut. 

Perjalanan umrahku

Mengunjungi Masjid Baitul Futuh: Masjid terbesar di Eropa Barat

Siapa yang tidak tahu Big Ben dan gedung parlemennya, Tower of London, Windsor Castle, Old Trafford Stadium, London Eye,  Anfield Stadium, Stamford Bridge, Oxford University, Harry Potter Studios, Legoland WindsorAbbey Road, Buckingham Palace, dan banyak lagi yang ke semua  itu akan diasosiakan pada satu negara, yaitu Inggris.
Dari semua tempat tersebut, ada tempat yang selalu mengundang perhatian  saya, akalau suatu hari nanti datang ke Inggris, saya ingin sekali kesana. Sebab di negara tersebut ternyata ada sebuah Mesjid terbesar di Eropa Barat berdasarkan info yang didapat bahwa saat itu merupakan salah satu dari 15 masjid terbesar di dunia, yaitu Masjid Baitul Futuh. Masjid ini terletak di pinggiran kota London,  dibangun di atas lahan seluas 21,000 meter persegi dan memiliki kapasitas sebesar 10,000 jemaah. Selesai dibangun pada tahun 2003 dan mengeluarkan biaya sebesar 5,5 juta Pound Sterling,  terdiri atas 1 buah main hall, 3 buah hall, 1 buah kubah, dan 2 buah menara masjid.

Baca: Traveling ke Turki

Saya ingin merasakan pengalaman berada di Baitul Futuh.  Alhamdulillaah setelah berkesampatan melakukan perjalanan ke  Masjid Nabawi, Masjid Quba, Masjidil Haram, berkat karunia Allah, saya bersyukur dan beruntung akhirnya bisa melaksanakan solat dan menikmati kemegahan Baitul Futuh, rumah Allah terbesar di Eropa Barat.

Tempat tersebut memberikan kesan  yang sanggup menggetarkan jiwa yang merindu Sang Pencipta Allah SWT dan Rasulullah SAW. Berkunjung ke masjid ini, mengingatkan saya akan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sebab ketika kita akan memasuki mesjid, para petugas memeriksa tas, tambahannya kita ditanya identitas nama, berasal dari negara mana.

Tour Bola di Emirates Stadium

Siapa sangka, dalam perjalanan kali ini, meski saya akui bukan pecinta bola, alhamdulillah berkesempatan untuk menikmati tour di sebuah stadiun bola milik klub Arsenal yaitu di Emirates Stadium.  Seru dan asik juga ternyata.

Saya beruntung, berkat adik sepupu dan Om  yang pecinta bola,  daftar pengalaman perjalanan saya jadi  bertambah.  Saya jadi belajar untuk menambah wawasan persebakbolaan, tidak harus jago minimal saya tahu  *Marii tingkatkan wawasan tentang persepakbolaan* Saya benar-benar baru pertama kali merasakan berada di stadium bola yang megah diikuti pula dengan sensasi yang sangat seru ketika melakukan tur.

Saya benar-benar baru pertama kali merasakan berada di stadium bola yang megah diikuti pula dengan sensasi yang sangat seru ketika melakukan tur.

Pulang dari sini kami mampir ke Hard Rock Café London. Di sini, saya menemani Om dan Tante yang mencari souvenir bertuliskan HRC London. Saya hanya menikmati waktu di sini sambil mengamati orang-orang yang ramai memenuhi tempat ini.

Bersambung di traveling ke Inggris part 2

With Love,

Ai

4 thoughts on “Traveling ke Inggris (part 1): Negara Impian Masa Kecilku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s